NovelToon NovelToon
Terlanjur Menikah Dengan Musuhku

Terlanjur Menikah Dengan Musuhku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Romansa
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Leon Messi

Kesalahpahaman membuat dua remaja seperti Tom & Jery ini terpaksa menikah di usia 18 tahun. Qanita Langit Zoe adalah gadis nakal dengan sejuta ide. Baginya membuat ulah adalah sebuah hobi. Sejak awal sekolah dia dipertemukan dengan Mahendra Ghabumi Adelard, salah seorang bad boy yang hobi membuatnya emosi.

Langit menyukai Albiru, dokter magang tampan yang tinggal tepat di sebelah rumahnya. Namun bagaimana jadinya jika kesalahanpahaman malah membuatnya harus menikah diam-diam dengan Bumi, bukan dengan pria yang dia sukai.

Apalagi begitu menikah Bumi mempunyai sejuta rahasia yang baru Langit ketahui.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leon Messi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 33

[33] Video Call sama Paksu

Mata Langit berbinar senang begitu motor besar Bumi berhenti di persimpangan yang sudah mereka sepakati. Saking senangnya dia sampai melompat ke depan cowok itu.

Bumi membuka kaca helmnya lalu menatap Langit.

"Belum lama nunggu kan?" Ia ambil helm Langit yang dibawanya lalu memasangkan di kepala Langit. Entah kenapa Bumi sudah merasa biasa dengan hal tersebut.

"Belum." Langit memberi gelengan dan membiarkan Bumi. Dia juga tidak keberatan dipasangkan helm.

"Mau jajan di mana?"

"Terserah."

"Harus terserah jawabannya?"

"Iya terserah."

"Kalau terserah jangan marah ya gue bawa

Ke mana aja?" Bumi menyipit. Cewek ini kalau bilang terserah nanti giliran di bawa protes.

Langit mengacungkan jempolnya. "Yang penting jajan." Dia segera naik ke atas motor Bumi dengan nyaman.

Motor sport itu kemudian melaju ke jalan raya membaur bersama kendaraan lain. Langit tersenyum menatap lalu lalang sekitarnya, berbeda dengan Bumi yang lebih banyak diam.

Pada akhirnya Bumi ngajak ke kedai ice cream. Langit langsung kegirangan dan bersemangat masuk. Sampai tidak sadar belum lepas helm.

Bumi geleng-geleng kepala. Persis bocil. "CIL HELM!"

Langkah Langit yang sudah sampai ambang pintu terhenti, dia lekas berbalik badan dengan cengiran.

"Kepala tinggalin dulu." Bumi menerima helm yang cewek itu beri lalu juga ikut turun. Dia melepas helmnya juga.

"Kalau ditinggal gue udah kayak hantu tanpa kepala dong? Ih serem." Langit

Bergidik. Bumi menatap datar.

Dia lalu menunduk dan menarik tangan Langit untuk digenggam. Kemudian menariknya lembut masuk ke dalam kedai ice cream. Langit tersentak, dia mengerjap. Walaupun ini bukan pertama kalinya, tetap saja sentuhan itu memberikan sensasi aneh.

Tangan Bumi hangat dan nyaman.

"Mau ice apa?"

Dia tersadar saat mereka sudah berdiri untuk memesan. Langit menatap menunya dan memilih ice cream stowbery dalam mangkuk besar dengan toping chocolatos dan taburan oreo.

"Lo apa?"

"Berdua aja."

"Berdua?" tanyanya kaget.

"Sendoknya tolong dua ya kak," pesan Bumi. "Porsinya dibanyakin aja."

"Baik, bisa ditunggu di meja ya Mas Mbak.

Langit mengerjapkan matanya menatap

Bumi. cowok yang masih memakai jaket itu membawanya ke meja di sudut dan duduk berhadapan. Langit pikir Bumi juga bakal melepaskan genggaman tangannya. Tapi di atas mereka tangan mereka masih saling tertaut.

"Senyaman itu pegang tangan gue?"

Bumi melirik tangan mereka dengan datang. "Gak usah dilepas sampai ice creamnya dateng."

"Kenapa?"

"Ada alasan khusus kenapa gue pegang tangan istri sendiri?"

Langit diam sesaat. Dia memberi gelengan dan memperhatikan ekspresi Bumi yang berbeda. Cowok itu seperti tengah memikirkan sesuatu.

"Lo lagi ada problem?""

Bumi menggeleng.

"Ada masalah sama kerjaan?"

