NovelToon NovelToon
Ratu Di Antara Tiga Kaisar

Ratu Di Antara Tiga Kaisar

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cinta Istana/Kuno / Fantasi Isekai
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Hz. ceria

Amel adalah seorang mahasiswi jurusan seni yang akan melakukan penelitian di sebuah pulau. hingga sebuah tragedi besar tragedi, Amel yang berniat menolong sahabatnya yang mengalami kram saat sedang bermain air justru tenggelam.

ketika dia membuka matanya lagi, yang mengejutkan dia sudah berada di sebuah tempat aneh dan kuno.

Amel ternyata melakukan transmigrasi dan memasuki tubuh seorang ratu yang terkenal kejam, di benci rakyat dan berdarah dingin. dunia ini dipimpin oleh seorang wanita, dan seorang pria hanya boleh menyenangkan wanita, memasak, anggun dan menawan.

tidak boleh belajar, berbicara kasar pada wanita, dan hanya boleh diam di rumah dan merawat anak-anak mereka. sedangkan wanita mencari nafkah, ikut perang, menjabat di istana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hz. ceria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21. hak penuh

Fajar belum sepenuhnya menyingsing ketika rombongan kecil itu mencapai pintu belakang Gudang Lama di distrik bawah kota. Bangunan bata merah itu tampak suram dan terbengkalai, sebuah kontras tajam dengan kemegahan istana yang jauh di atas bukit. Namun, bagi Arsen dan Caspian, tempat ini adalah surga tersembunyi.

Kaelia memberi isyarat tangan. Para agen rahasia membubarkan diri ke dalam bayangan, menghilang seperti asap. Hanya tersisa Arsen, Caspian yang masih gemetar, Julian yang berjalan tertatih karena kelelahan sihir, dan Kaelia yang waspada.

Pintu gudang terbuka dari dalam. Seorang pria tua dengan lampu minyak berdiri di ambang pintu. Itu adalah Tomi, asisten guru sekolah pria. Wajahnya keriput dan penuh kerutan kecemasan, tapi matanya bersinar lega saat melihat mereka.

"Cepat masuk," bisik Tomi, menarik mereka ke dalam kehangatan relatif gudang. "Julian sudah menyiapkan ruang bawah tanah. Aman dari deteksi sihir."

Mereka turun melalui tangga kayu yang berderit menuju ruang bawah tanah yang telah diubah menjadi tempat persembunyian sementara. Dinding-dindingnya dilapisi batu rune yang dirancang Julian untuk memblokir segala bentuk pelacakan magis. Di tengah ruangan, ada kasur sederhana, selimut tebal, dan semangkuk sup hangat yang masih mengepul.

Caspian, yang sepanjang perjalanan menahan tangis, akhirnya runtuh. Dia duduk di tepi kasur, wajahnya tertanam di telapak tangan yang kotor. Bahunya berguncang hebat.

Arsen duduk di sampingnya, meletakkan tangan di punggung adiknya. "Kau aman sekarang, Cas. Kau aman."

Caspian mengangkat kepalanya. Matanya bengkak dan merah. Dia menatap Arsen, lalu menatap Julian dan Kaelia yang berdiri di sudut ruangan menjaga pintu.

"Kenapa?" tanya Caspian, suaranya serak. "Kenapa Ratu Mobelle membantu kami? Kami adalah musuh negaranya. Ibu saya... Ratu Isolde... dia pasti akan menyatakan perang karena ini."

Julian melangkah maju, melepaskan jubah luarnya yang berat. Wajahnya pucat, tapi senyum tipis menghiasi bibirnya. "Karena Floren tidak melihat kalian sebagai 'musuh negara'. Dia melihat kalian sebagai korban dari tirani yang sama yang sedang dia lawan di sini. Dan karena... dia percaya bahwa menyelamatkan satu nyawa yang tidak bersalah lebih berharga daripada menjaga citra politik yang dingin."

Caspian menelan ludah, air mata masih mengalir. "Saya tidak punya apa-apa untuk dibalas. Saya hanya seorang botanis gagal yang diusir dari istana."

"Kau memiliki pengetahuan," kata Julian tegas. "Dan kau memiliki darah royal. Dua hal yang sangat berharga dalam permainan catur ini."

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari tangga atas. Langkah itu ringan, tegas, dan familier.

Semua orang di ruangan itu menegang. Kaelia langsung menarik pedangnya setengah jalan. Arsen berdiri, melindungi Caspian.

