NovelToon NovelToon
Apa Yang Salah

Apa Yang Salah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

menceritakan dua orang mantan kekasih Shinta dan Andika. yang memutuskan untuk berpisah karena perbedaan pandangan tentang masa depan Shinta yang ingin hubungan yang serius ke pelaminan dan Andika yang ingin menata karir dan memastikan finansial mencukupi. namun keduanya tidak menemukan titik tengah dari masalah itu. setahun kemudian mereka di pertemukan di perusahaan sebagai karyawan devisi pemasaran. keduanya yang awalnya tidak ingin masa lalu terungkap dan saling menjauh malah tanpa sadar Melaku kebiasaan mereka saat pacaran. dari Andika yang memperlihatkan Shinta saat kesulitan dan Shinta yang memberikan tempat bersandar saat Andika kelelahan namun itu malah membuat mereka kesal dan membuat perjanjian siapa pun yang masih melakukan kebiasaan mereka saat pacaran di anggap orang yang ingin balikan. namun kenyataannya keduanya malah terus melanggar perjanjian mereka tanpa peduli apa yang salah dari kebiasaan lama mereka saat pacaran

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 9

Lampu-lampu kantor mulai menyala lebih terang ketika sore berubah menjadi malam. Suasana di divisi marketing yang biasanya ramai perlahan menjadi sunyi. Suara keyboard yang sejak tadi bersahutan kini tinggal satu dua saja. Hari itu seluruh divisi marketing memang sedang sibuk mempersiapkan peluncuran produk baru perusahaan. Semua pegawai bekerja lebih keras dari biasanya. Bahkan Pak Radit sejak pagi terus mondar-mandir memastikan semua berjalan sesuai rencana. Dunia marketing memang aneh. Pagi bicara kreativitas, siang bicara target, sore bicara revisi, malam bicara kenapa hidup terasa seperti hukuman kolektif.

Shinta duduk di depan komputernya sambil menatap layar dengan wajah lelah. Rambut yang biasanya rapi kini sedikit berantakan. Dua minggu bekerja di perusahaan itu mulai membuatnya sadar kalau dunia kerja tidak semanis bayangan saat masih kuliah.

Tadi siang dia baru saja dimarahi oleh Bu Sari dari staf gudang.

Dan itu benar-benar memukul mentalnya.

Saat itu Shinta datang membawa laporan stok produk baru dengan langkah hati-hati. Namun baru beberapa menit Bu Sari membaca laporan itu, wanita paruh baya yang terkenal galak tersebut langsung meletakkan map dengan keras di meja.

“Ini bagaimana cara membuat laporannya?” tanya Bu Sari dingin.

Shinta langsung gugup. “Memangnya ada yang salah, Bu?”

“Banyak.”

Jawaban singkat itu langsung membuat jantung Shinta berdegup lebih cepat.

Bu Sari membuka beberapa halaman laporan lalu menunjuk angka-angka di sana.

“Data stoknya tidak sinkron dengan pengiriman. Jumlah barang masuk dan keluar juga berbeda. Kamu membuat laporan ini benar-benar dicek atau hanya asal selesai?”

Shinta menelan ludah. “Maaf, Bu… saya mungkin kurang teliti.”

“Mungkin?” Bu Sari menghela napas panjang. “Di sini tidak ada kata mungkin. Kalau laporan seperti ini masuk ke pusat, yang kena marah bukan cuma kamu.”

Shinta menunduk pelan.

“Saya baru dua minggu kerja, Bu,” ucapnya lirih.

Namun Bu Sari justru semakin dingin.

“Lama atau sebentarnya bekerja tidak ada hubungannya dengan kemampuan.”

Kalimat itu menusuk tepat ke kepala Shinta.

“Kalau memang tidak mampu bekerja di bawah tekanan, lebih baik mengundurkan diri daripada merepotkan orang lain.”

Shinta langsung diam.

Dia ingin membela diri, ingin mengatakan kalau dirinya sudah berusaha keras sejak pagi. Namun lidahnya terasa berat. Yang keluar hanya ucapan pelan.

“Maaf, Bu. Saya akan revisi dari awal.”

“Pastikan selesai hari ini.”

Setelah itu Shinta keluar dari ruangan gudang dengan perasaan kacau. Sepanjang perjalanan menuju kantor marketing dia hanya menunduk sambil memeluk map laporannya erat.

Kini menjelang malam dia masih duduk sendirian memperbaiki semuanya.

Matanya mulai lelah melihat angka demi angka di layar komputer.

Beberapa pegawai mulai pulang sambil bercanda satu sama lain. Ada yang mengeluh lapar, ada yang sibuk membahas drama serial terbaru. Kehidupan manusia memang luar biasa. Baru saja stres kerja, lima menit kemudian bisa tertawa karena gosip artis bercerai.

Rara yang sudah merapikan tasnya berjalan mendekati meja Shinta.

“Kamu belum selesai?” tanyanya.

Shinta menggeleng pelan.

“Masih banyak revisi.”

Rara melihat layar komputer Shinta lalu menghela napas simpati.

“Bu Sari marah lagi?”

“Kali ini lumayan parah.”

“Memang beliau begitu orangnya.”

Shinta tersenyum kecil walau matanya terlihat lelah. “Aku salah juga.”

Rara duduk di sampingnya sebentar.

“Mau aku bantu?”

Shinta langsung menggeleng cepat. “Tidak usah. Kamu katanya ada acara keluarga.”

