Di puncak tertinggi Sembilan Ranah, Yu Fan adalah legenda—seorang Master Tingkat 9 yang menyentuh ranah kedewaan. Namun, kepercayaan adalah pedang bermata dua; ia dikhianati oleh sahabat masa kecilnya dan dibuang ke Dunia Fana dalam keadaan hancur.
Setelah 50.000 tahun tersegel dalam kegelapan yang sunyi, Yu Fan terbangun di dunia yang telah berubah total. Kekuatannya sirna, ingatannya terkikis, namun api amarah di jiwanya tetap membara. Di dunia baru ini, sang pengkhianat dipuja sebagai Dewi Kebajikan, dan sekte yang membantainya telah menjadi penguasa tunggal yang paling disegani.
Mengenakan jubah hitam dan memikul kutukan energi Yin yang dingin, Yu Fan harus memulai kembali perjalanannya dari titik terendah. Di antara kepingan ingatan yang hilang dan dunia yang penuh kebohongan, Sang Ashura akan bangkit kembali—bukan untuk menjadi pahlawan, melainkan untuk menghancurkan langit yang telah memuarakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fandy syahputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Inti Jantung Hutan dan Gejolak di Kota
Hutan itu tidak memiliki nama dalam peta resmi akademi.
Di peta-peta yang dibagikan kepada murid, wilayah di sebelah timur reruntuhan Sekte Tengkorak Hitam hanya ditandai dengan blok warna abu-abu gelap dan satu kalimat kecil yang ditulis dengan tinta yang sedikit lebih merah dari tinta lainnya: Wilayah Berbahaya—Tidak Direkomendasikan untuk Eksplorasi Mandiri. Tidak ada nama, tidak ada keterangan lebih lanjut, tidak ada alasan kenapa hanya tidak direkomendasikan dan bukan dilarang—seolah siapa pun yang membuat peta itu tahu bahwa seseorang yang sudah sampai sejauh ini untuk membaca keterangan itu sudah tidak akan dihalangi oleh kata dilarang sekalipun.
Yu Fan memasuki wilayah itu pada hari kedua setelah ia meninggalkan akademi.
Empat bulan. Dekan memberikan enam bulan, dan ia membutuhkan empat bulan—bukan karena ia tidak bisa lebih cepat, melainkan karena kualitas yang ia cari bukan kualitas yang bisa dipaksa dengan buru-buru tanpa membayar harga yang terlalu mahal di kemudian hari. Terobosan ke Tingkat 4 bukan sekadar penambahan kapasitas Qi—ia adalah restrukturisasi fundamental dari cara meridian-meridian utama berinteraksi satu sama lain, dan jika restrukturisasi itu dilakukan di atas fondasi yang tidak cukup solid, celah-celah kecil yang tertinggal akan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk diperbaiki.
Ia membutuhkan tekanan yang tepat. Bukan tekanan dari pelatihan terstruktur—tekanan dari sesuatu yang bisa membunuhnya jika ia membuat kesalahan, dan tekanan jenis itu tidak bisa ditemukan di lapangan latihan akademi mana pun.
Hari pertama di dalam wilayah abu-abu itu, ia membunuh tujuh monster Tingkat 1 dan tiga Tingkat 2.
Teknik Pedang Yin : Embun Satu Jari — satu jari yang dilapisi energi Yin sangat terkonsentrasi, cukup untuk menembus lapisan pelindung alami monster kelas bawah tanpa membuang energi berlebihan. Teknik yang sama yang ia gunakan pada Mo Han beberapa bulan lalu, namun di sini diaplikasikan dengan presisi yang berbeda karena monster tidak memiliki titik meridian yang sama dengan manusia—Yu Fan harus mengidentifikasi struktur energi internal setiap spesies baru dan menemukan titik paling efisien dalam beberapa detik pertama pertemuan.
Ini adalah latihan yang tidak diajarkan di akademi mana pun. Adaptasi real-time terhadap anatomi energi yang berbeda. Setiap monster yang berbeda adalah soal ujian baru.
Hari ketiga, seekor Serigala Bayangan Tingkat 3—berbeda dari kawanan yang menyerang mereka di Hutan Kematian dulu karena versi yang tinggal di wilayah ini sudah berevolusi lebih lanjut, bayangan-bayangan yang ia ciptakan tidak sekadar tipu muslihat visual melainkan proyeksi energi yang memiliki kemampuan menyerang parsial. Yu Fan menghadapi enam sekaligus—dua yang nyata, empat yang merupakan proyeksi—dan dalam lima menit pertama ia sudah tergores di bahu kiri dan betis kanan karena salah mengidentifikasi mana yang nyata.
Menit keenam, ia menemukan cara untuk membedakan: proyeksi energi serigala bayangan tidak menghasilkan perubahan suhu di udara yang mereka lewati, sementara yang nyata menurunkan suhu sekitar dua derajat karena teknik bayangan mereka menguras panas dari lingkungan. Energi Yin Yu Fan yang sensitif terhadap perbedaan suhu menjadi pendeteksi yang jauh lebih handal dari mata.
Menit ketujuh, kedua serigala yang nyata sudah tidak bergerak.
"Mangsa ketigabelas hari ini," gumamnya dingin di hari ketujuh, menghadapi seekor serigala bayangan Tingkat 3 yang berbeda ukurannya dari kawanannya—lebih besar, dengan tiga ekor dan mata berwarna ungu yang menunjukkan mutasi genetis yang meningkatkan kemampuan proyeksi bayangnya secara signifikan. Pedangnya keluar dari sarungnya dalam gerakan yang sudah sangat otomatis.
Teknik Pedang Yin : Tebasan Membaca Suhu.
Satu gerakan horizontal yang membawa pedangnya melewati keempat proyeksi bayangan tanpa resistensi apapun, lalu berbalik ke titik di ruang yang suhunya dua derajat lebih rendah dari sekitarnya.
Serigala yang nyata tidak sempat bereaksi.
Pil energi yang ia ambil dari tubuhnya bersinar redup dalam warna ungu kehijauan—kualitas yang lebih tinggi dari pil serigala bayangan biasa karena mutasinya. Yu Fan menyimpannya di dalam cincin dimensinya bersama dengan dua belas pil lain yang sudah ia kumpulkan hari ini.
Sedikit lagi, pikirnya, merasakan dinding penghalang di dalam tubuhnya—batas antara Tingkat 3 dan Tingkat 4 yang sudah mulai terasa seperti kaca yang retak di beberapa titik daripada baja yang solid. Sedikit tekanan lagi di titik yang tepat.
