Aletha merupahan remaja yang sangat senang akan dunia malam. Ia juga merupakan anak konglomerat yang terkenal di kota Metropolitan. Tapi kini dirinya harus di hadapkan dengan perjanjian kontrak dengan Danny yang sepertinya menguntungkan? atau malah merugikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Atensi Publik—16
Butik perhiasan mewah itu memang sudah dikosongkan khusus untuk menyambut Danny Atonio. Namun, lorong koridor di luar butik yang berlapis marmer mengilat tetap menjadi pusat lalu lalang kaum elit Jakarta yang sedang menghabiskan akhir pekan mereka.
Kehadiran Danny yang berjalan berdampingan dengan seorang wanita muda jelas menciptakan riak kehebohan yang tak kasat mata. Bisik-bisik pelan mulai menjalar di antara beberapa sosialita dan pengusaha yang kebetulan lewat. Bagi lingkaran konglomerat, pemandangan ini seperti sebuah anomali besar. Seorang Danny Atonio—pria yang rumornya benci sentuhan wanita dan aseksual—kini jalan bersama seorang gadis dengan gestur yang sangat protektif?
"Itu beneran Danny Atonio, kan? Demi apa dia jalan sama cewek?" bisik seorang wanita paruh baya bermantel bulu kepada temannya.
"Anjir, tumben banget... Biasanya jangankan jalan bareng di mal, dideketin sekretarisnya sendiri aja mukanya langsung kayak mau bunuh orang," sahut yang lain dengan pandangan heran bercampur syok.
Di antara kerumunan itu, mata-mata penuh selidik mulai tertuju pada Aletha. Di kota sekecil Jakarta untuk urusan kelas atas, beberapa orang dari keluarga pebisnis langsung mengenali garis wajahnya.
"Eh, itu kan Aletha Adinata? Anaknya Pak Adinata yang pegang bisnis migas itu?"
"Iya bener! Tapi kok bisa sama Danny? Sejak kapan keluarga Adinata deket sama Dirgantara?"
Namun, tidak semua tatapan itu membawa rasa penasaran yang bersih. Beberapa perempuan muda dari keluarga sirkel atas yang sejak lama mengincar posisi di samping Danny, langsung melayangkan tatapan tidak suka. Mereka memandangi Aletha dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan sorot mata sinis, dipenuhi rasa iri dan dengki yang pekat. Bagi mereka, Aletha hanyalah "bocah kemarin sore" yang tidak punya hak untuk bersanding dengan sang kaisar bisnis Jakarta.
Aletha, dengan kepekaan radarnya yang tinggi, tentu saja menyadari perubahan atmosfer di sekitarnya. Ia bisa merasakan puluhan pasang mata yang menusuk punggungnya, terutama tatapan tajam sarat kebencian dari beberapa wanita di dekat gerai tas mewah seberang jalan.
Bukannya merasa terintimidasi atau ciut, ego Aletha justru tergelitik puas. Ia sengaja memperlambat langkah kakinya, menegakkan bahunya dengan keanggunan layaknya seorang ratu, dan mengulas senyum tipis yang terkesan sangat meremehkan ke arah orang-orang yang menatapnya sinis. Tatapan tidak suka dari mereka justru menjadi bahan bakar terbaik bagi kesombongan Aletha.
Danny yang menyadari pergerakan beberapa orang yang mulai berbisik, langsung menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kaca butik perhiasan. Ia membalikkan tubuhnya, sengaja memposisikan tubuh tegapnya yang jangkung untuk menghalangi pandangan orang-orang di luar dari arah Aletha.
"Lo gak apa-apa?" tanya Danny dengan suara baritonnya yang rendah, matanya menatap Aletha dengan kilat protektif yang tegas. "Gue bisa suruh sekuriti mal buat bubarin orang-orang yang natap lo kayak gitu kalau lo ngerasa gak nyaman."
Aletha terkekeh pelan, sebuah tawa anggun yang terdengar sangat meremehkan dunia. Ia mendongak, menatap mata elang Danny dengan binar maroon-nya yang penuh gairah tantangan.
"Gak usah, Dan. Biarin aja," bisik Aletha santai, merapikan sedikit kerah kaos polo hitam Danny dengan jemari lentiknya—sebuah gerakan sengaja yang ia lakukan agar makin membuat orang-orang di luar sana mati karena iri. "Gue justru suka liat muka-muka sirik mereka. Anggap aja ini pemanasan sebelum skenario go public kita yang sesungguhnya dimulai."
Danny tertegun sesaat, lalu sebuah senyum seringai tipis yang menawan terukir di wajah tegasnya. Gadis di depannya ini beneran terbuat dari mental yang berbeda.
"Oke, calon istri," sahut Danny dengan nada rendah yang menggoda, lalu mendorong pintu kaca butik mewah itu, membawa Aletha masuk ke dalam ruang privat di mana kilau berlian sudah menanti untuk mengikat kontrak mereka.
Proses pemilihan cincin di toko perhiasan itu baru saja selesai ketika ponsel Aletha di atas meja kaca bergetar. Sebuah nama yang sangat jarang memanggilnya tertera di layar— Papa.
Aletha sempat tertegun, lalu mengangkatnya. Suara di seberang sana terdengar berat namun tegas, meminta Aletha dan Danny untuk segera datang ke kantor pusat Adinata Energy di kawasan elit Metropolitan siang itu juga. Mendengar nada bicara ayahnya yang tidak biasa, Aletha langsung mengangguk setuju.
"Ada apa?" tanya Danny begitu Aletha menutup ponselnya.
