NovelToon NovelToon
S2 Menikahi Mantan, Selamanya

S2 Menikahi Mantan, Selamanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan
Popularitas:163
Nilai: 5
Nama Author: VYI_syi

Setelah semua yang mereka lewati, hidup Luna dan Isaac tidak sepenuhnya tenang.
Di balik hangatnya keluarga yang mereka bangun, muncul pertanyaan tentang masa depan—dan hal yang belum mereka miliki.
Perlahan, kecemasan tumbuh dalam diri Luna, membuatnya mulai meragukan hal yang dulu ia yakini.
Sementara Isaac tetap di tempat yang sama—setia dan bertahan, meski hubungannya terus diuji.
Di season kedua ini, mereka akan menghadapi konflik yang lebih dalam—tentang cinta, ketakutan, dan harapan yang tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Akankah mereka tetap bertahan, atau justru kehilangan satu sama lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Bawah Langit Pantai

Beberapa hari setelah kembalinya ketenangan di perbukitan, Isaac tampak jauh lebih segar. Warna di wajahnya telah kembali, dan binar matanya tidak lagi redup oleh beban pekerjaan. Pagi itu, ia berdiri di teras sembari menghirup aroma kopi yang disiapkan Luna. Namun, ada sesuatu yang berbeda; sebuah kejutan yang telah ia persiapkan dengan sangat matang sejak ia masih berada di rumah sakit kota minggu lalu.

Isaac mengingat sebuah gumaman kecil yang keluar dari bibir Luna beberapa bulan yang lalu, saat istrinya itu terlelap karena kelelahan setelah mengurus administrasi panti. Saat itu, Luna berbisik tentang kerinduannya pada suara ombak dan hamparan pasir putih. Sebuah keinginan sederhana yang mungkin Luna sendiri sudah lupakan, namun bagi Isaac, setiap bisikan istrinya adalah perintah yang harus ia tunaikan.

"Ke kota?" Luna menghentikan kegiatannya merapikan meja makan, menatap Isaac dengan kening berkerut. "Tapi Mas, anak-anak baru saja memulai jadwal ujian tengah semester mereka. Dan panti sedang dalam masa audit internal."

Isaac berjalan mendekat, melingkarkan lengannya di pinggang Luna dengan lembut. "Anak-anak akan baik-baik saja, Sayang. Ada Ibu Sari dan para pengasuh lainnya yang sudah sangat berpengalaman. Aku sudah berbicara dengan mereka semalam. Ini saatnya kau beristirahat. Kau sudah bertahun-tahun tidak menginjakkan kaki di kota, apalagi berlibur."

Luna terdiam sejenak. Memang benar, sejak The Dendra Foundation berdiri dan mereka menikah, fokusnya sepenuhnya tersita oleh lima belas nyawa mungil di perbukitan itu. Ia nyaris melupakan rasanya menjadi seorang wanita yang memiliki waktu untuk dirinya sendiri.

"Hanya beberapa hari," bujuk Isaac sembari mengecup kening Luna. "Anggap saja ini sebagai bulan madu yang sempat tertunda karena kesibukanku."

Setelah melalui proses perizinan yang cukup panjang dengan Ibu Sari—yang justru sangat mendukung agar Luna mendapatkan penyegaran—akhirnya mereka berangkat. Perjalanan menuju kota kali ini terasa sangat berbeda bagi Luna. Jika biasanya perjalanan ini identik dengan ketegangan bisnis bagi Isaac, kali ini suasana di dalam mobil SUV hitam itu terasa sangat cair dan penuh tawa.

Isaac menyalakan pemutar musik, memilih daftar lagu yang berisi tembang-tembang favorit mereka berdua. Tanpa rasa malu, Isaac mulai menyenandungkan lirik lagu ballad romantis, yang kemudian disahuti oleh tawa renyah Luna. Mereka bernyanyi bersama, suara Luna yang lembut berpadu dengan suara bariton Isaac yang berat namun merdu. Di dalam kabin mobil itu, mereka seolah kembali menjadi sepasang kekasih yang baru saja memulai masa pendekatan, mengabaikan status mereka sebagai pemilik panti asuhan yang disegani.

Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, mobil tidak berhenti di tengah kota yang bising. Isaac terus memacu kendaraannya menuju pesisir yang lebih tenang. Hingga akhirnya, mereka tiba di sebuah area eksklusif yang tersembunyi dari hiruk-pikuk wisatawan.