“Iya sih.”

“Nanti besok saja bantu cek sebelum aku kasih lagi ke Bu Sari.”

Rara berpikir sebentar lalu mengangguk.

“Oke. Tapi jangan terlalu malam.”

Shinta hanya tersenyum kecil.

Tak lama kemudian Rara berdiri sambil membawa tasnya.

“Aku pulang dulu ya.”

“Hati-hati.”

“Kamu juga.”

Setelah Rara pergi, kantor marketing benar-benar sepi.

Suara pendingin ruangan terdengar semakin jelas. Lampu kantor yang putih terang justru membuat suasana terasa dingin dan kosong.

Shinta mencoba fokus kembali.

Dia membuka ulang data stok sambil sesekali mencatat angka di buku kecilnya.

Namun semakin malam, pikirannya justru semakin tidak tenang.

Lorong luar kantor terlihat gelap karena sebagian lampu sudah dimatikan. Kadang terdengar suara langkah kaki entah dari mana. Mungkin satpam. Mungkin pegawai lain. Mungkin juga bangunan tua memang suka mengeluarkan suara aneh saat malam. Gedung kantor memang seperti manusia yang kelelahan. Bedanya gedung tidak bisa mengeluh di media sosial.

Tiba-tiba suara pintu terbuka membuat Shinta terkejut.

Dia langsung menoleh cepat.

Dan melihat Andika masuk sambil membawa tas selempang hitamnya.

Shinta langsung kembali fokus ke layar.

Andika berjalan santai mendekati mejanya.

“Kamu belum pulang?”

Shinta menjawab tanpa menoleh. “Masih revisi laporan.”

“Aku kira sudah selesai.”

“Tidak semua orang pekerjaannya sempurna seperti kamu.”

Nada bicara Shinta terdengar dingin.

Andika hanya tersenyum kecil. “Aku cuma balik ambil barang yang ketinggalan.”

Andika melirik layar komputer Shinta.

“Banyak juga revisinya.”

Shinta diam.

Andika kemudian menarik kursi sebelah lalu duduk santai.

“Mau dibantu?”

“Tidak perlu.”

“Yakin?”

“Aku bisa sendiri.”

Andika mengangguk pelan sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi.

Beberapa detik suasana menjadi hening.

Lalu tiba-tiba Andika berkata santai.

“Ngomong-ngomong… kamu tahu tidak kalau kantor ini katanya angker?”

Shinta langsung berhenti mengetik.

Ia menoleh pelan dengan wajah waspada.

“Apa?”

Andika terlihat menahan senyum.

“Katanya beberapa pegawai yang lembur pernah lihat wanita berbaju putih di lorong depan.”

Shinta langsung membeku.

“Andika.”

“Serius.”

“Jangan mulai.”

“Satpam malam juga pernah cerita. Katanya jam-jam segini suka ada yang jalan mondar-mandir.”

Shinta menatap lorong luar kantor secara refleks.

Lorong itu memang terlihat kosong.

Sepi.

Dan agak gelap.

Andika melanjutkan dengan suara tenang seolah sedang menceritakan cuaca.

“Ada juga yang bilang kadang terdengar suara tumit sepatu padahal tidak ada siapa-siapa.”

Tepat setelah itu terdengar suara kecil dari lorong.

Tok…

Tok…

Tok…

Shinta langsung memegang lengan kursinya kuat-kuat.

“Andika…”

Andika pura-pura bingung. “Kenapa?”

“Itu suara apa?”

“Mungkin dia lewat.”

Shinta langsung menatap Andika tajam.

“Kamu sengaja menakut-nakuti aku kan?”

Andika tersenyum tipis. “Aku cuma cerita.”

Shinta langsung berdiri sedikit lalu melihat sekitar dengan panik.

“Aku benci kamu.”

“Aku tahu.”

Andika kemudian berdiri santai.

“Kalau begitu aku pulang saja.”

Dia mulai berjalan menuju pintu keluar.

Shinta langsung menatap punggungnya dengan panik.

Saat Andika hampir sampai di pintu, lampu lorong tiba-tiba berkedip sekali.

Shinta refleks membelalak.

Pikirannya langsung dipenuhi bayangan wanita berbaju putih berjalan perlahan di lorong gelap. Rambut panjang menutupi wajah. Berdiri diam sambil menatapnya dari kejauhan. Otak manusia memang luar biasa. Bisa menciptakan teror sendiri hanya dari satu cerita bodoh.

“Andika!”

Andika berhenti lalu menoleh.

Shinta menggigit bibir malu namun tetap berkata pelan.

“Tolong jangan pulang dulu.”

Andika terlihat menahan senyum kemenangan.

Dia berjalan kembali lalu duduk di kursi sebelah Shinta.

“Nah begitu lebih baik.”

“Jangan senang dulu.”

“Aku tidak senang.”

“Kamu jelas sengaja.”

Shinta mendengus kesal.

“Aku lebih takut hantu daripada kamu.”

“Itu penghinaan atau pujian?”

“Keduanya.”

Andika tertawa kecil.

Shinta kembali duduk lalu mencoba fokus bekerja lagi. Namun kali ini suasana terasa sedikit lebih tenang karena ada orang lain di dekatnya.

Malam itu dia benar-benar tidak berani sendirian di kantor. Dunia kerja sudah cukup menyeramkan tanpa tambahan hantu perempuan berbaju putih hasil imajinasi mantan pacar usil.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!