Valeria Francesca terbangun di dalam tubuh wanita antagonis sebuah novel yang ditakdirkan mati tragis di meja operasi setelah kedoknya membobol keluarga konglomerat terbongkar. Di cerita asli, wanita ini menipu sang CEO, Alessandro Dirgantara, menggunakan pahlawan palsu dan jebakan kehamilan untuk memaksa menikah.
Saat terbangun di momen tepat sebelum melabrak Alessandro dengan hasil tes kehamilan, Valeria langsung merobek kertas itu. Demi selamat dari maut, ia memilih pura-pura penurut sambil diam-diam menabung untuk kabur.
Namun saat Valeria menyelinap ke rumah sakit untuk aborsi diam-diam agar bisa lari dengan tenang, Alessandro justru mendobrak pintu ruang operasi dengan mata memerah dan membentak, "Siapa yang memberi kamu izin menggugurkan anak kita?!"
Valeria melongo. Bos, bukankah di novel aslinya kamu yang paling ingin anak ini mati?!
!!(KARYA INI MURNI FIKTIF PENULIS)!!
!!(TEMPAT,LATAR MURNI IMAJINASI)!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unamed, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: Bom Waktu Di Balik Kilau Permata
Di belahan gedung pencakar langit Dirgantara Group yang megah, Alessandro Dirgantara baru saja melangkah keluar dari ruang rapat pleno dengan langkah tegap. Auranya yang dominan dan berwibawa seketika membuat para karyawan yang berpapasan dengannya menunduk takzim.
Sembari berjalan menyusuri koridor marmer menuju ruang kerja pribadinya, Alessandro melirik sekilas ke arah sekretarisnya yang berjalan mengekor di sampingnya. Dengan nada suara yang teramat kasual, ia membuka suara, "Apakah Valeria sudah datang?"
Sejak awal mereka resmi menjalin hubungan kasih, Valeria Francesca memiliki sebuah rutinitas tetap yang tidak pernah absen. Baik di bawah siraman terik matahari maupun guyuran hujan deras, wanita itu selalu mendatangi kantor pusat tepat pada jam istirahat siang murni untuk mengantarkannya sebuah kotak bekal makanan. Berkat konsistensi yang luar biasa agresif tersebut, saat ini hampir seluruh jajaran staf dan karyawan di menara korporasi tahu betul bahwa kekasih sang CEO tampan adalah sosok wanita yang sangat perhatian.
Sasa Zenita, sang sekretaris, memasang senyuman profesional yang diatur sedemikian rupa, meski di dalam hatinya ia mendengus sinis. "Sampai menit ini, belum ada konfirmasi atau notifikasi apa pun dari pihak resepsionis lobi utama, Pak Alessandro. Tampaknya Nona Valeria belum tiba di gedung kita."
Langkah kaki Alessandro sempat menjeda kaku selama satu detik. Ia mengangkat tangan kirinya, melirik jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya. Jarum jam sudah bergerak sangat dekat menunjukkan angka dua belas siang.
Biasanya, sebelum jam berdentang tepat di angka dua belas, Valeria sudah akan duduk manis di sofa ruang kerjanya, menanti kedatangannya dengan wajah manja yang menuntut perhatian.
Kilatan taktik seketika melintas di dalam bola mata Sasa Zenita. Ia buru-buru mengambil kesempatan emas tersebut untuk menawarkan perhatian lebih, mendekatkan jarak berdirinya dengan sang bos. "Pak Alessandro, apakah Anda sudah merasa lapar? Bagaimana jika saya yang turun ke bawah sekarang untuk membelikan menu makan siang terbaik agar Anda tidak perlu menunggu terlalu lama?"
Alessandro terdiam sejenak, menimbang keputusannya dengan kepala dingin. "Tidak perlu. Kita tunggu saja beberapa waktu lagi."
Di dalam kalkulasi pikirannya, ia tahu betul bagaimana tabiat meledak-ledak yang dimiliki kekasihnya itu. Jika Valeria datang dengan bersusah payah membawa makanan dan mendapati dirinya sudah menyelesaikan makan siang dari luar, wanita itu dipastikan akan langsung mengamuk hebat, menangis egois, dan menyulut keributan besar di ruang kerjanya.