Jantung hutan itu berbeda dari tepiannya dengan cara yang tidak hanya tentang kedalaman geografis.
Pohon-pohon di tepinya besar. Pohon-pohon di jantungnya adalah sesuatu yang lain. Masing-masing batangnya lebih lebar dari empat orang yang berpelukan lingkaran, tingginya menghilang ke dalam kanopi yang begitu rapat hingga cahaya yang sampai ke lantai hutan hanyalah cahaya yang sudah melalui begitu banyak lapisan daun hingga kehilangan warna aslinya dan menjadi sesuatu yang kehijauan dan agak tidak nyata. Akar-akar pohon-pohon ini muncul dari tanah dalam busur-busur besar sebelum masuk kembali beberapa meter lebih jauh, menciptakan struktur gua-gua kecil di antara akar yang cukup besar untuk dimasuki manusia.
Udara di sini berat dengan cara yang berbeda dari berat energi kematian di hutan Sekte Tengkorak Hitam—ini adalah berat energi kehidupan yang terlalu terkonsentrasi, seperti udara di dalam kebun yang sangat subur namun diperkecil hingga sesak. Energi alam yang tidak pernah diganggu manusia selama waktu yang sangat lama menciptakan konsentrasi yang bisa dirasakan bahkan oleh seseorang tanpa kultivasi sebagai semacam tekanan yang menyenangkan di belakang kepala.
Yu Fan merasakannya sebagai lebih dari itu. Di dalam tubuhnya, energi Yin yang sudah terlatih selama empat bulan terakhir beresonansi dengan energi hutan ini—bukan menyerapnya, melainkan berbicara dengannya, seperti dua instrumen yang saling mengenali nadanya.
Suara mendengkur yang terasa lebih seperti guntur yang jauh daripada suara makhluk hidup terdengar dari arah depan kirinya.
Yu Fan berhenti. Mengamati.
Di antara dua pohon raksasa yang akar-akarnya saling berkelindan di tanah, di atas hamparan lumut tebal berwarna biru-hijau yang jelas bukan lumut biasa, seekor makhluk tidur.
Singa itu—sebutan yang terasa terlalu kecil untuk apa yang ada di depannya—memiliki tubuh yang, saat berbaring, panjangnya melampaui tiga kali panjang kuda terbesar yang pernah Yu Fan lihat. Bulunya berwarna putih keperakan dengan ujung-ujung yang berwarna biru elektrik, dan di setiap helai bulu itu mengalir energi listrik yang sangat tipis sehingga dari jauh seluruh tubuhnya terlihat seperti dilapisi oleh cahaya biru yang sangat halus. Dua tanduk melengkung keluar dari dahinya—bukan seperti tanduk rusa yang solid, melainkan seperti petir yang dibekukan dalam bentuk tanduk, permukaan bercabang-cabang dengan pola yang tidak pernah persis sama di dua bagian manapun. Sepasang sayap terlipat di punggungnya dalam posisi tidur—bulu-bulunya panjang dan tersusun dalam lapisan-lapisan yang rapi bahkan dalam tidur, dengan rentang yang, jika dibuka, bisa menutupi area seluas lapangan latihan akademi.
Singa Sayap Petir. Monster Tingkat 4 Akhir—satu langkah di bawah Tingkat 5, namun dengan kemampuan tempur yang dalam banyak kondisi melampaui Tingkat 5 biasa karena spesialisasi absolutnya pada elemen petir.
Dan di bawah tubuhnya yang tidur—tersembunyi di antara akar-akar pohon yang ia jadikan tempat tidur—denyutan hangat yang sangat berbeda dari energi listrik dingin monster ini. Hangat emas. Berdenyut seperti jantung.
Ia sedang menjaga sesuatu.
Yu Fan menginjak dahan kering di bawah kakinya—sengaja, dengan tekanan yang tepat untuk menghasilkan bunyi yang tidak terlalu keras namun juga tidak cukup pelan untuk diabaikan oleh telinga makhluk Tingkat 4.
Mata Singa Sayap Petir terbuka.
Irisnya berwarna biru elektrik yang sama dengan ujung bulunya—tidak ada bagian putih, tidak ada pupil yang teridentifikasi terpisah dari iris, hanya biru yang memancar dari dalam dengan intensitas yang membuat menatapnya langsung terasa seperti menatap langit saat petir akan menyambar. Selama satu atau dua detik, monster itu hanya menatap Yu Fan dengan cara yang menunjukkan makhluk yang sudah sangat lama berada di puncak rantai makanan di wilayah ini dan tidak terbiasa dengan sesuatu yang masuk ke wilayahnya tanpa alasan yang jelas.
Kemudian ia mengaum.
Suara itu tidak hanya suara—ia adalah gelombang tekanan yang keluar dari rongga dadanya yang sangat besar dalam frekuensi yang membuat tanah bergetar, lumut biru-hijau di sekitarnya bergerak seperti ditiup angin yang tidak ada, dan di beberapa titik di kanopi atas, burung-burung yang tidak terlihat berterbangan pergi.
Yu Fan tidak mundur. Ia berdiri dengan kedua kakinya di lebar bahu, tangan kirinya diangkat setinggi dada dengan telapak menghadap ke depan—bukan dalam posisi serangan, melainkan postur yang dalam bahasa tubuh makhluk-makhluk tertentu artinya adalah aku di sini dengan tujuan yang jelas dan aku tidak akan berpura-pura sebaliknya.
Apakah Singa Petir memahami itu, tidak bisa dipastikan. Yang pasti adalah ia berdiri dari posisi berbaring dalam satu gerakan yang luar biasa fluid untuk makhluk sebesar itu, sayapnya membuka setengah—bukan selebar yang bisa dibuka, hanya setengah, posisi yang mencerminkan kewaspadaan bukan serangan penuh—dan dari kedua tanduknya, energi biru mulai mengumpul dalam pola yang sangat cepat.
"Ayo," ucap Yu Fan pelan. "Tunjukkan padaku kekuatan penguasa jantung hutan ini."
Serangan pertama datang dalam bentuk cakaran.
Cakar kanan depan yang masing-masing jarinya sepanjang pedang panjang, namun yang membuat ini bukan sekadar cakaran adalah energi listrik yang terkonsentrasi di ujung setiap jari—saat cakar itu bergerak, bukan hanya fisiknya yang menyerang melainkan juga busur-busur energi listrik yang meloncati udara di sekitar jalur gerakannya, menciptakan area bahaya yang jauh lebih lebar dari fisik cakar itu sendiri.
