NovelToon NovelToon
Antagonis Hamil Duluan

Antagonis Hamil Duluan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Reinkarnasi / CEO
Popularitas:10k
Nilai: 5
Nama Author: supyani

transmigrasi jadi tokoh yang harusnya mati mengenaskan? tidak, Terima kasih.
saat suami CEO-ku meminta cerai, aku pastikan 2 garis biru muncul terlebih dahulu. permainan baru saja dimulai, sayang.

#jadi antagonis#ceo#hamil anak ceo#transmigrasi#ubah nasib#komedi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon supyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

dansa terakhir

Malam makin larut. Angin malam makin bertiup kencang, ngibarin ujung-ujung taplak meja dan bikin rambut para tamu beterbangan. Tapi gak ada yang peduli. Hangatnya tawa, musik, dan lampu taman ngalahin dinginnya udara.

Acara ulang tahun Cika berlangsung sangat hangat dan lancar. Gak ada yang ngungkit masa lalu, gak ada sindiran halus di meja makan. Semua orang bernyanyi, menari, foto-foto. Cika udah 3 kali ganti spot foto sama temen-temen sekolahnya, pipinya merah karena kebanyakan senyum.

Menyisakan 3 manusia di pojok.

Masih berdiri tenang di dekat _dessert table_ yang udah setengah kosong. Eric dengan jas yang kini cuma nyantol di satu bahu. Vivian dengan dress _dusty blue_ yang udah mulai gerah dan pengen lepas heels. Sama Chindy yang sedari tadi mode patung, tangan nyilang, muka datar kayak lagi _meeting_ direksi.

Vivian udah loncat kegirangan dari tadi. Playlist DJ ganti ke _Poco-poco_ remix. Kakinya udah gatel, pinggulnya udah otomatis goyang kiri-kanan. Tapi tangan Eric tak pernah lepasin pinggangnya. Melingkar, waspada, posesif. Takut istrinya nimbrung terus joged pargoy di panggung, lupa kalau di perut ada "penghuni" yang belum 5 bulan.

"Kak Eric, dikit aja," bisik Vivian, nengok ke Eric sambil pasang muka _puppy eyes_ paling mematikan.

"Enggak," jawab Eric. Matanya ke depan, ke panggung. Tapi jempolnya di pinggang Vivian ngusap pelan. Kode: _gak, tapi aku gak marah_.

Sementara Chindy ada di mode diem. Sebelas dua belas sama Eric. Dari masih muda sibuk kerja, sibuk ngejar _deadline_ butik, sampai tak nafsu joged-joged. Di otaknya muter besok _meeting_ klien jam 9 pagi, bukan musik dangdut. Dia cuma sesekali nyesap air putih, ngeliatin Cika yang sekarang lagi suap-suapan kue sama Bu Ratna. _Aneh. Damai begini._

"Yang terakhir," suara dari mikrofon menggelegar, bikin semua tamu berhenti ngobrol. "Sebagai penutup acara yang berbahagia ini, kita adakan lomba dansa pasangan!"

MC dengan setelan tuksedo senyum lebar. "Ayo, Bapak-Ibu, yang mau ikut meramaikan, silakan segera berkumpul di tengah. Gak perlu jago, yang penting gembira! Hadiahnya spesial dari keluarga Wijaya, voucher dinner di hotel bintang 5!"

_Plok plok plok!_ Tamu-tamu bersorak. Lampu taman diredupin, lampu sorot kuning hangat nembak ke lantai dansa di tengah taman. Musik langsung ganti. Biola. Piano. Cello. Melodi _waltz_ ala kerajaan mulai mengalun, megah tapi lembut.

Vivian langsung maju dua langkah. Refleks. Matanya nyala kayak nemu diskon 90%. _Dansa. Ballroom. Akhirnya._

Tapi langkahnya terhenti.

"Cuman dansa saja kok," rengeknya, saat tangan Eric mencengkeram pergelangan tangannya. Kencang. Tapi anget. Wajahnya memelas, bibirnya udah manyun 5 senti, berharap pria itu membiarkan-nya pergi kali ini. "Aku janji gak muter-muter kayak gasing."

