"Aku yang akan menikahi Zaskia, Abi."
"Apa kamu yakin?"
"Yakin Abi. Hanya Zaskia yang Aryan mau dan Zaskia cuma butuh aku saat ini."
***
"Gus itu terlalu galak!"
"Bukan saya yang galak, tapi kamu yang bebal dan sulit di atur!"
Kisah cinta dua Gus Kembar.
Zaskia diguna-guna oleh seorang laki-laki yang menggilainya, sihir itu akan musnah jika Zaskia menikah dan berhubungan dengan suaminya. Aryan yang menikahi Zaskia meski ia tau bahwa Zaskia tidak mencintai dirinya melainkan sahabatnya-Kafa. Lantaran Kafa mundur bak pengecut.
Sedangkan Kisah Gus Arshaf, yang sudah menyerah dengan sikap nakal santriwatinya, bernama Zayna. Juga tentang Zayna yang sudah kebal dengan kegalakan dan semua hukuman dari Gus-nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ke Dukun
“Gimana kalau kita tunangan dulu aja?”
Langkah Zaskia langsung terhenti mendadak.
Ia menoleh cepat ke arah Kafa yang kini sedang menatapnya sambil tersenyum manis.
“T-tunangan?”
“Iya.” Kafa mengangguk santai. “Jadi kamu gak bisa jadi milik orang lain lagi karena udah Kakak khitbah.”
Jantung Zaskia langsung berdetak tidak karuan.
Pipinya perlahan memerah.
Ia buru-buru memalingkan wajah agar Kafa tidak melihat ekspresinya yang mulai salah tingkah.
“Apaan sih, Kak… Ngaco banget ngomongnya.”
Zaskia kembali melangkah cepat pura-pura biasa saja. Padahal hatinya sudah berbunga-bunga sejak tadi.
“Kakak serius, Kia.” Kafa menyusul langkah gadis itu sambil tersenyum kecil.
Zaskia menggigit bibir pelan menahan senyum. “Memangnya… kapan?” tanyanya lirih tanpa berani menatap Kafa.
“Kamu maunya kapan?”
“Zaskia terserah sama Kakak.”
Kafa terlihat berpikir sebentar. “Kalau dua bulan lagi gimana? Pas libur semester.”
Zaskia langsung mengangguk pelan. “Iya…”
Wajahnya benar-benar sudah semerah tomat sekarang.
Sedangkan Kafa diam-diam mengepalkan tangannya kecil penuh kemenangan.
Yes!
Ia lega bukan main melihat Zaskia ternyata masih menginginkan hubungan mereka dibawa ke arah yang lebih serius.
“Kakak jadi gak sabar.” gumamnya pelan sambil tersenyum sendiri.
Zaskia cuma bisa menunduk sambil menahan senyum malu. “Oh iya, Kak…”
“Hm?”
“Kapan Kakak mau ngomong sama Ayah?”
“Nanti pas udah deket waktunya.” jawab Kafa santai. “Mungkin seminggu sebelum acara.”
Zaskia mengangguk setuju.
Beberapa detik kemudian gadis itu kembali teringat sesuatu. “Oh iya… Kak Aryan sama Kak Arshaf tau gak kalau kita pernah pacaran?”
Kafa yang tadinya santai langsung terdiam sesaat. Ia tampak menimbang-nimbang sesuatu sebelum akhirnya menghela napas pelan.
“Cuma Aryan yang tau. Kalau Arshaf belum.”
Zaskia langsung menoleh cepat.
“Tapi kamu jangan khawatir dulu.” lanjut Kafa buru-buru. “Aryan dukung kita kok. Walaupun awalnya dia sempat marah.”
“Karena?”
“Karena kakak melanggar komitmen yang pernah kami buat. Kami sepakat buat gak pacaran sebelum halal.” jelas Kafa sambil tertawa kecil mengingatnya. “Tapi sekarang kan kita udah putus. Dan insyaAllah kakak juga bakal lamar kamu. Jadi Aryan gak mempermasalahin lagi.”