Teknik Langkah Awan — bukan versi yang diajarkan di akademi, melainkan versi yang sudah empat bulan dimodifikasi oleh pengalaman lapangan yang intensif. Yu Fan bergerak ke atas dan ke kiri sekaligus, melompat ke akar pohon besar yang ada di sisi kiri arena pertarungan mereka dan menggunakannya sebagai pijakan untuk meluncur lebih jauh ke atas saat cakar itu melewati bawah kakinya, busur-busur listriknya membakar udara di titik yang Yu Fan tinggalkan setengah detik sebelumnya.
Dari ketinggian empat meter di udara, ia meluncur ke bawah dengan pedangnya terangkat—Teknik Pedang Yin : Hujan Ranting Beku, serangkaian tebasan cepat yang melepaskan puluhan titik energi Yin kecil dalam pola yang menyebar seperti hujan dari atas ke bawah, menargetkan permukaan tubuh monster untuk mengganggu aliran energi listrik di bulu-bulunya.
Singa Petir mengangkat sayapnya.
Sayap itu bukan hanya untuk terbang—permukaannya berfungsi sebagai perisai yang jauh lebih efektif dari yang terlihat karena setiap bulu mengandung formasi alami yang membelokkan energi yang datang. Titik-titik Yin Yu Fan menyentuh permukaan sayap dan dibelokkan ke segala arah—beberapa kembali ke Yu Fan, beberapa ke pohon-pohon sekitar, beberapa langsung dinetralkan oleh energi listrik yang mengalir di bulu-bulunya.
Yu Fan mendarat di tanah, bergerak lateral segera untuk menghindari konter-serangan yang ia tahu akan datang.
Dan datang—dari mulut Singa Petir, bukan cakar. Bola energi listrik sebesar kepala manusia diluncurkan dengan kecepatan yang lebih mirip sorot cahaya dari jarak dekat daripada proyektil yang biasa.
Yu Fan melompat ke kanan—bola itu melewati sisi kirinya dengan jarak yang terasa seperti jauh lebih dekat dari yang seharusnya aman, dan panasnya terasa di kulit lengan kirinya bahkan dari jarak itu. Bola itu menghantam pohon di belakangnya.
Suara yang dihasilkan bukan seperti ledakan. Lebih seperti sesuatu yang sangat besar dan sangat cepat tiba-tiba tidak ada lagi—pohon itu, yang batangnya lebih lebar dari empat orang berpelukan, tidak hancur melainkan menguap di bagian tengahnya, separuh bawah dan separuh atas tetap ada namun titik kontak energi listrik itu sudah tidak ada lagi dalam bentuk padat, dikonversi langsung menjadi uap dan debu dan suara yang bergema di seluruh jantung hutan.
Yu Fan menatap apa yang tersisa dari pohon itu selama setengah detik.
Satu hantaman langsung dari itu akan membunuhku seketika, ia mengakui ini kepada dirinya sendiri dengan cara yang sangat tenang, bukan panik. Maka jangan sampai kena.
Ia menajamkan matanya, memindai tubuh Singa Petir yang kini sudah sepenuhnya berdiri dan sayapnya terbuka penuh. Di bawah cahaya biru elektrik yang sekarang lebih intens dari sebelumnya, di bawah sayap kiri, di area yang biasanya tertutup oleh lapisan bulu terluar—sebuah area di mana bulunya lebih pendek, lebih tidak teratur, tumbuh dengan pola yang berbeda dari sekitarnya.
Bekas luka lama. Jaringan yang sudah sembuh namun tidak pernah sepenuhnya kembali ke kondisi aslinya.
Titik paling tidak terlindungi di seluruh tubuh makhluk ini.
Singa Petir mulai mengumpulkan energi untuk bola kedua—Yu Fan bisa melihat ini dari cara tanduknya berpendar semakin terang dan dari cara udara di sekitar mulutnya mulai bergetar dengan frekuensi yang berbeda.
Sekarang atau tidak sama sekali.
Yu Fan menarik seluruh energi Yin yang ia miliki ke dalam satu titik—bukan tersebar, bukan dipecah menjadi banyak serangan kecil. Satu titik di ujung pedangnya, dipadatkan hingga energi itu tidak lagi terasa seperti energi Yin biasa melainkan seperti kerucut kehampaan yang sangat kecil namun sangat dalam, sesuatu yang menyerap cahaya di sekitarnya hingga ujung pedangnya terlihat seperti lubang gelap kecil yang mengambang di udara.
Ia meledakkan seluruh energi itu sebagai dorongan dari telapak kakinya ke tanah—bukan ke depan, melainkan ke dalam tanah, dan dari reaksi yang dihasilkan, tubuhnya terluncur ke depan bukan seperti berlari melainkan seperti dipanah dari busur yang sangat kuat.
Teknik Pedang Ilahi yang dimodifikasi : Tebasan Garis Hitam Tunggal.
Bukan nama resmi. Bukan teknik yang ada dalam buku mana pun. Hanya deskripsi paling akurat dari apa yang terjadi: satu garis lurus dari titik A ke titik B, dengan kecepatan yang melampaui apa yang seharusnya bisa dihasilkan oleh Tingkat 3, dan di ujungnya sebuah titik kepadatan energi Yin yang sudah jauh melampaui kapasitas normal Tingkat 3.
Ia melewati sisi kiri Singa Petir.
Setengah detik.
Kemudian Singa Petir mengaum—suara yang berbeda dari aumnya sebelumnya, mengandung sesuatu yang lebih dalam dari kewaspadaan atau ancaman. Dari bawah sayap kirinya, darah yang berwarna biru gelap menyembur dalam tekanan yang menunjukkan organ vital yang ditembus, bukan permukaan.
Monster raksasa itu goyah. Satu kaki depannya menekuk, lalu yang lain, dan tubuh yang sangat besar itu jatuh ke tanah dengan cara yang terasa seperti lereng gunung kecil yang runtuh—perlahan di awal, kemudian semakin cepat karena gravitasi mengambil alih dari energi yang menopangnya. Tanah bergetar saat ia mendarat, debu dari lantai hutan yang sudah bertahun-tahun tidak terganggu mengembang dalam awan cokelat kehijauan.
Keheningan.
Kemudian suara tunggal yang sangat pelan dari kanopi atas—seekor burung yang kembali ke dahannya, tidak tahu bahwa penguasa wilayah ini baru saja berubah.
Saat energi Singa Petir memudar dari tubuhnya—melayang ke atas dalam partikel-partikel biru yang perlahan menghilang seperti embun yang menguap—yang tertinggal di bawahnya bukan hanya tanah dan lumut.
