NovelToon NovelToon
Jurig Jarian

Jurig Jarian

Status: sedang berlangsung
Genre:Roh Supernatural / Horor
Popularitas:339
Nilai: 5
Nama Author: Pena Lullaby

Di sebuah kampung tua di pinggiran Jawa Barat, muncul teror mengerikan dari sosok makhluk yang dipercaya sebagai Jurig Jarian — hantu penghuni tempat sampah yang lahir dari kebencian, keserakahan, dan sampah manusia yang menumpuk selama puluhan tahun. Siapa pun yang membuang sesuatu sembarangan pada malam tertentu akan mendengar suara garukan dari tong sampah… sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Lullaby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ritual Yang Tertolak

Matahari mulai meninggi, namun sinarnya tertahan oleh rimbunnya pohon bambu yang seolah semakin merapat di atas area Jarian. Pak RT, Aki Sukra, Kang Kosim, serta beberapa warga berdiri melingkar. Di tengah lingkaran, Adrian, Bagas, dan Dinda yang wajahnya masih sangat pucat berdiri dengan kepala tertunduk.

Di atas tanah hitam itu, sebuah nampan anyaman bambu berisi sesaji dan asap kemenyan yang mengepul tebal diletakkan. Sesuai perintah, laptop Dinda dibuka di atas sebuah tunggul kayu, menampilkan file-file draf proyek Smart Trash dan folder foto dokumentasi Jarian yang siap dihapus.

"Adik-adik sekalian, taruh tangan kalian di atas alat-alat ini. Niatkan dalam hati untuk memohon maaf kepada tanah ini. Hapuskan semua kesombongan, hapuskan semua yang telah kalian rekam dari tempat yang seharusnya tersembunyi." Aki Sukra memegang segelas air doa, suaranya berat bergema.

"Saya hapus datanya sekarang, Aki, Pak RT. Kami benar-benar minta maaf." Adrian mengangguk, tangannya gemetar saat menyentuh trackpad laptop.

Adrian menekan tombol Format dan Delete All. Di layar laptop, bilah proses penghapusan data berjalan. Namun, tepat ketika persentase penghapusan menyentuh angka 99%, udara di sekitar Jarian mendadak turun drastis. Angin kencang berembus memutar, mematikan api kemenyan dalam sekejap.

Zzztt... Blapp!

Layar laptop Adrian tiba-tiba berubah menjadi merah darah, lalu mati total dengan kepulan asap hitam berbau hangus. Di saat yang sama, kamera DSLR yang dikalungkan di leher Dinda berbunyi klek-klek-klek berkali-kali seolah memotret sendiri tanpa henti.

"Aki! Pak RT! Ritualnya gagal! Alat-alatnya malah rusak sendiri!" Bagas berteriak panik, memegangi kepalanya.

"Aki! Ada apa ini? Kenapa tanahnya menolak?" Pak RT maju dengan cemas.

"Gusti nu Agung... ada yang belum bersih! Ada hal menyimpang yang masih disimpan di antara mereka!" Aki Sukra matanya terbelalak menatap galian tanah kemarin yang kembali mengeluarkan cairan merah.

Belum sempat Aki Sukra menyelesaikan kalimatnya, Dinda tiba-tiba mengeluarkan suara lengkingan yang sangat nyaring, memecah kesunyian hutan bambu. Tubuhnya menegang kaku, kepalanya mendongak patah ke belakang, dan matanya kembali melotot dengan urat-urat hitam yang menjalar di sekitar kelopak matanya.

"Hihihihi! Kkamu pikirrr kkamu bbiissaaa mmeenghhaappuss kkeessoommboonnggaannn?! Ttaannaahhh iinnii ssuuddaahhh mmeennciiciippii jwiiwwaaannnyaaa!" Dinda tertawa melengking, suaranya berlapis dengan gaung yang mengerikan.

"Dinda! Tolong lepasin temen saya! Kami udah hapus semuanya!" Adrian mencoba memeluk Dinda agar tidak terjatuh.

Seketika itu juga, dengan kekuatan luar biasa, Dinda mengibaskan tangannya hingga Adrian dan Kang Kosim terpental ke tanah. Sebelum ada warga yang sempat menahannya, Dinda berbalik dan berlari dengan kecepatan yang tidak masuk akal manusia. Dia tidak berlari ke arah jalan pulang desa, melainkan menerobos semak berduri, langsung menuju ke dalam hutan larangan yang berada di balik area Jarian.

