Keinginan untuk menuntut ilmu di tempat terbaik membawa Elara, siswa berprestasi, menjejakkan kaki di Hantage School Academy—sekolah elit yang megah namun menyimpan aura dingin dan misterius. Berkat beasiswa penuh, ia merasa beruntung bisa bersekolah di sana, namun kebahagiaan itu segera berganti dengan ketakutan. Sejak hari pertama, Elara kerap mengalami hal-hal tak wajar: bisikan-bisikan tak kasat mata, bayangan gelap, dan kejadian mengerikan yang seolah menargetkan dirinya.
Bersama tiga sahabat barunya, Elara mulai menyelidiki asal-usul teror yang terjadi. Jejak demi jejak membawa mereka pada rahasia kelam masa lalu sekolah tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mustaqimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20-Orang Yang mirip di Masa Lalu
Angin dingin yang berhembus kencang di atas atap sekolah perlahan tertinggal di belakang saat Elara dan Arkan melangkah masuk kembali ke lorong sempit menuju tangga darurat. Pintu besi berat tertutup rapat di belakang mereka, yang terdengar suara langkah kaki mereka berdua yang bergema pelan di antara dinding-dinding beton yang dingin.
Elara berjalan tepat di samping Arkan, matanya sesekali melirik ke arah pemuda itu. Rasanya masih sulit dipercaya, bahwa beberapa menit yang lalu mereka masih saling curiga, dan sekarang nasib mereka seolah terikat dalam satu tujuan yang sama. Perjanjian sederhana lewat jabat tangan di atas sana kini terasa begitu berat maknanya.
Saat mereka mulai menuruni anak tangga satu per satu, rasa penasaran Elara tak lagi bisa ia tahan. Di benaknya, rencana selanjutnya masih kabur dan samar. Ia menoleh ke arah Arkan yang berjalan tenang di sampingnya dengan wajah datar tanpa beban.
"Sekarang gimana awal kita cari bukti?" tanya Elara pelan namun jelas, suaranya berbisik agar tidak terdengar sampai ke lantai bawah. Ia menatap Arkan dengan tatapan penuh tanya. "Kita mulai dari mana? Apa yang harus kita lakukan dulu? Tempat kejadian udah bersih total, nggak ada jejak sama sekali. Apa lagi yang tersisa buat kita cari?"
Arkan tidak langsung menjawab. Ia terus melangkah menuruni tangga dengan langkah yang terukur dan tenang, seolah sudah memiliki peta jalan yang jelas di dalam kepalanya. Pandangannya lurus ke depan, tak sedikit pun teralihkan ke arah Elara. Hanya setelah mereka sampai di lantai dasar dan melangkah ke koridor yang lebih sepi, Arkan akhirnya membuka mulutnya dengan nada bicara yang sama dingin dan datar seperti biasanya.
"Kita ke ruang CCTV."
Satu kalimat pendek itu keluar begitu saja, namun langsung menyadarkan Elara seketika. Matanya seketika membelalak, langkah kakinya sempat terhenti sepersekian detik karena teringat hal paling mendasar yang justru terlupakan olehnya.
"Ruang CCTV..." gumam Elara mengulangi, lalu seketika ia menepuk jidatnya sendiri pelan karena merasa bodoh. Wajahnya sedikit memerah karena malu pada dirinya sendiri. "Oh iya! Oh iya, kan! Seluruh gedung sekolah elit ini ada CCTV-nya! Semuanya terpantau dan terekam! Kenapa aku gak kepikiran ya? Padahal itu hal paling dasar. Kalau ada rekamannya, pasti ketahuan siapa yang naik ke atap, jam berapa, dan apa yang sebenarnya terjadi!"
Arkan melirik sekilas ke arah Elara di sampingnya, sudut bibirnya sedikit bergerak membentuk senyum tipis yang sinis, seolah menertawakan kelambatan berpikir gadis itu. Ia tidak berhenti berjalan, malah mempercepat sedikit langkahnya.
"Lo masih mau ngomong dan heran-heran di sini, atau ikut gue ke ruang CCTV?" ucap Arkan ketus dan singkat, nadanya sedikit menantang namun tetap dingin. "Makin lama kita di sini, makin besar kemungkinan ketahuan. Ingat, sekarang seluruh perhatian sekolah lagi terpusat di aula utama bareng Nyonya Tamara. Kesempatan emas ini nggak bakal lama."
