NovelToon NovelToon
Asisten Tak Terduga

Asisten Tak Terduga

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Romansa
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Abil_

"Menjadi asisten pribadi seorang CEO paling dingin di ibu kota bukanlah rencana awal hidupku."

Bagi Kenzo, perfeksionisme adalah segalanya. Baginya, asisten bukan sekadar pembantu, tapi mesin yang harus bekerja 24/7 tanpa celah. Namun, kedatangan asisten barunya yang "tak terduga" mulai mengacaukan ritme hidupnya yang kaku.

Ia tidak menyangka bahwa di balik kopi yang selalu pas suhunya dan jadwal yang tertata rapi, asistennya menyimpan rahasia besar yang bisa menjungkirbalikkan dunia bisnisnya. Setiap babak baru dalam hubungan mereka hanyalah awal dari lapisan misteri dan percikan rasa yang lebih dalam.

Akankah hubungan profesional ini tetap pada jalurnya, atau justru terjebak dalam permainan perasaan yang tak berujung?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abil_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Undangan dari Kegelapan

Nabila masih mematung di pinggir ranjang, memandangi amplop putih berhias pita emas di tangannya. Jantungnya kembali berdegup kencang, tapi kali ini bukan karena pesona Kenzo, melainkan rasa ngeri yang merayap di tengkuknya. Bagaimana mungkin dokumen ini bisa ada di sini? Apartemen ini berada di lantai teratas, punya sistem pengamanan biometrik, dan dijaga ketat dua puluh empat jam oleh tim Alpha.

"Nabila... kenapa bangun pagi banget?" suara serak Kenzo terdengar dari belakang, menyertai pergerakan lengannya yang kembali meraba sisi kasur, mencari keberadaan sang istri.

Kenzo membuka matanya pelan, lalu duduk saat melihat Nabila hanya diam membelakanginya. Begitu matanya menangkap amplop besar di tangan Nabila, kantuk sang CEO langsung hilang seketika.

"Apa itu, Bil?" Kenzo langsung merayap mendekat, merebut amplop itu dari tangan Nabila dengan sigap.

Nabila menunjuk tulisan tinta emas di depannya dengan jari gemetar. "Ini... dari kakek kamu, Kenzo. Baru ada pagi ini. Semalam aku yakin banget meja ini kosong."

Kenzo membaca kalimat pendek di amplop itu. Sedetik kemudian, wajahnya berubah menjadi sangat dingin, persis seperti es kutub. Rahangnya mengeras sampai urat lehernya menonjol. Dia langsung menyambar ponselnya di bawah bantal dan menyalakannya.

"Surya! Kumpulkan seluruh tim Alpha di ruang tengah sekarang juga! Cek semua rekaman CCTV lorong dan ventilasi dalam tiga jam terakhir!" bentak Kenzo ke telepon tanpa salam pembuka.

Nabila buru-buru memeluk pundak Kenzo dari belakang, mencoba menyalurkan ketenangan. "Kenzo, tenang dulu. Jangan emosi pagi-pagi."

"Gimana gue bisa tenang, Nabila?!" Kenzo berbalik, memegang kedua pundak Nabila dengan tatapan mata yang berapi-api, tapi sekaligus menyiratkan rasa takut yang dalam. "Seseorang bisa masuk ke dalam kamar tempat lo tidur tanpa memicu alarm tunggal! Kalau orang itu berniat bunuh lo semalam, gue... gue nggak bakal bisa maafin diri gue sendiri!"

Melihat Kenzo yang begitu panik demi keselamatannya membuat hati Nabila menghangat. Dia menggenggam tangan Kenzo. "Tapi buktinya aku nggak apa-apa, kan? Kakek kamu cuma mau pamer kekuatan. Dia mau bilang kalau dia bisa menjangkau kita kapan saja. Sekarang, mending kita buka suratnya."

Dengan napas yang masih memburu, Kenzo merobek pita emas itu kasar. Di dalamnya, ada selembar kartu undangan mewah berwarna hitam dengan sebuah alamat vila terpencil di kawasan puncak, Bogor. Di bawah alamat itu, ada catatan tambahan: “Datang sendiri bersama asisten pribadimu yang sekarang sudah menjadi istrimu. Jangan bawa ekor.”

