Wan Chen tidak ingin menyelamatkan dunia.
Ia hanya ingin kaya.
Untungnya, saat berada di ambang kematian, ia memperoleh Sistem dengan kemampuan Duplikasi dan Penyimpanan Dimensional.
Dan di dunia yang kekurangan segalanya, tidak ada kemampuan yang lebih menakutkan dari itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 - Pembantaian Sepihak dan Rampasan Ganda
Telinga Lin Yu Yan berkedut sepersekian detik sebelum batu karang di sebelah kanan berderit kasar. Ia menahan lengan Wan Chen, memutus langkah mereka berdua.
Pisau lipat seketika meluncur ke genggamannya. Matanya menyapu celah tebing dengan presisi yang tajam.
"Tujuh titik. Kita dikepung," bisik Yu Yan cepat, tubuhnya otomatis bergeser mengambil posisi untuk melindungi area buta Wan Chen.
Tujuh pria dengan pakaian loreng kotor melangkah keluar dari balik bayangan tebing. Mereka menyebar. Laras senapan otomatis bergesekan dengan rompi peluru, mengeluarkan bunyi klik logam yang sengaja dibuat keras. Formasi setengah lingkaran. Menjebak.
Pemimpin mereka berdiri di tengah. Ada bekas luka bakar memanjang dari rahang hingga lehernya. Pria itu meludah ke tanah berdebu.
"Taruh tas kalian di tanah. Pelan-pelan," tuntut pemimpin itu. Suaranya serak. Ia menatap Lin Yu Yan sekilas, lalu matanya beralih ke wajah Wan Chen. "Bocah pengawal dengan scout wanita yang setengah mati. Pemandangan yang sangat menyedihkan."
Wan Chen diam. Tangannya masih terangkat di udara. Puluhan bilah karbon melayang pasif di sekitarnya.
"Kau tuli?" Pria berwajah codet di sebelah pemimpin itu mengokang senjatanya. Moncong larasnya mengarah lurus ke dada Wan Chen. "Serahkan barang jarahan kalian, atau kami jadikan kalian saringan darah sekarang juga. Jangan sok pahlawan dengan trik sulap murahanmu itu."
Wan Chen menurunkan bahunya. Ia membuang napas panjang dari hidung.
'Kenapa sampah selalu merasa perlu berpidato sebelum mati,' batin Wan Chen.
Wan Chen memberi isyarat tangan sederhana pada Yu Yan. Lindungi aku. Tanpa ragu, wanita itu merendahkan pusat gravitasinya, memasang kuda-kuda siaga untuk menepis ancaman apa pun dari arah belakang Wan Chen.
Ia sama sekali tidak berniat menjawab. Waktunya sudah terpotong jauh untuk mengurus Pemakan Besi di lorong sebelumnya. Omong kosong faksi kroco ini hanya menambah utang jam tidurnya yang sudah menipis.
Tanpa aba-aba, ujung sepatu Wan Chen menghentak tanah.
Ia melesat maju.
"Tembak!" teriak si pemimpin dengan suara pecah.
Kilatan moncong senjata menerangi celah sempit itu. Rentetan timah panas memecah udara. Namun lintasan Wan Chen tidak lurus. Tubuhnya merendah drastis di bawah garis tembak. Tangan kanannya menyambar satu gagang pisau dari susunan ruang hampa.
Pria berwajah codet belum sempat menarik pelatuknya penuh ketika bilah hitam itu menembus laringnya.
Darah menyembur. Pisau karbon menancap dalam mengunci tulang leher.
Wan Chen tidak repot menarik senjatanya. Ia melepaskan genggaman begitu saja. Membiarkan mayat itu tumbang menabrak batu bersama pisaunya.
Jari kirinya mengetuk antarmuka transparan. Satu pisau karbon baru memanifestasi langsung ke telapak tangannya dalam hitungan milidetik.
Ia berputar di atas tumit. Menghindari tebasan parang dari musuh kedua di sebelah kiri. Bilah baru di tangannya bergerak naik, memotong tendon lutut musuh itu dengan satu tarikan bersih. Pria itu menjerit, ambruk berlutut ke tanah. Wan Chen menancapkan bilah yang sama ke ubun-ubunnya tanpa memperlambat langkah.
Tancapkan. Lepas. Munculkan lagi.
Ini bukan tarian bela diri yang indah. Ini adalah murni eksekusi mekanis. Kecepatan pasokan senjata dari ruang dimensionalnya mengalahkan waktu isi ulang senapan para perampok. Ia membuang pisau ke tubuh musuh layaknya membuang selongsong peluru kosong.
Dua orang mencoba lari ke arah formasi tebing. Wan Chen melemparkan dua bilah secara beruntun. Keduanya tertembus tepat di bagian belakang leher. Tumbang menyapu debu jalanan.
Pemimpin Serigala Hitam melangkah mundur tak terkendali. Kakinya tersandung kerikil. Laras senjatanya gemetar hebat, menembak membabi buta ke udara.
