NovelToon NovelToon
Diantara Dua Hati

Diantara Dua Hati

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Balas Dendam / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Candra Arista

Rara Wijaya, seorang perawat muda berbakat di RS Bunda, hidup dengan luka yang dalam akibat kehilangan kedua orang tuanya. Ibu yang berhati lembut meninggal karena penyakit langka, sementara ayahnya, seorang dokter, tewas dalam kecelakaan mobil saat menolong korban tabrakan. Meskipun penuh dendam, Rara tumbuh menjadi perawat yang sangat berdedikasi.

Namun, kehidupannya berubah total ketika RS Bunda mendatangkan dokter spesialis bedah baru, dr. Arkan Pratama. Dokter muda ini dikenal dingin dan perfeksionis, yang sering meremehkan perawat. Awalnya, Rara dan Arkan selalu bertikai, sampai suatu hari Rara mengetahui bahwa Arkan adalah putra dari dokter yang menyebabkan kematian ayahnya 15 tahun lalu.

Konflik mereka memuncak ketika mereka harus bekerja sama menangani pasien kritis. Di tengah badai, mereka terjebak di rumah sakit tua yang sudah tidak terpakai - tempat yang sama di mana ayah Rara terakhir kali bekerja. Di sana, rahasia keluarga mereka terbongkar satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candra Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 : Pengakuan Cinta Di Tengah Hujan

Rara merasa shift itu tidak akan berakhir. Setiap menit berjalan lambat karena pikirannya terus memikirkan kasus Arkan dan cara membantunya.

Saat waktu istirahat datang, Rara segera masuk ke ruang arsip rumah sakit. Di sana semua rekam medis pasien ada, baik digital maupun fisik. Dia hati-hati mencari nama pasien yang meninggal setelah operasi Arkan: Ny. Sumiati, usia 67 tahun.

"Ayo... kamu ada di mana?" Rara bertanya sambil menyusuri rak arsip.

Hampir sepuluh menit berlalu, akhirnya dia menemukan dokumen milik Ny. Sumiati. Tangannya bergetar saat membuka dokumen itu dan mulai memeriksa catatan medisnya. "Operasi jantung... tanggal 15 April..."

Rara membaca cepat, kemudian menemukan halaman dengan catatan obat setelah operasi. "Nah, ini yang kucari."

Rara melihat sesuatu yang aneh. Tinta di halaman itu tampak lebih baru dibandingkan dengan yang lain, dan beberapa bagian sepertinya telah dihapus lalu ditulis ulang.

"Ada yang salah di sini," pikirnya. Rara mengeluarkan ponsel dan mengambil foto-foto dokumen tersebut sebagai bukti.

Mendadak, pintu ruang arsip terbuka keras, hampir membuat Rara menjatuhkan berkas-berkas itu.

"Cari apa, perawat?" sebuah suara dingin menyapa dari belakang.

Rara berputar cepat. Di pintu, dr. Hanif berdiri dengan wajah masam. Dia dokter senior yang sudah dua dekade mengabdi di sana.

"Saya cuma cari data pasien untuk referensi," jawab Rara cepat. Ia menyembunyikan ponselnya di balik punggung.

"Pasien yang mana?" tanya dr. Hanif sambil melangkah maju dengan curiga.

"Pasien operasi usus kemarin," sahut Rara. Ia mencoba menjaga suaranya agar tetap tenang.

"Tanpa surat permintaan dokter?" dr. Hanif mengangkat alis. "Kamu tahu itu melanggar aturan."

"Saya lupa membawanya," kata Rara sambil merasa jantungnya berdetak sangat cepat.

"Berkas apa yang kamu pegang?" tanya dr. Hanif menunjuk ke arah berkas di tangan Rara. "Yang ini?"

Rara menunduk dan hampir panik saat menyadari masih memegang berkas milik Ny. Sumiati. "Aduh, ternyata saya ambil yang salah."

"Benarkah?" tanya dr. Hanif sambil merebut berkas itu dari tangannya dengan kasar. Matanya berbinar saat melihat nama pasiennya. "Ny. Sumiati? Kenapa kamu mencari berkas ini?" Rara mencoba tetap tenang meskipun hatinya panik,

"Saya bilang tadi, saya salah ambil." Namun, dr. Hanif tidak mempercayainya dan mendekat dengan wajah dingin.