Eric natap Vivian. Di kepalanya muter semua artikel: _Ibu Hamil Jatuh Saat Dansa, Keguguran_. "Gak," katanya.

Cuman hamil joged aja dilarang. Vivian ngedumel dalam hati. _Bapak-bapak protektif banget deh._

Eric narik napas panjang. Panjang banget. Kayak nahan sabar se-kabupaten. Akhirnya dia nyerah. Dia buka jas biru dongkernya, pelan, terus pakein ke Vivian biarpun kegedean. Bahu Vivian langsung tenggelam. Lengannya kepanjangan. Ujung jasnya nutupin dengkul.

Sambil rapihin kancingnya satu-satu dari atas sampai bawah, membuat perut buncitnya ketutup sempurna, Eric ngomel pelan, "Anginnya kenceng. Masuk angin nanti." Gerakannya telaten, kayak lagi masang kancing baju anak TK.

"Sana," ucapnya. Nada datar, tapi artinya: _pergi sana, tapi awas kalo kenapa-kenapa_. Persis seperti bapak yang pakein jas hujan buat anaknya yang mau hujan-hujanan.

Mata Vivian langsung berbinar. "Makasih, Pak Suami!" Dia jinjit, kecup pipi Eric cepet banget, sebelum Eric sempat ngelak. Terus lari kecil ke tengah.

Setelah siap, musik dansa ala kerajaan mulai menggema mengisi acara. Semua pasangan mulai cari posisi. Vivian, tanpa nunggu aba-aba, langsung menarik tangan Eric sebagai partner dansanya. Gak kasih pilihan.

Kali ini Eric gak protes. Dia ikut. Biarpun badannya gak kalah kaku dari robot. Langkahnya satu-dua-satu-dua, tegak kayak tiang listrik. Tapi pegangannya bener. Satu tangan di pinggang Vivian, di luar jas, nahan pelan. Satu tangan genggam jari Vivian. Profesional. Kayak lagi _business deal_.

Mata mereka bertemu. Jaraknya cuma 30 cm. Di bawah lampu kuning, diiringi biola, harusnya romantis. Tapi bukan cinta yang meledak di sana. Banyak pertanyaan. Di mata Eric: _Kenapa kamu berubah? Kamu siapa?_ Di mata Vivian: _Aduh, ganteng juga kalau deket. Jangan baper, Vivian._

"Suamiku, suka sedekat ini?" Goda Vivian sambil mendekatkan badannya, sengaja. Nafasnya nyentuh rahang Eric.

Eric profesional. Muka datar. Gak goyah. Tapi urat di lehernya keliatan. "Fokus langkahmu," bisiknya. Galak. "Jangan kesandung." Tangannya di pinggang Vivian nahan lebih erat, nuntun gadis itu biar gak oleng.

Vivian nahan ketawa. _Kaku banget, Astaga._

Saat musiknya berubah, masuk ke bagian _exchange partner_, semua harus ganti pasangan searah jarum jam. Vivian berputar. Gaunnya ngembang di dalam jas kebesaran Eric, cantik banget. Putarannya selesai... dan dia jatuh. Jatuh ke pelukan orang yang ia kenal.

Andre.

Pak Andre. Wali kelas Cika. Pakai kemeja putih yang lengannya udah digulung, sama celana bahan hitam. Dia juga ikut lomba, ternyata.

Andre nangkap pinggang Vivian refleks. "Hati-hati," ucapnya. Suaranya khawatir, tulus.

Musik kembali melaju, kali ini dengan rekan dansa yang berbeda. Aturannya, gak boleh nolak. Andre nuntun Vivian dengan sopan. Langkahnya luwes, gak kayak Eric. Jelas sering dansa.

"Akhirnya aku bertemu kamu lagi," ucap Andre. Senyumnya lebar, matanya berbinar. _Kakaknya Cika. Adiknya Eric. Cantiknya kebangetan._

Vivian cuman tersenyum. Sopan. Jaga jarak. Sambil melanjutkan tariannya, dia jawab, "Iya." Sahutnya singkat. _Ketemu lagi. Di ultah adik iparku yang kamu kira aku._

Tapi matanya gak di Andre. Matanya malah menangkap sosok di belakang, di sisi lain lingkaran dansa.

