Kayla, Alfian, Joy, dan Jenny berusaha memecahkan dalang di balik penculikan dan pembunuhan. Puzzle demi puzzle mereka susun, hingga membentuk sebuah petunjuk, bahwa Seseorang yang sangat dekat dengan mereka adalah pelakunya. Lalu tindakan apa yang akan mereka ambil? Dan apa motifnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
"Kenapa nggak lewat jalan yang tadi?" Tanya Jenny bingung. Saat melihat Alfian melewati jalan yang menuju ke pelabuhan, dan memilih melewati jalan yang penuh ranjau.
Alfian memberhentikan mobilnya, kemudian dia mengambil Magnet yang berukuran besar. Magnet sudah dipersiapkan sebelumnya.
"Nih!" Ucap Alfian seraya memberikan mereka magnet.
Masing-masing mendapatkan satu magnet yang besar. Magnet yang diberikan Alfian membuat mereka bingung. Mereka saling melempar pandangan seolah bertanya "Ada yang tau maksudnya"
Jalan yang dipilih Alfian di pasang jebakan. Jebakan ini memiliki dua tingkatan. Tingkatan pertama berisi paku yang tajam serta kawat duri yang tebal. Untuk tingkatan ke dua berisi bom peledak, dimana bom itu akan meledak saat merasakan tekanan dari atas.
"Dijalan ini dipenuhi dengan paku dan kawat. Kita harus menyingkirkannya." Ucapnya serius dan santai.
Jalan ini masih berupa tanah biasa, jalannya belum di aspal sama sekali. Sehingga, mereka menyembunyikan paku dan kawat itu di balik tanah dengan baik. Paku paku itu tertutup oleh abu dan pasir.
Dari arah kejauhan terlihat seperti tidak ada apa-apa. Namun, saat mereka mulai mendekatkan Magnet ke jalan. Ratusan paku dan kawat terseret dan tertempel di magnet besar itu
Gretttt...
Gretttt...
Mereka menatap tak percaya. Tadinya mereka mengira apa di katakan Alfian itu hanya omongan biasa. Namun saat Alfian mendekatkan Magnet ke tanah, ratusan paku tertarik dan menempel di Magnet yang berada ditangannya.
"Nggak usah bengong! Ayo bantuin!" Teriak Alfian dengan suara keras.
Tidak terlihat pergerakan dari mereka bertiga. Mereka masih diam dan terpaku di tempat. Di dalam hati mereka masing-masing bertanya:
Kenapa setiap ucapannya selalu nyata? Apakah dia sejenius ini sampai bisa memprediksi sesuatu yang bahkan tidak kami pikirkan?
Joy memang tahu tempat ini berbahaya, tapi dia tidak tahu kalau disekitar tempat ini telah dipasang jebakan. Sehingga melihat apa yang dilakukan Alfian ia terperangah. Ditambah pertanyaan Alfian tentang dari mana dia tahu tempat ini berbahaya, membuatnya semakin takjub. Alfian bukan orang biasa, entah rahasia apa yang tersimpan di dalam dirinya.
"Apakah kau benar-benar tidak tahu jebakan ini Joy?" Tatapannya lurus ke arah Joy sembari tersenyum sinis.
Joy hanya menggelengkan kepala. "Aku tidak tahu." Jawabnya santai. Seolah apa yang dilakukan Alfian tidak membuatnya takut.
Apakah dia orang dalam? Hanya orang luar seperti dirikulah yang tahu setiap jebakan disini. Batin Alfian bertanya-tanya.
"Sudahlah! Kita ini satu tim, jadi jangan saling curiga seperti ini. Ingat! Kita sudah melewati bahaya bersama-sama." Ucap Kayla seakan tahu kalau mereka sedang perang dingin.
Setelah pertengkaran itu selesai, mereka ber empat sepakat untuk membersihkan jalan bersama-sama.
Ada banyak sekali magnet dan kawat duri yang mereka dapatkan. Mereka menumpuknya di satu tempat hingga menjadi gunungan kecil.
"Banyak sekali ya..." Ucap Jenny seraya menatap tumpukan benda tajam itu dengan takjub.
"Apa yang akan terjadi pada mobil kita kalau sampai tertancap paku dan kawat duri yang sebanyak ini? Mungkin aku akan merelakan mobil ini disini, dan memilih untuk berjalan kaki." Ucap Alfian seraya membersihkan sisa paku yang masih menempel pada magnet.
"Mereka emang seniat itu ya bikin jebakan... Setelah ini masih ada lagi nggak?" Tanya Kayla seraya menatap Alfian lama, menunggu jawaban pria itu.