Alessandro merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel pribadinya untuk memeriksa layar kunci. Layar datar itu tampak bersih total dari riak notifikasi; tidak ada satu pun panggilan keluar-masuk maupun rentetan pesan teks singkat yang dikirimkan oleh Valeria hari ini.
Mungkin dia sedang terjebak kemacetan parah di jalanan kota, atau terhambat oleh urusan mendesak lainnya, pikir Alessandro berspekulasi. Ia tidak ingin membuang waktu terlalu lama untuk memikirkannya, lalu memilih masuk ke dalam ruang kerjanya demi melanjutkan penyelesaian berkas-berkas dokumen perusahaan yang menumpuk.
Satu jam berlalu dengan sangat cepat di tengah kesibukan kerja. Ketika Alessandro kembali menegakkan punggungnya dan melirik jam dinding, waktu sudah bergeser jauh.
Ia menekan tombol interkom, memerintahkan Sasa Zenita untuk kembali menghubungi pihak keamanan lobi bawah. Namun, jawaban administratif yang ia terima tetap sama: tidak ada satu pun petugas yang melihat batang hidung Valeria Francesca menginjakkan kaki di area gedung Dirgantara Group sepanjang hari ini.
Mendengar laporan tersebut, sepasang alis tebal milik Alessandro mendadak bertaut tipis halus. Seberkas kilatan rasa bingung dan heran yang teramat jarang terjadi melintas dengan sangat cepat di dalam manik mata hitamnya yang dalam.
Sementara itu, Sasa Zenita yang berdiri menyaksikan ekspresi kaku sang atasan dari balik meja kerja diam-diam memekik penuh sukacita di dalam batinnya.
Ia merasa bahwa dinding pertahanan hubungan asmara antara sang CEO besar dengan Valeria Francesca yang vulgar itu tampaknya mulai memperlihatkan retakan-retakan krisis yang nyata. Jika tidak demikian, dengan tabiat Valeria yang biasanya terlampau posesif, agresif, dan selalu menempel ketat pada Alessandro layaknya benalu, mana mungkin wanita matre itu mendadak absen dan mengabaikan rutinitas wajib mengantar makanan di jam krusial seperti ini?
Merasa momentum keberuntungannya telah tiba, Sasa Zenita tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk menyiramkan bensin ke dalam api prasangka. Ia memasang raut wajah yang dibuat seolah-olah teramat prihatin. "Pak Alessandro, jika saya boleh jujur, sikap Nona Valeria kali ini benar-benar keterlaluan dan egois. Absen mengantarkan makan siang adalah satu hal, tetapi tidak memberikan sepotong kabar atau panggilan telepon sama sekali di jam kerja Anda itu benar-benar kurang sopan. Dia sudah membuat Anda menolak tawaran makan siang dan membuang waktu tunggu yang berharga hingga kelaparan seperti ini."
Alessandro mengembuskan napas pendek secara perlahan. Di dalam benaknya, ia berasumsi bahwa hilangnya kabar dari Valeria hari ini murni merupakan kelanjutan dari aksi merajuk dan amarah pertengkaran hebat yang mereka lewati di ruang makan vila tadi malam. "Ya sudah, lupakan saja masalah itu. Kamu bisa keluar sekarang untuk membelikan saya satu porsi menu makan siang yang biasa."
Mendengar perintah tersebut, Sasa Zenita merasa tebakan taktiknya telah berhasil menusuk sasaran dengan telak. Sebuah senyuman kemenangan yang teramat lebar meletup di wajah cantiknya, hampir mustahil untuk ia sembunyikan dari hadapan Alessandro. "Baik, Pak Alessandro! Saya akan segera melangkah pergi ke restoran sekarang juga!"
Tidak butuh waktu lama bagi sang sekretaris untuk kembali ke dalam ruangan dengan membawa sebuah kotak bekal mewah. Dengan gerakan yang sengaja dibuat seanggun dan selembut mungkin, ia meletakkan kotak makanan tersebut tepat di atas meja kerja kayu mahoni di hadapan Alessandro.