Zaskia menghela napas lega mendengarnya.
“Tapi…” Kafa menyipitkan mata jahil. “Kalau Arshaf sampai tau duluan? Habis deh kita.”
Zaskia langsung panik. “Kok jadi aku juga?!”
“Kamu tau sendiri kan gimana galaknya Arshaf. Dia gak pernah menerima hal seperti itu. Dia bisa aduin kita ke orangtua kita."
Zaskia langsung membayangkan wajah datar Arshaf yang terkenal tegas itu dan spontan bergidik kecil.
Kafa malah tertawa puas melihat reaksinya.
“Oh iya, Kia…”
“Hm?”
“Habis kakak lamar nanti… Mungkin kita gak bakal bisa ngobrol akrab kayak gini lagi.”
Zaskia menoleh bingung. “Kenapa?”
Kafa tersenyum kecil. “Karena kakak mau lebih menjaga diri. Sampai kamu benar-benar jadi milik kakak seutuhnya.”
Rasanya Zaskia benar-benar ingin pingsan saat itu juga.
Kenapa ucapan Kafa selalu berhasil membuat hatinya meleleh seperti ini?
Laki-laki itu terlalu manis. Sangat berbeda dengan Aryan yang datar, cuek, dan lebih sering jahil daripada romantis.
“Iya…” jawab Zaskia pelan sambil menunduk malu. “Gapapa kok.”
Kafa tersenyum puas melihat reaksi gadis itu.
Sedangkan Zaskia diam-diam menggenggam ujung bajunya sendiri erat.
Keseriusan Kafa perlahan membuat perasaannya semakin dalam.
Zaskia benar-benar berharap dalam doanya—semoga laki-laki di hadapannya ini memang ditakdirkan menjadi jodohnya.
***
Seorang laki-laki mengenakan kacamata bulat tampak berdiri di depan pagar rumah seorang pria yang dikenal sebagai dukun oleh warga sekitar. Rumah di depannya itu tampak megah, sangat jauh berbeda dengan gambaran rumah dukun yang sering laki-laki itu lihat di televisi. Rumah dukun yang ia datangi kali ini sangat modern, bahkan empat mobil berharga fantastis terparkir rapi di garasinya yang luas.
"Ada perlu apa, Mas?" Pertanyaan seorang satpam membuat laki-laki itu tersadar.
"Saya mau ketemu sama... Mbah Surip, Pak."
"Kalau boleh tau namanya siapa, Mas?"
"Diki Renaldi, Pak."
"Sebentar ya." Satpam itu berlari masuk ke rumah. Diki tampak menunggu. Tak lama satpam tersebut kembali dan segera membukakan pagar untuk Diki. Diki lekas kembali masuk ke mobil dan membawa kendaraan beroda empatnya memasuki kediaman Mbah Surip.
Usai memarkirkan mobil, Diki diantar oleh satpam tadi masuk ke rumah. Ia dibawa melewati ruang demi ruang mewah dengan beragam furnitur mahal menuju ruangan yang berada di jauh dari ruang utama.
"Silahkan masuk, Mas. Mbah Surip ada di dalam."
Diki mengangguk sungkan. Tiba-tiba ia merinding. Setelah meninggal satpam itu, Diki perlahan mulai membuka pintu. Begitu pintu terbuka, ia mendapati seorang lelaki tua sedang duduk menatap ponsel.
"Permisi,"
"Masuk."
Diki mengangguk. Ia sudah masuk dan setelah itu kembali menutup pintu. Mbah Surip langsung memadamkan layar ponselnya dan beralih menatap Diki.
"Duduk,"
"I-iya mbah." Diki duduk di depan pria tua itu sambil sesekali membenahi letak kacamatanya.
"Perihal asmara ya?" Tebak mbah Surip sebelum Diki sempat mengutarakan niatnya.
"Dari mana mbah Surip tau?"
"Anak muda seperti kamu yang datang ke sini selalu mengeluhkan kisah asmara mereka. Saya pikir sepertinya kamu juga sama seperti mereka."
