NovelToon NovelToon
Aku Pergi Dan Tak Kembali

Aku Pergi Dan Tak Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Yanti Topato

Mona Gradies, wanita 26 tahun yang ceria, blak-blakan, dan sedikit ceroboh, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah bekerja di Aditama Group—perusahaan milik Wira Aditama, seorang CEO berusia 30 tahun yang dikenal dingin, tegas, berwibawa, dan gila kerja.
Di balik sikapnya yang tampak sempurna, Wira menyimpan dunia yang penuh kontrol, aturan, dan jarak dari siapa pun. Namun Mona hadir seperti gangguan yang tidak bisa ia atur—berisik, ceroboh, tapi jujur dan hangat.
Awalnya hanya kesalahan kecil dan perdebatan sepele di kantor. Tapi semakin lama, batas profesional dan perasaan mulai kabur.
Hingga satu peristiwa mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 4- Di balik tatapan yang tak pernah jelas

Di Balik Tatapan yang Tak Pernah Jelas

Pagi di Aditama Group selalu datang lebih cepat daripada kesiapan Mona. Gedung kaca itu berdiri megah seperti biasa, memantulkan cahaya matahari yang baru saja naik dari ufuk timur. Namun bagi Mona, pagi bukan lagi sekadar awal hari—melainkan awal dari ketegangan yang tidak pernah ia pahami ujungnya.

Sejak resmi menjadi sekretaris pribadi Wira Aditama, hidupnya berubah drastis. Tidak hanya soal pekerjaan yang menumpuk, tapi juga soal pria itu sendiri. Wira bukan tipe atasan yang mudah ditebak. Kadang ia bisa sangat dingin, bahkan nyaris tak peduli. Tapi di saat lain, tatapannya seperti menyimpan sesuatu yang terlalu dalam, terlalu berat, seolah Mona tanpa sengaja menyentuh bagian hidupnya yang tidak boleh disentuh siapa pun.

Hari itu Mona masuk ke ruangannya lebih awal dari biasanya. Ia membawa dua map berisi dokumen kontrak kerja sama dengan investor baru. Tangannya sedikit gemetar, bukan karena takut bekerja, tapi karena ia tahu Wira sedang berada di kantor sejak subuh sesuatu yang jarang terjadi.

“Selamat pagi, Pak Wira,” ucap Mona pelan sambil menaruh map di meja besar itu.

Wira tidak langsung menjawab. Pria itu masih menatap layar laptopnya. Rambutnya sedikit berantakan, kemeja putihnya tergulung di bagian lengan. Ada sesuatu dari dirinya yang membuat ruangan itu terasa lebih sempit dari biasanya.

“Letakkan saja,” jawabnya akhirnya, datar.

Mona mengangguk kecil lalu berdiri di samping meja, menunggu instruksi lanjutan. Tapi tidak ada. Hanya suara ketikan dan detik jam dinding yang terdengar jelas.

Biasanya Mona akan langsung keluar setelah menyerahkan dokumen. Tapi pagi itu ada sesuatu yang menahannya. Entah keberanian atau kebodohan, ia sendiri tidak yakin.

“Pak, untuk jadwal meeting jam sepuluh dengan pihak Harsya Group, apakah perlu saya siapkan presentasi tambahan?”

Wira berhenti mengetik, hening. Satu detik, dua detik, lalu ia menoleh. Tatapan itu lagi, tatapan yang membuat Mona selalu merasa seperti sedang diuji tanpa diberi tahu pertanyaannya.

“Siapa yang menyuruhmu berpikir sejauh itu?” tanya Wira akhirnya.

Mona terdiam sejenak. “Saya hanya mengantisipasi, Pak.”

Wira bersandar di kursinya. Matanya tidak lepas dari Mona.

“Antisipasi kadang tidak diperlukan kalau kamu tidak tahu arah permainan,” ucapnya pelan, tapi tajam.

Mona menunduk sedikit. Ia tahu kalimat itu bukan sekadar kritik pekerjaan. Ada sesuatu di baliknya, sesuatu yang tidak pernah dijelaskan.

“Baik, Pak.”

Wira kembali melihat layar laptopnya, seolah percakapan itu tidak pernah penting. Tapi Mona bisa merasakan satu hal, pria itu sebenarnya tidak sedang membahas pekerjaan. Ia sedang membatasi sesuatu dan Mona tidak tahu apa.

Siang harinya, gedung Aditama Group semakin sibuk. Telepon berdering tanpa henti, pegawai berlalu-lalang dengan dokumen di tangan. Mona hampir tidak punya waktu untuk duduk. Ia bahkan belum sempat minum air sejak pagi.

Saat ia sedang mencetak dokumen di ruang administrasi, salah satu staf mendekatinya.

“Mona, Pak Wira minta kamu ke ruang rapat sekarang,” kata staf itu cepat.

Jantung Mona langsung naik satu tingkat. “Sekarang?”

