Zayyan Mahendra membawa Lolly ke Swiss untuk merayakan kelulusannya sekaligus melamar wanita itu. Namun di saat Zayyan berharap cinta mereka berakhir bahagia, Lolly justru memilih pria lain.
Dengan hati hancur, Zayyan memutuskan pulang ke Indonesia. Tak disangka, di bandara ia bertemu kembali dengan teman lamanya dan membuat keputusan gila. Dia menikah Alin, teman lamanya itu.
Pernikahan tanpa cinta itu awalnya hanya pelarian. Tapi siapa sangka, takdir justru mempertemukan mereka pada cinta yang sebenarnya. Namun, keberadaan Lolly selalu mengganggu rumah tangganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Pagi menyingsing pelan di kamar hotel mewah itu. Cahaya matahari pagi yang lembut menyusup melalui celah tirai tebal, menerangi ruangan dengan warna keemasan yang hangat. Jam menunjukkan pukul enam pagi waktu Indonesia. Zayyan terbangun lebih dulu, tubuhnya masih telanjang dan lengket bekas aktivitas panjang semalam. Di sampingnya, Alin tertidur pulas dengan rambut acak-acakan dan tubuh yang penuh jejak merah samar di leher serta pinggulnya.
Zayyan tersenyum melihat istrinya yang masih polos dalam tidur. Hasrat pagi yang biasa disebut morning wood langsung bangkit kuat. Kejantanannya sudah mengeras hanya dengan melihat lekuk tubuh Alin yang terbuka selimut. Ia mendekat, menciumi pundak istrinya pelan, lalu turun ke punggungnya.
Alin menggeliat pelan, matanya terbuka setengah. "Mmm... pagi, sayang..." suaranya masih serak karena kelelahan semalam.
"Pagi yang indah," bisik Zayyan di telinganya sambil menggigit cuping telinga Alin. "Mau lanjut yang semalam nggak selesai di bathtub?"
Alin tersenyum malu-malu, tapi matanya sudah mulai berkabut gairah lagi. Ia mengangguk pelan.
Zayyan tak buang waktu. Ia mengangkat tubuh Alin dengan bridal style, membawanya masuk ke kamar mandi yang masih harum sabun dan uap samar dari ronde semalam. Ia menyalakan keran bathtub besar berbentuk oval itu, menuangkan bath bomb beraroma lavender dan rose yang langsung mengeluarkan busa lembut dan wangi. Air hangat mengalir deras, mengisi bathtub dengan cepat.
Sambil menunggu penuh, Zayyan menempelkan Alin ke meja wastafel, menciumnya dalam-dalam. Lidah mereka saling menari, pagi yang dingin langsung terasa panas. Tangan Zayyan meremas payadara Alin dengan lembut tapi penuh nafsu, memilin putingnya hingga mengeras. Alin mendesah di dalam ciuman, tangannya merayap ke bawah, menggenggam milik suaminya yang sudah sangat keras dan berdenyut.
"Kamu sudah basah lagi ya..." bisik Zayyan sambil jarinya menyentuh celah Alin yang memang sudah licin.
Mereka berdua masuk ke bathtub yang sudah penuh. Air hangat langsung merendam tubuh mereka hingga dada. Zayyan duduk di belakang, menarik Alin agar duduk di pangkuannya menghadap ke depan. Punggung Alin menempel di dada bidang Zayyan.
Awalnya lembut. Zayyan menciumi leher Alin dari belakang, satu tangannya meremas payudara, tangan satunya memainkan klit*ris Alin di bawah air. Gerakan jarinya lambat tapi terarah, membuat Alin menggelinjang di pangkuannya.
"Ahh... Zayyan... pagi-pagi begini..." erang Alin, kepalanya bersandar ke bahu suaminya.
"Ini morning s*x terbaik," jawab Zayyan serak. Ia mengangkat pinggul Alin sedikit, lalu mengarahkan kejantanannya yang keras masuk pelan dari belakang.
"Nngghh..." Alin menggigit bibirnya saat merasakan tusukan itu mengisi dirinya perlahan di dalam air hangat. Sensasinya berbeda, licin, hangat, dan penuh tekanan karena air.
Zayyan mulai memompa dari bawah. Gerakannya lambat tapi dalam, setiap dorongan membuat air di bathtub bergoyang-goyang dan meluap sedikit. Tangan kirinya meremas payudara Alin, tangan kanannya tetap memainkan titik sensitif di depan.
