NovelToon NovelToon
Peluk Aku Di Kehidupan Ini

Peluk Aku Di Kehidupan Ini

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

‎Saat membuka mata kembali, Aruna mendapati dirinya hidup kembali, terbangun di masa lalu, tepat sebelum segala kehancuran dalam hidupnya dimulai.

‎Dengan ingatan yang masih utuh akan luka dan kematiannya, dia berjanji akan membuat Rafael dan semua orang yang menyakitinya merasakan penderitaan yang sama, bahkan berkali lipat lebih berat.

Di tengah rencananya yang penuh dendam itu, Aruna mencari kembali Zeffrano - pria dingin, misterius, dan berkuasa yang di kehidupan sebelumnya pernah dia tolak lamarannya.

‎"Kali ini bukan lagi aku yang ada di bawah kakimu. Kali ini, akulah yang akan berdiri di puncak tertinggi bersama orang paling berkuasa di kota ini." ~ Aruna Kirana Dirgantara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 2

‎Rafael mendekat, langkahnya begitu ringan seolah tak ada beban sedikit pun di pundaknya. Dia berhenti tepat disamping tempat tidur, lalu menaruh seikat bunga mawar merah itu di atas meja kecil di sisi ranjang.

‎‎"Kamu membuatku khawatir, tahu?" ucap Rafael sambil duduk di pinggir kasur, tangannya terulur untuk menyentuh pipi Aruna dengan gerakan yang sangat lembut dan mesra. "Mendengar kamu kecelakaan, rasanya aku ingin segera meninggalkan pekerjaanku dan berlari kesini secepat mungkin."

‎‎Aruna hanya menatap mata Rafael, menatap manik mata hitam yang dulu dianggapnya indah dan tulus. Kini dia bisa melihat dengan sangat jelas, di balik tatapan lembut itu, tak ada apa-apa. Kosong. Hanya akting belaka.

‎‎"Aku tidak apa-apa, Rafael. Hanya sedikit benturan saja," jawab Aruna, berusaha menjaga nada bicaranya tetap lemah dan lembut, persis seperti kebiasaannya di masa lalu. "Kamu tidak perlu khawatir berlebihan."

‎‎Rafael tersenyum, senyum yang selalu berhasil membius banyak wanita. "Bagaimana mungkin aku tidak khawatir? Kamu adalah satu-satunya wanita yang ada di hatiku. Kalau sampai sesuatu yang buruk terjadi padamu… aku tidak tahu apa yang akan kulakukan."

‎‎Bohong.

‎‎Satu kata itu bergema keras di kepala Aruna. Dua tahun lagi, pria yang sekarang mengucapkan kata-kata manis ini akan dengan mudah mendorongnya ke kematian demi uang dan jabatan. Aruna hampir tertawa mendengarnya, namun dia menelan tawa pahit itu. Dia harus pandai berakting, sama pandainya seperti Rafael. Jika Rafael pandai menyembunyikan niat jahatnya, maka Aruna harus lebih pandai lagi menyembunyikan dendamnya.

‎‎"Kamu baik sekali padaku, Rafael," ucap Aruna sambil menundukkan wajah, seolah malu namun sebenarnya berusaha menyembunyikan kilatan tajam di matanya. "Aku beruntung sekali memilikimu."

‎‎Mendengar itu, Rafael terlihat sangat puas. Dia mengusap rambut panjang Aruna dengan lembut. "Tentu saja. Kita akan bersama selamanya. Nanti kalau kamu sudah sembuh, aku akan mengajakmu makan malam. Ada restoran baru yang sangat bagus, aku yakin kamu akan suka."

‎‎"Benarkah? Aku tidak sabar menunggunya," jawab Aruna. Dia tahu persis restoran apa yang dimaksud Rafael. Di kehidupan lalu, malam itu adalah malam yang sangat indah baginya. Rafael bersikap sangat romantis dan berjanji akan menikahinya.

‎‎"Tapi kamu harus istirahat dulu ya, sayang," potong Rafael, menarik Aruna kembali dari lamunannya. "Aku harus kembali ke kantor sebentar, ada urusan yang belum selesai. Nanti sore aku akan datang lagi menjemputmu pulang, ya?"

‎‎Aruna mengangguk patuh.

‎‎"Baiklah. Kamu hati-hati di jalan ya," ucap Aruna sambil tersenyum manis, lalu perlahan dia mengulurkan tangannya, menggenggam jari-jari Rafael sejenak sebelum melepaskannya.

‎‎Rafael beranjak berdiri, mencium kening Aruna sekilas dengan sikap penuh kasih sayang, lalu berjalan menuju pintu. "Istirahatlah, sayang. Sampai nanti sore."

‎‎Pintu tertutup rapat. Suara langkah kaki Rafael menjauh di lorong semakin samar hingga akhirnya hilang.