"Dia mau kita ke sana? Sendirian?" Nabila mengintip isi surat itu.

"Gue nggak bakal biarin lo masuk ke sarang serigala tua itu, Bil," cetus Kenzo tegas. "Gue bakal suruh tim Alpha buat ngepung tempat itu duluan."

Satu jam kemudian, di ruang tengah penthouse, suasana berubah menjadi ruang sidang. Surya berdiri tertunduk di depan Kenzo yang sedang merokok di dekat jendela—kebiasaan yang hanya dilakukan Kenzo jika tingkat stresnya sudah di ubun-ubun.

"Bagaimana bisa?" tanya Kenzo, suaranya sangat rendah tapi mematikan.

"M-maaf, Pak Kenzo. Kami sudah memeriksa seluruh rekaman CCTV. Tidak ada visual orang asing masuk. Tapi... ada jeda glitch statis selama tiga detik pada jam tiga pagi di semua kamera dalam ruangan," lapor Surya dengan pelipis yang banjir keringat dingin. "Tim IT bilang, itu akibat gelombang EMP (Elektromagnetik) frekuensi rendah. Pelakunya sangat profesional."

Kenzo mematikan rokoknya di asbak dengan kasar. "Gila. Tua bangka itu bener-bener punya teknologi militer di belakangnya."

Ardiansyah yang baru saja datang setelah dikabari Nabila, duduk di sofa sambil menyilangkan kakinya. Wajahnya tampak serius. "Kenzo, jangan remehkan Wijaya Aditama. Dana gelap yang dia kelola lewat jaringan 'Tuan Agung' itu bisa membeli separuh teknologi keamanan di Asia Tenggara. Kalau dia bilang jangan bawa pasukan, lebih baik jangan. Dia tipe orang yang akan meledakkan tempat itu jika mencium ada pengkhianatan."

Nabila mendekat, berdiri di antara ayah dan suaminya. "Kalau begitu, aku dan Kenzo akan pergi berdua."

"Nggak, Nabila! Gue bilang nggak ya nggak!" potong Kenzo posesif, matanya menatap Nabila tajam.

"Kenzo, dengerin aku!" Nabila balas menatap Kenzo, tidak mau kalah. "Kakek kamu mau menguji kamu, kan? Kalau kamu datang bawa pasukan, dia bakal menganggap kamu pengecut yang bersembunyi di balik tameng. Aku ini istri kamu, bagian dari Aditama sekarang. Aku nggak bakal biarin kamu jalan sendiri menghadapi masa lalu kamu."

Kenzo mematung. Keberanian Nabila selalu berhasil membuatnya bungkam. Dia menatap istrinya lama, lalu menghela napas panjang, mengalah untuk kesekian kalinya pada sang pawang.

Kenzo berjalan mendekati Nabila, merengkuh pinggang gadis itu dan menariknya ke dalam pelukan hangat. "Lo bener-bener nekat ya. Padahal baru kemarin nangis-nangis di taksi."

Nabila tertawa kecil di dada Kenzo. "Kan gara-gara kamu juga."

Kenzo mengecup puncak kepala Nabila, lalu menatap Surya dan Ardiansyah. "Siapkan mobil SUV biasa, bukan yang antipeluru milik Aditama. Kita pakai mobil biasa biar nggak memicu kecurigaan satelit kakek. Jam dua siang ini, gue dan Nabila berangkat ke Puncak."

Ardiansyah mengangguk pelan. "Ayah akan tetap memantau dari jauh lewat jaringan X-Corp, Kenzo. Berhati-hatilah. Singa tua yang kelaparan biasanya jauh lebih berbahaya daripada singa muda."

Di bawah langit Jakarta yang mulai mendung, Kenzo dan Nabila bersiap menghadapi babak akhir dari permainan catur keluarga mereka. Undangan dari kegelapan itu sudah terbuka, dan mereka tidak punya pilihan selain masuk ke dalamnya untuk merebut kebebasan mereka yang sesungguhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!