Semakin lama, ritme semakin cepat. Zayyan menggigit bahu Alin sambil menghujam lebih kuat. Suara "plak plak" samar terdengar di bawah permukaan air.
Alin berbalik menghadap suaminya. Kini ia duduk di pangkuan Zayyan, berhadapan. Mereka berciuman liar sambil Alin naik turun sendiri di atas kejantanan suaminya. Payudaranya bergoyang-goyang di depan wajah Zayyan. Zayyan langsung menyedot salah satu putingnya dengan rakus, tangannya mencengkeram bokong Alin, membantu gerakan naik-turunnya semakin cepat.
"Ya ampun... dalam banget..." desah Alin, matanya setengah terpejam. Air bathtub bergerak hebat mengikuti irama mereka.
Zayyan tiba-tiba berdiri sambil mengangkat Alin, tanpa melepaskan penyatuan mereka. Ia menekan tubuh Alin ke dinding bathtub, memompa dengan posisi berdiri. Gerakannya jadi lebih ganas, air berceceran ke mana-mana.
"Akhh! Zayyan... pelan... ahh! Nggak... lebih keras!" Alin sudah tak konsisten lagi. Kenikmatan pagi yang segar membuatnya semakin liar.
Zayyan memompa dengan kuat dan cepat. Setiap hantaman menghantam titik paling sensitif Alin. Tubuh mereka licin oleh air dan keringat baru. Napas mereka memburu, saling bercampur di udara pagi yang masih sejuk.
Alin mencapai klimaks lebih dulu. Tubuhnya mengejang hebat di dalam air, dinding dalamnya berdenyut kuat memijat kejantanan Zayyan. Ia menjerit panjang, kuku-kukunya mencakar punggung suaminya.
"Zayyan... aku keluar!! AKHHHH!!!"
Zayyan tak tahan lama. Beberapa hantaman brutal terakhir, lalu ia meledak di dalam tubuh Alin sambil mengerang dalam, melepaskan seluruh panas paginya.
Keduanya ambruk kembali ke dalam bathtub, tubuh saling berpelukan di antara busa yang masih tersisa. Air hangat menenangkan tubuh mereka yang lelah tapi puas. Zayyan menciumi kening Alin dengan lembut, sementara Alin tersenyum lemah di dada suaminya.
"Pagi yang luar biasa," bisik Alin.
Zayyan tertawa pelan. "Dan masih ada seharian penuh di hotel ini, sayang..."
Setelah mandi pagi yang panas dan melelahkan di bathtub, Zayyan dan Alin akhirnya keluar dengan tubuh masih sedikit lembab. Zayyan hanya memakai handuk putih melilit pinggangnya, memperlihatkan dada bidang dan otot perut yang terpahat jelas. Alin mengenakan bathrobe hotel yang tipis dan longgar, ikatannya sengaja diikat longgar sehingga belahan dada dan paha mulusnya sering terlihat setiap kali ia bergerak.
Zayyan memesan room service untuk sarapan. Tak lama kemudian, pelayan hotel datang membawa troli berisi makanan. French toast dengan madu dan buah segar, omelette keju, yogurt, jus jeruk segar, kopi hitam panas, dan beberapa croissant hangat.
Mereka memutuskan sarapan di balkon kamar hotel yang menghadap kota Jakarta pagi itu. Udara masih sejuk, matahari pagi menyinari meja bundar kecil yang sudah ditata rapi.
Alin duduk di depan Zayyan, kakinya menyilang. Bathrobe-nya sedikit terbuka di bagian dada, memperlihatkan lekuk payudaranya yang masih agak merah bekas hisapan semalam. Zayyan tak bisa berhenti memandangnya sambil tersenyum nakal.
Baru saja Alin hendak mengambil potongan French toast, Zayyan tiba-tiba mengulurkan tangan dan meneteskan madu dari sendok langsung ke belahan dada Alin.
"Ah!" Alin tersentak kecil, madu yang lengket dan manis mengalir pelan di antara kedua payudaranya.
Zayyan mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya penuh godaan. "Biar aku yang bersihin."
Tanpa menunggu jawaban, ia menjilat madu itu dengan lidahnya yang panas, mulai dari atas belahan dada hingga ke bawah. Alin menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, tangannya mencengkeram pinggiran meja.