Mobil berhenti di depan sebuah bangunan megah dengan gaya arsitektur tropis modern yang didominasi oleh kaca dan kayu jati. Isaac turun terlebih dahulu, lalu berjalan memutar untuk membukakan pintu mobil bagi Luna dengan gerakan yang sangat sopan dan penuh penghormatan.

"Silakan turun, Nyonya Isaac," ujar Isaac sembari mengulurkan tangannya.

Begitu kaki Luna menyentuh tanah, ia terpaku. Di hadapannya berdiri sebuah villa mewah dengan pemandangan langsung ke arah samudera biru yang tak bertepi. Suara deburan ombak yang ritmis menyapa telinganya, persis seperti apa yang pernah ia impikan. Angin laut yang membawa aroma garam menerpa wajahnya, memberikan sensasi dingin yang menyegarkan.

"Mas... ini indah sekali," bisik Luna dengan mata yang berbinar takjub. "Bagaimana kau bisa menemukan tempat seindah ini?"

Isaac tidak menjawab dengan kata-kata. Ia merangkul pinggang Luna, menariknya agar lebih dekat, dan mulai berjalan bersama menuju teras villa yang menghadap langsung ke pantai. Villa ini telah disewa Isaac jauh-jauh hari tanpa sepengetahuan siapa pun. Ia ingin memberikan dunia yang berbeda bagi Luna, sebuah tempat di mana tidak ada tumpukan berkas panti atau dering telepon bisnis yang mengganggu.

"Kau pernah mengatakannya dalam tidurmu, Sayang," ujar Isaac pelan saat mereka berdiri di tepi pembatas balkon, menatap matahari yang perlahan mulai turun ke arah cakrawala. "Kau merindukan pantai. Dan aku berjanji pada diriku sendiri untuk membawamu ke sini begitu badai di kota mereda."

Luna menoleh, menatap suaminya dengan perasaan haru yang mendalam. Ia bahkan tidak ingat pernah menggumamkan hal itu. "Terima kasih, Mas. Kau benar-benar memperhatikan setiap detail kecil dariku."

Isaac tersenyum misterius. Ia mempererat rangkulannya di pinggang Luna, menarik tubuh istrinya agar menempel sempurna pada tubuhnya. Ia kemudian menunduk sedikit, membisikkan sesuatu tepat di telinga Luna dengan nada suara yang rendah namun penuh dengan maksud tersembunyi.

"Dan di sinilah, Luna... aku akan benar-benar melakukannya," bisik Isaac.

Luna mengernyitkan keningnya, menatap wajah Isaac dengan tatapan bingung. "Melakukan apa? Menulis desain baru? Atau berjalan-jalan di tepi pantai?"

Melihat ekspresi polos istrinya yang belum menyadari maksud pembicaraan mereka beberapa hari lalu di ranjang, Isaac hanya tersenyum lebar. Ia memilih untuk tidak menjelaskan lebih lanjut, membiarkan teka-teki itu menggantung di udara laut. Ia sangat menyukai sisi Luna yang terkadang tidak peka terhadap godaan-godaan nakalnya, karena itu memberinya kesempatan untuk memberikan kejutan yang lebih manis nantinya.

"Kau akan tahu nanti malam, Sayang," ujar Isaac sembari mengacak rambut Luna dengan gemas.

Pikiran Isaac saat itu tentu saja tertuju pada pengakuan Luna pagi itu di perbukitan—tentang keinginan Luna untuk memiliki bayi. Di villa yang tenang ini, jauh dari gangguan dunia luar, Isaac berencana untuk mewujudkan keinginan itu dengan segenap cinta dan dedikasinya. Baginya, pemandangan pantai ini hanyalah latar belakang, karena subjek utama yang paling indah dalam hidupnya tetaplah wanita yang kini berada di pelukannya.

Luna tertawa kecil, meskipun hatinya masih bertanya-tanya, ia memilih untuk menikmati momen kebersamaan mereka. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Isaac, menatap burung-burung camar yang terbang rendah di atas permukaan air. Malam ini, di bawah naungan langit pantai yang bertabur bintang, sebuah babak baru dalam kehidupan mereka akan segera dimulai—sebuah babak yang penuh dengan harapan akan hadirnya nyawa baru yang akan melengkapi kebahagiaan mereka di masa depan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!