Eric dan Alea.

Karena rotasi pasangan, Eric sekarang berdansa bersama Alea. Dokter kandungan itu pakai dress putih simple. Tangan Eric di pinggang Alea, pas di lekukan jas dokternya yang udah dilepas. Tangan Alea di pundak Eric. Jarak mereka sopan. Tapi mereka ngobrol. Alea senyum, nunduk malu-malu. Eric jawab sesuatu, ekspresinya melunak dikit.

_Tak bisa dibiarkan._ Alarm di kepala Vivian bunyi. _Mereka rentan jatuh cinta. Nostalgia kampus. Dokter dan pasien. Suami orang dan mantan. Kombo maut._

Vivian muter sekali, masih dipegangi Andre. Musik masih di ketukan ke-2. Belum waktunya ganti pasangan. Masih 6 ketukan lagi.

Tapi Vivian bodo amat sama aturan.

"Kalau ada waktu lain, kita pasti ketemu lagi, Pak Andre," ucapnya cepat. Senyumnya masih sopan, tapi matanya udah gak di Andre. Terus tanpa nunggu jawaban, dia lepasin tangan Andre, nerobos dua pasangan di samping, dan langsung narik tangan Alea lepas dari pundak Eric.

Kilat. Halus. Kayak copet di pasar.

"Aku belum tanya siapa namamu," tanya Andre, suaranya ketinggalan, saat Vivian sudah jauh, udah balik ke pelukan Eric.

Andre yang lihat itu cuman senyum. Gak marah, gak bingung. Malah senyum maklum sambil geleng-geleng. "Posesif sama kakaknya," gumam pria itu pelan. _Pantes. Sayang banget sama Eric. Anak Wijaya emang kompak._

Tak lama, tangan Andre yang nganggur di udara tiba-tiba dapat tangan lain. Tangan yang kasar. Ada kapalan di ujung jari. Banyak luka kecil bekas jarum jahit. Hangat.

Chindy.

Mereka berdua bertemu, entah dilempar rotasi siapa. Chindy tak sadar siapa yang menariknya masuk sampai dia terjebak di antara orang-orang berdansa. Dia tadi cuma mau ambil minum, terus kesenggol, terus ketarik. Mukanya panik.

Chindy mundur sekali, narik tangannya dari genggaman Andre. "Saya tak pandai berdansa," ucapnya mau pergi. Nada bicaranya cepat, defensif. Dia CEO. Dia jago negosiasi. Tapi disuruh _waltz_? Nol besar.

Tapi tangan Andre cepat. Genggam tangan Chindy lagi. Gak maksa, tapi tegas. "Saya tak punya rekan," ajaknya. Matanya natap Chindy lurus. Lembut. "Maukah Anda berdansa sebentar dengan saya? Anggap saja latihan. Saya guru, kan?"

Chindy diam sebentar. Natap Andre. Cowok. Tinggi. Bersih. Senyumnya... gak nakut-nakutin. Terus dia mengangguk. Kaku. "Sebentar aja. Kalau saya nginjek, jangan marah."

Keduanya akhirnya berdansa. Awalnya kaku. Kayak dua robot lagi sinkronisasi. Terlihat sangat romantis dari jauh karena lampu dan gaunnya, biarpun Chindy sering menginjak kaki Andre. _Duk. Duk. Duk._ "Sori," bisik Chindy tiap nginjek, mukanya merah padam. Tak biasa menari.

Tapi hebatnya Andre tak marah. Dia malah ketawa kecil, nahan geli. "Santai." Terbiasa jadi guru di sekolah, sekarang ia jadi guru Chindy tentang berdansa. "Kiri, kanan, pelan. Ikutin saya. Satu, dua, tiga... Nah, gitu." Suaranya nuntun, sabar.

Chindy yang galaknya naudzubillah kalau di kantor, sekarang nurut. Langkahnya mulai ngikutin. Bahunya yang tadi tegang mulai lemas.