Alfian melirik Kayla sekilas, lalu menjawabnya dengan singkat dan padat. "Ada satu lagi."
Setelah kegiatan pembersihan jalan itu selesai. Mereka menyimpan kembali peralatan dan masuk ke dalam mobil. Alfian pun menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, hingga mencapai jarak sekitar 400 meter dari tempat tadi.
Mobilnya pun berhenti. Alfian memberikan kode kepada mereka untuk turun dan memperhatikan sekitar jalan.
"Apakah kalian melihat sesuatu?" Tanya Alfian sembari menatap ke depan.
Ia ingin mengetes seberapa tajam penglihatan mereka. Karena di depan sana sudah terpasang alat peledak. Dimana ketika alat itu mendapatkan beban dari atas, mereka akan langsung meledak. Dan ledakannya cukup luar biasa dan bisa menghancurkan sesuatu yang berada di dekatnya.
Sama seperti paku dan kawat tadi. Alat ini juga sengaja ditanam diatas tanah, tertutup rapat oleh lapisan tanah yang berada diatasnya. Sehingga keberadaannya tidak diketahui.
Cara mengetahui ada atau tidaknya benda itu adalah dilihat dari permukaan tanah itu sendiri. Tanah yang dipasang alat peledak akan sedikit meninggi dan menonjol dari pada tanah yang tidak ada alat peledak. Walaupun begitu, akan sangat sulit membedakan antara tanah yang memang ketinggiannya berbeda sama tanah yang dipasangi alat peledak.
"Seperti jalan pada umumnya, tidak ada yang aneh." Ucap Jenny seraya menajamkan matanya. Namun yang ia lihat adalah jalan-jalan pada umumnya, tanpa ada hal yang janggal dan aneh.
"Air yang terlihat dangkal belum tentu dangkal, dan air yang terlihat dalam belum tentu juga dalam. Seperti jalan ini... Terlihat biasa namun di dalamnya terpasang jebakan yang mematikan."
Ucapan Alfian dingin tajam, dan seolah menembus hati seseorang yang mendengarnya.
Alfian membuka bagasi, lalu mengeluarkan papan yang terlihat tebal dan cukup panjang.
Mereka bertiga saling memandang seraya menampilkan wajah yang terlihat keheranan.
Papan? Apakah tidak ada alat lain? Alat yang lebih meyakinkan dan estetik sedikit dari pada ini? Batin mereka serempak.
"Kenapa tatapan kalian begitu?" Alfian terlihat tidak suka dengan tatapan mereka yang seolah merendahkan papan yang dibawanya.
"Walaupun papan ini terlihat biasa... Namun ia mampu melindungi kita dari bahan peledak yang ada di depan sana." lanjutnya.
Alfian tidak memperdulikan tatapan heran dari mereka. Ia segera mengumpulkan beberapa batu dan diletakan di sisi ujung papan. Batu itu berfungsi untuk mengganjal papan sehingga papan menjadi miring sebelah, menyerupai sebuah landasan pelontar.
Ia menancapkan batu-batu tersebut dengan kuat di dalam tanah. Memastikan posisinya terkunci dan kuat. Sehingga tidak mudah bergeser dan bisa menahan beban berat dengan baik.
"Masuk!" Perintah Alfian kepada mereka semua. Suaranya dingin, datar, dan tegas, seolah tidak ingin dibantah.
Mereka dengan patuh memasuki mobil. Walaupun dalam hati masih memiliki banyak pertanyaan terkait papa tersebut, mereka lebih memilih diam dan menuruti perintahnya.
"Siapkan diri kalian! Kita akan terbang!" Teriak Alfian dengan suara yang lantang. Seolah-olah apa yang dilakukan sekarang bukan perbuatan yang nekat dan bahaya, melainkan sebuah permainan yang seru dan menyenangkan.
Alfian memundurkan mobilnya ke belakang. Ia segera mengambil jarak ancang-ancang, lalu ia menancapkan gas sekuat mungkin agar mobil itu melaju dengan cepat. Alvian memanfaatkan papan yang disusunnya tadi sebagai landasan pelontar.
Bruuuum!
Bruuuuum!
Saat mobil yang mereka naiki menginjak sisi papan yang miring, seketika itu juga mobilnya mendarat terbang di atas tanah. Meninggalkan tempat yang penuh dengan bahan peledak.
Situasi yang terjadi sekarang seakan-akan hanya mimpi. Mata mereka terbelalak, seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya ini. Mereka tidak menyangka bisa berada dalam mobil yang sedang melayang di udara. Sungguh ini adalah liburan yang penuh bahaya tapi cukup seru.