Elara segera mengangguk cepat, menepis rasa bodohnya sendiri. Arkan benar. Waktu sangat berharga, dan ia tidak boleh membuangnya hanya karena kaget atau menyesali kelalaiannya.
"Iya, iya! Ikut kamu lah, aku ikut," jawab Elara cepat, suaranya terdengar antusias sekaligus penuh tekad. Ia kembali mempercepat langkahnya, berjalan beriringan di samping Arkan. "Ayo buruan kita ke sana. Kalau kita dapet rekamannya, kasus ini pasti langsung terjawab semua. Siapa pelakunya, gimana kejadiannya, semuanya bakal kelihatan jelas banget."
Arkan hanya mendengus pelan tanpa menoleh, namun langkah kakinya semakin cepat dan mantap. Ia berjalan paling depan, menuntun jalan menuju bagian belakang gedung utama, tempat-tempat yang jarang dilalui murid-murid biasa.
Di sisi lain sekolah, tepatnya di ruang rapat utama yang luas dan mewah, suasana berubah menjadi mencekam dan penuh ketegangan. Ruangan yang biasanya dingin dan hening itu kini terasa jauh lebih dingin, seolah udara di dalamnya membeku karena amarah yang sedang meluap-luap.
Nyonya Tamara duduk di kursi utama, di ujung meja panjang yang mengkilap. Di sekelilingnya, Pak Herman, para guru senior, serta seluruh staf inti sekolah duduk berjejer dengan wajah pucat dan tegang. Tidak ada satu pun yang berani menatap lurus ke wajah wanita itu. Udara di ruangan itu terasa berat, dipenuhi rasa takut dan rasa bersalah. Nyonya Tamara duduk bersandar malas di kursinya, namun sorot matanya yang tajam menyapu satu per satu wajah orang yang ada di hadapannya, seolah sedang menghakimi mereka satu per satu. Senyum manis dan ramah yang tadi ia perlihatkan di depan para wartawan sudah lenyap sepenuhnya. Kini yang tersisa hanyalah wajah dingin, keras, dan penuh kemarahan yang mengerikan.
Keheningan yang menegangkan itu akhirnya pecah saat Nyonya Tamara menekan kedua telapak tangannya ke atas meja dengan cukup keras, menimbulkan suara gedebuk yang menggema pelan. Ia menatap tajam ke arah Pak Herman yang duduk di sebelahnya, lalu suaranya yang lantang dan berisi kemarahan meledak memenuhi ruangan.
"Kalian tahu betapa bangganya saya menjadikan sekolah ini lembaga pendidikan nomor satu dan paling bergengsi di negeri ini? Saya bangga karena di sini semuanya tertib, aman, dan terkendali. Tapi apa yang saya lihat belakangan ini?! Kekacauan! Kekacauan di mana-mana!"
Nyonya Tamara berdiri tegak, tangannya menunjuk ke arah para guru dan staf dengan gerakan penuh emosi.
"Apa kalian sudah lupa kejadian kebakaran di gedung timur dua minggu yang lalu?! Hah?! Bagaimana bisa gedung yang dilengkapi sistem pemadam canggih dan dijaga ketat bisa terbakar begitu saja?! Untung saja kerugiannya bisa diperbaiki dan beritanya bisa kami redam sebelum menyebar luas! Kalian semua benar-benar tidak becus mengurus apa yang sudah saya percayakan! Kalian membiarkan bahaya mengintai di setiap sudut, membiarkan fasilitas mahal ini rusak, dan kalian hanya diam saja!"
Suara Nyonya Tamara meninggi, penuh tekanan. Tidak ada satu pun yang berani membuka mulut. Semua orang hanya bisa menundukkan kepala dalam-dalam, menelan ludah, dan menerima semua amarah itu. Pak Herman mengusap keringat dingin yang mulai membasahi pelipisnya, napasnya tertahan. Ia tahu ini belum berakhir, dan ia tahu apa lagi yang akan menjadi sasaran kemarahan wanita itu selanjutnya.
Dan benar saja, Nyonya Tamara perlahan mengubah arah pandangannya, menatap Pak Herman tepat di manik matanya yang mulai berkaca-kaca karena gugup. Senyum sinis dan kejam terukir di bibir wanita itu.
"Dan yang paling parah... kasus kematian murid bernama Dinda Kusuma itu! Ini benar-benar kesalahan terbesar kalian!"
