NovelToon NovelToon
Penantian 7 Tahun

Penantian 7 Tahun

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:568
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Airellia Kaivena hidup dalam penantian yang tak pernah benar-benar ia pahami. Selama tujuh tahun, ia setia menunggu seseorang dari masa kecilnya yang berjanji akan kembali.

Ketika akhirnya sosok itu muncul kembali dalam wujud Zevarion Hale, harapan yang lama terkubur perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam.

Namun di balik pertemuan yang seharusnya indah, tersembunyi kebenaran yang mampu menghancurkan segalanya, mengubah penantian menjadi luka yang tak pernah ia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20 - Bukan Kebetulan

Setelah hari hujan di taman lama itu, sesuatu di antara mereka berubah pelan namun jelas. Perubahannya tidak datang lewat peristiwa besar atau ucapan yang mudah dikenali. Tidak ada kedekatan mendadak yang membuat orang sekitar mulai bergosip, tidak ada suasana canggung yang terlalu kentara, dan tidak ada satu momen tertentu yang bisa disebut sebagai awal.

Dari luar, Zevarion Hale tetap pria yang sama. Ia masih berjalan dengan langkah tenang, bicara seperlunya, dan menjaga jarak dari kebanyakan orang. Wajahnya tetap sulit dibaca, seolah apa pun yang ia pikirkan selalu berhenti di balik tatapan datar yang rapi ia pertahankan.

Namun bagi Airel Virellia, perbedaannya terasa nyata.

Zev mulai berhenti saat berpapasan dengannya di koridor kampus. Ia tidak selalu menyapa, tetapi langkahnya tak lagi langsung berlalu seperti sebelumnya. Kadang ia menatap beberapa detik lebih lama, lalu pergi tanpa berkata apa-apa, meninggalkan sesuatu yang terus mengganggu pikiran Airel setelahnya.

Dan yang paling aneh, ia mulai berbicara.

Bukan percakapan panjang, bukan pula sikap hangat seperti orang yang sudah lama dekat. Hanya kalimat-kalimat pendek, komentar singkat, atau pertanyaan sederhana yang muncul di waktu tak terduga. Namun jika dibanding cara Zev memperlakukan orang lain, perubahan itu cukup besar untuk disadari.

Pagi itu, Airel berdiri di depan mesin minuman otomatis dekat gedung perpustakaan. Lorong masih cukup sepi karena jam kuliah baru akan dimulai. Ia menekan tombol pilihan minuman dua kali, lalu menunggu beberapa detik dengan sabar.

Mesin tetap diam.

Ia menekan sekali lagi, kali ini sedikit lebih keras. Lampu indikator menyala, tetapi kaleng yang seharusnya jatuh tetap tidak bergerak. Airel menghela napas dan menatap layar kecil mesin itu dengan kesal tipis.

“Dipukul sedikit.”

Suara rendah dari samping membuatnya menoleh.

Zev berdiri tidak jauh darinya dengan satu tangan masuk ke saku celana. Wajahnya tenang seperti biasa, seolah kemunculannya di sana sama sekali tidak perlu dijelaskan.

“Apa?” tanya Airel.

“Mesinnya suka macet.”

Airel menatap mesin itu lagi, lalu kembali menoleh padanya. “Aku enggak mungkin mukul mesin kampus.”

Zev diam beberapa detik, lalu berjalan mendekat. Ia mengetuk sisi bawah mesin dengan dua jari, tepat di bagian samping yang tadi tidak Airel perhatikan. Ketukannya ringan, bahkan terdengar nyaris main-main.

Kaleng minuman jatuh seketika.

Airel berkedip sambil menatap lubang pengambilan minuman, lalu menoleh lagi pada Zev.

Zev mundur satu langkah. “Tuh.”

Nada suaranya datar, tetapi ada sesuatu di wajahnya yang hampir menyerupai rasa puas.

Airel menahan senyum kecil. “Kamu sering ngelakuin ini?”

“Cukup sering.”

Ia menjawab singkat sambil kembali memasukkan tangan ke saku. Cara bicaranya tetap hemat kata, tetapi tidak setegang dulu.

Airel mengambil kaleng minumannya. “Terima kasih.”

Zev mengangguk pendek dan hendak pergi. Namun sebelum benar-benar berbalik, ia berkata tanpa menatapnya,

“Jangan beli kopi dari mesin ini. Rasanya buruk.”