Diki tersenyum canggung seraya mengangguk
"Bawa fotonya?"
"Bawah mbah, sebentar." Diki buru-buru mengeluarkan ponsel dari saku celana, setelah itu ia membuka galeri.
"Ini mbah." Diki menyodorkan ponselnya pada mbah Surip. Pria tua itu langsung menerimanya dan mulai menarawang foto gadis berkerudung di ponsel Diki.
"Dia teman kampus saya. Mbah namanya. Zaskia Mahveen Zahira. Saya mau dia jadi milik saya gimanapun caranya. Tolong bantu saya, Mbah. Saya benar-benar suka banget sama dia. Saya tergila-gila padanya. Wajah gadis itu bahkan gak bisa lepas dari pikiran saya." Jelas diki tanpa diminta sesaat Mbah Surip masih menerawang wajah Zaskia di foto tersebut.
"Gadis ini tidak bisa ditembus dengan pelet, Mas."
"Hah, kenapa, Mbah?"
"Energi gadis itu terlalu kuat. Ada satu cara, tapi bertahap. Kamu tidak langsung bisa memilikinya dengan instan. Bagaimana?"
"Seperti apa itu, Mbah?"
"Saya akan membuat kamu berada di pikiran gadis ini dengan cara masuk ke dalam mimpinya dan efek yang akan kamu dapatkan, kamu juga akan ikut memimpikan gadis ini."
"Kalau saya boleh tau, kira-kira mimpi seperti apa yang akan saya alami?"
"Mimpi basah. Kamu akan merasakannya setiap kali saya membuat gadis ini memimpikan kamu."
"Oke, Mbah, saya setuju. Jadi kapan mimpi itu bisa dimulai?"
"Nanti malam sudah bisa."
Diki refleks bersorak. "Baik, Mbah. Saya akan bayar berapapun yang Mbah minta, tapi gadis ini benar-benar akan jadi milik saya seutuhnya kan?"
"Iya, tapi tidak instan."
"Enggak apa-apa, Mbah. Saya setuju." Mbah Surip tersenyum sambil menyodorkan ponsel pemuda itu. Diki di tempatnya tampak bahagia. Ia jadi tidak sabar menunggu malam tiba.
***
Malam harinya—
“Bun, Kia tidur duluan ya. Tiba-tiba ngantuk banget.”
Ayesha mengernyit sambil melirik jam dinding. Waktu baru menunjukkan pukul delapan malam. Mereka bahkan baru saja selesai melaksanakan salat Isya berjamaah.
“Kok tumben? Biasanya juga jam sepuluhan baru tidur.”
“Enggak tau nih, Bun,” jawab Zaskia sambil menguap. “Dari tadi nguap mulu, mana mata rasanya berat banget.”
Setelah membereskan mukena dan sajadahnya, gadis itu berdiri hendak pergi ke kamar.
“Kak, jangan tidur dulu!” seru Zaid dari belakang. “Kakak kan janji mau pinjemin aku laptop.”
“Yaudah, ambil aja di kamar.”
“Oke!”
Zaid langsung menyusul langkah kakaknya yang sudah lebih dulu keluar dari mushola kecil rumah mereka.
“Pelan-pelan, Za,” tegur Ayesha sambil tersenyum geli melihat tingkah putranya.
Tak lama kemudian mereka tiba di kamar Zaskia.
“Laptopnya di meja belajar,” ucap Zaskia asal sambil berjalan sempoyongan menuju kasur. “Ambil aja sendiri. Kakak mau tidur.”
“Oke! Zaid pinjem ya!”
“Hem...”
Tanpa banyak bicara lagi, Zaskia langsung merebahkan tubuhnya tengkurap di atas ranjang. Baru beberapa detik memejamkan mata, napasnya mulai teratur disertai dengkuran halus.
Ia benar-benar tertidur.
Namun entah sejak kapan— Zaskia merasakan sesuatu mengusap kepalanya dengan lembut. Perlahan. Pelan.