"Aman aja."

"Ada masalah sama biaya ibu?"

"Udah gue bayar yang tagihan bulan ini."

"Ada masalah di mana?"

Dua alis Bumi naik. "Gue kayak punya masalah?"

"Gue pikir iya."

"Gue lagi mikir aja gimana buat lo makin sayang gue." Bumi menarik kedua sudut bibirnya dan mengedipkan mata.

"Idih."

Bumi terkekeh. "Kepala lo gak sakit lagi kan?"

"Enggak kok."

"Nanti kalau papa belum jemput ke Kafe aja nunggu."

"Iya."

"Dan ingat, lo jangan mau ditebengin siapapun pulang kecuali gue."

"Iya."

Bumi tersenyum. Satu tangannya terulur

Mengusap lembut kepala Langit. "Pinter."

"Lo kenapa sih suka banget elus kepala gue?"

"Ini bentuk sayangnya gue."

"Memangnya lo sayang gue?" Langit menatap lekat kornea hitam itu. Iya jadi cukup penasaran. Bumi memperlakukannya dengan lembut walaupun tindakan cowok itu membuatnya spot jantung. Tapi dia juga penasaran bagaimana perasaan Bumi.

"Sejak kapan?"

"Gue udah tertarik sama lo sejak kita ketemu. Kalau gue gak tertarik kenapa gue suka ganggu lo dan gak dekat siapapun?"

"Lo kan ganggu gue karena memang punya hobi bikin gue emosi."

Bumi tertawa. "Logika aja. Ada gitu cowok yang bakal repot cari cara biar banyak interaksi sama si cewek walaupun isinya ribut mulu?"

Langit terdiam. Benar juga. "Kenapa enggak langsung pdkt sama gue? Kayak cowok

Lain."

"Gue punya cara sendiri nunjukin perasaan gue."

"Kan bikin gue kesal sama lo."

"Seengaknya lo udah biasa dengan kehadiran gue kan? Sekali gue ilang pasti dicariin."

"Ih sumpah ya lo pede banget."

"Yakin?"

Pertanyaan Bumi membuatnya ragu. Memang saat itu ketika Bumi tidak ada kabar dia merasa ada yang kurang. Langit sampai tanya Liam dan Hugo.

"Yakinlah!" Langit gengsi mengakui.

"Lo gimana?"

"Apanya?"

Sebelas alis Bumi naik. Langit yang paham arahnya menggeleng ragu. "Gue bingung Bum. Gue gak tahu."

"Gak apa pelan-pelan."

"Lo gak marah kan?"

"Hanya karena perasaan lo belum buat gue?"

Langit mengangguk. "Lo tahu kemarin gue suka kak Biru, tapi gue lagi move on kok."

"It's oke. Perasaan gak bisa dipaksa. Entah harus berbulan-bulan, atau bertahun-tahun. Gue akan nunggu perasaan lo seutuhnya buat gue."

"Lo sabar banget ya Bum," ringisnya. "Seharusnya lo marah. Secara gue kan istri lo."

"Gunanya gue marah apa? Apa itu bakal buat perasaan lo tumbuh? Enggak kan? Yang ada lo benci gue dan gak ada artinya lagi kalau udah gitu. Lagipula kita nikahnya tanpa rencana."

"Gue jadi terharu."

Bumi menarik kedua sudut bibirnya. Pesanan mereka datang kemudian. Satu mangkuk ice cream berdua. Karena ngiler, Langit langsung memakannya. Sensasi dingin yang terasa di lidah dan ke kerongkongan membuatnya senang bukan main.

Bumi memperhatikan Langit. "Enak?"

"Hem. Nih cobain." Dia menyodorkan sesendok ice cream yang langsung diterima Bumi. "Enak kan?"

Bumi memberi anggukan. Dia makan stay cool, beda dengan Langit yang memakan dengan rakus. Bumi terkekeh.

"Lo senang makan ice cream aja?"

"Senang banget."

"Kalau gitu gue akan cari uang banyak biar lo puas makan ice cream dan apapun yang lo mau."

"Dompet lo habis dong."

"Kalau itu buat lo senang kenapa enggak?"

Perasaan Langit berdebar. Bumi itu tidak perlu cara mahal untuk membuatnya merasa senang dan diratukan. Hanya dengan hal kecil dan sederhana, dia sudah merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia.

"Jangan gitu. Auto miskin gimana?"

"Gak akan. Kalau istri senang, rezeki

Lancar."

"Gitu ya?"

