Vero terjebak dalam Time Loop. Dia adalah satu-satunya orang yang mengingat ledakan itu. Dia harus menemukan pelakunya, menjinakkan bom, dan menyelamatkan seisi kota Jakarta. Namun, takdir memiliki aturan main yang kejam: Setiap kali Vero gagal dan mati, waktu yang dimilikinya berkurang satu menit.
Loop pertama: 60 menit.
Loop kedua: 59 menit.
Loop ketiga: 58 menit.
Dengan waktu yang terus tergerus, Vero dipaksa belajar menjadi detektif, tentara, dan penyusup dalam hitungan jam yang berulang. Di tengah kepanikan massal dan teror psikologis, dia menyadari satu hal mengerikan: Pelakunya mungkin bukan orang asing, dan ledakan ini hanyalah permulaan.
Ketika hitungan mundur mendekati nol, Vero tak hanya bertaruh nyawa—dia bertaruh pada keberadaan itu sendiri.
Bisakah dia menghentikan kiamat kecil ini sebelum waktunya habis total?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: SKETSA KEMATIAN
07:06:05
Vero terbangun dengan tangan mencengkeram perutnya erat-erat.
"Argh!" desisnya.
Rasa sakit itu tidak ada secara fisik—kulit perutnya mulus, kemejanya utuh tanpa lubang—tapi saraf otaknya masih merekam sensasi dingin pisau lipat yang memelintir ususnya beberapa detik yang lalu. Phantom pain. Nyeri hantu.
Keringat dingin membasahi punggungnya. Napasnya pendek-pendek, seolah dia masih kehilangan darah.
"Mas? Sakit perut?" tanya wanita tua di sebelahnya.
Vero mengabaikannya. Dia memejamkan mata sejenak, menelan ludah yang terasa pahit, lalu memaksa otaknya untuk reboot.
Lupakan rasa sakitnya. Itu memori lama. Kau hidup. Kau utuh.
Vero melihat jam tangan.
07:06:15.
Waktu start mundur satu menit lagi. Total waktu operasional: 53 menit lebih sedikit.
Vero berdiri, kakinya sedikit gemetar saat menahan beban tubuh, efek sisa trauma saraf. Dia berjalan lurus ke arah Sarah.
Sarah baru saja mengeluarkan laptopnya.
Vero langsung duduk di sebelahnya, menyambar pulpen yang tergeletak di samping laptop Sarah, dan menarik tangan wanita itu.
"Hei! Apa-apaan—" Sarah tersentak, menarik tangannya.
"Pinjam tanganmu," kata Vero cepat. Tanpa permisi, dia menuliskan deretan angka di telapak tangan Sarah dengan tinta biru pulpen itu.
08:00 BOM.
JAKET HITAM GRB 4.
C4 + CAIRAN.
Sarah menatap tulisan di tangannya dengan bingung, lalu menatap Vero dengan marah. "Kau gila ya? Mencoret-coret tangan orang—"
"Tiga puluh detik lagi bosmu menelepon," potong Vero, menatap mata Sarah tajam. "Blus kerjamu belum disetrika, kau pakai kemeja flanel. Kau sedang menulis soal Dana Bansos. Namaku Vero. Aku dari masa depan—tepatnya 53 menit dari sekarang. Kita sudah melakukan percakapan ini lima kali."
Sarah ternganga. Serangan informasi bertubi-tubi itu membuatnya freeze.
"Aku butuh kertas," kata Vero, tidak memberi celah Sarah untuk membantah. Dia merobek selembar kertas dari buku catatan Sarah. "Aku melihat bomnya di loop terakhir sebelum aku ditikam mati."
"D-ditikam?" Sarah tergagap. Ponselnya bergetar di saku. BOS REDAKSI.
Sarah melihat ponselnya, lalu melihat Vero, lalu melihat tulisan di tangannya. Dia mematikan panggilan itu tanpa berpikir. "Oke. Kau... kau menakutkan. Tapi tebakanmu akurat."