Nada bicaranya berubah menjadi bisikan rendah yang terdengar jauh lebih mengerikan daripada teriakan. Ia berjalan perlahan mengelilingi meja rapat, berhenti tepat di belakang kursi Pak Herman.
"Kalian pikir kalian pintar ya? Kalian pikir dengan diam-diam meminta bantuan polisi dan menutup kasus itu semuanya beres? Lihat apa yang terjadi hari ini! Semua media datang menyerbu! Semua orang bertanya-tanya! Kalian tidak becus mengurusi kasus itu dengan rapi! Kalian ceroboh! Kalian membiarkan jejak-jejak pertanyaan tersisa di benak orang banyak, sampai-sampai berita ini bocor ke telinga wartawan! Kalian hampir saja membuat nama baik sekolah ini hancur lebur, reputasi ratusan tahun yang saya bangun runtuh hanya karena kecerobohan kalian semua!"
Nyonya Tamara mencondongkan badannya mendekat ke telinga Pak Herman, suaranya bergetar menahan emosi.
"Kalian beruntung... Kalian semua sangat beruntung saya datang tepat waktu. Kalian tahu betapa sulitnya saya memutarbalikkan fakta di depan wartawan tadi? Betapa kerasnya saya berusaha menutupi kekurangan dan ketidakbecusan kalian? Kalian menyebut diri kalian pendidik, tapi kalian tidak mampu menjaga apa yang paling utama: nama baik lembaga ini!"
Pak Herman akhirnya tidak tahan lagi. Ia mengangkat wajahnya sedikit, berusaha membela diri meski suaranya bergetar hebat. Ia tahu risikonya besar, tapi ia tidak bisa diam saja dituduh sepenuhnya.
"Nyonya Tamara... mohon maafkan kami... Kami sudah berusaha sekuat tenaga. Kami sudah berbicara dengan pihak kepolisian, kami sudah meminta mereka menutup kasus itu, kami sudah berusaha membersihkan jejak... Tapi kami tidak mengira kalau beritanya bakal bocor sampai ke luar, kami tidak mengira wartawan bakal secepat itu datang. Kami sudah melakukan semua sesuai perintah Nyonya..."
"Cukup!" potong Nyonya Tamara dengan tajam, secepat kilat berbalik menghadap Pak Herman. Matanya menyala penuh amarah. "Alasan! Itu hanya alasan orang yang tidak mampu! Kalian sudah diberi wewenang, diberi fasilitas lengkap, diberi gaji besar, tapi kalian tidak bisa menjaga kerahasiaan sedikit pun! Jangan coba-coba menyalahkan keadaan atau pihak lain! Kesalahan tetaplah kesalahan, dan kalian yang bertanggung jawab atas itu semua!"
Pak Herman kembali menunduk dalam, mulutnya terkatup rapat. Ia sadar pembelaan dirinya sia-sia belaka. Di mata wanita itu, ia dan semua orang di ruangan ini hanyalah bawahan yang tidak berhak berpendapat.
Nyonya Tamara kembali berdiri di kepala meja rapat, menatap mereka semua dengan pandangan yang penuh keputusan mutlak. Suaranya kembali lantang dan berwibawa, seolah sedang mengumumkan sebuah hukum baru yang tak terbantahkan.
"Karena saya sudah melihat sendiri betapa buruknya kinerja kalian semua, mulai detik ini, saya memutuskan untuk mengambil alih sepenuhnya kendali sekolah ini. Mulai sekarang, saya yang akan memegang seluruh kendali, seluruh keputusan, dan seluruh kebijakan di sini. Tidak ada lagi keputusan yang diambil sepihak oleh kalian, Pak Herman, maupun oleh guru-guru lain."
Ia menunjuk lurus ke arah Pak Herman.
"Tugas Bapak sekarang hanya satu: melaporkan segala hal, sekecil apa pun, langsung kepada saya. Bapak hanya pelaksana perintah, bukan lagi pengambil keputusan. Segala sesuatu harus saya ketahui dan saya izinkan terlebih dahulu sebelum dilakukan. Apakah Bapak mengerti?"
Pak Herman mengangguk patuh, wajahnya pucat pasi. "Mengerti, Nyonya Tamara. Saya mengerti dan akan melaksanakannya."
Nyonya Tamara kembali menatap semua orang yang ada di ruangan itu, pandangannya mengancam dan penuh peringatan keras.