"Hm."

"Ya udah beli rumah dan mobil sekarang yuk!"

Bumi melotot. Langit tertawa.

***

"Mama. Langit mau tanya sesuatu deh."

Langit memperhatikan mamanya yang sedang memasak di dapur. Dia sendiri duduk di pantry seraya mengiris bawang.

Orlin lagi di depan wajan tengah menggoreng. Lengkap dengan celemeknya.

"Kakak mau tanya apa?" Orlin menoleh sesaat.

"Papa kan banyak uang. Jadi dosen, terus juga punya jaga restauran yang udah bercabang. Kakek nenek juga punya perusahaan. Hidup kita berkecukupan. Tapi mama kenapa gak pakai pembantu aja?"

"Bunda Kya sama Ayah Rakha pakai

Pembantu. Oma Apa juga punya. Mama enggak, mama ngurusin rumah, masak tiap hari, beresin rumah. Nyuci baju, setrika, belum lagi urus kami. Langit aja masih bandel. Gara Gea masih kelas 3. Terus Ibra masih kecil. Mama gak capek? Gak repot?" tanyanya bertubi-tubi.

Orlin tersenyum mendengar serentetan pertanyaan itu. Dia berbalik badan dan mendekat pada Langit.

"Langit aja mama suruh kadang mau kadang enggak. Banyaknya malas. Apalagi kalau pagi udah diganggu tidurnya buat masak atau beres rumah. Gak bayangin mama yang everyday ngulang hal sama terus. Gak bosan Ma?"

"Capek itu pasti ada. Jenuh juga."

"Terus Ma?"

Orlin ikut duduk di hadapan putrinya setelah menarik bangku tinggi. "Mama gak mau pahalanya dibagi."

"Eh pahala Ma?"

"Iya pahala Kak."

"Langit gak ngerti."

"Mama contohin ya Sayang. Misalnya mama bangun pagi buat masak. Terus masakan mama dimakan sama kak Langit. Kak Langit sekolah cari ilmu dengan perut kenyang dan tubuh bertenaga. Pahala cari ilmunya dapat juga buat mama. Selain itu, kak Langit bawa ibadah nih. Sholat misalnya. Kak Langit sholat, eh mama gak ngapain-ngapain pahalanya juga ngalir. Enak kan?"

"Selain itu. Papa kerja dengan perut kenyang, terus cari nafkah. Itu kan berpahala sayang, termasuk ibadah. Nah mama juga dapat pahala. Padahal cuman masak dan kasih keluarga mama makan."

Langit mengangga. "Sesimpel itu Ma?"

Orlin mengangguk. "Nyari pahala segampang itu sayang. Allah itu baik banget. Dan lagipula pahalanya sama dengan pahala orang yang mengerjakan. Tapi dengan syarat nih ikhlas. Kalau kita menggerutu ya cuman dapat lelahnya aja."

"Saat mama capek atau malas, mama bilang gini, gak apa-apa capek. Tapi lumayan

Pahalanya double. Pahala papa cari nafkah dapat, pahala kakak sama adik-adik cari ilmu juga dapat. Pahala ibadah juga dapat. Satu hari banyak pahala masuk dari sana sini. Mama gak ikut kerja, mama juga gak ikut nuntut ilmu. Tapi dapat pahalanya modal masak aja. Coba kakak kalikan bertahun-tahun. Udah berapa itu pahalanya?"

Langit takjub. "Woah itu sih banyak Ma."

"Kita memang gak tahu berapa jumlah pahala kira. Tapi kita punya banyak cara untuk membuat Allah ridha dengan niat kita."

"Gak cuman masak. Nyuci baju, setrika pakaian itu bakal mengalirkan pahala juga sayang. Dipakai untuk menutupi aurat, dipakai juga untuk ibadah iya kan?"

Langit mengangguk. Iya juga. Dia membenarkan ucapan mamanya.

"Intinya gini. Semua pekerjaan rumah itu kalau kita kerjakan dengan sepenuh hati dan ikhlas karena Allah. Kita dapat kebaikan dari sana Kak Langit. Mama gak mau aja itu mama kasih ke pembantu."

"Lagipula mama cukup ringan karena papamu selalu bantu mama soal rumah. Kak Langit lihat gimana papa di rumah kan?"

Langit mengangguk. Iya selama ini Ezhar selalu bantu mamanya soal rumah. Kadang bantu masak, bantu nyapu dan pekerjaan lainnya.

