Apa yang paling menyakitkan dari pengkhianatan?
Bukan saat musuh menusukmu dari belakang, tapi saat orang yang kau anggap saudara justru merebut duniamu.
Kinanti harus menelan kenyataan pahit bahwa suaminya, Arkan, telah menikahi sahabatnya sendiri yang bernama Alana, di belakang punggungnya. Kini, dengan kehadiran anak di rahim Alana, Kinanti dipaksa untuk berbagi segalanya.
Tapi, Kinanti bukan wanita yang akan diam saja. Jika mereka ingin berbagi, Kinanti akan memastikan mereka menyesali keputusan itu.
Kita simak kisah selanjutnya di Cerita Novel => Duri Dalam Pernikahan.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 35
Mobil SUV perak itu akhirnya menepi di lobi gedung Wiratama. Dewa turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Kinanti dengan gerakan yang sangat natural namun sarat akan perlindungan.
Di belakang mereka, suara derit rem mobil Arkan terdengar menyayat hati, sebuah ekspresi dari kecemburuan yang membakar ubun-ubun.
"Sampai jumpa sore nanti, Kinanti. Hubungi aku jika kamu butuh tumpangan pulang," ucap Dewa lembut, suaranya sengaja dinaikkan agar Arkan yang baru turun dari mobilnya bisa mendengar setiap kata.
Kinanti hanya tersenyum tipis, lalu melangkah masuk ke lobi tanpa menoleh pada Arkan yang berdiri dengan wajah kaku.
Namun, sesuatu yang aneh terjadi. Arkan tidak memaki. Ia tidak mengejar Kinanti dengan bentakan seperti biasanya. Arkan justru berdiri diam, menarik napas panjang, dan mencoba menetralkan raut wajahnya.
Di dalam kepalanya, alarm bahaya telah berbunyi. Ia baru menyadari bahwa ancaman dari Dewa Dirgantara bukan sekadar gertakan. Jika Kinanti benar-benar jatuh cinta pada pria itu dan memutuskan untuk menceraikannya, maka tamatlah riwayat Arkan.
Seluruh bukti penggelapan dana yang dipegang Kinanti akan menyeretnya ke penjara, dan ia akan keluar sebagai gembel tanpa nama.
"Aku tidak boleh kehilangan dia," bisik Arkan pada dirinya sendiri. "Setidaknya, tidak sekarang."
~~
Jakarta, Pukul 12.00 WIB
Kinanti sedang sibuk memeriksa laporan audit saat pintu ruangannya terbuka perlahan. Ia mengira itu Maya, sekretarisnya, namun yang muncul adalah Arkan.
Bukan Arkan yang angkuh, melainkan Arkan yang membawa sebuah kotak beludru merah dan segelas kopi favorit Kinanti dari kafe langganan mereka dulu.
"Sedang sibuk?" tanya Arkan, suaranya terdengar sangat lembut, suara yang dulu pernah membuat Kinanti jatuh cinta setengah mati.
Kinanti hanya melirik sekilas, lalu kembali pada kertas-kertasnya. "Ada apa lagi, Arkan? Kalau mau bicara soal Dewa, aku tidak berminat."
Arkan berjalan mendekat, meletakkan kopi itu di meja. "Tidak. Aku ke sini bukan untuk berdebat. Aku hanya ingin minta maaf. Aku sadar, sikapku belakangan ini terlalu kasar padamu."
Arkan membuka kotak beludru itu. Di dalamnya terdapat sebuah kalung berlian dengan liontin berbentuk tetesan air yang sangat indah. "Aku ingat kamu pernah menginginkan ini saat kita ke Paris dua tahun lalu. Maaf baru bisa memberikannya sekarang."
Kinanti menghentikan penanya. Ia menatap kalung itu, lalu menatap Arkan dengan tatapan sinis. "Kalung? Arkan, apa kamu sedang mencoba menyuap hatiku dengan perhiasan?"