"Pak Alessandro, ini adalah menu makan siang terbaik yang Anda inginkan," ucap Sasa Zenita dengan intonasi suara yang dibuat mendayu manja.
Tepat pada detik saat ia mengulurkan tangannya untuk membuka tutup kotak makanan, Sasa Zenita sengaja mencondongkan posisi tubuh bagian atasnya ke arah depan dalam jarak yang cukup dekat, dengan sengaja memamerkan belahan dadanya yang terekspos rendah di balik potongan kemeja kerjanya yang ketat. Itu adalah sebuah aksi godaan visual yang teramat berani.
Namun, Alessandro bahkan tidak sudi mengangkat seujung kelopak matanya sedikit pun untuk melirik pemandangan tersebut. Pandangan matanya tetap terkunci lurus pada berkas dokumen di tangannya saat ia menyahut dengan nada bariton yang teramat dingin, datar, dan menjaga jarak, "Terima kasih atas kerja kerasmu. Kamu boleh keluar dari ruangan saya sekarang."
Seluruh ekspektasi manis dan rencana godaan yang sudah disusun oleh Sasa Zenita seketika hancur berkeping-keping di udara, menyisakan rasa malu dan batin yang tidak rela di dalam dadanya. Sambil menahan sesak, ia melangkah mundur dengan kaku. "Baik, Pak..."
Begitu pintu kaca tebal ruang kerja CEO ditutup rapat dari luar, Alessandro kembali meletakkan penanya, meraih ponselnya untuk kesekian kali. Layar gawai itu tetap sunyi tanpa ada sepeser pun tanda-tanda kehidupan dari nomor Valeria.
Sensasi kejanggalan dan ketidakselarasan yang aneh di dalam lubuk hatinya kini bertransformasi menjadi kian pekat dan mengusik ketenangannya.
Valeria Francesca benar-benar telah mengalami pergeseran tabiat yang luar biasa ekstrem dalam dua hari terakhir ini.
Wanita itu tidak lagi melancarkan aksi teror bom pesan singkat yang tiada habisnya sepanjang hari, tidak lagi bergerak agresif menempel ketat pada tubuhnya di setiap sudut ruangan, dan tidak lagi merengek manja pusing meminta jatah belanja barang mewah di setiap kesempatan. Perubahan drastis ini terasa terlampau instan untuk akal sehatnya.
Namun, rentetan analisis psikologis tersebut hanya melintas selama beberapa detik di otaknya. Alessandro dengan cepat menetralkan kembali fokus logikanya, mengalihkan seluruh atensi kerjanya menuju ke arah hidangan makan siang di atas meja.
Tepat pada saat itu, pintu ruang kerjanya kembali diketuk pelan dari luar. Asisten pribadi kepercayaannya yang bernama Bram melangkah masuk dengan gerakan takzim dan membungkuk hormat. "Pak Alessandro, mohon maaf mengganggu waktu makannya. Baru saja masuk sebuah lembar undangan eksklusif mengenai gelaran acara Private Jewelry Appreciation Event yang akan dilangsungkan malam ini tepat pukul tujuh. Apakah Anda bersedia menjadwalkan diri untuk menghadirinya?"
Alessandro menarik kembali fokus pikirannya dari ponsel, menatap asistennya dengan sorot mata yang kembali tenang dan dingin. "Saya mengerti. Atur seluruh jadwal operasional kendaraan dan konfirmasi kehadiran saya malam ini."
Ketika jarum jam bergerak menunjukkan waktu petang, Alessandro akhirnya menginjakkan kakinya kembali ke dalam vila pribadinya. Namun, tepat pada detik saat ia baru saja selesai melepaskan sepatu pantofelnya di koridor teras depan, daun pintu utama vila mendadak didorong terbuka dari arah luar, menampilkan sosok Valeria yang baru saja melangkah masuk.
Langkah kaki Valeria yang awalnya terasa teramat ringan, santai, dan dipenuhi oleh senyuman lebar akibat keberhasilan retur uang miliaran rupiah tadi siang, seketika membeku total di tempatnya berdiri begitu sepasang matanya membentur siluet tegap milik Alessandro. Detik itu juga, gelombang rasa bersalah yang luar biasa besar meluap di dalam dadanya, membuat Valeria merasa persis seperti seorang pencuri amatir yang baru saja tertangkap basah di lokasi kejadian kejahatan.