"Apapun itu akan terasa menyenangkan dikerjakan kalau kita tahu nilai kebaikan yang bakal kita dapat."

"Dua wanita cantik ini bahas apa nih di dapur?"

Ezhar tiba-tiba datang. Pria itu tersenyum dan mencium puncak kepala Istrinya lalu putrinya.

"Kak Langit sama mama bahas pahala masak Pa. Kalau gitu gak apa deh sering masak," ucapnya. "Lumayan dapat pahala."

Orlin tersenyum. Langit dengan semangat menyelesaikan mengiris bawang. Ezhar menatap istrinya senang.

"Papa yakin kak Langit itu bakal kayak Mama."

"Hem. Langit bakal kayak mama dan papa," Dia menatap keduanya yang selalu romantis dan saling tolong menolong urusan rumah. Bumi mendadak menyeruak ke dalam pikirannya.

Teringat bagaimana Bumi yang berkata kalau pekerjaan rumah lakukan berdua.

Suaminya itu juga memperlakukannya dengan lembut.

Apa kelak orang tuanya akan menjadi gambaran dia dan Bumi di masa depan juga?

Langit mengulum senyum menatap mereka.

***

"Bumi, kita duluan."

Bumi mengangkat tangannya dan memberi anggukan pada karyawan kafe yang sudah menyandang tas mereka dan meninggalkan kafe. Dia tinggal seorang diri.

Bumi yang masih memakai kaus kafe dan topinya itu kini duduk di salah satu bangku.

Dia menyadarkan punggungnya yang terasa pegal dengan nyaman di sandaran

Kursi. Netranya menatap langit-langit Kafe yang menyisakan cahaya lampu temaram.

Matanya terpejam sesaat. Tubuhnya teramat lelah. Rasanya dia ingin segera pulang dan tidur. Tapi memejamkan mata malah membuat kalimat Alden di sekolah mengganggunya.

"Gue suka Langit."

"Jangan ganggu Langit kalau ada gue. Bisa kan?"

"Gue serius sama dia."

Bumi membuang nafas berat dan membuka matanya. Bersamaan dengan itu notifikasi yang masuk membuatnya lekas meraih benda pipih di atas meja itu.

Langit

[Assalamu'alaikum Paksu]

Hanya notifikasi dan salam. Tapi membuat bibir itu membentuk sabit. Bumi mengubah posisi duduknya dan lekas membalas.

Anda

[Wa'alaikumsalam Sayang?]

Langit

[Sayang sayang lagi kan-.-]

Bumi terkekeh. Baru chat sama Langit, letihnya mendadak hilang.

Langit

[Lo udah pulang?]

Anda

[Belum. Gue masih di Kafe]

Langit

[Udah setengah 12 malam loh ini. Ngapain lo masih di sana?]

Anda

[Nungguin di chat ayang suruh pulang dulu]

Langit

[APAAN SIH]

Bumi tertawa lagi. Dia yakin wajah Langit tengah memerah di sana.

Anda

[Kenapa belum tidur??]

Langit

[Gue belum ngantuk]

[Lo udah makan?]

Anda

[Udah sayang]

Langit

[Oke deh]

Anda

[Tidur. Ntar lo telat lagi]

Langit

[Bentar lagi]

Bumi menatap chat mereka. Dia jadi pengen lihat wajah Langit. Jarinya menyentuh icon video call. Bumi berdehem sesaat dan memposisikan hingga wajahnya terlihat jelas.

Sedangkan di sebrang sana. Langit di dalam kamarnya melotot tiba-tiba divideo call.

Ini pertama kalinya.

Dia menatap panik ponselnya. Belum langsung mengangkat. Sebelum menerima, Langit kabur ke depan cermin dan menatap dirinya yang kini memakai piyama dengan rambut digerai. Dia mematut dirinya, lalu melirik lip tint dan bedan bubuk lalu memakainya. Entah apa gunanya. Padahal hanya video call. Setelah merapikan rambutnya, Langit lekas naik ke atas kasur dan mengangkat panggilan.

Senyuman manis Bumi menyambutnya. Langit dibuat terpana. Apalagi wajah Bumi yang mendapat cahaya lampu remang.

Kok seganteng itu sih?

"Ck. Lama banget angkatnya. Jangan-jangan lo dandan dulu ya?" tanya Bumi tepat sasaran. Cowok itu juga dibuat terpana dengan kecantikan istrinya tanpa hijab. Tapi Bumi menyembunyikannya.

"lih enggak. Ngapain pakai dandan segala," kilah Langit merotasikan bola matanya ke arah lain.