"Bukan suap, Kin. Ini tanda bahwa aku masih peduli," Arkan mencoba menyentuh tangan Kinanti, namun wanita itu segera menariknya. "Aku tahu aku salah soal Alana. Aku... aku sudah jarang menghubunginya sejak kemarin. Aku hanya ingin fokus memperbaiki hubungan kita."
Kinanti tertawa hambar. Rasanya sangat memuakkan melihat perubahan drastis ini. Di satu sisi, Arkan membiarkan Alana meratapi nasibnya di desa tanpa kabar, dan di sisi lain, ia berakting menjadi suami teladan untuk menyelamatkan hartanya.
"Fokus memperbaiki atau fokus menyelamatkan lehermu dari penjara?" tanya Kinanti pedas. "Jangan berpura-pura, Arkan. Aku tahu isi otakmu. Kamu takut aku pergi bukan karena kamu mencintaiku, tapi karena aku adalah pemegang kunci brankas dan kunci sel penjaramu."
Wajah Arkan sempat menegang, namun ia segera memaksakan senyum. "Kamu salah paham, Kin. Terserah apa katamu, tapi malam ini aku sudah memesan tempat untuk kita makan malam. Hanya berdua. Arjuna akan dijaga oleh pengasuhnya seperti biasa."
"Aku ada janji dengan Dewa," bohong Kinanti sengaja memprovokasi.
"Batalkan," pinta Arkan, kali ini dengan nada memohon yang dibuat-buat. "Beri aku satu kesempatan untuk menunjukkan bahwa aku masih suami yang sama yang kamu cintai dulu."
Kinanti menatap kopi di mejanya. Ia merasa mual. Perhatian Arkan yang tiba-tiba ini terasa seperti racun yang dilapisi gula. Sangat manis, namun mematikan.
~~
Malam Hari - Restoran Mewah Rooftop
Kinanti akhirnya setuju untuk datang, bukan karena ia luluh, tapi karena ia ingin melihat sejauh mana Arkan bisa bermain peran. Arkan telah memesan seluruh area rooftop agar mereka mendapatkan privasi total. Alunan musik biola yang lembut memenuhi udara.
"Untuk istriku yang paling luar biasa," Arkan mengangkat gelas wine-nya, menatap Kinanti dengan binar mata yang dipaksakan terlihat tulus.
Kinanti hanya menatap pemandangan lampu Jakarta dari ketinggian. "Alana pasti sedang menangis sekarang. Kamu sudah mengirim uang bulanan untuknya?"
"Jangan sebut nama itu malam ini, Kin," potong Arkan cepat. "Aku sudah tidak peduli padanya. Dia hanya masa lalu yang salah aku jalani. Kamu adalah masa depanku."
Kinanti hampir saja tersedak air yang sedang ia minum. 'Masa lalu yang salah?' begitu mudahnya Arkan membuang wanita yang saat ini posisinya terhimpit.
Kinanti merasa ngeri melihat betapa egoisnya suaminya ini. Jika hari ini Arkan bisa membuang Alana demi harta, maka suatu saat nanti Arkan juga bisa membuang Kinanti jika ada keuntungan yang lebih besar.
Tiba-tiba, Arkan berdiri dan berlutut di samping kursi Kinanti. Ia menggenggam tangan Kinanti yang terasa sedingin es.
"Kin... beri aku waktu satu bulan. Satu bulan saja untuk membuktikan bahwa aku bisa berubah. Jangan temui Dewa lagi. Dia pria berbahaya, dia hanya menginginkan koneksi bisnis Wiratama melalui kamu. Hanya aku yang benar-benar mengenalmu," rayu Arkan.
Kinanti menarik napas panjang, lalu melepaskan tangannya dari genggaman Arkan. Ia berdiri dan menatap suaminya yang sedang berlutut itu dengan rasa muak yang tak tertahankan.
"Kamu tahu apa yang paling menjijikkan dari posisi kamu sekarang, Arkan?" bisik Kinanti. "Bukan pengkhianatanmu. Tapi fakta bahwa kamu rela merendahkan dirimu sepert ini hanya karena kamu takut miskin. Kamu bahkan tega mengabaikan Alana demi menjilat kakiku."