Pil kultivasi emas yang muncul di udara memiliki ukuran yang lebih besar dari pil mana pun yang pernah Yu Fan lihat—sebesar kepalan tangannya, dengan permukaan yang tidak halus melainkan bertekstur seperti petir kecil-kecil yang diukir ke dalamnya. Aura yang memancar darinya terasa seperti seratus tahun, dua ratus tahun, kemudian saat Yu Fan mendekat dan merasakannya dengan lebih teliti—seribu tahun. Pil kultivasi yang dihasilkan oleh monster dengan usia dan tingkat yang sangat tinggi.
Namun yang membuat Yu Fan tidak langsung mengambil pil itu adalah apa yang ada di bawah posisi tidur Singa Petir tadi.
Di antara dua akar besar yang membentuk lekukan alami seperti mangkuk, di atas hamparan rumput yang berbeda dari rumput di sekitarnya—lebih hijau, lebih hidup, tumbuh lebih tebal seolah tanah di bawahnya mendapat sesuatu yang ekstra—sebuah telur.
Yu Fan berlutut di depannya.
Telur itu seukuran kepalanya, dengan permukaan yang warnanya bukan satu warna melainkan gradasi—dari emas di bagian atas ke putih di bagian tengah ke biru sangat pucat di bagian bawah. Di permukaan gradasi itu, pola-pola sangat tipis bergerak sangat pelan seperti awan yang bergerak di langit yang dilihat dari sangat jauh. Dan di bawah permukaan itu—berdenyut. Teratur, ritmis, dengan frekuensi yang lebih lambat dari detak jantung manusia namun tidak diragukan lagi sebagai sesuatu yang hidup.
Aura yang keluar dari telur itu tidak terasa seperti aura monster. Lebih bersih dari itu. Lebih tinggi. Seperti energi Singa Petir tadi sudah disaring dan dimurnikan dan di dalam telur ini hanya tersisa yang terbaik dari semuanya.
Yu Fan menyentuh permukaannya dengan satu jari.
Hangat. Bukan panas seperti api, melainkan hangat seperti matahari sore yang sudah melemah namun masih ada—kehangatan yang menyenangkan dan tidak mengancam. Dan di titik kontak itu, telur itu merespons—pola di permukaannya bergerak sedikit lebih cepat untuk beberapa detik sebelum kembali ke ritme normalnya.
Jadi kau bertarung sekuat itu untuk melindungi ini.
Ia duduk di sana selama beberapa menit, menatap telur yang berdenyut itu. Kemudian, dengan gerakan yang lebih hati-hati dari cara ia menangani senjata mana pun, ia mengambilnya dengan kedua tangannya dan memasukkannya ke dalam cincin dimensinya—ke ruang khusus yang biasanya ia gunakan untuk benda-benda yang tidak boleh rusak.
Aku tidak bisa membiarkannya di sini sendirian.
Di bawah pohon raksasa yang masih berdiri di sekitar arena pertarungan tadi—pohon yang menjadi saksi bisu pertarungan yang mengubah kepemimpinan jantung hutan—Yu Fan duduk bersila.
Pil kultivasi seribu tahun dan puluhan pil monster lain yang terkumpul selama empat bulan dikeluarkan dari cincin dimensinya satu per satu, disusun di tanah di depannya dalam urutan yang ia sudah pertimbangkan selama beberapa minggu terakhir—urutan penyerapan yang memperhitungkan kompatibilitas energi antar pil dan urutan jalur meridian yang akan dibuka.
Ia menelan pil kultivasi seribu tahun pertama.
Rasanya tidak seperti apa pun yang pernah ia telan sebelumnya—bukan rasa dalam arti makanan, melainkan sensasi di dalam meridian yang seperti seseorang membuka pintu besar dari dalam. Energi yang terlepas dari pil itu dalam detik-detik pertama sudah melebihi energi gabungan dari semua pil monster yang ia kumpulkan minggu ini, dan ini baru seperlima dari kapasitas total pil tersebut karena tubuhnya secara otomatis mengatur kecepatan penyerapan untuk mencegah overload.
Ia mulai menelan pil-pil lain dalam urutan yang sudah direncanakan, membiarkan energi dari setiap pil bergabung dengan yang sebelumnya dalam jalur yang ia pandu dengan sangat hati-hati.
Dan kemudian, sesuatu yang tidak ia rencanakan terjadi.
Di dalam kedalaman meditasinya—jauh lebih dalam dari kedalaman biasa karena jumlah energi yang mengalir mendorong kesadarannya ke tingkat yang biasanya tidak bisa dicapai secara sadar—sebuah bayangan muncul.
Bukan bayangan gelap atau mengancam. Bayangan seorang gadis muda.
Jubah teratai putih—sama dengan milik Lin Xueru, namun dengan cara yang berbeda, lebih tua, lebih agung, seperti asli dari mana yang Xueru kenakan hanyalah interpretasi modern yang sudah banyak kehilangan sesuatu dalam prosesnya. Rambutnya hitam panjang yang mengalir bebas, dan wajahnya—Yu Fan tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena selalu ada kabut tipis di antara pandangannya dan wajah itu, seperti kaca yang berembun.
Namun ia tertawa.
Suaranya jelas dan sangat nyata meski wajahnya tidak—tawa yang tidak dibuat-buat, tawa seseorang yang merasa benar-benar bahagia di momen itu, dan tangannya mengulur ke arah Yu Fan dengan sebuah buah persik merah muda. Makan, katanya, atau setidaknya itulah yang ia rasakan karena tidak ada suara yang sesungguhnya, hanya makna yang masuk langsung ke dalam pemahamannya.
Yu Fan mengambil buah itu.
Rasanya di dalam mimpi ini—dan ia tahu ini bukan mimpi, terlalu nyata untuk mimpi namun terlalu tidak mungkin untuk kenyataan—manis dengan cara yang mengandung lebih dari rasa. Seperti mengingat sesuatu yang menyenangkan yang sudah sangat lama tidak diingat. Seperti kehangatan sebuah tempat yang pernah disebut rumah oleh seseorang yang sudah sangat lama tidak punya rumah.
Di dalam tubuhnya—di dalam meditasinya yang sangat dalam—energi Yin yang biasanya berwarna hitam kemerahan mulai diselimuti oleh cahaya emas. Bukan cahaya Yang biasa. Sesuatu yang berbeda—lebih tua, lebih murni, lebih seperti cahaya yang ada sebelum perbedaan antara Yin dan Yang ada. Kedua energi itu berputar satu sama lain, tidak saling mengalahkan melainkan saling mengisi, seperti Dekan pernah katakan namun dalam bentuk yang jauh lebih alami dari apa yang bisa diciptakan oleh teknik kultivasi mana pun.