Setelah itu ia berjalan pergi seolah baru saja menyampaikan informasi penting yang harus diketahui semua orang.

Airel menatap punggungnya yang menjauh. Percakapan tadi sangat sederhana, bahkan nyaris sepele. Namun entah kenapa, dadanya terasa hangat cukup lama setelahnya.

Siang harinya, Kalista duduk di sebelah Airel di kelas kosong sebelum dosen datang. Buku-buku sudah terbuka di meja, tetapi suasana masih santai karena mahasiswa lain belum banyak masuk.

“Kamu sama Zev ngomong lagi?” tanya Kalista sambil menyandarkan dagu ke tangan.

Airel menoleh. “Kenapa?”

“Karena dia tadi lewat depan kelas, terus lihat ke dalam dua kali.”

Airel mengernyit. “Mungkin cari orang lain.”

Kalista tertawa pelan. “Kalau cari orang lain, harusnya dia nanya. Ini cuma lihat kamu, terus jalan lagi.”

Airel pura-pura fokus membuka bukunya. Ia membalik halaman yang sama dua kali tanpa sadar. Kalista melihat itu, lalu tersenyum makin lebar.

“Rel, kamu gampang ketahuan kalau lagi mikir.”

“Aku lagi baca.”

“Kebalik halaman kosong.”

Airel berhenti bergerak, lalu menutup buku perlahan. Kalista tertawa puas sementara Airel hanya menghela napas.

Belakangan ini memang seperti itu. Zev tidak pernah datang dengan cara jelas. Ia muncul, mengatakan satu dua hal, lalu pergi sebelum percakapan berkembang terlalu jauh.

Seolah ia ingin dekat, tetapi takut terlalu lama berada di tempat yang sama.

Sore menjelang, Airel pergi ke taman belakang kampus sambil membawa catatan. Tempat itu cukup sepi dan sering dipakai mahasiswa yang ingin belajar sendiri atau sekadar mencari udara tenang. Pohon-pohon besar membuat area itu teduh, dan suara dari gedung utama hanya terdengar samar.

Ia baru saja membuka buku ketika seseorang meletakkan botol air mineral di meja batu depannya.

Airel mendongak.

Zev berdiri di sana.

“Kamu lupa ini di perpustakaan tadi.”

Airel melihat botol itu, lalu baru ingat bahwa ia memang meninggalkannya di meja baca. “Kamu nyariin aku cuma buat ini?”

“Enggak nyariin.” Zev menarik kursi di seberangnya lalu duduk. “Kebetulan lewat.”

Airel hampir tersenyum.

Kebetulan.

Kata itu terdengar semakin lucu setiap kali keluar dari mulutnya.

Zev jarang duduk bersama orang lain. Airel beberapa kali melihatnya di kantin atau koridor, biasanya sendiri atau berdiri bersama seseorang hanya sebentar lalu pergi. Namun sekarang ia duduk di hadapannya, diam, dan tidak menunjukkan tanda-tanda ingin segera bangkit.

Angin sore berembus pelan di antara daun-daun. Airel menutup bukunya, sadar bahwa ia tak akan benar-benar membaca jika Zev terus ada di sana.

“Kamu memang jarang ngomong sama orang, ya?” tanyanya.

Zev menatap meja beberapa detik sebelum menjawab. “Enggak ada yang perlu dibahas.”

“Terus sekarang ada?”

Ia mengangkat pandangan padanya.

Ada jeda singkat yang terasa lebih panjang dari seharusnya.

“Kayaknya.”

Jawaban itu sederhana, tetapi jantung Airel berdebar aneh mendengarnya. Ia menunduk sebentar, berpura-pura merapikan pensil agar tidak terlihat salah tingkah.

Zev menyandarkan punggung ke kursi. “Kamu sering ke taman lama itu?”

Airel mengangguk. “Dulu sering. Sekarang jarang.”

“Sama siapa?”

Pertanyaan itu keluar tenang, tetapi terlalu langsung. Airel menatapnya beberapa detik, mencoba membaca maksud di balik suara datarnya.

“Enggak ingat jelas,” jawabnya pelan. “Waktu kecil.”

Zev tidak menyela. Matanya tertuju padanya seperti seseorang yang benar-benar mendengarkan.

“Cuma aku selalu ngerasa tempat itu penting,” lanjut Airel. “Kayak ada sesuatu yang ketinggalan di sana.”

Zev menarik napas pelan.

“Aku ngerti.”

Airel sedikit terkejut. “Kamu ngerti?”

