NovelToon NovelToon
Sistem Penakluk Para Dewi Jilid 2

Sistem Penakluk Para Dewi Jilid 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Bad Boy / Fantasi
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Lupakan apa yang kalian ketahui tentang Zhang Yuze yang lama. Di Jilid 2 ini, panggung kehidupan akan menjadi jauh lebih luas dan berbahaya.

​Bukan lagi sekadar urusan asmara di bangku sekolah, Zhang Yuze akan mulai melangkah ke dunia bisnis yang penuh intrik, berhadapan dengan tokoh dunia bawah tanah yang kuat, hingga terjebak di antara pesona selebritas papan atas yang memabukkan. Akankah Kitab Santo Cinta cukup untuk melindunginya saat kekuatan rahasia mulai mengincar dirinya? Ataukah godaan dari para wanita menawan di sekelilingnya justru akan menjadi bumerang bagi takdirnya?

​Persiapkan diri kalian. Ambisi yang lebih besar, romansa yang lebih membara, dan rahasia pusaka yang lebih dalam akan segera dimulai.

​Pastikan kalian berada di barisan terdepan saat langkah baru ini dimulai!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

​Setelah Wulan pergi, Yudha berniat kembali ke asramanya. Namun, langkahnya terhenti saat ponselnya bergetar. Ada panggilan masuk dari Luna. Yudha mengernyit heran; kenapa Luna menelepon di jam kuliah seperti ini? Tanpa pikir panjang, ia segera mengangkatnya. Tapi, yang terdengar di seberang sana bukanlah suara Luna yang lembut, melainkan suara seorang gadis yang terdengar panik dan tidak terlalu ia kenal.

​"Halo? Apakah ini Yudha?" Gadis di telepon itu terdengar sangat cemas.

​Yudha seketika merasakan firasat buruk yang menusuk dadanya. "Iya, ini aku. Kamu siapa?"

​"Luna... Luna... dia diculik!" teriak gadis itu dengan suara gemetar.

​Mendengar itu, Yudha merasa seolah disambar petir di siang bolong. Kakinya terasa lemas hingga ia nyaris jatuh terduduk. Namun, ia berusaha sekuat tenaga menekan rasa terkejutnya dan segera mencari tahu siapa yang meneleponnya.

​Beberapa saat kemudian, di bawah gedung asrama putri, Yudha bertemu dengan teman sekamar Luna yang bernama Jihan. Dengan napas terengah-engah, ia langsung bertanya, "Apa yang sebenarnya terjadi?"

​Melihat kedatangan Yudha, Jihan menceritakan kronologinya dengan terbata-bata. Ternyata saat ia dan Luna sedang asyik berbelanja di sekitar area kampus, sebuah mobil tiba-tiba melesat dari arah belakang dan langsung membawa kabur Luna. Dalam kepanikan, Jihan segera melapor ke polisi. Ponsel Luna terjatuh di jalanan, dan sebelum polisi tiba, Jihan yang bingung segera terpikir untuk menghubungi Yudha.

​Wajah Yudha seketika berubah gelap dan dingin; ia tidak pernah menyangka hal seperti ini akan terjadi. Setahunya, Luna tidak pernah menyinggung atau memiliki musuh di sini, dan ia tidak percaya gadis sebaik Luna bisa memancing amarah orang lain.

​Ada pepatah yang mengatakan bahwa kecerdasan sering kali muncul di saat kritis, dan itu terbukti pada Yudha saat ini. Ia tiba-tiba teringat bahwa ia memiliki sebuah "Kompas Pencari Jejak" yang bisa menampilkan lokasi Luna saat ini secara akurat. Harapan pun membuncah di hatinya. Dengan tangan gemetar, ia segera mengeluarkan perangkat tersebut.

​Benar saja, sebuah grafik muncul pada halaman profil Luna, menunjukkan lokasinya dengan sangat jelas. Mobil penculiknya tampaknya sedang menuju ke arah pesisir laut di pinggiran kota. Mengetahui posisi tersebut, Yudha menjadi sangat cemas. Ia segera berkata pada Jihan, "Kabari aku segera setelah polisi tiba di sini!"

​Sambil berbicara, Yudha langsung berlari kencang menuju garasinya. Meskipun ia memiliki kemampuan untuk terbang dan mungkin jauh lebih cepat, hal itu akan terlalu mencolok dan mengejutkan banyak orang.

​Yudha memacu mobil BMW-nya mengejar mobil yang membawa Luna. Ia mengemudi sangat kencang hingga mobilnya seolah melayang di udara. Kecepatannya hampir menyentuh angka 200 kilometer per jam. Bagi orang lain yang melihatnya, mobil itu hanya tampak seperti hembusan angin yang lewat. Yudha fokus sepenuhnya pada kemudi, seluruh indranya berada pada puncaknya. Meskipun jalanan menuju luar kota cukup lebar, kecepatan gila ini akan tetap menjadi tantangan besar bahkan bagi pengemudi profesional sekalipun.