"Zayyan... ada orang yang bisa lewat balkon sebelah..." bisik Alin, suaranya sudah mulai parau.
"Biarkan saja," jawab Zayyan sambil tersenyum licik. Ia menggigit pelan kulit dada Alin sebelum kembali ke posisinya, seolah tak terjadi apa-apa.
Alin membalas godaan itu. Saat Zayyan sedang menuang kopi, Alin melepaskan satu kakinya dari sandal hotel dan menggesekkan telapak kakinya yang halus ke paha dalam Zayyan, naik perlahan hingga menyentuh handuk di pangkuannya.
Zayyan langsung mengerang pelan. "Kamu nakal sekali pagi ini."
Alin tersenyum manis sambil menggigit croissant, tapi kakinya terus bergerak menggoda kejantanan Zayyan yang sudah mulai mengeras lagi di balik handuk tipis.
"Siapa yang mulai duluan tadi?" balas Alin sambil menekan lebih kuat dengan jempol kakinya, mengusap naik turun pelan.
Zayyan menarik napas tajam. Ia meraih tangan Alin yang sedang memegang garpu, lalu membawanya ke bawah meja dan menempelkannya ke kejantanannya yang sudah sangat keras.
"Rasain. Ini gara-gara kamu," bisiknya serak.
Alin meremas pelan di balik handuk, jarinya mengelus kepala yang sudah basah oleh peluma. Wajahnya tetap polos seolah sedang menikmati sarapan, tapi gerakan tangannya semakin berani.
Mereka terus saling menggoda di antara suap-suapan makanan.
Zayyan mengambil potongan strawberry segar, menggigit setengahnya, lalu memberi setengah lagi ke Alin dengan mulutnya. Mereka berciuman lama di atas meja, lidah saling bertukar rasa buah dan madu. Tangan Zayyan menyusup ke dalam bathrobe Alin, meremas payudaranya dengan lembut sambil ibu jarinya memainkan puting yang sudah mengeras.
Alin mendesah di dalam ciuman mereka. "Kita belum selesai sarapan..."
"Siapa bilang harus selesai dulu?" jawab Zayyan sambil menarik tali bathrobe Alin hingga terbuka sepenuhnya. Payudara istrinya kini terpapar udara pagi. Ia menunduk dan menyedot salah satu putingnya dengan rakus di balkon itu.
Alin mencengkeram rambut Zayyan, napasnya memburu. "Ahh... sayang... orang bisa lihat..."
"Tirai cukup tinggi," gumam Zayyan tanpa melepaskan putingnya.
Alin membalas dengan lebih berani. Ia bangkit dari kursi, berlutut di depan Zayyan, lalu menarik handuk suaminya hingga kejantanan yang besar dan keras itu melompat keluar. Tanpa ragu, Alin langsung memasukkan ke mulutnya yang hangat dan basah.
"Fuck... Alin..." Zayyan mengerang, tangannya menekan kepala istrinya pelan.
Alin mengisap dengan mahir, lidahnya berputar di kepala sambil tangannya mengocok batangnya yang basah. Sesekali ia menelan dalam-dalam hingga Zayyan merasakan tenggorokan istrinya.
Mereka bergantian menggoda satu sama lain. Zayyan menarik Alin kembali ke pangkuannya, mendudukkannya di atas kejantanannya tanpa memasukkan, hanya menggesek-gesekkan di celah basah Alin sambil mereka melanjutkan sarapan.
Alin menggigit French toast sambil pinggulnya bergerak pelan, menggesek kejantanan Zayyan yang menempel di klitorisnya. Zayyan sesekali mengangkat pinggulnya, membuat ujung kejantanannya hampir masuk, tapi ia sengaja menahan, membuat Alin semakin gelisah.
"Sayang... masukin..." rengek Alin akhirnya, suaranya penuh keinginan.
Zayyan tersenyum jahat. "Belum. Sarapan dulu baru main."
Ia terus menggoda Alin dengan gesekan dan jari-jarinya di bawah meja hingga istrinya hampir gila. Alin akhirnya balas dendam dengan mengocok Zayyan cepat di bawah meja sambil menatap matanya dengan pandangan nakal.
Pagi itu, sarapan mereka penuh tawa, desahan pelan, dan godaan yang tak kunjung berhenti. Makanan memang habis, tapi hasrat mereka berdua semakin membara.
lanjut Thor 💪💪💪
lanjut Thor 🔥🔥🔥