"Dan ingat baik-baik! Bagi siapa saja yang berani menentang perintah saya, yang berani menyembunyikan sesuatu, atau yang berani menghalangi jalan saya... maka saya pastikan orang itu akan langsung saya pecat seketika, dicoret namanya dari daftar pegawai, dan tidak akan pernah bisa bekerja di tempat terhormat mana pun lagi seumur hidupnya. Saya punya kuasa untuk menghancurkan masa depan kalian dalam sekejap mata. Jangan pernah lupa siapa pemilik dan penguasa sebenarnya di sini."
Suasana hening seketika. Ancaman itu begitu nyata dan mengerikan. Semua orang merasa lemas mendengarnya, namun tak ada yang bisa melakukan apa pun selain tunduk dan patuh.
"Siap, Nyonya Tamara. Kami mengerti dan akan selalu mematuhi segala perintah Nyonya," jawab mereka serempak dengan suara rendah dan gemetar.
"Bagus," ucap Nyonya Tamara dingin. Ia kembali duduk, wajahnya kembali tenang seolah tak ada yang terjadi. "Sekarang kembali ke tugas masing-masing. Pastikan tidak ada lagi kekacauan, pastikan semua aman, dan pastikan tidak ada satu pun berita buruk yang keluar dari sekolah ini. Kalian boleh pergi."
Satu per satu guru dan staf sekolah keluar dari ruangan itu dengan langkah tergesa-gesa dan penuh ketakutan.
Nyonya Tamara masih duduk diam di kursi utamanya, bersandar lemas sambil menatap lurus ke depan dengan pandangan yang tidak fokus. Wajahnya yang tadi penuh amarah dan wibawa, kini berubah menjadi penuh keraguan dan kecemasan yang samar.
Pikirannya kembali melayang, teringat kembali sosok gadis yang ia lihat di antara kerumunan murid tadi. Gadis itu berdiri diam, menatapnya dengan tatapan yang tidak seperti murid lain—tidak takut, tidak kagum, melainkan penuh selidik dan keberanian yang aneh. Wajah itu... raut wajah itu... seolah ada sesuatu yang sangat akrab, sesuatu yang mengusik jauh di sudut ingatannya yang paling dalam.
Nyonya Tamara mengerutkan keningnya dalam-dalam, jarinya mengetuk-ngetuk pelan permukaan meja mewah itu, seolah berusaha memecahkan teka-teki di kepalanya sendiri.
"Kenapa aku kepikiran terus sama gadis itu?" gumamnya pelan, suaranya hanya berbisik namun penuh tanda tanya besar. Ia mengingat-ingat lagi setiap lekuk wajah, bentuk mata, dan sorot pandangan gadis bernama Elara itu. "Aku rasa muka dia familiar banget buat aku... Seolah-olah aku pernah lihat wajah itu bertahun-tahun yang lalu. Bentuk matanya, garis rahangnya... mirip banget sama seseorang yang aku kenal. Sangat mirip."
Memori masa lalu yang sudah lama ia kubur perlahan mencoba bangkit kembali, namun ia berusaha keras menahannya. Ia harus memastikan. Ia tidak bisa membiarkan rasa curiga ini menggantung begitu saja.
Saat itu, Pak Herman yang berjalan paling belakang baru saja memegang gagang pintu hendak menutupnya dan pergi meninggalkan ruangan itu. Nyonya Tamara seketika tersentak dari lamunannya, ia segera mengangkat suaranya dengan nada tegas yang langsung menahan langkah lelaki tua itu.
"Pak Herman! Tunggu sebentar!"
Pak Herman terkejut setengah mati. Tubuhnya menegang seketika, ia pun segera memutar badannya kembali, berjalan tergesa-gesa mendekati meja rapat dengan kepala tertunduk hormat dan wajah yang masih pucat karena kejadian tadi. Jantungnya berdegup kencang, mengira ia kembali melakukan kesalahan yang luput dari perhatian.
Ia berhenti tepat di depan meja besar itu, menundukkan kepala dalam-dalam. "Ada apa, Nyonya Tamara? Apakah ada yang kurang atau ada perintah lain yang Nyonya inginkan?"
Nyonya Tamara tidak langsung menjawab. Ia menatap Pak Herman dengan pandangan tajam dan menyelidik, mencondongkan sedikit badannya ke depan. Suaranya terdengar tenang namun penuh tekanan, membuat Pak Herman semakin gugup.