"Bokap gue. Beliau minta kita berdua ke kantornya sekarang. Dadakan," jawab Aletha, wajahnya kembali datar meski di dalam hatinya ada riak penasaran yang mendalam.
Tanpa banyak bicara, Danny langsung mengemudikan Porsche milik Danny membelah kemacetan Jakarta menuju gedung pencakar langit milik keluarga Adinata. Sepanjang perjalanan, keheningan menyelimuti mereka. Aletha menatap keluar jendela, mempersiapkan topeng ketangguhannya seperti biasa.
Begitu tiba di lantai teratas gedung Adinata Energy, sekretaris pribadi Pak Adinata langsung mengantar mereka masuk ke dalam ruang kerja yang sangat luas. Di balik meja jati besar, sosok Pak Adinata berdiri. Rambutnya sudah mulai dihiasi uban, dan gurat lelah terlihat jelas di wajahnya.
Namun, begitu melihat Aletha melangkah masuk, tatapan mata pria paruh baya itu mendadak melunak, tersirat rasa bersalah yang teramat dalam.
"Duduk, Danny, Aletha," ujar Pak Adinata, suaranya terdengar agak serak.
Setelah keduanya duduk di sofa kulit yang berhadapan langsung dengan meja kerja, Pak Adinata tidak membahas soal bisnis atau investasi seperti yang Danny duga. Pria itu justru berjalan memutari mejanya, lalu berlutut di hadapan kursi Aletha, mengambil kedua tangan lentik putrinya ke dalam genggamannya.
Aletha menegang sempurna. Ia tidak terbiasa dengan kedekatan fisik seperti ini dari ayahnya.
"Nak... maafin Papa," buka Pak Adinata, matanya mulai berkaca-kaca menatap lurus ke dalam manik mata maroon Aletha. "Selama ini Papa nggak pernah pulang bukan karena Papa nggak sayang sama kamu, Sayang..."
Kalimat itu seperti hantaman godam yang meruntuhkan dinding pertahanan Aletha dalam sekejap.
"Wajah kamu... wajah kamu bener-bener mirip sama mendiang mamamu, Sayang," suara Pak Adinata mulai bergetar hebat, setetes air mata lolos ke pipinya. "Papa nggak sanggup kalau harus lihat wajah itu setiap hari di rumah. Setiap Papa pulang dan liat kamu, rasa kehilangan itu muncul lagi. Itu bikin Papa terpuruk terus dan Papa takut nggak bisa bangkit buat hidupin kamu, buat kerja demi masa depan kamu..."
Pak Adinata mengusap punggung tangan Aletha dengan sayang. "Sekarang kamu udah dewasa, bahkan udah mau nikah sama Danny, anak dari rekan bisnis Papa sendiri. Jujur... Papa seneng banget, Nak. Papa merasa tenang karena ada pria baik yang bakal jagain kamu gantiin Papa."
Mendengar pengakuan jujur yang selama ini terkunci rapat, tangis yang selama ini ditahan-tahan oleh Aletha—tangis yang ia sembunyikan di balik topeng yang kuat, angkuh, dan suka bermain di luar rumah—akhirnya pecah begitu saja.
"Papa..." bisik Aletha lirih.
Pertahanan Aletha runtuh total. Ia langsung menghambur, memeluk leher ayahnya dengan sangat erat. Tubuhnya bergetar hebat karena tangisan yang begitu emosional. Di dalam dekapan hangat seorang ayah yang selama ini kasih sayangnya paling ia harapkan dan rindukan, Aletha menangis sejadi-jadinya seperti anak kecil usia lima tahun. Tidak ada lagi Aletha yang tangguh, kini hanyalah seorang putri yang akhirnya menemukan jalan pulang ke pelukan ayahnya.
Pak Adinata membalas pelukan itu tak kalah erat, mengusap rambut panjang putrinya dengan penuh rasa sesal dan cinta yang selama ini tertunda.
Di sofa sebelahnya, Danny menyaksikan seluruh adegan emosional itu dalam keheningan yang teramat. Sepasang mata elangnya menatap lekat-lekat ke arah Aletha yang sedang menangis sesenggukan di pelukan ayahnya. Dada Danny mendadak terasa berdenyut aneh, ada rasa hangat sekaligus sesak yang menjalar di sana.
Melihat bagaimana rapuhnya Aletha saat ini, dan bagaimana tulusnya kebahagiaan Pak Adinata mendengar rencana pernikahan mereka, sebuah gejolak batin yang hebat menghantam ego sang CEO.
‘Apa... gue salah kalau pernikahan ini cuma sebatas kontrak bisnis?’ ngebatin Danny dengan rasa bimbang yang mulai merayap di benaknya. ‘Anak ini... Aletha, sebenarnya dia anak yang baik banget. Dia cuma kesepian.’
Danny mengepalkan tangannya di atas lutut. Rasa bersalah mulai menyelinap karena telah melibatkan gadis se-tangguh sekaligus se-rapuh Aletha ke dalam panggung sandiwara kotornya untuk menghindari perjodohan. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Komitmen di antara mereka sudah terikat, dan orang tua mereka sudah terlanjur bahagia.
Danny mengembuskan napas perlahan, menatap Aletha dengan pandangan yang kini sepenuhnya berubah—tidak ada lagi pandangan menilai rekan bisnis, yang ada hanyalah tatapan seorang pria yang ingin melindungi wanita di depannya.
‘Apapun itu... jalanin dulu aja deh buat sekarang,’ tekad Danny di dalam hatinya. ‘Gue bakal pastiin, selama kontrak ini berjalan, gak akan ada satu orang pun yang bisa nyakitin anak ini lagi. Termasuk gue sendiri.’