Vero mulai menggambar dengan cepat. Goresannya kasar tapi detail. Dia memiliki ingatan visual yang tajam—salah satu kelebihan pekerjaannya sebagai akuntan yang terbiasa melihat detail angka, kini dialihkan ke kabel dan sirkuit.
"Bentuknya seperti ini," gumam Vero sambil menggambar kotak persegi panjang. "Ada empat bungkusan seperti tanah liat abu-abu. C-4. Dilakban cokelat."
Sarah mendekat, memperhatikan sketsa itu. "Oke. Standar militer."
"Lalu ini," Vero menggambar tabung kecil di bagian bawah. "Tabung kaca. Isinya cairan bening. Terhubung ke pemicu utama."
Sarah mengerutkan kening. "Cairan? Nitrogliserin?"
"Warnanya bening. Tidak kental," jawab Vero. "Dan kabelnya... ada empat warna utama yang terlihat mencolok. Merah, Biru, Kuning, Hitam. Semuanya masuk ke satu kotak sirkuit di tengah, lalu ada kabel terpisah yang keluar menuju saku jaket pelaku—pemicu manual."
"Sial," desis Sarah. "Pemicu manual artinya Dead Man's Switch. Kalau dia lepaskan tombolnya, atau kalau jantungnya berhenti... boom."
"Atau mungkin tombol tekan biasa," koreksi Vero. "Tapi kita tidak bisa ambil risiko."
"Kita perlu tahu apa cairan itu dan kabel mana yang harus dipotong untuk mematikan penerima sinyal manualnya," kata Sarah. Dia membuka ponselnya, menyalakan tethering hotspot. "Sinyal di sini sampah, tapi aku akan coba kirim foto sketsamu ke kenalanku."
"Kenalan?"
"Mantan narasumber. Pensiunan Gegana. Namanya Pak Tio," jelas Sarah sambil memotret sketsa kasar Vero. "Dia pernah mengajariku soal bahan peledak untuk artikel terorisme tahun lalu."
Indikator sinyal di ponsel Sarah hanya satu bar.
Sending...
Loading...
Vero mengetuk-ngetukkan jari di meja lipat kursi kereta. Setiap detik terasa seperti jam.
07:12.
"Ayo... ayo..." gumam Sarah.
Sent.
"Sekarang kita tunggu," kata Sarah.
Mereka duduk dalam diam. Kereta berguncang melewati stasiun Cikini. Penumpang lain sibuk dengan ponsel mereka, tidak sadar bahwa dua orang di tengah mereka sedang mendiskusikan nasib nyawa mereka.
Lima menit berlalu.
07:17.
Ponsel Sarah bergetar. Satu pesan WhatsApp masuk.
Pak Tio:
Gila kamu Sar, pagi-pagi kirim ginian. Ini simulasi apa beneran?
Sarah mengetik cepat: Situasi hidup mati, Pak. Serius. Apa fungsi tabung cairan itu? Dan kabel mana yang aman?
Tiga menit kemudian, balasan masuk. Panjang.
Pak Tio:
Kalau sketsamu benar, itu rakitan gaya lama tapi dimodifikasi. Tabung itu kemungkinan 'Mercury Tilt Switch'. Pemicu anti-geser. Kalau tasnya dimiringkan lebih dari 30 derajat, sirkuit tertutup dan meledak. Itu sebabnya pelaku menaruhnya di lantai dan tidak memangkunya.
Vero memucat. "Itu sebabnya dia meletakkannya di antara kakinya. Agar stabil."
Sarah membaca lanjutannya.
Pak Tio:
Kabel warna-warni itu jebakan. Biasanya. Tapi untuk mematikan detonator manual tanpa memicu sirkuit sekunder, kau harus memutus arus ke receiver. Dalam skema standar C-4 rakitan, biasanya kabel sirkuit tertutup (ground) warna Hitam. TAPI, perakit bom suka menukar warna kabel semau mereka untuk mengecoh penjinak. Bisa jadi Merah, bisa jadi Biru.