Bukan hanya di rambut, sentuhan itu turun ke pipi, lalu nyaris menyentuh bibirnya.
Alis gadis itu mengerut.
Siapa?
Dengan malas ia membuka mata.
Dan seketika tubuhnya menegang.
Ruangan ini... bukan kamarnya.
Zaskia langsung terduduk panik. Tatapannya menyapu sekeliling dengan napas memburu. Dinding kayu tua berdiri mengelilinginya. Cahaya temaram lentera menggantung di beberapa sudut ruangan, membuat bayangan-bayangan bergerak menyeramkan di dinding.
Tak ada lampu. Tak ada suara kendaraan. Tak ada kamar modern miliknya.
Yang ada justru ruangan asing menyerupai kamar pengantin zaman kerajaan Jawa kuno.
“A-aku di mana...?” bisiknya lirih dengan suara bergetar.
“Kamu ada di rumah kita, Sayang.”
Deg!
Zaskia sontak menoleh. Matanya langsung melebar ngeri.
“D-Diki?!”
Laki-laki itu berdiri beberapa langkah di belakangnya sambil tersenyum aneh.
Tatapan matanya kosong. Kulitnya pucat.
Ia tidak mengenakan atasan, memperlihatkan tubuh bidangnya yang dibalut kain jarik seperti pengantin pria adat Jawa.
Zaskia refleks mundur beberapa langkah. “Ini tempat apa?!”
“Rumah kita,” jawab Diki pelan sambil melangkah mendekat. “Kamu pengantinku sekarang.”
“Nggak! Jangan dekat-dekat!” Zaskia hendak berlari, tetapi tubuhnya mendadak terasa berat.
Ia menunduk. Dan jantungnya hampir copot.
Tubuhnya kini dibalut kemben kain yang hanya menutupi dada hingga lutut.
“Astaghfirullah...” napasnya memburu panik. “Ini mimpi... ini pasti mimpi...”
Diki tersenyum semakin lebar. “Nyata atau mimpi enggak penting,” ucapnya lirih. “Yang penting... kamu milikku.”
Dalam sekejap laki-laki itu sudah berdiri tepat di depannya.
Terlalu dekat.
Tangan dinginnya menyentuh pundak terbuka Zaskia.
Gadis itu langsung merinding hebat.
Dingin. Sangat dingin.
Bukan seperti sentuhan manusia hidup.
Zaskia ingin berteriak, tapi suaranya seakan tertahan di tenggorokan. Tubuhnya kaku. Napasnya tercekat saat menatap kedua mata Diki yang perlahan berubah.
Hitam pekat. Kosong. Tidak tampak seperti manusia.
Sosok itu semakin mendekat. Hidungnya mengendus pelan di sekitar leher Zaskia seperti sedang menikmati aroma sesuatu.
Zaskia ingin mendorong tubuh laki-laki itu.
Ingin lari. Ingin berteriak.
Namun tubuhnya membeku total.
Bukan hanya badannya yang tak bisa bergerak, lidahnya pun terasa kelu. Mulutnya terkunci rapat seolah ada sesuatu yang menahan suaranya agar tidak keluar sedikit pun.
Air mata mulai mengalir di pipinya. “Ya Allah... kalau ini mimpi, tolong bangunkan Zaskia sekarang... dan kalau ini nyata, tolong lindungi Zaskia dari orang ini...” rintihnya di dalam hati.
Sosok menyerupai Diki itu tiba-tiba menunduk lebih dekat.
Lalu—Lidah dingin itu menyentuh lehernya.
Zaskia langsung menangis dalam diam.
Rasa jijik, takut, dan ngeri bercampur menjadi satu. Sentuhan itu terasa terlalu nyata untuk disebut mimpi.
Apakah ada mimpi sejelas ini? Batinnya mulai kacau.
Dengan sisa kesadaran yang ada, Zaskia terus memohon pertolongan pada Allah di dalam hati.
Dan tiba-tiba—Brak!
Cahaya putih muncul dari sudut ruangan.
Terang. Sangat terang.