"Kamu berbohong," katanya. "Kamu sedang menyelidiki kasus Arkan, kan?"

"Tidak," Rara menolak. "Saya nggak ngerti kasus apa yang dokter maksud." dr. Hanif memperingatkan, suaranya pelan,

"Jangan bercanda dengan saya, perawat. Kasus ini sudah selesai. Arkan bersalah, dan itu tidak bisa diubah."

"Tapi buktinya tidak asli!" kata Rara, tak bisa diam lagi.

dr. Hanif tersenyum mengejek. "Oh, jadi kamu memang tahu," katanya. "Hati-hati, perawat. Terlibat dalam urusan ini bisa merusak karirmu."

"Apa maksud Dokter?"

"Maksud saya jelas," ujar dr. Hanif. Dia mendekat sampai Rara mencium bau alkohol dari napasnya. "Lupakan saja. Arkan sudah tamat. Tidak ada yang bisa menolongnya."

"Saya tidak akan menyerah," jawab Rara tegas meski lututnya gemetar.

"Keras kepala sekali," dr. Hanif menggeleng. "Baiklah. Kamu sudah saya peringatkan."

dr. Hanif lalu keluar ruangan sambil membawa berkas Ny. Sumiati. Rara terpaku dengan napas terengah-engah. Jantungnya berdegup sangat kencang.

"Aku perlu kasih tahu Arkan," gumam Rara sembari bergegas keluar dari ruang arsip.

Namun, langkahnya terhenti di lorong karena Sisi menghadangnya dengan wajah cemas.

"Rara! Kenapa kamu?" tanya Sisi sambil mencengkeram bahunya. "Kamu tampak sangat pucat!"

"Aku... aku baik-baik saja," Rara mencoba menenangkan diri.

"Tidak, kamu tidak dalam kondisi baik," Sisi bersikeras. "Apa yang sebenarnya terjadi?"

Rara dengan suara gemetar menjelaskan, "Aku baru ketemu dr. Hanif di ruang arsip. Dia ada kaitannya sama kasus Arkan."

"Apa?" Sisi terkejut. "Kok kamu tahu?"

"Dia bilang Arkan sudah habis," jawab Rara cepat. Dia menambahkan bahwa dirinya diancam agar tidak ikut campur.

Sisi menghela napas panjang. "Hati-hati, Rara. dr. Hanif punya kuasa besar di rumah sakit ini."

Rara tetap keras kepala. "Tapi kita harus buktikan kalau Arkan tidak salah."

"Kamu tidak bisa lawan dr. Hanif sendirian," Sisi mengingatkan.

"Aku harus coba," ujar Rara mantap. Dia lalu pergi ke ruang istirahat untuk menenangkan pikiran.

Di sana, Rara memikirkan langkah selanjutnya. Reaksi dr. Hanif tadi menunjukkan bahwa pria itu terlibat dalam pemalsuan bukti kasus Arkan. Rara bertanya-tanya apa motif di baliknya.

"Aku harus cari tahu," gumamnya sambil membuka ponsel untuk melihat foto-foto yang ia ambil. Dia harus bergerak cepat sebelum dr. Hanif menghapus semua bukti itu.

Hujan deras mengguyur kota saat shift Rara berakhir. Langit gelap dan kilat menyambar, persis seperti perasaannya yang sedang kacau.

Dia naik taksi menuju apartemen Arkan. Bayangan pertemuan menyeramkan dengan dr. Hanif masih menghantuinya. Foto bukti di ponselnya memang aman, tapi itu belum cukup untuk mengungkap kebenaran.

"Semoga Arkan sudah sampai di rumah," Rara berkata pelan sambil menatap keluar jendela mobil yang dibasahi hujan.

Saat taksi berhenti di depan apartemen mewah Arkan, Rara langsung keluar dan bergegas menuju payung kecilnya. Meski hanya sebentar, hujan deras tetap membuat pakaiannya sedikit basah.

Setelah beberapa kali menekan bel apartemen, pintu akhirnya terbuka. Arkan berdiri di sana dengan wajah lelah dan mata memerah. Dia memakai kaos hitam biasa dan celana training, jauh berbeda dari penampilannya yang rapi di rumah sakit.