“Iya. Penting katanya.”

Tanpa banyak tanya, Mona langsung menuju ruang rapat di lantai atas. Setiap langkah terasa lebih berat dari biasanya. Entah kenapa, setiap kali Wira memanggilnya di luar jadwal, selalu ada sesuatu yang tidak biasa.

Saat pintu ruang rapat dibuka, semua orang sudah duduk. Beberapa direktur, kepala divisi, dan Wira sendiri di ujung meja panjang itu.

Dan di saat itu juga, semua mata sempat melirik Mona. Wira menunjuk kursi kosong di dekatnya.

“Duduk.” Mona menurut.

Rapat dimulai seperti biasa, membahas proyek besar kerja sama investasi. Mona mencatat dengan cepat, mencoba mengikuti alur pembicaraan yang kadang terlalu teknis, namun di tengah rapat, sesuatu terjadi.

Salah satu direktur mempertanyakan satu klausul dalam kontrak yang baru saja Mona siapkan tadi pagi.

“Ini revisinya agak berbeda dari versi sebelumnya. Siapa yang mengubah?” tanya pria itu.

Semua diam, lalu Wira berbicara.

“Dia,” katanya singkat, sambil menunjuk Mona.

Semua mata langsung tertuju padanya.

Mona terkejut. “Saya, Pak?”

Wira mengangguk pelan. “Kamu yang menyusun ulang bagian risiko investasi.”

Mona buru-buru membuka catatannya. Ia yakin tidak mengubah bagian itu tanpa arahan.

“Maaf Pak, tapi saya mengikuti draft terakhir yang Bapak kirim malam tadi.”

Wira menatapnya lama, terlalu lama, lalu ia berkata, “Tidak ada draft yang saya kirim malam tadi.”

Ruangan itu tiba-tiba terasa dingin. Mona membeku.

“Tidak mungkin…” gumamnya pelan.

Salah satu direktur mulai berbisik pelan. Suasana menjadi tegang, namun Wira justru berdiri.

“Rapat ditunda sepuluh menit,” katanya tegas.

Semua orang langsung diam. Saat orang-orang mulai keluar, hanya Mona dan Wira yang tersisa di ruangan itu. Untuk pertama kalinya hari itu, Wira terlihat benar-benar fokus padanya.

“Masuk ke ruanganku sekarang,” katanya singkat.

Di ruang kerja Wira, suasana jauh lebih sunyi. Pintu tertutup dan ketegangan yang sejak tadi ditahan akhirnya terasa nyata.

“Jelaskan,” kata Wira tanpa basa-basi.

Mona masih mencoba berpikir. “Saya benar-benar tidak menerima draft baru, Pak. Semua revisi saya berdasarkan file terakhir di sistem.”

Wira menatapnya tajam.

“Dan kamu tidak merasa ada yang janggal dari file itu?”

Mona diam sejenak, lalu ia mulai menyadari sesuatu. Nama file itu memang sama, tapi formatnya sedikit berbeda, seolah pernah dibuka ulang sebelum ia mengeditnya.

“Apakah… ada orang lain yang mengaksesnya?” tanya Mona hati-hati.

Wira tidak langsung menjawab, ia justru berjalan mendekat. Langkahnya pelan, tapi membuat Mona tanpa sadar mundur setengah langkah.

“Di perusahaan ini,” suara Wira rendah, “tidak semua orang bermain jujur.”

Mona menelan ludah.

“Dan kamu baru saja menyentuh sesuatu yang seharusnya tidak kamu sentuh.”

Mata Mona membesar. “Saya tidak sengaja…”

Wira mengangkat tangan, menghentikan ucapannya.

“Aku tahu.” Suasana hening.

Untuk pertama kalinya, nada suara Wira tidak sedingin biasanya. Ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang hampir seperti melindungi, namun sebelum Mona bisa bertanya lebih jauh, Wira kembali mundur.

“Keluar sekarang. Dan jangan bahas ini dengan siapa pun.” Mona mengangguk, lalu keluar dengan langkah masih gemetar.

Malam itu, Mona tidak bisa pulang tepat waktu. Ia duduk di mejanya, menatap layar komputer yang masih menampilkan file kontrak yang tadi dipermasalahkan.

Ada sesuatu yang tidak beres dan entah kenapa, Mona merasa ini baru awal.

Sementara itu, di lantai atas, Wira berdiri di depan jendela besar ruangannya, menatap lampu kota yang berkelip jauh di bawah. Tangannya memegang ponsel, layar yang menunjukkan satu pesan singkat

“Dia mulai terlibat. Kamu yakin masih mau melindunginya?”

Wira menutup mata sejenak, lalu menjawab singkat:

“Sudah terlambat untuk mundur.”

Dan malam itu, sesuatu yang tersembunyi di Aditama Group mulai bergerak lebih dalam., termasuk sesuatu yang akan menyeret Mona lebih jauh… tanpa ia sadari.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!