Saking terangnya, mata Zaskia sampai terasa perih.
Sosok di depannya langsung menoleh dengan wajah berubah menyeramkan.
“Kia... bangun... Zaskia!” Suara itu terdengar menggema dari kejauhan.
“Kia!”
Zaskia spontan membuka mata.
Napasnya memburu.
Hal pertama yang ia lihat adalah wajah Ayesha yang tampak panik di depannya.
“Kamu kenapa, Nak?” tanya wanita itu sambil mengusap wajah putrinya yang basah oleh keringat dan air mata.
Zaskia menatap sekitar dengan linglung.
Kamarnya. Ia sudah kembali ke kamarnya.
Di sana ada Zhafran yang berdiri dekat pintu dan Zaid yang duduk di tepi ranjang dengan wajah khawatir.
Ternyata itu hanya mimpi. Tapi kenapa terasa begitu nyata?
“Bunda...” suara Zaskia bergetar sebelum akhirnya ia langsung memeluk tubuh Ayesha erat.
“Kamu mimpi buruk ya?” tanya Ayesha pelan.
Zaskia tak menjawab.
Bagaimana ia harus menjelaskan mimpi menjijikkan seperti itu?
Ia sendiri bahkan malu mengingatnya.
“Kia, ada apa nak?” panggil Zhafran lembut sambil duduk di samping istrinya.
Namun Zaskia hanya menangis pelan di pelukan Ayesha.
Tubuhnya gemetar.
“Kayaknya Zaskia kecapekan aja, Mas,” ucap Ayesha menenangkan sambil mengusap punggung putrinya. “Mungkin tadi kebawa mimpi buruk.”
Zhafran mengembuskan napas pelan lalu mengangguk. “Yaudah, sekarang tenang dulu.”
“Aku temenin kakak aja malam ini,” celetuk Zaid cepat. “Aku tidur di sofa.”
Laki-laki berusia enam belas tahun itu memang yang pertama kali mendengar teriakan Zaskia saat hendak mengembalikan laptop ke kamar.
Karena panik, ia langsung memanggil kedua orangtuanya.
“Gimana, Kia? Mau ditemenin Zaid?” tanya Ayesha.
Zaskia mengangguk pelan.
Pelukannya pada sang bunda mulai melonggar.
“Udah, enggak apa-apa,” ujar Ayesha lembut. “Cuma mimpi kok. Kayaknya kamu lupa baca doa sebelum tidur ya?”
Zaskia baru sadar. Sepertinya memang iya.
Karena terlalu mengantuk, ia langsung tertidur tanpa membaca doa dan dzikir seperti biasanya.
“Yaudah sekarang wudhu dulu, terus baca doa lagi ya,” ucap Zhafran menenangkan.
“Iya, Yah...”
“Ayo, Sayang,” ajak Zhafran pada istrinya.
Keduanya pun keluar dari kamar.
Kini tinggal Zaid yang duduk di sofa sambil memangku laptop. Tatapannya sesekali mengarah pada sang kakak yang masih tampak pucat.
Meski sering bertengkar, Zaid tetap khawatir melihat kondisi Zaskia.
“Udah, Kak,” katanya pelan. “Jangan takut lagi. Aku temenin kok.”
Zaskia tersenyum tipis. “Iya, Za. Kakak wudhu dulu ya.”
“Oke!”
Zaskia turun dari ranjang lalu berjalan menuju kamar mandi sambil mengusap lehernya yang masih terasa nyeri.
Aneh. Padahal itu cuma mimpi.
Setelah buang air kecil dan berwudhu, Zaskia berdiri di depan wastafel. Air masih menetes dari dagunya saat ia menatap pantulan dirinya di cermin.
Wajahnya pucat. Matanya sembab.
Ia mengembuskan napas pelan mencoba menenangkan diri.
Namun beberapa detik kemudian—Tubuhnya menegang.
Di pantulan cermin—Ia melihat sosok itu berdiri tepat di belakangnya.
Tersenyum manis.
Mata hitam pekat.
“Astaghfirullahaladzim!”