​Yudha dengan cepat berhasil membuntuti mobil yang terdeteksi di radar kompasnya. Ketika mobil di depannya mulai melambat, senyum dingin tersungging di bibir Yudha. Ia merogoh saku, memastikan pistol taktis yang sudah ia modifikasi berada dalam jangkauan, siap untuk ditarik picunya.

​Melihat mobil Honda di depannya melaju dengan begitu santai, amarah Yudha membuncah. Ia ingin sekali menabrak dan memaksa mobil itu berhenti, namun ia dicekam ketakutan akan melukai Luna. Tepat saat itu, ponselnya bergetar. Ia menjawab singkat suara Jihan di seberang sana.

​"Aku sudah menemukan mereka," bisik Yudha tajam. "Beritahu polisi untuk menunggu kabar dariku. Aku akan memastikan lokasi persembunyian mereka dulu sebelum melakukan penyergapan."

​Yudha berusaha mengatur napas agar tetap tenang. Karena ia berniat menyeret mereka ke jalur hukum, ia tidak ingin gegabah dan malah menyulitkan dirinya sendiri.

​Namun, pengemudi Honda di depan sepertinya sama sekali tidak sadar bahwa maut sedang membuntuti mereka. Mereka terus melaju dengan acuh tak acuh memasuki kawasan pinggiran kota yang sepi. Yudha menjaga jarak aman agar tidak terdeteksi. Meskipun ia memegang "Kompas Pencari Jejak", rasa khawatir bahwa Luna akan disakiti membuatnya tidak berani membiarkan mobil itu lepas dari pandangannya sedetik pun.

​Otak Yudha berputar cepat, menebak-nebak siapa yang berani menyentuh Luna, namun ia belum menemukan titik terang. Satu hal yang pasti: siapa pun dalangnya, Yudha tidak akan membiarkan mereka lolos dengan akhir yang indah.

​Mobil itu akhirnya berbelok masuk ke sebuah kompleks vila mewah di lereng perbukitan. Yudha segera mengirimkan titik koordinat presisi kepada polisi melalui pesan singkat, lalu ia mendekati vila itu dengan gerakan senyap. Vila itu sangat megah; jelas bukan tempat yang bisa disewa oleh sembarang orang kaya.

​Saat melihat beberapa pria menyeret Luna turun dari mobil, Yudha nyaris kehilangan kendali dan ingin menerjang maju. Namun, ia menahan diri. Sepertinya sang dalang utama belum menampakkan batang hidungnya. Jika ia mengintervensi sekarang, Luna memang selamat, tapi si aktor intelektual kemungkinan besar akan melarikan diri.

​Setelah mereka membawa Luna masuk ke dalam, Yudha menyelinap masuk melalui celah yang tak terpantau. Ada penjaga di depan pintu, tapi di mata Yudha, orang-orang itu tak lebih dari pajangan yang tidak berguna.

​Yudha tiba di depan sebuah ruangan di bagian dalam vila. Sebelum sempat menyentuh gagang pintu, ia mendengar tawa jemawa yang sangat menjijikkan. Suara tawa itu terasa familiar di telinganya, seolah ia pernah mendengarnya di suatu tempat.

​Melalui celah pintu yang sedikit terbuka, Yudha akhirnya bisa melihat apa yang terjadi di dalam. Begitu pandangannya jelas, ia terperangah melihat sosok yang sedang berdiri di sana.

​"Ternyata dia!" Yudha terkejut. Pemuda itu tidak lain adalah pria sombong yang pernah ia dan Luna temui saat makan malam di restoran tempo hari. Yudha tidak menyangka pria itu akan melakukan tindakan senekat ini. Amarah yang sedari tadi ia tekan kini meledak sepenuhnya.

​BRAK!

​Pintu kayu jati yang kokoh itu hancur seketika di bawah hantaman tendangan maut Yudha. Debu dan serpihan kayu beterbangan di udara.

​"Siapa itu?!" Pemuda itu, Gerry, tersentak hebat mendengar suara dentuman keras tersebut. Ia menoleh ke arah pintu dengan wajah pucat, menatap Yudha yang berdiri di sana dengan aura membunuh yang sangat pekat.

​"Yudha!" Melihat Yudha muncul bak pahlawan yang turun dari langit, Luna hampir menangis karena lega. Setiap kali ia berada dalam bahaya maut, Yudha selalu muncul di detik-detik terakhir. Saat ini, bagian paling lembut di hati Luna benar-benar tersentuh.

1
Tri Rahayu Amoorea
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!