Kinanti mengambil tasnya. "Sikap manismu ini tidak membuatku tersentuh. Ini justru membuatku ingin muntah. Kasih sayangmu terasa sangat palsu, Arkan. Lebih palsu daripada laporan keuangan yang kamu manipulasi."
"Kinanti! Tunggu!" Arkan ikut berdiri, mencoba menahan langkah istrinya.
"Satu bulan?" Kinanti menoleh di ambang pintu keluar. "Silakan lakukan apa pun yang kamu mau dalam satu bulan ini. Berikan aku emas, permata, atau perhatian paling total sekalipun. Tapi ingat, setiap kali kamu menyentuhku, aku hanya akan membayangkan kamu sedang menyentuh Alana. Dan setiap kali kamu tersenyum padaku, aku hanya akan melihat seorang narapidana yang sedang memohon ampun."
Kinanti melangkah pergi, meninggalkan Arkan dalam kemarahan yang tertahan di tengah kemewahan restoran itu.
~~
Di tempat lain, di sebuah rumah sederhana di desa, Alana duduk di pinggir tempat tidur sambil memegangi ponselnya. Air mata terus mengalir di pipinya. Sudah dua hari Arkan tidak membalas pesannya. Uang yang dijanjikan untuk biaya kebutuhannya juga belum dikirimkan.
"Mas Arkan... kenapa kamu berubah?" isaknya.
Alana tidak tahu bahwa saat ini Arkan sedang sibuk menjadi suami terbaik bagi Kinanti. Ia tidak tahu bahwa dirinya hanyalah pion yang sedang dipinggirkan agar sang raja tidak skakmat.
Keesokan paginya di kantor, sebuah kejutan kembali datang. Namun kali ini bukan dari Dewa. Di meja Kinanti sudah tersedia sarapan buatan Arkan sendiri lengkap dengan catatan kecil.
"*Selamat bekerja, Sayang. Aku menunggumu dirumah untuk makan malam bersama Arjuna*."
Kinanti membuang sarapan itu ke tempat sampah di depan mata Arkan yang baru saja masuk.
"Jangan buang-buang tenagamu, Arkan. Semakin kamu mencoba menjadi suami sempurna, semakin aku merasa kamu adalah orang asing yang sedang mencoba mencuri sesuatu dariku," ucap Kinanti dingin.
Tiba-tiba, telepon kantor Kinanti berdering. Itu dari resepsionis.
"Ibu Kinanti, ada tamu bernama Bapak Dewa Dirgantara di lobi. Beliau ingin bertemu untuk membahas proposal kerjasama properti."
Kinanti tersenyum penuh kemenangan. Ia menatap Arkan yang wajahnya langsung mengeras mendengar nama itu.
"Nah, lihat? Itu adalah pria yang datang dengan urusan profesional, bukan dengan sarapan basi dan janji palsu," Kinanti merapikan jasnya. "Biarkan dia masuk, Maya. Dan Arkan... tolong keluar dari ruanganku. Aku harus menyambut tamu yang jauh lebih berharga daripada kamu."
Arkan keluar dari ruangan dengan tinju yang terkepal. Ia tahu, perhatian dan kasih sayangnya tidak mempan.
Kinanti sudah tidak bisa disentuh dengan cara biasa. Namun, Arkan tidak akan menyerah. Jika ia tidak bisa meluluhkan hati Kinanti, maka ia harus mencari cara untuk menyingkirkan Dewa dari jalannya, dengan cara apa pun.
Permainan kini semakin berbahaya. Arkan yang mulai bertindak manis justru menjadi ancaman yang lebih besar bagi kesehatan mental Kinanti, sementara Dewa mulai menjadi satu-satunya tempat Kinanti bisa merasa dianggap sebagai manusia, bukan sekadar alat ekonomi.
...----------------...
**To Be Continue** ....
ga punya hati. .. tetap berselingkuh
Tunggu hukum karma selanjutnya
Kinanti yg dihianati kalah. ga setuju
.👍