Hati Naomi hancur saat suaminya Zayn, tega menceraikannya karena dirinya melahirkan bayi sumbing. Padahal Zayn dan keluarganya adalah keluarga dokter, mereka harusnya lebih mengerti dari orang lain.
Setelah pulih dari pasca persalinan, Naomi diusir dari keluarga Hartanto. Ia mengurus bayinya yang sumbing sendirian. Naomi bekerja banting tulang demi kebutuhan anaknya. Seiring berjalannya waktu, bayi Naomi yang diberi nama Davin itu terus tumbuh, ia bahkan mendapatkan operasi yang membuatnya bisa tumbuh seperti anak normal lain. Bibir Davin tak lagi sumbing, dia bahkan terbilang punya wajah tampan. Selain itu Davin juga menjadi anak yang sangat jenius! Mendapat banyak prestasi dan selalu membuat Naomi bangga. Saat itulah Zayn tiba-tiba kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2 - Surat Cerai
Pagi itu terasa berbeda. Cahaya matahari menembus tirai tipis ruang rawat inap, jatuh lembut di wajah Naomi yang masih pucat. Tubuhnya sudah mulai pulih, meski rasa nyeri di perutnya masih sesekali menyengat. Di sampingnya, bayi kecil itu terlelap dalam boks transparan, Davin, anaknya.
Naomi menatapnya lama, matanya masih sembab. Bibir mungil dengan celah itu tampak begitu rapuh, tapi baginya tetap indah. Tangannya bergerak pelan, menyentuh pipi Davin.
“Selamat pagi, Nak...” bisiknya lembut.
Untuk sesaat, semuanya terasa damai. Sampai suara pintu dibuka tanpa ketukan menghancurkan ketenangan itu.
Naomi menoleh. Zayn berdiri di ambang pintu. Namun ada sesuatu yang berbeda. Wajahnya dingin. Tidak ada senyum, tidak ada kehangatan seperti biasanya. Bahkan tidak ada tatapan rindu setelah semalaman menghilang.
Naomi langsung duduk perlahan, menahan nyeri. “Zayn... kamu ke mana saja? Aku—”
Belum selesai kalimatnya, Zayn melangkah masuk dan meletakkan sebuah map cokelat di atas meja kecil di dekat ranjang. Gerakannya agak kaku.
Perasaan tidak enak kembali menyusup ke dada Naomi.
“Aku ke rumah,” jawab Zayn singkat.
Naomi menatapnya bingung. “Kamu pulang? Tanpa bilang apa-apa?”
Zayn tidak langsung menjawab. Ia malah menarik napas panjang, seperti sedang menyiapkan sesuatu yang berat.
“Naomi,” katanya akhirnya, suaranya datar. “Kita perlu bicara.”
Jantung Naomi berdegup lebih cepat. Nada itu. Nada yang tidak pernah dia dengar dari Zayn sebelumnya.
“Ada apa?” tanya Naomi pelan, meski hatinya mulai bergetar.
Zayn membuka map cokelat itu, lalu mengeluarkan beberapa lembar kertas. Ia menatapnya sejenak sebelum akhirnya menyodorkannya ke arah Naomi.
Naomi menerimanya dengan tangan gemetar. Dunia seakan runtuh saat matanya membaca judul besar di bagian atas kertas itu.
Surat gugatan cerai.
Tangannya langsung lemas. Kertas itu hampir terjatuh kalau saja dia tidak buru-buru menggenggamnya lagi.
“A-apa ini?” suaranya bergetar, nyaris tak terdengar.
Zayn tetap berdiri. Tidak mendekat. Tidak menyentuhnya. “Surat perceraian,” jawabnya singkat.
Seperti pisau yang ditancapkan langsung ke jantungnya. Naomi menatapnya tidak percaya. Air mata langsung menggenang.
“Zayn... ini nggak lucu...” bisiknya. “Aku baru melahirkan... kita baru punya anak...”
“Justru itu alasannya,” potong Zayn dingin.
Naomi terdiam. Dadanya terasa sesak. “Alasan? Maksudmu...” ulangnya, seolah tidak ingin percaya.
Zayn akhirnya menatapnya. Tapi tatapan itu bukan lagi milik pria yang dulu mencintainya.
“Anak itu, Naomi.”
Hening menyelimuti suasan. Sejenak, dunia seperti berhenti.
Naomi menggeleng pelan, air matanya jatuh. “Jangan bilang... kamu mau cerai... karena Davin...”
Zayn tidak menjawab langsung. Namun diamnya itu sudah cukup menjadi jawaban.
Tangis Naomi pecah. “Kamu serius?” suaranya meninggi, penuh luka. “Zayn, dia anak kita! Darah daging kita!”
Zayn menghela napas panjang. “Aku tahu.”
“Kalau kamu tahu, kenapa kamu melakukan ini?” Naomi hampir berteriak. “Dia cuma punya bibir sumbing! Itu bisa dioperasi! Banyak anak yang sembuh, Zayn! Mereka bisa hidup normal!”
Harapan itu terdengar jelas dalam suaranya. Harapan yang dia genggam mati-matian.
Namun Zayn justru menggeleng pelan. “Kamu terlalu naif, Naomi.”
Kata-kata itu menghantamnya.
“Ini bukan soal operasi sekali selesai,” lanjut Zayn. “Aku tahu dunia medis. Bahkan kalau dia operasi berkali-kali, garisnya tetap akan ada. Bekasnya tidak akan pernah benar-benar hilang! Kata temanku, anak dengan bibir sumbing itu banyak melakukan operasi beberapa kali baru bisa sembuh total! Belum lagi genetiknya. Kemungkinan besar saat dia punya keturunan nanti, akan ada anak sepertinya lagi!"