"Jadi intinya?" tanya Vero tidak sabar.
"Intinya 50:50," kata Sarah lemas. "Atau malah 25:25:25:25. Kalau kau potong kabel yang salah, kau memicu tamper protection. Meledak seketika."
Vero menatap sketsa itu.
Empat kabel.
Merah. Biru. Kuning. Hitam.
Satu mematikan bom. Tiga meledakkan bom.
"Kita tidak bisa tahu yang mana yang benar kecuali kita mencobanya," gumam Vero.
Sarah menoleh, matanya membelalak ngeri. "Mencobanya? Vero, kalau salah kita mati."
Vero tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata. Senyum orang yang sudah mati lima kali.
"Sarah, kau lupa satu hal," bisik Vero. "Bagiku, kematian hanyalah tombol restart."
"Maksudmu..."
"Aku akan mencoba memotong satu kabel di loop ini," kata Vero dingin. "Kalau meledak, aku akan bangun lagi di jam 07:07, dan aku akan tahu kabel itu salah. Di loop berikutnya, aku potong warna lain."
"Itu gila," bisik Sarah. "Kau mau bunuh diri berkali-kali hanya untuk..."
"Itu satu-satunya cara. Kita tidak punya alat pendeteksi arus. Kita hanya punya nyawaku sebagai alat tes."
Vero berdiri. Dia melihat sekeliling, mencari alat potong. Dia melihat seorang ibu-ibu sedang merajut di ujung gerbong. Ada gunting kecil di pangkuannya.
"Aku pinjam gunting itu sebentar," batin Vero.
Dia menoleh ke Sarah. "Ingat ini, Sarah. Kalau aku mati dan bom meledak, berarti Merah salah. Di kehidupan selanjutnya, ingatkan aku jangan potong Merah."
"Vero, tunggu—"
Vero tidak menunggu. Dia berjalan cepat ke arah ibu perajut itu.
"Bu, maaf darurat!" Vero menyambar gunting kecil itu dari pangkuan si ibu.
"Eh! Maling!" teriak ibu itu.
Vero lari. Dia menerobos ke Gerbong 4.
Waktu 07:25.
Dia melihat Pria Jaket Hitam itu. Pria itu waspada, melihat keributan di gerbong sebelah.
Vero tidak memberinya waktu untuk bereaksi atau mengeluarkan pisau.
Vero meluncur di lantai (sliding) seperti pemain bola, mengincar tas hijau itu.
Pria Jaket Hitam itu kaget, mencoba menendang.
"JANGAN!"
Vero mengabaikan tendangan sepatu lars yang menghantam bahunya. Dia merobek ritsleting tas itu dengan paksa. Mercury switch berguncang? Persetan. Dia harus lebih cepat dari pemicu tilt.
Dia melihat kabel-kabel itu.
Merah. Biru. Kuning. Hitam.
Merah dulu.
Tangan Vero yang memegang gunting bergerak.
Ceték.
Kabel merah terputus.
Sepersepuluh detik hening.
Vero sempat berpikir, Berhasil?
Lalu sirkuit cadangan menyala.
BLARRRR!
Ledakan itu lebih instan daripada yang dia ingat. Karena kali ini, wajahnya hanya berjarak 30 sentimeter dari pusat ledakan.
Sentakan kasar.
Vero terbangun.
Mata terbelalak.
Napas tertahan.
Dia melihat jam tangan.
07:07:05.
"Bukan Merah," bisik Vero serak, sambil memegangi kepalanya yang terasa mau pecah. "Merah salah. Merah itu kematian."
Dia menatap kosong ke depan. Tiga warna lagi. Tiga kematian lagi yang harus dia cicipi sebelum menemukan jawaban.
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
about a time,project almanac ,edge of tomorrow,the butterfly effect,until dawn dsb...time loop sendiri didunia nyata mustahil terjadi ..🤔🤔🤔