‎‎Senyum di bibir Aruna lenyap seketika. Wajahnya yang tadi penuh kasih sayang kini berubah menjadi dingin dan tajam. Dia menatap pintu yang tertutup itu dengan pandangan penuh kebencian.

‎‎"Pandai sekali kamu berpura-pura, Rafael," gumam Aruna pelan, suaranya dingin dan rendah. "Kamu pikir kata-katamu yang manis itu masih bisa mempengaruhiku? Sayang sekali… aku sudah tahu siapa dirimu yang sebenarnya. Aku tahu semua kebusukan yang kamu sembunyikan di balik wajah malaikatmu itu."

‎‎Aruna bersandar kembali pada bantal di belakang punggungnya, menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong namun penuh rencana.

‎‎Zeffrano Devandra Mahesa.

‎‎Nama itu melintas sekilas di benak Aruna. Di kehidupan lalu, dia menolak pria itu, meninggalkannya, dan tidak pernah tahu apa yang terjadi setelahnya. Dia mati dalam kehancuran sendirian, sementara Zeffrano mungkin masih hidup dengan kekuasaannya, tidak pernah tahu bahwa wanita yang dicintainya diam-diam telah binasa dengan menyedihkan.

‎‎Namun sekarang Aruna menyadari satu hal penting. Zeffrano bukan sekadar pria kaya dan berkuasa. Zeffrano adalah kekuatan. Zeffrano adalah satu-satunya orang yang cukup kuat dan cukup berpengaruh untuk melawan orang-orang seperti Rafael dan lingkaran bisnis busuknya.

‎‎Aruna tersenyum miring, sebuah rencana perlahan mulai terbentuk di benaknya.

‎‎"Zeffrano Devandra Mahesa..." gumamnya pelan, matanya berkilat penuh perhitungan. "Dulu aku menolakmu karena aku pikir kamu sombong dan tidak tulus. Dulu aku tidak tahu bahwa di dunia ini, justru kamu satu-satunya orang yang mungkin bisa memberikan ketulusan padaku."

‎‎Dia meremas selimut di tangannya.

‎‎"Kali ini mungkin aku tidak akan menolakmu lagi. Bukan karena aku mencintaimu sekarang, tapi karena aku butuh kekuatanmu. Aku butuh posisimu. Aku butuh namamu. Kamu adalah senjata terbesarku, Tuan Mahesa. Dan aku akan memastikan... kali ini, kamu ada di pihakku. Kamu akan menjadi tamengku, dan kamu akan menjadi pedangku untuk membalas semua sakit ini."

‎‎Aruna menatap ke depan dengan tekad yang tak tergoyahkan.

‎‎"Rafael, bersiaplah. Permainan baru saja dimulai. Dan ingatlah baik-baik... kali ini bukan lagi aku yang ada di bawah kakimu. Kali ini, akulah yang akan berdiri di puncak tertinggi bersama orang paling berkuasa di kota ini."

‎‎-

‎‎-

‎-

‎‎Matahari mulai condong ke barat, menyinari ruangan rumah sakit dengan cahaya keemasan yang hangat. Namun kehangatan itu sama sekali tak menjamah hati Aruna. Dia sudah bersiap untuk pulang, duduk di pinggir ranjang dengan mengenakan kaos berwarna kuning dan rok selutut.

‎‎Pintu kamar terbuka, dan Rafael masuk kembali dengan senyum yang sama manisnya seperti tadi siang. Di tangannya ada tas kecil milik Aruna. "Sudah siap pulang, sayang? Mobilku sudah ada di depan."

‎‎Aruna mengangguk pelan, lalu beranjak berdiri.

‎‎"Terimakasih sudah menjemputku, Rafael," ucapnya lembut, membiarkan pria itu merangkul bahunya seolah mereka adalah pasangan paling bahagia di dunia.

‎‎Di sepanjang perjalanan pulang, Rafael terus berbicara. Menceritakan pekerjaannya, keluhan tentang bosnya, rencana-rencana masa depan yang indah, semuanya diucapkan dengan begitu fasih dan meyakinkan. Aruna hanya mendengarkan, sesekali mengangguk atau tersenyum tipis.

‎‎"Rafael," potong Aruna pelan di tengah obrolan, nadanya terdengar polos namun matanya tajam mengamati reaksi pria itu. "Kamu bilang butuh modal tambahan untuk proyek besarmu itu. Apa masih membutuhkannya? Tabunganku masih cukup, aku bisa berikan padamu jika itu membantumu."

‎‎‎‎Rafael menoleh, matanya berbinar senang.

‎‎"Benarkah, sayang? Kamu memang yang paling mengerti aku. Ya, aku masih butuh sedikit lagi. Dengan uang itu, aku yakin proyek ini akan sukses besar, dan nanti kita bisa menikah, membeli rumah besar, dan hidup bahagia selamanya," jawab Rafael antusias, tangannya bahkan menepuk-nepuk punggung tangan Aruna yang ada di pangkuan.