Naomi menatapnya, napasnya tercekat. “Jadi?” bisiknya lirih. “Jadi kamu menyerah begitu saja?”
Zayn menatap bayi itu sekilas, lalu memalingkan wajah.
“Sesuatu yang sejak lahir sudah rusak,” katanya dingin, “akan sulit diperbaiki sepenuhnya.”
Kalimat itu menggema di kepala Naomi. Rusak, Zayn bilang. Ia menatap Zayn dengan mata membesar, tidak percaya.
“Kamu... barusan bilang anakmu sendiri rusak?” suaranya pecah.
Zayn terdiam. Namun sekali lagi, diamnya lebih menyakitkan daripada bantahan.
Tangis Naomi berubah. Bukan lagi sekadar sedih. Tapi marah. Amarah yang membara di balik luka.
“Luar biasa...” katanya sambil tertawa pahit. “Aku kira aku menikah dengan pria yang punya hati. Ternyata aku salah besar!"
Zayn mengeraskan rahangnya. “Ini bukan soal hati. Ini soal masa depan.”
“MASA DEPAN SIAPA?” bentak Naomi. “Kamu? Keluargamu? Nama besar Hartanto itu?”
Ia menunjuk ke arah boks bayi. “Atau masa depan anakmu yang bahkan belum sempat kamu peluk dengan benar?!”
Ruangan itu terasa panas meski AC menyala dingin. Zayn akhirnya melangkah mendekat, tapi bukan untuk memeluk. Ia hanya meletakkan sebuah amplop tebal di atas meja.
“Aku tidak akan lari dari tanggung jawab,” katanya datar. “Di situ ada uang. Dan ini—”
Ia mengeluarkan sebuah kartu nama dan meletakkannya di atas amplop.
“Dokter bedah plastik terbaik yang aku kenal. Aku akan tanggung semua biaya operasi anak itu.”
Naomi menatap benda-benda itu seperti racun.
“Anak itu?” ulangnya lirih. “Kamu bahkan tidak mau menyebut namanya sekarang?”
Zayn tidak menjawab.
“Namanya Davin,” lanjut Naomi, air matanya jatuh lagi. “Davin Hartanto. Anakmu!”
Zayn menutup mata sejenak, lalu berkata pelan, “Mulai sekarang... tidak lagi. Tolong ganti nama belakangnya. Jangan pakai nama Hartanto," balasnya tanpa empati.
Hati Naomi benar-benar hancur saat itu juga. Ia menggenggam seprai dengan kuat, menahan dirinya agar tidak runtuh sepenuhnya.
“Pergilah!” katanya pelan, tapi penuh tekanan. “Kalau itu yang kamu mau.”
Zayn tidak langsung bergerak. Untuk sesaat, ada keraguan di wajahnya. Namun hanya sesaat.
“Aku akan urus semua administrasinya,” katanya sebelum berbalik. “Kamu tinggal tanda tangan.”
Naomi tertawa pahit. “Tenang saja,” katanya. “Aku tidak akan menahan pria yang bahkan tidak bisa menerima anaknya sendiri.”
Langkah Zayn terhenti sejenak di pintu. Tapi tidak menoleh. Kemudian dia pergi begitu saja. Meninggalkan Naomi dengan luka yang tidak terlihat, tapi jauh lebih dalam dari luka jahitan di tubuhnya.
Sunyi kembali menyelimuti ruangan itu. Hanya suara tangis kecil Davin yang terdengar.
Naomi menoleh. Air matanya kembali jatuh, tapi kali ini berbeda. Ia bangkit perlahan, menahan rasa sakit, lalu menggendong bayinya. Dipeluknya erat. Sangat erat.
“Dengar, Nak...” bisiknya dengan suara bergetar, namun penuh tekad. “Kamu tidak rusak.”
Ia mencium kening Davin berkali-kali. “Kamu tidak cacat.”
Tangisnya semakin deras. “Kamu tidak salah...”
Ia menarik napas dalam, mencoba menguatkan dirinya sendiri.
“Mama janji... Mama akan buktikan.”
Matanya yang sembab kini menyala oleh sesuatu yang baru. Bukan lagi sekadar kesedihan. Tapi tekad.
“Apa pun yang terjadi... Mama akan bikin semua orang yang meremehkan kamu menyesal.”
Naomi menatap pintu yang tadi ditutup Zayn. Tatapannya berubah dingin.
“Termasuk ayahmu sendiri.”
Naomi memeluk Davin lebih erat. Di tengah luka dan pengkhianatan, sesuatu telah lahir dalam dirinya. Bukan hanya seorang ibu. Tapi seorang pejuang.
...______...
*Guys, cerita ini sebenarnya terinpirasi kisah nyata author. Karena kebetulan anakku terlahir sumbing. Jadi di sini aku cuman mau menceritakan bagaimana perjuangan merawat anak yang terlahir sumbing. Tapi bagian cerita suami yang nggak menerima beda ya. Alhamdulillah suamiku baik banget. Hehe... Makasih udah yang baca cerita ini. Kisah ini aku peruntukkan untuk anakku 🤗🫣
bahkan aq baca dri awal sampai sekarang sering nangesss,
😭😭 soalnya gak gampang ngurus bayi seperti Davin..
semngatt kak dan sukses selalu novelmu 🥰🥰😘😘