Dinding penghalang di dalam tubuhnya—yang sudah retak di banyak titik selama empat bulan terakhir—tidak perlahan dirobohkan.
Ia runtuh sekaligus.
BOOM.
Ledakan aura yang keluar dari tubuh Yu Fan menyapu area sekitarnya dalam radius dua puluh meter—pohon-pohon kecil membengkok jauh dari pusatnya, lumut biru-hijau terangkat dari tanah, dan di titik di mana ia duduk bersila, tanah bergetar dalam pola menjari yang memancar ke segala arah. Energi yang meledak keluar mengandung campuran hitam-merah dan emas-putih yang berputar bersama-sama dalam gerakan yang terlihat seperti dua galaksi yang saling menemukan orbit satu sama lain.
Yu Fan membuka matanya.
Langit di atas kanopi hutan—yang selama ini terlihat sebagai warna kehijauan yang tidak nyata karena disaring oleh begitu banyak lapisan daun—malam ini, untuk pertama kalinya, terlihat berwarna hitam biasa dengan bintang-bintang yang menunjukkan bahwa ia sudah berada di dalam meditasi jauh lebih lama dari yang ia perkirakan.
Ia mengangkat tangannya. Menatapnya.
Dari telapak tangannya, energi mengalir ke luar bukan karena ia mendorongnya melainkan karena ia mengizinkannya—dan energi yang keluar adalah sesuatu yang berbeda dari Yin biasa. Lebih terstruktur. Lebih terkontrol. Dan di dalamnya, jika dilihat sangat dekat, ada jalur-jalur emas sangat tipis yang bercampur dengan hitamnya seperti emas yang ditenun ke dalam kain sutra hitam.
Dengan satu pikiran—hanya satu pikiran, tanpa membangun energi, tanpa teknik, hanya naik—tubuhnya terangkat dari tanah.
Tiga kaki. Lima kaki. Sepuluh kaki.
Ia melayang di atas jantung hutan, di bawah langit penuh bintang, dengan udara yang bergerak di sekitarnya dengan cara yang sudah berbeda dari sebelumnya—lebih responsif, lebih bersedia, seperti udara yang mengakui bahwa sesuatu di sini sudah berubah.
"Master Tingkat 4 Awal," ucapnya—bukan dengan cara yang merayakan, melainkan dengan cara yang mengakui fakta. Kemudian, sesuatu yang lain muncul di wajahnya yang biasanya tidak banyak menampilkan hal-hal kecil semacam ini.
Sebuah senyum.
Kecil, singkat, tidak diminta oleh siapa pun.
Namun sangat ada.
Kemudian perutnya berbunyi dengan cara yang sangat tidak dramatis untuk seseorang yang baru saja mencapai terobosan kultivasi yang membutuhkan empat bulan dan pertarungan dengan penguasa hutan.
"Ah." Ia turun dari ketinggiannya. "Ternyata pencapaian besar tidak menghilangkan rasa lapar."
Kota di pinggiran akademi pada malam hari memiliki karakter yang berbeda dari siangnya—lebih santai, lebih hangat dalam arti harfiah karena lampion-lampion yang menyala menghasilkan kehangatan di sepanjang jalanan batu, dan orang-orang yang berlalu-lalang bergerak dengan kecepatan yang tidak terburu-buru karena tidak ada jadwal yang menunggu.
Yu Fan mendarat di atas atap gedung tinggi di sudut timur kota dengan cara yang sudah jauh lebih mudah dari sebelumnya—energi Tingkat 4 yang mengalir di dalam tubuhnya membuat yang biasanya membutuhkan konsentrasi menjadi hampir refleks.
Di bawah, sebuah kerumunan kecil.
Insting pengamatannya—yang sudah empat bulan dilatih oleh hutan yang tidak pernah menunjukkan semua yang ada di dalamnya secara langsung—memindai situasi di bawah dalam sepersekian detik. Tiga pihak. Lin Xueru di tengah, berdiri dengan postur yang terkontrol namun tangannya sudah di gagang pedangnya. Mo Han di sisi kanan dengan wajah merah padam dan energi yang tidak stabil—marah dengan cara yang bukan hanya marah karena situasi ini melainkan marah yang sudah disimpan sangat lama dan malam ini menemukan alasan untuk keluar. Mei Er di sisi kiri dengan cara berdirinya yang selalu tampak santai namun kalimat-kalimatnya yang tidak.
Dan di antara mereka, Fa Hai—sudah berada di sana, sudah dalam proses melerai.
Yu Fan mengamati dari atas. Mendengarkan.
Kata-kata Mo Han naik ke ketinggiannya dengan cukup jelas—tentang kakaknya, tentang pengkhianatan, tentang Sekte Teratai Putih yang menyembunyikan sesuatu di balik label kesucian. Kata-kata yang diucapkan dengan amarah yang sangat nyata, bukan amarah yang dibuat-buat untuk konfrontasi.
Seseorang mati. Mo Han kehilangan seseorang yang penting. Dan ia meyakini bahwa Sekte Teratai Putih adalah pihak yang bertanggung jawab, atau setidaknya tidak bersih dari keterlibatan.
Lin Xueru menjawab dengan nada yang tetap terkontrol meski jelas butuh usaha untuk mempertahankannya—berbicara tentang bukti, tentang tuduhan tanpa landasan, tentang bahaya eskalasi konflik. Kata-kata yang benar secara teknis namun yang, dalam konteks seseorang yang baru saja kehilangan saudara, terdengar lebih seperti distansi daripada empati.
Fa Hai sudah di sana. Situasinya tidak memerlukan intervensi tambahan.
Yu Fan memalingkan pandangannya dari alun-alun itu—ke arah yang lain, ke arah bau yang datang dari kedai kecil di ujung jalan berikutnya.
Bau bumbu bakaran. Bau lemak yang memanaskan daging di atas api kayu. Bau sesuatu yang sangat sederhana dan sangat konkret yang terasa sangat tepat sebagai kontras dari empat bulan terakhir yang penuh dengan hal-hal yang besar dan abstrak.
Perutnya berbunyi lagi.
Ia melompat dari atap gedung ke atap yang lebih rendah, lalu ke tiang lampion, lalu ke tanah—mendarat di lorong sempit yang menghadap ke kedai kecil yang aroma masakannya sudah ia cium dari seratus meter.