‎‎Rafael mengantar Aruna sampai ke depan gerbang rumahnya, rumah peninggalan orang tua yang dulu begitu dia banggakan, namun kelak akan dijualnya demi memenuhi keinginan Rafael. Kali ini, rumah itu akan tetap menjadi miliknya, dan akan menjadi benteng pertahanan pertamanya.

‎‎"Istirahatlah yang cukup ya, sayang. Besok aku akan datang lagi menjengukmu," pamit Rafael sambil tersenyum sebelum masuk kembali ke mobilnya dan pergi.

‎‎Saat mobil itu hilang di tikungan jalan, senyum Aruna langsung lenyap. Dia berbalik dan berjalan masuk ke halaman rumahnya yang luas. Angin sore menerpa wajahnya, membuat rambut panjangnya terurai tertiup hembusan angin.

‎‎Aruna mengeluarkan ponselnya dari dalam tas kecilnya. Dengan napas yang ditarik panjang, Aruna menekan tombol panggil. Suara dering terdengar berulang kali, bergema di keheningan halaman rumah yang luas itu.

‎‎"Selamat sore, asisten Alvin. Maaf mengganggu waktunya," ucap Aruna lembut saat panggilan telepon sudah tersambung. "Saya Aruna Kirana Dirgantara. Saya ingin bertemu dengan Tuan Zeffrano. Bisakah anda membantu mengaturkan jadwal pertemuan saya dengannya?"

-

-

-

Bersambung...

1
〈⎳ FT. Zira
niatnya lain kyknya
〈⎳ FT. Zira
masih punya stok drama ternyata/Sweat/
〈⎳ FT. Zira
pingsan aja.. gak ada yg larang kok
〈⎳ FT. Zira
eaaa... rayuannya bang... meleleh hatiku
〈⎳ FT. Zira
zekarang minta maaf , yg kemarin percaya diri mana wajahnya/Drowsy/
〈⎳ FT. Zira
otak mereka mana nyampe.. tau nya kan cuma ngambil yg bukan hak nya doang🤧
W I 2 K
idihhhhhh nyebelin banget kamu tania... celamitan.... sok²an mau ngelakuin apa aja....
〈⎳ FT. Zira: giliran di suruh nuduh "kamu tega!" hwakkk/Sob/🤣🤣🤣
total 2 replies
W I 2 K
mimpi terindah... khayalan belaka....
bangun woyyyy... bangun Tania... udah siang..... mimpinya dilanjut si balik jeruji aja... 🤣🤣
🔥Violetta🔥: Perlu diceburkan ke comberan sepertinya dia 😂😂😂
total 1 replies
W I 2 K
secangkir kopi sm Sajen bunga sekebon meluncur.. biar authornya tambah cemangat....... 💃
🔥Violetta🔥: Wah... terimakasih banyak kakak /Grin//Pray/
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
langsung ciut🤣
〈⎳ FT. Zira
siap siap bangun dari mimpi dengan seember air yak🤣
〈⎳ FT. Zira: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 4 replies
〈⎳ FT. Zira
Faunai siapa??? apa itu panggilan?
〈⎳ FT. Zira
bicaramu sungguh manis bang/Hammer//Hammer//Hammer/
〈⎳ FT. Zira
tinggikan saja percaya dirimu.. semakin tinggi semakin sakit saat jatuh🤧
W I 2 K
slow Rafael.... baru juga disedot dasar bumi.... belum sedot dasar neraka kan... aman.. aman... aman..
🔥Violetta🔥: astaga 😂😂😂
total 1 replies
W I 2 K
dateng zeff... siapa tau kejutannya bikin terkejot.. kejott.... 🤣
🔥Violetta🔥: Zeff langsung guling-guling di ranjang... ehhh 🤭🤭🤭
total 3 replies
W I 2 K
astaga drama apa lagi Rafael... mimpi mana lg yg km mau gapai... nanti jatuh sejatuhnya sakit loh🤭
🔥Violetta🔥: EEEE.... AAAAA 💃💃💃💃🕺🕺🕺🕺
total 7 replies
〈⎳ FT. Zira
Luar biasa..
kisah balas dendam yang ditulis dengan apik. definisi wanita bisa melakukan apa saja setelah disakiti, bisa bangikit dan kuat dari rasa dakit yang sudah diterima.
kisah ini memang reinkarnasi, tapi mengajarkan jika kesempatan itu bisa datang dua kali,
karyamu luar biasa Kak..
semangat berkarya😍😍😍
🔥Violetta🔥: Wah, terimakasih banyak kakak /Pray//Grin/ Semangat juga untuk kakak /Good/
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
mimpi Rafael ternyata belum berakhir🤧🤧
🔥Violetta🔥: Berakhirnya kalau sudah mau end 🤣🤣🤣
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
mokondonya kental dong ya Rafael ini🤧
〈⎳ FT. Zira: rujak biar asem, enak di makan. lah rafael di mana bagian enaknya../Silent//Silent/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!