Mita tidak pernah menyangka, satu ajakan sederhana dari suaminya akan mengubah segalanya.
Reuni sekolah yang seharusnya menjadi malam biasa justru membuka luka yang tak pernah ia sadari sebelumnya. Di tengah keramaian, Mita berdiri di samping Rio--namun terasa seperti tidak pernah ada. Terlebih saat Rio kembali bertemu dengan cinta pertamanya... dan memilih tenggelam dalam masa lalu.
Ditinggalkan tanpa penjelasan, Mita justru dipertemukan dengan Adrian-teman lama sekaligus rekan kerja Rio. Sosok yang dulu hanya sekadar kenangan, kini hadir sebagai satu-satunya orang yang benar-benar melihatnya.
Dan Reuni itu mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rachmaraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Mita dan Adrian sudah duduk di lantai beralaskan ambal berbulu di kosan Mita. Adrian selalu datang membawa makanan untuk sang kekasih dan tentu juga satpam yang jaga di gerbang kosan.
Adrian selalu menunggu Mita untuk bicara. Jujur saja, sejak kejadian kemarin, Adrian makin cinta dan sayang pada wanita di hadapannya.
"Ada apa sih? Kelihatannya gelisah banget?" Adrian dengan sabar mencoba memulai pembicaraan.
"Aku takut nggak bisa hamil, Mas. Aku tau kamu pasti menginginkan keturunan. Sebelum kita melangkah jauh untuk menikah, sebaiknya hal ini kita bicarakan di awal. Karena, aku nggak ingin mengalami hal sama dengan pernikahan yang sebelumnya. Alasannya karena aku perempuan mandul. Dan dengan dalih seperti itu, kamu bisa seenaknya selingkuh. Aku—takut." Suara Mita agak bergetar, sekuat ia tidak menangis di hadapan Adrian.
Hal ini memang sangat sensitif sekali, terutama untuk Mita. Trauma masa lalunya, tidak benar-benar sembuh. Ia terus menjalani hidup dengan rasa sakitnya. Mencoba meluaskan rasa ikhlasnya. Ia tidak lari, justru ia hidup berdampingan dengan penderitaan sampai ia merasa benar-benar pulih, kelak.
Adrian menghela napas panjang dan tersenyum untuk menguatkan hati Mita. Ternyata pembahasan seperti ini sampai juga di dalam hidupnya. Kalau boleh jujur, Adrian belum yakin apakah ia benar-benar ingin memiliki anak? Karena selama ini ia sendirian. Mungkin kehadiran anak dalam hidupnya, karena yang ia pikirkan saat ini adalah hidup dan tumbuh bersama Mita.
"Ehmmm... Sejujurnya aku belum yakin tentang itu. Sejauh aku berpikir, aku hanya ingin hidup sama-sama kamu. Aku mencoba memahami situasi kamu dan perasaan kamu. Tapi, itu bukan kuasa kita kan? Kalau pun nanti kita punya anak, mari kita sayangi anak kita dengan memenuhi hak dan kewajibannya. Kalaupun tidak ada anak, ya nggak apa-apa. Aku merasa cukup dengan adanya kamu." Adrian mengusap lembut pipi Mita.
Mita menggeleng pelan. "Kamu belum paham. Jawaban kamu itu hanya untuk nenangin aku. Kalau sudah menikah, pola pikir kita akan berbeda dari rencana awal, Mas. Itu yang selalu terjadi dengan manusia."
"Aku—aku nggak peduli dengan hinaan orang tentang aku mandul atau penyakitan. Tapi, aku nggak bisa terima jika suamiku kelak justru memilih wanita lain, lagi. Dengan alasan itu. Harga diriku hancur berkeping, Mas. Karena ketika sudah menikah, aku menyerahkan semuanya padamu."
Adrian berpikir sejenak sebelum menanggapi penjelasan Mita barusan. Ia tidak ingin apa yang keluar dari mulutnya menjadi Boomerang suatu hari nanti baginya. Dan... Betul yang Mita bilang, manusia bisa berubah. Meskipun saat ini ia memiliki tekad dan prinsip yang kuat, tidak ada yang akan tahu, apa yang terjadi kedepannya. Bukan masalah selingkuh, tapi ia justru khawatir tentang Mita.
Bagi Adrian, tidak ada anak, mungkin tidak apa-apa. Toh, selama ini ia sendirian. Tidak ada kakak atau adik. Tapi, mungkin beda bagi Mita. Ia seorang perempuan, terlahir dari keluarga yang ramai. Terbiasa dengan itu, jadi wajar kalau Mita ingin memiliki anak. Ingin menyandang gelar sebagai seorang ibu.
Adrian menggenggam tangan Mita dengan erat. Ia menarik tubuh Mita pelan-pelan untuk dipeluk.