Floren muncul di dasar tangga. Dia tidak mengenakan jubah kerajaan. Dia mengenakan tunik sederhana dan celana panjang, rambutnya diikat kuda-kuda longgar. Di tangannya, dia membawa sebuah kotak kayu kecil.

"Turunkan pedangmu, Kaelia," perintah Floren tenang. "Dia bukan ancaman."

Kaelia ragu sejenak, lalu menyarungkan pedangnya kembali, meski matanya tetap waspada.

Floren berjalan mendekati Caspian. Pria muda itu menatapnya dengan campuran ketakutan dan kekaguman. Ini adalah pertama kalinya dia melihat Ratu Mobelle secara langsung. Wanita yang dikabarkan telah menggulingkan ratu lamanya dengan darah dan besi.

"Aku Floren," kata Ratu itu, suaranya lembut namun berwibawa. Dia berjongkok agar sejajar dengan Caspian yang duduk. "Selamat datang di Mobelle, Pangeran Caspian."

Caspian tergagap. "Yang... Yang Mulia. Saya... saya tidak tahu bagaimana harus berterima kasih."

Floren menempatkan kotak kayu itu di pangkuan Caspian. "Jangan berterima kasih dulu. Ini bukan hadiah. Ini adalah kontrak."

Caspian membuka kotak itu. Di dalamnya, terdapat sebuah lencana perak berbentuk buku terbuka—simbol Sekolah Pria Mobelle—dan sebuah botol kecil berisi cairan hijau pekat.

"Apa ini?" tanya Caspian bingung.

"Lencana itu memberimu akses ke perpustakaan istana dan laboratorium herbal kami," jelas Floren. "Dan cairan itu adalah ekstrak Moonleaf, tanaman langka yang hanya tumbuh di pegunungan utara Mobelle. Aku mendengar dari Arsen bahwa kau ahli dalam botani, terutama tanaman obat."

Caspian mengangguk kaku. "Ya... itu hobi saya. Satu-satunya hal yang membuat saya waras di istana Aethelgard."

"Maka gunakan hobimu itu," kata Floren. "Kami memiliki banyak prajurit yang terluka, banyak warga yang sakit karena wabah musim dingin. Kami butuh ahli botani yang bisa mengolah tanaman lokal menjadi obat efektif. Sebagai gantinya, kau mendapatkan suaka. Perlindungan. Dan identitas baru."

Caspian menatap lencana itu, lalu menatap Floren. Air matanya kering, digantikan oleh kilatan harapan yang lama hilang. "Anda... Anda mempercayai saya dengan pekerjaan penting?"

"Aku mempercayai keahlianmu," koreksi Floren. "Kesetiaan bisa dibangun. Tapi bakat adalah anugerah. Jangan sia-siakan."

Dia berdiri, menoleh pada Arsen. "Kalian berdua akan tinggal di sini sampai situasi mereda. Julian akan mengajari Caspian tentang sistem sihir perlindungan gudang. Arsen, kau akan tetap menjalani 'tahanan' di istana siang hari, tapi malam hari kau bisa berkunjung ke sini. Kita harus menjaga appearances."

Arsen mengangguk. "Dimengerti, Yang Mulia."

Floren menatap mereka berdua sekilas, lalu berbalik untuk pergi. Di ambang tangga, dia berhenti.

"Oh, dan Caspian," panggilnya tanpa menoleh. "Jika kau menemukan cara untuk menetralkan racun saraf yang digunakan oleh pembunuh bayaran Zenthoria... beri tahu aku. Itu akan sangat berguna."

Pintu tertutup. Floren pergi.

Di dalam keheningan ruang bawah tanah, Caspian memegang lencana perak itu erat-erat. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia merasa berguna. Bukan sebagai putra kedua yang tidak diinginkan, bukan sebagai alat politik ibunya. Tapi sebagai dirinya sendiri.

Arsen tersenyum, rasa lega yang mendalam mengisi dadanya. "Dia luar biasa, kan?"

Caspian mengangguk, sebuah senyuman kecil muncul di wajahnya yang lelah. "Dia... dia berbeda dari Ibu. Sangat berbeda."

Julian duduk di lantai, menutup matanya untuk beristirahat. "Dia memang berbeda. Dan itulah sebabnya kita semua berada di sini. Mengikuti wanita yang berani mengubah dunia, satu langkah kecil pada satu waktu."

Di luar, hujan mulai turun lagi, mencuci jejak-jejak pelarian mereka. Tapi di dalam gudang tua itu, api harapan baru telah dinyalakan. Api yang mungkin suatu hari nanti akan membakar seluruh tatanan lama benua ini.

1
Musim
Menarik dan menginspirasi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!