Ia buru-buru menetralkan kembali raut wajahnya yang sempat panik, memaksa sudut bibirnya untuk melengkung membentuk seulas senyuman natural yang terkesan canggung. "Eh... kamu udah pulang, Ales?"
Alessandro memicingkan matanya perlahan, melayangkan pandangan penuh selidik yang menyapu dari ujung kepala hingga ujung kaki wanita di hadapannya. "Kamu baru saja bepergian keluar rumah?"
Sepasang mata Valeria berputar taktis ke segala arah demi menyusun kebohongan baru, menjawab dengan nada suara yang sengaja dibuat samar dan acuh tak acuh, "Ah, iya... tadi aku sempat keluar sebentar buat jalan-jalan dan belanja di pusat kota."
Sorot mata tajam milik Alessandro seketika jatuh lurus menatap ke arah sepasang tangan Valeria yang tampak kosong melompong; wanita itu bahkan tidak membawa satu pun kantong belanjaan belanja atau paper bag butik mewah dari luar.
Menyadari arah tatapan interogasi tersebut, detak jantung Valeria mendadak mengetat kuat dilanda ketakutan. Ia berdeham panik, membersihkan tenggorokannya demi meluncurkan alasan pembelaan diri tambahan, "Uhuk... maksud aku, tadi aku emang jalan-jalan lihat baju, tapi karena di sepanjang rute keliling nggak ada satu pun model barang yang pas di selera aku, makanya akhirnya aku nggak jadi beli apa-apa hari ini."
Alessandro hanya mengeluarkan suara gumaman rendah yang tidak menyiratkan persetujuan maupun penolakan, "Hmh."
Pria itu melepaskan mantel jas kerjanya dengan gestur kasual, meletakkannya di atas sandaran sofa ruang tengah, lalu kembali melayangkan pertanyaan dengan nada bicara yang terkesan sangat santai namun menusuk, "Kenapa siang tadi kamu sama sekali nggak datang ke kantor perusahaan buat antar makanan seperti biasanya?"
"Antar makanan siang?"
Valeria sempat tertegun linglung selama beberapa detik mendengar pertanyaan itu, hingga akhirnya struktur memorinya berhasil menangkap kembali fakta plot orisinal novel. Ia teringat bahwa pemilik tubuh Valeria yang asli memang memiliki rutinitas tetap mendatangi kantor pusat Alessandro setiap tengah hari bolong murni untuk membawakan bekal makan siang.
Dalam narasinya dulu, Valeria asli selalu meluncurkan klaim manis bahwa dirinya teramat mencemaskan kesehatan lambung Alessandro jika pria itu keseringan mengonsumsi makanan luar yang kurang higienis. Namun, di balik topeng perhatian tersebut, motif asli wanita matre itu sebenarnya murni hanya ingin memanfaatkan waktu makan siang sebagai modus operandi untuk merengek meminta fasilitas kartu kredit baru, uang tunai, atau perhiasan mahal dari tangan sang CEO.
Valeria yang sekarang segera menyahut dengan intonasi yang dibuat selembut mungkin, "Tadi siang aku mendadak ada urusan pribadi yang teramat mendesak di luar, makanya sempat keluar rumah terburu-buru dan nggak sempat kasih kabar atau telepon kamu terlebih dahulu. Kamu sendiri... tadi siang nggak sampai kelaparan gara-gara nungguin aku, kan?"
Suara bariton Alessandro terdengar berat dan dalam saat menyahut, "Tidak."
"Syukur deh kalau kayak gitu," jawab Valeria cepat, langsung memanfaatkan celah pembicaraan ini sebagai momentum emas untuk menghapus rutinitas melelahkan tersebut dari kehidupannya ke depan. "Oh iya Ales, sebenarnya belakangan ini aku lagi mikirin satu hal. Lagian kualitas rasa masakan aku kan sebenarnya biasa-biasa aja dan nggak terlalu istimewa, jadi aku mikir mulai besok dan seterusnya aku nggak usah repot-repot antar makan siang lagi ke kantor kamu, ya? Mendingan kamu minta sekretaris kamu, Sasa, buat belikan menu makanan dari luar aja tiap siang."