Kedai itu kecil dalam ukuran yang tepat—tidak terlalu kecil hingga terasa sesak, tidak terlalu besar hingga kehilangan intimasi yang membuat kedai kecil menjadi lebih nyaman dari restoran besar. Delapan meja kayu yang sudah sangat lama digunakan hingga permukaan kayunya terasa halus dari ribuan tangan yang meletakkan cangkir dan mangkuk di sana. Di dinding, foto-foto kecil tergantung—bukan dekorasi dibeli, melainkan foto yang ditaruh karena ada sejarah personalnya bagi pemilik tempat ini.
Pemiliknya—seorang pria yang usianya sulit ditebak namun rambutnya sudah sepenuhnya putih dan cara ia bergerak di belakang kompor kayunya mengindikasikan lebih dari tiga puluh tahun melakukan gerakan yang sama di tempat yang sama—mengangguk saat Yu Fan masuk. Tidak ada tanya mau duduk di mana, tidak ada menu yang diserahkan. Di kedai seperti ini, menu sudah ditempel di dinding dan pelanggan yang sudah pernah ke sini tahu bahwa angkat tangan sekali artinya satu ayam bakar dan minuman pilihan hari ini.
Yu Fan mengangkat tangannya sekali.
Lalu berpikir selama dua detik.
Mengangkatnya dua kali.
Di sudut kedai, di meja yang paling jauh dari pintu—meja yang dipilih bukan karena paling nyaman melainkan karena paling tidak terlihat dari jalanan—seorang gadis duduk sendirian. Semangkuk mi yang setengah dimakan di depannya, dan cara tangannya memegang sumpit—tidak makan, hanya memegang sambil menatap semangkuk mi yang sudah mulai tidak mengepul—menunjukkan seseorang yang datang ke tempat makan bukan terutama karena lapar.
Yan Er.
Yu Fan mengenalinya dalam satu detik—cara duduknya yang sangat tegak bahkan dalam kesendirian, rambut yang diikat ke atas dalam kunciran fungsional yang sama, dan kedua sarung pedang yang tersandar di dinding di sampingnya dengan cara yang menunjukkan seseorang yang tidak pernah menaruh senjata lebih jauh dari jangkauan tangan.
Ia sudah berbeda dari malam di panggung beberapa bulan lalu. Kulitnya yang tadi terlihat sedikit kering dari kondisi yang tidak ideal sekarang lebih sehat—bukan banyak, namun cukup untuk menunjukkan bahwa beberapa bulan terakhir lebih baik dari beberapa bulan sebelumnya. Matanya yang tadi memiliki kelelahan yang sangat dalam masih mengandung sesuatu yang serius namun kelelahannya sudah berkurang satu atau dua lapisan.
Ia belum melihat Yu Fan.
Yu Fan mengambil kursi di meja terdekat dengan mejanya—bukan meja yang sama, melainkan meja berikutnya, dengan satu meja kosong di antara mereka. Ia duduk menghadap ke arah yang sama dengan Yan Er—ke arah dinding, bukan ke arah pintu—dan menunggu pesanannya.
Tiga puluh detik kemudian, Yan Er akhirnya mendongak dari semangkuk mi-nya dan matanya bertemu dengan Yu Fan di meja sebelah.
Ekspresinya bergerak melalui beberapa hal dalam waktu sangat cepat—terkejut, kemudian sesuatu yang lebih hangat dari terkejut, kemudian kembali ke ekspresi yang lebih netral karena ia menyadari bahwa ekspresi di antaranya terlalu mudah dibaca.
"Tuan Yu Fan," ucapnya.
"Yan Er," balas Yu Fan. Kemudian, karena tidak ada alasan untuk tidak mengatakan kenyataan: "Mi-mu sudah tidak panas."
Yan Er menatap semangkuknya. "Aku tahu."
"Kau sudah di sini lama?"
"Cukup lama untuk mi-ku menjadi dingin." Ia mengangkat sumpit dan makan satu suapan dengan cara yang mengindikasikan seseorang yang baru ingat bahwa makanan yang ada di depannya adalah sesuatu yang seharusnya dimakan. "Kau baru kembali dari hutan. Bajumu bau daun dan tanah."
Yu Fan melihat ke bawah ke jubah hitamnya—sudah dicuci sebelum masuk kota, namun empat bulan di dalam hutan meninggalkan sesuatu yang tidak bisa sepenuhnya dihilangkan hanya dengan mencuci. "Kau bisa mendeteksi itu?"
"Indra penciuman yang baik adalah keuntungan di lapangan." Ia mengambil suapan lagi, kali ini dengan lebih sungguh-sungguh. "Ayam bakar yang kau pesan di sini sangat baik. Aku merekomendasikan menambahkan kecap hitam yang ada di meja."
Pesanan Yu Fan datang—ayam bakar utuh yang warnanya sempurna kecokelatan, dengan aroma yang memenuhi seluruh radius mejanya seketika, dan sebotol arak yang pemilik kedai letakkan dengan cara yang menunjukkan ini adalah pilihan yang ia rekomendasikan untuk malam ini.
Yu Fan mencicipi satu bagian ayam.
Kemudian mencicipi lagi.
Kemudian, dengan cara yang sudah lama tidak ia lakukan karena selama empat bulan di hutan makanan adalah fungsi bukan pengalaman, ia benar-benar menikmati rasanya—bumbu yang meresap ke dalam serat daging yang sudah sangat empuk, lapisan luar yang sedikit renyah, minyak yang melapisi setiap gigitan dengan cara yang tepat dan tidak berlebihan.
"Kau benar tentang kecap hitamnya," ucapnya setelah mencoba dengan tambahan itu.
Dari meja sebelahnya, suara yang sangat kecil—hampir tidak terdengar, sangat singkat. Bukan tawa, namun sesuatu yang sangat dekat dengan tawa yang tidak sepenuhnya dibiarkan keluar.
Mereka makan dalam jarak yang bukan kebersamaan formal namun bukan juga kesendirian yang terpisah—dua meja, dua orang, dengan satu meja kosong di antara mereka yang terasa lebih kecil dari ukuran fisiknya.
Kemudian pintu kedai ditendang terbuka.
Tiga pria masuk dengan cara yang sudah berbicara terlalu banyak tentang diri mereka bahkan sebelum satu pun kata diucapkan—cara masuk yang terlalu keras untuk seseorang yang hanya ingin makan, terlalu sengaja untuk seseorang yang tidak punya agenda. Tubuh mereka besar dengan cara yang lebih dari sekadar tinggi dan berat—ada sesuatu yang sengaja dibangun untuk tampak mengintimidasi dalam cara mereka mengambil ruang.