"Cepat kejar! Jangan sampai Nak Dinda masuk lebih jauh ke dalam hutan! Kang Kosim, bawa obor dan parang!" Pak RT berteriak histeris kepada warga.

"Dinda! Dinda, tunggu!" Adrian langsung bangkit berdiri tanpa memedulikan lukanya.

Adrian, Bagas, Pak RT, dan belasan warga desa langsung berlari tunggang-langgang memasuki hutan. Pepohonan di dalam hutan itu tumbuh sangat rapat, membuat suasana di bawahnya redup seperti waktu malam, padahal jam baru menunjukkan pukul sembilan pagi. Kabut tebal mendadak turun dari puncak bukit, membatasi jarak pandang mereka hingga hanya beberapa meter ke depan.

Mereka bisa mendengar suara ranting yang patah dan langkah kaki Dinda yang menjauh di depan mereka, diselingi suara tawa melengking yang sesekali menggema dari arah yang berubah-ubah.

"Din! Dinda! Jangan makin jauh, Din!" Bagas berlari sambil terengah-engah, kacamatanya hampir merosot.

"Ke arah barat! Suaranya ke arah pohon beringin tua!" Kang Kosim membabat semak-semak di depannya.

Mereka terus berlari selama hampir tiga puluh menit, mengikuti suara demi suara. Namun, semakin jauh mereka masuk, suara tawa Dinda perlahan-lahan memudar, digantikan oleh kesunyian hutan yang mati dan mencekam. Kabut tebal akhirnya benar-benar menghentikan langkah mereka di sebuah area tebing kecil yang dipenuhi akar gantung raksasa.

"Tunggu... tunggu semuanya. Suaranya... suaranya sudah hilang." Pak RT berhenti sambil memegangi dadanya yang sesak, napasnya memburu.

Adrian memandang sekeliling dengan liar. Cahaya senter warga menyapu batang-batang pohon tua yang tinggi, namun tidak ada tanda-tanda keberadaan manusia. Kain almamater biru dongker milik Dinda yang tadi mereka kejar seolah menguap begitu saja ditelan kabut.

"Dindaaa! Keluar, Din! Ini gue, Adrian!" Adrian berteriak frustrasi ke arah kegelapan hutan.

Hanya gema suaranya sendiri yang kembali menyahut. Di tengah keputusasaan itu, Bagas tiba-tiba melihat ke bawah kakinya. Di atas tanah berlumpur dekat akar pohon beringin, tergeletak kamera DSLR milik Dinda. Talinya terputus, dan lensa kameranya pecah berantakan. Namun, yang membuat Bagas kembali merinding adalah aroma yang tiba-tiba berembus melewati mereka.

Bukan lagi bau amis darah Jarian, melainkan wangi melati kering yang sangat pekat aroma yang sama yang ditinggalkan oleh Sinta di pagar rumah dinas tadi pagi.

"Aki... kita kehilangan jejaknya. Di depan ini sudah wilayah dalam hutan larangan." Kang Kosim menatap Aki Sukra yang baru saja menyusul dengan langkah berat.

"Dia sudah dibawa masuk ke batasan mereka. Sinta... penunggu batas desa yang ditemui Nak Bagas pagi tadi, dialah yang menuntun jiwa anak ini pergi. Hutan ini sudah mengunci pintunya bagi kita." Aki Sukra mengambil kamera Dinda yang rusak dari tanah, lalu menatap ke kegelapan hutan dengan mata berkaca-kaca.

Adrian terduduk lemas di tanah lembap hutan, menatap tangannya yang memar bekas cengkeraman Dinda semalam. Di tengah kabut yang semakin tebal, ketiga mahasiswa kota itu kini benar-benar sadar bahwa mereka tidak sedang berhadapan dengan masalah sanitasi lingkungan, melainkan sebuah rahasia kuno yang menuntut bayaran atas ketidakhormatan mereka terhadap tanah Desa Pasir Angin.

1
Heriyansah
Terimkasih kak
Khodijah
bagus ceritanya semangat ya' Thor 👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!