Di akhir musik, pas nada biola meninggi buat _finale_, Andre kasih kode. Chindy diputar beberapa kali. Sekali, dua kali, tiga kali. Gaun silver-nya berkibar, kerlap-kerlip kena lampu. Terus di ketukan terakhir... _brug._

Dia ditangkap. Dengan pelukan. Dari belakang. Punggung Chindy ke dada Andre. Erat. Pas banget sama musiknya berhenti. Seperti di drama Korea. Seperti adegan _slow motion_ yang bakal di-_edit_ fans jadi Fancam TikTok.

_Hening 1 detik._

Terus _PROK PROK PROK!_ Tepuk tangan pecah. Bersiul. Cika teriak paling heboh, "KAK CHINDY JAGO KAN! KAK ANDRE TERBAIK!"

Dan betul saja, di akhir acara, MC naik panggung bawa piala kristal. "Dan pemenang lomba dansa malam ini, pasangan paling serasi, paling bikin baper... Pak Andre dan Ibu Chindy Wijaya!"

Chindy bengong. Mukanya nge-_blank_. Andre senyum, ngebungkuk sopan.

Mereka keluar sebagai pasangan yang menang. Dapat piala sama voucher dinner.

Sementara itu, Vivian yang dari tadi udah balik ke pelukan Eric, ngeliat adegan Andre-Chindy sambil nyengir puas. Dia bisik ke Eric, "Kan. Kataku juga. Jodoh gak akan ke mana."

Eric noleh ke Vivian, alisnya naik. "Kamu sengaja?"

"Sengaja apa?" Vivian angkat bahu, polos. Jas Eric masih kebesaran di badannya.

"Sengaja misahin aku sama Alea. Terus sengaja dorong Chindy ke Andre."

Vivian diem sebentar, terus senyum lebar. "Iya." Ngaku tanpa dosa. "Abisnya pemandangan kalian tadi ngeri-ngeri sedap. Daripada aku makan ati, mending aku jadi mak comblang."

Eric gak jawab. Cuma... narik Vivian lebih deket. Biar gak kedinginan.

Malam itu, pesta Cika gak cuma ngasih Cika "mahkota". Tapi juga ngasih Chindy "pangeran", dan ngasih Eric-Vivian... alasan buat pelukan lebih lama dari biasanya.

kasih hadiah donk besty, banyakin komen dan like biar semangat.

1
Uthie
Semoga sihhh pngaruh lain di otaknya lebih dominan 😁👍
lebih baik milih yg bernapas, sefrekuensi, dan bisa langsung di ajak ngobrol and melukis bareng-bareng 😁👍
daripada terus memandangi lukisan wanita benda mati aja, yg juga udah punya laki and lagi hamil anak orang pula 😜
Uthie
mantappp dehhh menghalau pengaruh buruk nya Vivian 👍😁
Uthie
Pokoknya bikin Vivian tetep jadi strong Women 💪💪🤨
buat bisa menghempas kan para hama wereng yg menggatal 😡😡💪
Uthie
Intinya sihh mereka sudah saling bisa menerima satu sama lain👍🤗
semoga gak goyah jika ada godaan yg bakal ganggu hubungan mereka lagi 👍👍
Uthie
Saya mahhh sukkkka selalu ceritanya 👍😘🤗
Anne
hanya sedang meraba hati.. n smg hati kecilny bs menuntun dia kelangkah yg baik. yg g merugikan diriny ataupun org lain.
Dinda Putri
mudah2 han baik
Dinda Putri
lagi
Nurfi Susiana
lanjut thor
Hikmal Cici
nah gitu dong 👍👍👍🙂
Hikmal Cici
vivian ini cewek barbar kan ya thor, bukan yg kalau dijahatin cm bisa nangis. pasti ada perlawanan yg seru ya kan 😊
Dinda Putri
makin seru up lagi thor
anonim
bikin greget
Hikmal Cici
lagi...lagi...lagi
Uthie
ratingku perpect.. 10 🌟🌟🌟
Uthie
Wadduuhhhh.. si Alea makin kurang ajar itu 😡😡😡
Uthie
Puasssss banget itu Vivian nunjukin bekas cinta nya ma dokter rasa Pelakor 😆👍
Uthie
kurrraangggg
Irsyad layla
tapi lengan kemeja nya digulung thor kek mana ni😄😄
Hikmal Cici
ya pasti kurang lah kk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!