"Ada satu hal lagi yang ingin saya tanyakan... soal satu murid," ucap Nyonya Tamara perlahan. "Kamu ingat gadis yang berdiri di pinggir kerumunan tadi? Gadis yang menatap saya berani-berani, rambutnya panjang, kulitnya sawo matang... Coba kamu ceritakan siapa dia sebenarnya."
Pak Herman mengerutkan keningnya sejenak, berusaha mengingat-ingat, lalu wajahnya sedikit lega saat ingatannya sampai pada nama itu.
"Ah, Ibu maksud Elara Nirmala?" tanya Pak Herman memastikan. Ia mengangguk paham, lalu menjelaskan dengan lancar. "Kalau Elara, dia adalah siswi yang baru masuk beberapa hari yang lalu, Nyonya. Dia diterima melalui program beasiswa tahunan sekolah. Nilainya cukup bagus, jadi dia lolos seleksi dan ditempatkan di kelas unggulan."
Nyonya Tamara menyimak penjelasan itu dengan saksama, namun rasa curiganya belum sepenuhnya hilang. Ia bertanya lagi dengan nada lebih tajam dan mendesak.
"Program beasiswa... Hm. Terus, siapa keluarganya? Saya mau tahu nama lengkapnya, nama orang tuanya, dan asal-usulnya. Ceritakan semuanya."
Pak Herman tidak ragu sedikit pun, ia sudah menghafal data-data murid penting di kepalanya.
"Nama lengkapnya memang Elara Nirmala, Nyonya. Ibunya bernama Rahma, dan ayahnya bernama Zaki. Kalau tidak salah data yang ada di berkas, mereka adalah warga biasa yang tinggal di sebuah desa kecil di pinggiran kota ini. Tidak ada yang istimewa dari keluarganya, hanya rakyat biasa yang kurang mampu, makanya anaknya masuk pakai jalur beasiswa. Tidak ada hubungan apa-apa dengan kalangan atas atau tokoh penting mana pun."
Mendengar penjelasan itu, bahu Nyonya Tamara perlahan turun ke bawah. Rasa cemas yang sempat menyergap hatinya perlahan memudar, digantikan oleh rasa lega yang besar. Ia meniup napas panjang dari mulutnya, senyum kecil terbit di bibirnya.
'Ternyata hanya anak desa dari pinggiran kota... 'batinnya bergumam lega. 'Hanya anak orang biasa. Cuma kebetulan saja wajahnya mirip. Tidak ada apa-apa.'
Ia melambaikan tangannya pelan ke arah Pak Herman, memberi isyarat agar lelaki itu pergi.
"Oalah, begitu rupanya. Sudah sana, kamu pergi saja. Kamu siapkan ruangan khusus untuk saya di gedung utama, saya mau menetap di sini sementara waktu sampai semua masalah beres dan sekolah kembali aman. Pastikan ruangannya lengkap fasilitasnya."
Pak Herman mengangguk patuh dengan wajah berseri-seri karena tidak lagi dimarahi. "Baik, Nyonya Tamara. Segera akan saya siapkan sebaik mungkin. Permisi, Nyonya."
Pak Herman pun segera berbalik badan dan berjalan keluar ruangan dengan langkah yang jauh lebih ringan dibanding saat masuk. Pintu besar itu tertutup rapat kembali, meninggalkan Nyonya Tamara sendirian lagi.
Kali ini, senyum di wajahnya jauh lebih lebar dan tulus. Ia berdiri perlahan dari kursi kebesarannya, merapikan sedikit pakaian mahalnya sambil berbicara sendiri dengan nada penuh kemenangan dan kelegaan.
"Syukurlah... Ternyata dia bukan anak dari seseorang di masa lalu aku. Cuma kebetulan kemiripan saja. Aku hampir saja panik sendiri," gumamnya pelan sambil berjalan menuju cermin besar di sudut ruangan merapikan riasannya. "Kalau benar anak itu masih hidup dan ada di sini, pasti sudah jadi masalah besar. Tapi untunglah, semua aman. Tidak ada yang bisa mengancam posisi dan kekuasaanku di sini. Tidak ada apa pun dan siapa pun."
Dengan langkah yang kembali tegap, anggun, dan penuh wibawa, Nyonya Tamara segera beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar ruang rapat itu.