Pemimpin mereka—pria dengan bekas luka di dagu yang bentuknya menunjukkan cedera dalam duel yang ia kalah dan tidak sepenuhnya sembuh dengan benar—memandang sekeliling kedai dengan cara seseorang yang sudah sangat terbiasa dengan ruangan yang merespons kedatangannya dengan ketakutan.
Matanya menemukan pemilik kedai di belakang kompor.
"Pak Tua! Mana setoran minggu ini?!"
Pemilik kedai—yang tadi bergerak dengan ketenangan orang yang sudah sangat terbiasa dengan dapurnya—berhenti bergerak. Tangannya yang tadi memegang sendok memasak diturunkan dengan cara yang sangat pelan. "Tuan, minggu ini penjualan tidak—"
"Tidak mau dengar alasan!" Pemimpin preman itu menendang kursi terdekat—kursi itu terpental ke dinding, menghantam foto yang tergantung di sana dengan suara kaca yang retak. "Kau pikir kami menjalankan bisnis amal?!"
Di sudut kedai, seorang gadis yang tadinya mencuci mangkuk di balik tirai pemisah antara dapur dan ruang makan—usia belasan tahun, wajahnya mirip dengan pemilik kedai dengan cara yang membuat hubungan mereka sangat jelas—membeku di tempatnya. Mata dua dari tiga pria itu menemukan dia hampir secara bersamaan.
Salah satu anak buahnya melangkah ke arah meja Yu Fan—matanya menemukan piring ayam bakar yang masih setengah tersisa. Tanpa kata-kata, ia mengambil piring itu.
Yu Fan menghentikan gerakan sumpit di tangannya.
Kepalanya tertunduk sedikit, rambut hitamnya menutupi matanya.
"Aku sedang menikmati makananku dengan tenang," ucapnya. Suaranya sangat datar—bukan datar marah, bukan datar meremehkan, hanya datar seperti permukaan air dalam wadah yang tidak diganggu. "Dan kalian mengganggu itu."
Pria yang mengambil piringnya menatap puncak kepala Yu Fan—melihat seorang pemuda dengan jubah biasa, sendirian, tidak membawa senjata yang terlihat. "Hah? Apa kau bilang, Bocah?!"
Tangannya terangkat ke arah kepala Yu Fan.
Yu Fan melepaskan tekanan aura Tingkat 4-nya.
Bukan ledakan—ia tidak perlu itu. Tekanan Tingkat 4 yang dilepaskan tanpa bentuk serangan, hanya sebagai kehadiran, sudah cukup. Di ruangan kecil ini, dengan tiga orang yang paling tinggi Tingkat 1 biasa, efeknya seperti seseorang membuka pintu ke dalam ruangan yang sudah penuh dan udara yang terkompres mencari jalan keluar.
BUM.
Ketiga pria itu tidak terpental—mereka ambruk. Lutut menyentuh lantai batu dalam urutan yang hampir bersamaan, badan condong ke depan, napas tersengal bukan karena kekurangan udara secara fisik melainkan karena sistem saraf mereka mendapat sinyal yang sangat jelas tentang keberadaan sesuatu yang jauh di luar jangkauan kemampuan mereka untuk menghadapi.
Yu Fan berdiri dari kursinya.
Tingginya biasa—tidak tinggi secara mengintimidasi, tidak besar secara mengancam. Namun cara ia berdiri, dengan tekanan Tingkat 4 yang masih memancar pelan dan stabil dari tubuhnya, mengubah cara ruangan merespons kehadirannya. "Kalian sedang mencari sesuatu yang tidak ingin kalian temukan." Matanya abu-abu gelap menatap tiga wajah yang sudah tidak mengandung keberanian yang tadi sangat besar. "Atau aku bisa membantu kalian menemukannya sekarang."
Pemimpin preman itu—yang tadi sangat keras menendang kursi dan membentak pemilik kedai—sekarang berada di posisi yang sama dengan semua orang lain di kedai ini: berlutut. Hanya bedanya, ia berlutut bukan karena memilih melainkan karena tubuhnya membuat keputusan itu sebelum kepalanya bisa mencegahnya. "Ma-maafkan kami, Tuan... kami tidak tahu Anda adalah seorang Master. Kami bersumpah tidak akan kembali! Mohon ampuni—"
"Minta maaf kepada mereka." Yu Fan mengarahkan pandangannya ke pemilik kedai dan putrinya. "Dengan cara yang benar."
Tiga kepala menyentuh lantai batu. Beberapa kata permintaan maaf yang terbata-bata dan tidak sepenuhnya koheren karena diucapkan oleh orang yang kesulitan bernapas dengan normal.
Yu Fan menatap pria yang tadi mengincar gadis itu—menatap tangannya. Tanpa gerakan yang terlihat oleh siapa pun di ruangan itu, tanpa suara sebelumnya, tanpa energi yang mengumpul secara dramatis.
Hanya satu kilatan.
SRAK.
Pria itu berteriak—suara yang membelah keheningan kedai yang tadi sudah sangat sunyi dengan cara yang berbeda dari semua suara sebelumnya. Lengan kanannya—di titik tepat di pergelangan tangan—sudah tidak terhubung dengan sisa lengannya.
Bukan potongan yang kasar. Bukan potongan yang berdarah berlebihan karena energi Yin di ujung jarinya menutup pembuluh darah di titik potongan secara otomatis saat memotong. Hanya satu garis yang sangat bersih, sangat tepat, di titik yang Yu Fan pilih bukan secara acak.
"Itu adalah pembayaran atas niat," ucap Yu Fan. Bukan dengan marah—dengan cara yang sangat terukur. "Niat yang tidak terwujud masih meninggalkan bekas di dunia ini. Pergi dari kota ini. Malam ini. Jika kalian masih ada di sini saat fajar, aku tidak akan memberikan pilihan yang sama."
Ketiga pria itu pergi—dua memapah yang ketiga—dengan kecepatan yang menunjukkan bahwa pesan yang baru saja disampaikan diterima dengan sangat jelas.
Di kedai yang kini sunyi, pemiliknya—yang tangannya masih memegang sendok masak yang tadi ia turunkan—menatap Yu Fan dengan ekspresi yang tidak bisa ia kategorikan sendiri. Di balik tirai, putrinya berdiri dengan tangan menutupi mulutnya.
"Terima kasih, Tuan," ucap pemilik kedai. Suaranya lebih parau dari sebelumnya. "Sudah lama kami tidak bisa berbuat apa-apa tentang mereka. Tidak ada yang mau membantu karena semua orang takut."