Meskipun secara personal Valeria yang sekarang memiliki kemampuan memasak yang cukup mumpuni di dunia asalnya dulu, namun ia sama sekali tidak memiliki kepastian apakah rasa masakannya akan selaras dengan cita rasa masakan pemilik tubuh terdahulu. Jika sampai terjadi perbedaan rasa yang terlalu kontras, hal itu dipastikan akan memancing insting detektif Alessandro dan membuat penyamaran jiwanya terbongkar dalam sekejap.
Terlebih lagi, ada satu fakta tersembunyi yang ia ketahui dari plot novel: bahwa sebenarnya Valeria yang asli seumur hidupnya sama sekali tidak pernah bisa memasak! Di masa lalu, wanita matre itu hanya bermodalkan kelicikan dengan cara membeli menu makanan matang dari restoran bintang lima, memindahkannya ke dalam wadah kotak bekal rumah, lalu meluncurkan klaim palsu di depan Alessandro bahwa makanan tersebut adalah mahakarya hasil keringat tangannya sendiri.
Dan yang paling ironis... Alessandro sejak detik pertama sebenarnya sudah mengetahui seluruh kedok kepalsuan kotak bekal tersebut dengan sangat jernih! Pria berotak genius itu hanya memilih untuk menutup mata, berpura-pura bodoh, dan tidak pernah berniat membongkar kebohongan tersebut murni demi menghargai harga diri sang wanita penyelamat nyawanya. Jadi, pada esensinya, mengonsumsi makanan antar dari Valeria maupun membeli makanan dari luar kantor... nilainya sama saja di mata Alessandro; keduanya murni adalah makanan restoran luar.
Begitu kalimat penolakan lepas dari bibir Valeria malam ini, Alessandro menatap wajahnya dengan intensitas yang kian mendalam, dipenuhi oleh spekulasi emosi yang teramat sulit untuk diartikan. "Bukannya di masa lalu kamu adalah pihak yang paling bersikeras dan tidak pernah mau mendengar penolakan saya mengenai urusan antar makanan ini? Kenapa hari ini kamu bisa mendadak berubah pikiran begitu instan?"
Jantung Valeria seolah melompati satu detakan akibat pertanyaan skakmat tersebut. Menatap lurus ke dalam sepasang manik mata hitam milik Alessandro yang seolah sanggup menguliti isi kepalanya, ia terpaksa menarik napas dalam-dalam dan memaksakan seulas senyuman manis di bibirnya. "A-ah, itu... aku sekarang cuma mikir lebih dewasa aja, Ales. Aku nggak mau kehadiran aku di kantor terus-menerus justru mengganggu fokus konsentrasi kerja kamu yang padat. Lagipula, kalau aku keseringan bolak-balik masuk ke ruang kerja CEO di jam aktif, kan rasanya kurang enak dilihat sama jajaran karyawan lain. Lebih baik kita batasi diri buat menghindari salah paham dari publik."
Alessandro terdiam mendengarkan untaian kalimat bijak tersebut, raut wajah tegasnya tampak menyiratkan proses analisis yang mendalam. Namun, pria itu memilih untuk tidak menekan pertanyaannya lebih jauh dan dengan gerakan taktis langsung mengalihkan topik pembicaraan mereka. "Apakah malam ini kamu memiliki agenda atau rencana pribadi di luar rumah?"
Valeria mengerjapkan matanya polos, lalu menggelengkan kepalanya mantap. "Nggak ada rencana apa-apa kok. Memangnya ada apa, Ales?"
"Malam ini ada gelaran acara pameran berlian eksklusif yang dilangsungkan secara tertutup. Bersiaplah, kamu harus mendampingi saya untuk menghadirinya," ucap Alessandro memberikan instruksi langsung.
"Pameran berlian eksklusif?"
Alessandro menganggukkan kepalanya pelan sebagai konfirmasi. "Benar, sebuah acara apresiasi perhiasan skala privat untuk kalangan terbatas."