Ia menoleh ke arah pepohonan di samping taman. “Ada tempat yang kadang bikin kepala kita ramai, padahal kita enggak tahu kenapa.”

Kalimat itu terasa terlalu jujur untuk seseorang seperti Zev.

Airel memperhatikannya diam-diam. Semakin lama, ia sadar satu hal. Zev bicara lebih banyak padanya dibanding pada siapa pun yang pernah ia lihat.

Bukan karena ia mendadak ramah.

Melainkan karena di dekatnya, Zev seperti menurunkan tembok sedikit demi sedikit.

Dan itu membuat satu pikiran terus muncul di kepala Airel.

Ini bukan kebetulan, kan?

Malamnya, Airel terus memikirkan percakapan itu. Cara Zev duduk di depannya tanpa tergesa pergi. Cara ia mendengarkan tanpa memotong. Cara nada suaranya sedikit lebih lunak saat berbicara dengannya.

Semua terasa kecil.

Namun justru hal-hal kecil seperti itu yang paling sulit diabaikan.

Hari berikutnya, hujan turun sejak siang. Kampus menjadi lebih lengang karena banyak orang memilih pulang cepat. Lorong-lorong yang biasanya ramai kini hanya dilalui beberapa orang dengan langkah cepat.

Airel berdiri di koridor lantai dua sambil menunggu hujan reda. Di tangannya ada payung lipat, tetapi ia belum berniat turun. Dari tempat itu, halaman kampus terlihat basah seluruhnya.

Beberapa langkah dari sana, Zev berdiri menghadap ke luar.

Jarak mereka tidak jauh. Tidak ada orang lain di koridor itu. Suara hujan memukul atap dan lantai halaman di bawah menjadi satu-satunya latar.

“Kamu suka hujan?” tanya Airel tiba-tiba.

Zev tidak langsung menjawab. Ia tetap memandang ke luar beberapa saat, seolah menimbang apakah pertanyaan itu layak ditanggapi.

“Enggak tahu,” katanya kemudian. “Kadang suka. Kadang bikin pusing.”

Airel tersenyum tipis. “Jawaban aneh.”

“Pertanyaannya juga.”

Ia menoleh padanya. “Apa anehnya?”

“Kamu nanya kayak kita udah kenal lama.”

Kalimat itu membuat suasana berubah tipis. Airel memegang gagang payungnya lebih erat. Ada rasa gugup yang datang tanpa diminta.

“Apa salah?”

Zev akhirnya menoleh penuh padanya. “Enggak.”

Hanya satu kata, tetapi sorot matanya tidak sesederhana itu. Ada keraguan, rasa ingin tahu, dan sesuatu yang tampak seperti takut berharap terlalu jauh.

Hujan masih turun deras ketika Zev berjalan mendekat. Tidak terlalu dekat, hanya cukup untuk membuat percakapan terasa lebih pribadi. Airel bisa mendengar napasnya di sela suara hujan.

Zev menatap wajahnya lebih lama dari biasanya. Seolah sedang mencari jawaban dari sesuatu yang belum ia pahami.

“Airel.”

Namanya keluar rendah dari bibir Zev.

“Iya?”

Beberapa detik berlalu. Hanya suara hujan yang mengisi ruang di antara mereka.

Lalu Zev berkata pelan, sederhana, namun menghentikan segala suara lain di kepala Airel.

“Kita pernah ketemu sebelumnya?”

Airel membeku.

Jantungnya berdetak begitu keras sampai suara hujan terasa menjauh. Tatapannya terkunci pada Zev, pada pria yang selama ini menjadi pusat dari pertanyaan yang tak bisa ia jawab sendiri.

Itu adalah hal yang selama ini berputar di benaknya. Hal yang ia takutkan sekaligus ia harapkan. Dan kini, justru datang dari mulut Zev sendiri.

Koridor tetap sama. Hujan tetap turun deras. Air masih mengalir di tangga dan halaman di bawah.

Namun bagi Airel, dunia baru saja bergeser sedikit.

Karena jika Zev menanyakan itu, berarti ia juga merasakan sesuatu. Dan jika mereka sama-sama merasakannya, maka mungkin selama ini ia tidak sedang mengejar bayangan.

Mungkin masa lalu benar-benar sedang berjalan kembali ke arahnya.

1
𝐀⃝🥀Weny
wah jangan² itu orang yang ditunggu selama ini.. tapi mereka sudah lupa dengan wajahnya😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!