"Maafkan lantainya," ucap Yu Fan, meletakkan beberapa koin emas di meja. "Untuk kerusakan dan untuk makan malam. Makanan Bapak sangat baik."
"Ini terlalu banyak, Tuan—"
"Tidak." Yu Fan memotong dengan cara yang tidak kasar namun sangat jelas. "Berhati-hatilah. Jika ada masalah serupa lagi, laporkan ke pos pengamanan akademi yang ada di sudut selatan kota—mereka memiliki wewenang untuk menangani hal seperti ini."
Ia mengambil sisa ayam bakarnya yang tadi diambil—piring sudah dikembalikan ke meja oleh pria yang mengambilnya tadi, dijatuhkan saat ia berlutut—dan menghabiskannya berdiri dalam beberapa menit karena ia memang masih lapar dan makanannya memang sangat baik.
Kemudian ia menoleh ke meja Yan Er.
Gadis itu masih di sana. Mi-nya sudah habis entah kapan, dan ia menatap Yu Fan dengan ekspresi yang sudah sangat berbeda dari cara pandang yang ia sering tampilkan—bukan dingin, bukan penuh penilaian. Hanya sangat memperhatikan.
"Tingkat 4?" ucapnya pelan.
"Baru saja tadi." Yu Fan mengambil kursi di meja antara—meja kosong yang tadi ada di antara mereka—dan duduk, mendekatkan jarak menjadi satu meja. "Kau di kota ini karena apa?"
Yan Er diam sebentar. Kemudian, dengan cara yang tidak terasa seperti mengakui kelemahan melainkan seperti mengumumkan fakta yang sudah ia putuskan untuk tidak disembunyikan: "Mencari guru. Teknik pedang ganda yang aku gunakan sudah mencapai batas apa yang bisa aku kembangkan sendiri. Aku butuh seseorang yang bisa menunjukkan lapisan berikutnya." Matanya tidak bergerak dari wajah Yu Fan. "Dan malam panggung itu, untuk pertama kali dalam waktu yang sangat lama, aku merasakan bahwa ada lapisan berikutnya yang memang ada dan bisa dicapai."
"Karena duelnya?"
"Karena cara kau berduel." Ia meletakkan sumpitnya di pinggir mangkuk. "Kau tidak mencoba mengalahkan teknikku. Kau mencoba memahaminya. Itu sangat berbeda."
Yu Fan menatapnya—wajah yang sudah berbeda dari beberapa bulan lalu namun masih mengandung kerasan yang sama, mata yang kelelahan lapisan terluarnya sudah berkurang namun di dalamnya ada tekad yang tidak pernah benar-benar pergi.
"Aku tidak bisa menjadi gurumu," ucapnya jujur. "Aku sendiri masih belajar. Dan teknik pedang gandamu bukan teknik yang aku bisa ajarkan karena aku tidak mempraktikkannya."
Yan Er mengangguk—bukan dengan kecewa, melainkan dengan cara seseorang yang sudah mengantisipasi jawaban ini namun ingin mendengarnya langsung. "Aku tahu. Aku tidak meminta itu." Jeda singkat. "Tapi kau pernah bilang bahwa teknikku terlalu baik untuk dihabiskan di panggung seperti itu. Dan aku sudah menghabiskan beberapa bulan terakhir mencari tempat yang lebih baik untuknya." Matanya serius. "Akademi Langit Biru menerima aplikasi dari praktisi independen untuk program latihan tiga bulan yang dimulai bulan depan."
"Kau ingin mendaftar."
"Aku sudah mendaftar. Mereka butuh satu rekomendasi dari murid akademi yang aktif."
Keheningan yang singkat di antara mereka.
Yu Fan berdiri, mengambil kotak kayu kecil tempat koin-koin sisanya. "Berikan formulirnya ke ruangan administrasi akademi besok pagi. Minta untuk diproses di bawah nama Yu Fan." Ia melangkah ke pintu. "Mereka sudah tahu siapa aku."
Di belakangnya, Yan Er menatap punggung jubah hitam yang berjalan ke pintu dengan cara yang tidak tergesa-gesa namun juga tidak pernah berhenti. Tangannya menggenggam sumpit yang tadi ia letakkan—menggenggamnya dengan cara yang bukan memegang melainkan berpegangan pada sesuatu.
Kemudian ia tersenyum.
Bukan senyum besar atau dramatis—sangat kecil, sangat singkat, tersembunyi di sudut bibirnya di kedai kecil yang lampionnya bergoyang ditiup angin malam dari pintu yang baru saja dibuka dan ditutup kembali.
Namun sangat nyata.
Di atas kota, di bawah langit penuh bintang yang sama dengan langit jantung hutan beberapa jam sebelumnya, Yu Fan terbang pulang ke akademi.
Di dalam cincin dimensinya, telur emas-putih-biru berdenyut dengan ritme yang sudah ia hafal selama perjalanan kembali tadi—tidak berubah, tidak lebih cepat atau lebih lambat, hanya konsisten dengan cara sesuatu yang sangat yakin dengan keberadaannya sendiri.
Di dalam tubuhnya, energi Tingkat 4 mengalir melalui jalur-jalur meridian yang baru—lebih lebar, lebih dalam, lebih terhubung satu sama lain dari sebelumnya. Dan di antara jalur-jalur hitam-merah yang sudah lama ada, benang-benang emas yang sangat tipis dari meditasi tadi masih ada—tidak hilang bersama berakhirnya meditasi, melainkan tertinggal sebagai sesuatu yang sudah menjadi bagian dari strukturnya.
Di dalam kepalanya, wajah yang tidak bisa ia lihat dengan jelas. Tawa yang sangat jelas ia dengar. Dan sebuah buah persik merah muda yang rasanya, bahkan sekarang, masih bisa ia ingat.
Siapa kau?
Pertanyaan itu tidak mengandung frustrasi lagi—tidak seperti dua tahun lalu saat ia mencengkeram kepalanya di tepi bukit menghadap kota dengan bendera teratai. Sekarang pertanyaan itu mengandung sesuatu yang berbeda. Lebih sabar. Lebih yakin bahwa jawabannya ada di suatu tempat yang bisa dicapai.
Menara akademi muncul di cakrawala, biru muda di bawah cahaya bulan yang sudah lewat puncaknya.
Dua bulan lagi. Akademi Saint-Aurelius. Ksatria Perak Pertama dan kudanya yang bersayap.
Dan di balik semua itu—pertanyaan yang sudah sangat lama menunggu, yang malam ini terasa satu langkah lebih dekat dari sebelumnya.
Langit yang telah retak.
Dan siapa yang meretak-kannya.