Mendengar jenis acaranya, lubuk hati Valeria mendadak dilanda rasa ketertarikan yang cukup besar. Di sepanjang perjalanan hidupnya di dunia nyata dulu, ia adalah seorang wanita kelas pekerja biasa yang tidak pernah memiliki kesempatan atau hak istimewa untuk bisa menginjakkan kakinya ke dalam sebuah pesta sosial kelas atas yang dipenuhi oleh kilau kemewahan kaum konglomerat. Menghadiri pameran ini tentu akan menjadi sebuah pengalaman berharga yang sangat bagus untuk memperluas cakrawala pandangan matanya mengenai dunia barunya ini.
"Oke deh, aku mau," jawab Valeria menyetujui ajakan tersebut dengan binar mata yang antusias. "Kira-kira... apakah ada persiapan khusus atau gaun tertentu yang wajib aku siapkan dari sekarang?"
"Nggak ada yang rumit," sahut Alessandro menenangkan dengan nada suara yang melunak tipis. "Cukup berpakaian dan berdandan seperti bagaimana pembawaan kamu biasanya saja di acara formal."
Setelah menyelesaikan kalimat instruksinya, Alessandro membalikkan tubuh tegapnya, melangkah mantap menuju ke arah kamar tidur utama demi mengganti setelan pakaian kerjanya dengan pakaian formal malam yang baru.
Mengingat pemilik tubuh Valeria yang asli sudah terlampau sering mendampingi Alessandro menghadiri berbagai jamuan makan malam formal di masa lalu, maka di dalam lemari pakaian raksasa (walk-in closet) miliknya sudah berjejer rapi puluhan pilihan gaun malam rancangan desainer ternama yang siap pakai, membuat Valeria tidak perlu lagi membuang waktu berbelanja baju baru sore ini.
Dan karena fokus utama acara malam ini adalah sebuah pameran apresiasi kilau perhiasan permata, Valeria menyimpulkan bahwa dirinya tidak boleh mengenakan pakaian yang terlampau mencolok, norak, atau berlebihan yang justru akan merusak estetika visual penampilannya di depan publik kelas atas.
Ia mengulurkan jemarinya, memilah satu per satu gantungan pakaian di dalam lemari, hingga pilihan akhirnya jatuh lurus pada sehelai gaun pesta model kemben (tube dress) berbahan satin premium dengan warna biru laut yang terkesan sangat elegan, anggun, namun tetap memancarkan kesan berkelas.
Tepat pada detik saat Valeria sedang berdiri di depan cermin besar ruang ganti sembari sibuk merapikan potongan kain di bagian bawah pinggiran gaun malamnya, Alessandro yang sudah menyelesaikan proses ganti pakaiannya mendadak melangkah masuk ke dalam ruangan. Namun, begitu langkah kakinya menapakkan kaki di ambang pintu lorong baju, seluruh pergerakan tubuh sang CEO besar seketika membeku total di tempatnya berdiri.
Saat itu, posisi tubuh Valeria sedang sedikit membungkuk ke arah depan demi menjangkau dan membenarkan lipatan ujung bawah rok gaunnya yang agak melilit. Akibat dari postur tubuhnya yang condong ke bawah tersebut, bagian garis leher dari gaun model kemben biru laut yang dikenakannya secara otomatis ikut merosot turun ke arah bawah, mengekspos sebagian besar area permukaan kulit dadanya yang putih mulus, bersih, dan sehalus porselen ke udara terbuka—memancarkan sebuah visualisasi keindahan feminin yang teramat memikat mata.
Merasakan adanya hawa keberadaan manusia dan seberkas tatapan mata intens yang menusuk dari arah belakang punggungnya, Valeria menghentikan gerakannya. Ia mendongakkan kepalanya secara perlahan, melayangkan pandangan matanya ke arah permukaan cermin besar di hadapannya, hanya untuk menangkap siluet Alessandro yang sedang berdiri kaku menatapnya dari belakang dengan ekspresi wajah yang tampak teramat aneh, janggal, dan dipenuhi gurat ketegangan yang tidak biasa.