"Lo cantik."

Cantik. Hanya kata itu tapi berefek pada Langit yang sontak tersenyum dengan wajah panas. "Dih gombal. Semua cewek paling dibilang cantik."

"Iya lo cantik," ungkap Bumi jujur.

Langit menahan senyum. "Apaan sih."

"Cie ayang gue salting ya?" Bumi tertawa. Ia menikmati senyum malu itu dan men-screnshootnya untuk disimpan.

"Ayang ayang apa sih."

"Hm ayang?"

Seksi

Langit sontak menutup layar Ponselnya dan mengipas wajahnya. Tolong kenapa kata hm ayang itu terasa manis di telinganya?

"Kenapa ditutup? Salting ya?"

"Ish enggak. Siapa juga salting. Yang bilang gue cantik mah udah banyak."

"Kenapa gak dibuka? Buka dong Kameranya. Masih mau lihat ayang nih."

"Geli ih Bum."

"Geli tapi suka kan?" goda Bumi terkekeh.

Langit kembali menahan senyum. Setelah mengatur ekspresinya dia kembali membuka kamera dan menatap Bumi. "Ih mana ada."

"Di sana udah sepi?"

"Udah. Tinggal gue sendiri."

"Kenapa gak pulang?"

"Kan di bilang nungguin ayang nyuruh pulang."

Blush.

"Tuh kan gombal terus."

Bumi tertawa. Cowok itu lalu melepas topinya dan menyugar rambut. Langit memperhatikan lekat dengan jantung berdebat. Cuman menyugar rambut, tapi memberi pengaruh kuat bagi yang melihat.

"Bum gelap banget di sana. Pulang. Ntar dilariin suster bolong."

"Karena gue cakep lo takut?"

"Gue gak mau saingan sama hantu."

Bumi terkekeh lagi.

"Gue masih 18 tahun. Masa udah janda muda aja kalau lo dibawa kabur."

"Iya ini gue pulang. Mau ganti baju dulu."

Bumi lalu berdiri dan membawa ponselnya serta ke ruang ganti. Dia menaruh ponselnya di dalam loker seraya ganti baju.

Langit yang melihat Bumi buka baju langsung menutup wajahnya dengan mata membola. "BUMIII LO GANTI BAJU KAN BISA MATIKAN DULU KAMERANYA."

"Gak apa-apa. Gue kasih lihat gratis."

"Ish lo ini. Cepat ganti baju."

"Iya Munah." Bumi lalu mengambil bajunya. Langit mengintip di sela jari-jarinya. Tubuh yang atletis, dada yang bidang, ada roti sobek lagi.

"Tubuh lo atletis juga ya Bum," ceplosnya.

Eh?

"Iya. Ototnya juga kekar nih. Kalau meluk

Lo sabi nih bikin nyaman."

"Dasar."

Bumi tertawa. Setelah memakai kembali bajunya dia memakai jaket dan tasnya. Lalu beranjak keluar kafe dengan kunci motor di tangannya.

"Udah mau pulang?"

"Hem."

"Ya udah matikan aja."

"Ntar di rumah gue telfon lagi," ujar Bumi.

"Kenapa?"

"Sleep Call?"

"Kayak orang bucin lo."

"Ya gak apa-apa. Lihat wajah lo sambil tidur kayaknya bikin nyenyak. Atau gue ke rumah mama papa aja kali. Ya gak? Langsung pandangin, tidur di kamar lo kan?" Matanya mengerling.

"Iih apaan sih. Lo mau cari kesempatan kan? Pulang sana. Jangan lupa cuci muka, gosok gigi. Gak usah mandi tengah malam.

Entar kena paru-paru basah. Daah assalamu'alaikum," cerosos Langit lalu menutup telfonnya sepihak. Bumi tertawa lagi. Langit pasti sedang salah tingkah.

Bumi lalu melakukan selfie dan mengirim ke Langit dengan kalimat,

[Selamat malam Sayang]

Chatnya langsung dibaca. Langit di tempatnya tersenyum menatap foto itu dan menyimpan wajahnya dibalik bantal dengan senyuman tertahan.

"Malam juga Bumi," bisiknya pelan.

1
Sitilestari Ikhsan
kpn up ni lama
Akira Kun: kalau sudah update, berarti besok GK akan update lagi tunggu besok selanjut baru update, karena kurang peminat ya,
total 1 replies
Akira Kun
kalau seru jangan lupa like, ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!