"M-monster macam—"
Satu bilah karbon meluncur menembus dahinya. Menghentikan paksa kalimat itu selamanya. Pria itu jatuh telentang. Matanya terbuka lebar menatap langit pagi yang mulai memucat.
Hening kembali turun ke dasar lembah. Pertarungan itu selesai di bawah dua menit.
Lin Yu Yan menempelkan punggungnya pada dinding tebing. Bukan karena lumpuh ketakutan, melainkan manuver taktis agar tak menghalangi area tebas Wan Chen. Matanya yang awas merekam setiap milidetik pergerakan mematikan pria itu, membiarkan jantungnya berdetak keras memompa adrenalin.
Udara tebing kini dipenuhi bau mesiu dan logam amis. Tujuh mayat bergelimpangan dengan gagang pisau hitam mencuat dari titik vital mereka. Pembantaian satu arah yang terlalu rapi. Pria di depannya tidak terluka sedikit pun. Ritme napasnya bahkan tidak memburu sama sekali.
Wan Chen menghela napas. Menepuk pelan lengan jaketnya.
Ia lalu berjalan santai ke arah mayat si pemimpin. Berjongkok perlahan di samping tubuh tak bernyawa itu. Tangannya merogoh saku rompi taktis yang berlumuran cairan merah segar.
"Kau... apa yang kau lakukan?" suara Lin Yu Yan terdengar menjaga kewaspadaan.
"Mengambil hakku," balas Wan Chen datar.
Ia menarik segepok uang tunai kusam. Tiga klip amunisi utuh. Sebuah modul data identitas. Antarmuka dimensinya berkedip satu kali. Barang-barang itu lenyap ditelan ruang penyimpanannya.
Pria itu bergeser ke mayat kedua. Membongkar kasar sabuk peralatannya. Mengambil apa pun yang memiliki nilai jual. Pisau lipat, jatah ransum padat, baterai cadangan. Semua masuk ke dalam inventaris tanpa sisa.
Mata Lin Yu Yan menyipit, mengamati cara pria itu menjarah dengan presisi tinggi. Insting bertahannya memproses situasi dengan cepat. Pria ini bukan sekadar mempertahankan nyawa. Ia memanen musuhnya. Menganggap para penjahat bersenjata sebagai sekadar kantong rampasan berjalan yang mengantarkan barang.
'Kalkulasi kekuatannya terlalu absolut. Melawannya adalah murni bunuh diri,' batin Lin Yu Yan tajam. Evaluasi rasional itu dengan cepat mengunci loyalitasnya secara permanen.
"Ambil senapan yang belum rusak," instruksi Wan Chen, memecah fokus wanita itu. "Bawa sebanyak yang pundakmu sanggup. Jangan buang waktuku di sini."
"Dimengerti." Lin Yu Yan bergerak sigap. Ia melucuti magasin musuh dan memungut laras panjang yang berserakan di tanah dengan efisien.
Satu jam kemudian.
Pemandangan tebing terjal yang menyesakkan akhirnya digantikan oleh hamparan jalan beton. Gerbang baja raksasa perbatasan kota menjulang kokoh di ujung pandangan. Cahaya lampu dari menara pengawas menyorot tajam, menyapu sisa-sisa bayangan pagi.
Zona aman. Titik di mana hukum administrasi faksi utama kembali berlaku.
Wan Chen menghentikan langkah tepat di batas luar area pemeriksaan. Ia memutar separuh tubuhnya, menatap wanita di belakangnya.
Napas Lin Yu Yan tetap terjaga stabil, membuktikan staminanya. Tiga senapan laras panjang menyilang rapi, dikunci dengan tali taktis agar tak membebani pergerakannya.
"Kita berpisah di pintu masuk ini," kata Wan Chen. Tangannya kembali berdiam nyaman di saku jaket. "Kesepakatan mutlak kita dimulai dari sini. Kau masuk lebih dulu, bersihkan dirimu, dan gerakkan jaringanmu."
Lin Yu Yan mengangguk. Matanya menatap lurus ke arah Wan Chen.
"Ada lelang kelas atas di distrik tengah besok malam," lapor wanita itu cepat. "Aksesnya sangat tertutup. Hanya untuk anggota serikat petinggi. Tapi aku tahu celah untuk menyisipkan namamu ke daftar tamu cadangan."
"Pastikan tempat duduk itu ada untukku," potong Wan Chen lugas. "Hubungi aku lewat saluran pribadi jika tiketnya sudah di tangan."
"Aku mengerti."
Wan Chen berbalik. Ia berjalan santai melewati portal keamanan gerbang kota. Pemindai otomatis menyapu tubuhnya dengan cahaya biru, tidak bereaksi sama sekali terhadap ratusan senjata dan barang ilegal yang tersembunyi aman di balik antarmuka dimensionalnya.
Suhu dingin dari pendingin ruangan lobi fasilitas transit langsung menyapu wajahnya. Bau karat Hutan Besi perlahan hilang terganti aroma kopi buatan mesin. Suara langkah kaki dan dengung percakapan manusia menyambutnya kembali.