Valeria yang bingung secara naluriah langsung mengikuti arah pandangan mata Alessandro, menurunkan fokus matanya melihat ke arah tubuhnya sendiri. Detik itu juga, kesadaran bahwa dirinya baru saja mengalami insiden malafungsi busana yang mengekspos area pribadinya seketika meledak di otaknya, membuat seluruh urat saraf di kelopak matanya berkedut hebat dilanda kepanikan tingkat tinggi.
"Aaaaa!" pekik Valeria tertahan. Dengan gerakan refleks yang super cepat dan tangkas, ia langsung menyilangkan kedua telapak tangannya di depan dada untuk menutupi area yang terekspos, lalu menegakkan kembali posisi tubuhnya dalam satu sentakan tegak lurus.
Pada saat ia kembali mengalihkan pandangan matanya menatap cermin, Alessandro ternyata sudah dengan gerakan yang sangat kilat memalingkan seluruh wajah tampannya ke arah dinding samping, menolak untuk melihat lebih jauh. Seluruh gestur tubuh kokoh milik sang CEO saat ini memancarkan sebuah aura kekakuan batin, kecanggungan yang ekstrem, dan kesunyian yang teramat tidak alami bagi seorang pria penguasa bisnis.
Seluruh permukaan kulit pipi hingga sepasang daun telinga Valeria seketika mendadak memancarkan sensasi panas yang membakar, berubah warna menjadi merah merona sempurna akibat rasa malu yang teramat sangat. Detak jantung di dalam dadanya berpacu dengan ritme yang luar biasa kencang laksana genderang perang.
Sialan! Malu-maluin banget! Pria sedingin es itu... tadi nggak sempat melihat hal-hal yang nggak seharusnya dilihat secara jelas, kan?! jerit Valeria frustrasi meratapi kecerobohan tubuhnya di dalam batin.
Di tengah atmosfer ruangan yang mendadak berubah menjadi sangat kaku, canggung, dan dipenuhi oleh ketegangan emosional yang pekat tersebut, Alessandro akhirnya berdeham pelan untuk menjernihkan suara tenggorokannya, memecah keheningan yang menyiksa di antara mereka tanpa menolehkan wajahnya. "Para tamu wanita yang dijadwalkan hadir di acara pameran malam ini... dipastikan semuanya akan mengenakan koleksi perhiasan mewah terbaik milik mereka sebagai pelengkap busana. Kamu... sebaiknya juga memilih satu koleksi perhiasan permata dari dalam kabinet untuk dikenakan malam ini."
Mendengar kalimat pengalihan isu tersebut, Valeria langsung menangkap kesempatan emas itu dengan kecepatan penuh demi meredakan ketegangan batinnya sendiri. "A-ah, iya! Benar juga kata kamu! Oke kalau begitu, aku bakal segera pilih satu kalung sekarang dari dalam lemari perhiasan!"
Tanpa berani membuang waktu lebih lama lagi, ia melangkah terburu-buru setengah berlari menuju ke arah meja counter kabinet kaca tempat penyimpanan seluruh koleksi perhiasan mewahnya, menyembunyikan rona merah padam di wajah cantiknya dan debaran panik di dadanya dari jangkauan pandangan mata Alessandro.
Sembari jemarinya membuka laci perhiasan dan matanya bergerak gelisah menatap deretan koleksi perhiasan berlian yang berjejer di dalam beludru hitam, Valeria mendadak dilanda rasa bingung yang besar mengenai jenis model kalung permata apa yang paling serasi dan elegan untuk dipadukan dengan gaun pesta kemben biru laut miliknya malam ini.
Tepat pada detik saat ia sedang bimbang memilah-milah barang tersebut, gema suara bariton milik Alessandro yang teramat rendah, tenang, dan dingin mendadak kembali mengalir dari arah belakang tubuhnya, melontarkan sebuah kalimat rekomendasi singkat yang seketika laksana sambaran petir di siang bolong:
"Nggak usah bingung memilih model yang lain, Valeria. Malam ini... pakai saja seuntai kalung berlian edisi terbatas yang baru saja kamu beli dan bayar menggunakan kartu hitam saya beberapa hari yang lalu."
___
Bersambung~~