"Sayang, maaf ya... Kalau aku ternyata belum memahami kamu. Benar yang kamu bilang, kita memang manusia yang kapan saja bisa berubah. Hmm... Kalau kamu khawatir soal itu, bagaimana kalau kita periksa. Kamu dan aku. Supaya kamu tenang juga. Aku janji, aku akan menerima kamu apapun yang terjadi. Dan... Kalau keadaannya terbalik, aku serahkan ke kamu. Kamu boleh mundur dari rencana ini dan—"
"Mas!"
"Hmm?"
Mita mengendurkan tubuhnya dan menatap Adrian lekat. Tidak ada sama sekali kebohongan di matanya. Mita hanya melihat ketulusan yang jujur.
"Kamu bisa mendapatkan perempuan yang lebih baik, kalau itu terjadi sama aku. Jangan memaksa, Mas. Karena... Kamu berhak mendapatkan kebahagiaan dan kesempurnaan. Jadi... Jangan bilang gitu lagi. Aku sakit dengarnya," jelas Mita yang akhirnya tidak bisa menahan air matanya.
。◕‿◕。
Tiara menggerutu sebal ketika permintaannya ditolak Adrian. Malam itu ia datang ke klub malam bersama teman-teman mainnya. Klub itu bernama
'Lunar'.
"Duh, rokok gue ketinggalan." Tiara mengacak-acak isi tasnya.
"Di mobil kali ketinggalan."
"Iya kali ya. Gue cek dulu ya. Sayang soalnya baru beli." Tiara beranjak dari kursinya dan saat berjalan ke arah luar. Namun, saat akan keluar pintu, ia menabrak seorang pria. "Aduh!"
"Aduh!" Pria itu juga mengaduh.
Mereka saling tatap-tatapan di dalam keremangan.
"Tunggu, deh. Kamu bukannya asistennya Adrian ya?"
"Lho, Pak Rio?" Tiara kenal siapa Rio. Dan beberapa kali pernah bertemu di kantor.
Akhirnya Tiara dan Rio minggir ke arah lebih dalam.
"Kamu sendirian?" tanya Rio pada Tiara yang kini hanya memakai baju kekurangan bahan. Menampakkan dadanya yang bulat sempurna.
"Nggak, Pak. Saya sama teman-teman di sana. Ini mau ngambil barang di mobil. Pak Rio sendirian aja?"
"Iya nih sendirian. Mau nemenin nggak?" ajak Rio pada Tiara.
"Gabung aja kalau gitu. Tapi, aku ke mobil dulu ya. Ada yang ketinggalan soalnya."
"Ya udah, saya antar." Rio akhirnya menawarkan diri untuk mengantar Tiara ke parkiran.
Mereka berjalan ke arah parkiran bersisian. Sesekali Rio melirik Tiara terutama ke bagian dada.
"Kamu sering ke klub ya?"
"Lumayan lah, Pak. Kenapa emangnya, Pak?" Tiara mengeluarkan kunci mobil dan menekan tombol buka kunci. "Bentar ya,Pak." Tiara membungkuk dan masuk setengah badan ke arah dalam. Memperlihatkan bagian bokongnya yang sintal dan hanya tertutup short pants.
Rio meneguk ludah kasar. Ia buru-buru menoleh ke arah lain. Tapi, sialnya sangat sulit untuk tidak dilihat. Matanya selalu saja kembali untuk melihat bokong Tiara dan paha mulusnya yang putih bersih, berisi.
"Nggak ada lagi. Kemana ya? Perasaan aku udah masukin tas deh." Tiara keluar dan mengeluh sebal.
"Emang apaan sih yang dicari?"
"Rokok, Pak. Baru beli sebungkus. Sayang banget itu," jelasnya.
"Saya ada rokok nih," tawar Rio.
"Rokok Pak Rio mah nggak abis-abis!"
Rio yang niatnya memang menawarkan rokok beneran, malah terdistraksi oleh ucapan Tiara barusan.
"Kamu bilang apa barusan?" tanya Rio lagi. "Emang kamu udah pernah coba rokok yang itu?"
Tiara tertawa genit sambil menutup mulutnya. "Saya kelepasan, Pak. Maksudnya rokok Pak Rio emangnya nggak takut habis? Gitu lho."
Rio ikut terkekeh, ada yang sesak di bawah sana sejak melihat dada dan bokong Tiara yang terekspos. Di tambah lagi dengan tingkah genit Tiara yang memancingnya. Rasanya Rio ingin sekali membawa tubuh Tiara untuk dihentak oleh miliknya. Rasanya pasti enak sekali.
"Pak Rio, jangan dipikirin dong. Gitu aja langsung dipikirin. Mana sini rokoknya?" Setelah mengambil rokok milik Rio, Tiara pun mengajaknya masuk kembali ke klub.
[]
*Update besok lagi ya 🥰