"Rara?" Arkan tampak terkejut melihatnya di depan pintu. "Kamu basah kuyup!" Rara mengabaikannya dan melangkah cepat masuk.

"Ada yang harus kita bicarakan," katanya tanpa basa-basi.

"Bicara apa?" tanya Arkan sambil menutup pintu. Dia langsung mengambil handuk buat Rara.

"Aku ada temuan," kata Rara saat mengelap rambutnya. "Tapi sebelumnya, aku mau nanya sesuatu ke kamu."

"Pertanyaan apa?"

"Apa hubunganmu dengan dr. Hanif?"

Ekspresi Arkan mendadak dingin saat mendengar nama itu. "Kenapa kamu tanya?"

"Aku baru saja bertemu dengannya," jawab Rara sambil mengambil ponsel. "Dia terlibat dalam kasusmu."

Arkan terkejut. "Apa? Kamu tahu dari mana?"

Rara menunjukkan beberapa foto. "Dia menemukanku di ruang arsip saat aku melihat berkas Ny. Sumiati. Dia tahu aku sedang menyelidiki kasusmu, lalu mengancamku agar berhenti."

Arkan memeriksa foto itu dengan teliti. "Ini rekam medis asli Ny. Sumiati?"

"Iya," Rara mengangguk. "Lihat catatan obatnya. Tintanya terlihat baru dan ada bagian yang dihapus."

Arkan menghela napas. "Jadi memang ada pemalsuan."

"Tapi kenapa dr. Hanif melakukannya? Apa hubungan kalian?" tanya Rara.

Arkan terdiam, lalu duduk di sofa dengan berat hati. "dr. Hanif itu musuh ayahku."

"Musuh?" Rara duduk di sampingnya.

"Dulu mereka berebut posisi direktur rumah sakit ini," jelas Arkan. "Ayahku yang terpilih, dan dr. Hanif tidak bisa terima."

"Ini balas dendam?"

Arkan mengangguk. "Sepertinya begitu. Aku tidak menyangka dia sampai sejauh ini."

"Kenapa baru sekarang? Ayahmu sudah lama meninggal."

"Aku baru kembali ke sini setahun lalu," kata Arkan. "Sebelumnya aku kerja di kota lain. Mungkin dia menganggapku pengganti ayah yang harus dihancurkan."

"Gila sekali," gumam Rara. "Sekarang kita tahu siapa pelakunya."

"Tapi belum ada bukti kuat," Arkan mengingatkan. "Foto ini bisa dibilang rekayasa."

"Kita cari bukti lain," tegas Rara. "Mungkin dari keluarga Ny. Sumiati."

Arkan menggeleng. "Aku sudah coba hubungi mereka, tapi mereka tidak mau bicara."

"Biar aku yang coba. Sebagai perawat, mungkin mereka lebih terbuka," tawar Rara.

"Bahaya. Dia sudah mengancammu," Arkan memperingatkan.

"Aku tidak peduli. Aku tidak mau karirmu hancur," jawab Rara yakin.

Mata Arkan berkaca-kaca. "Rara, kamu tidak perlu melakukan ini semua."

"Aku peduli padamu," ujar Rara tulus. Dengan suara pelan, dia menambah, "Dan aku mencintaimu."

Petir menggelegar saat Rara mengaku. Arkan tertegun, tidak percaya dengan ucapannya.

"Apa?"

"Aku mencintaimu," ulang Rara dengan wajah memerah. "Aku tahu waktunya tidak tepat, tapi aku sudah tidak tahan."

Arkan menatap Rara dengan mata basah, lalu memeluknya erat. "Aku juga mencintaimu."

"Benarkah?" Rara menengadah.

"Sudah lama," aku Arkan sambil menghapus air mata Rara. "Tapi aku terlalu takut mengatakannya."

"Kenapa?"

"Aku tidak mau mengecewakanmu. Aku sudah mengecewakan banyak orang," suara Arkan serak.

Rara memegang wajah Arkan. "Tidak, kamu pria terbaik yang aku kenal."

Arkan menghela napas lalu mencium bibir Rara dengan lembut. "Aku akan buktikan kalau aku pantas untukmu."

"Kita cari kebenarannya bersama," bisik Rara. Mereka berpelukan erat, mencari kehangatan di tengah malam yang hujan.

Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!