NovelToon NovelToon
Terlanjur Menikah Dengan Musuhku

Terlanjur Menikah Dengan Musuhku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:801
Nilai: 5
Nama Author: Leon Messi

Kesalahpahaman membuat dua remaja seperti Tom & Jery ini terpaksa menikah di usia 18 tahun. Qanita Langit Zoe adalah gadis nakal dengan sejuta ide. Baginya membuat ulah adalah sebuah hobi. Sejak awal sekolah dia dipertemukan dengan Mahendra Ghabumi Adelard, salah seorang bad boy yang hobi membuatnya emosi.

Langit menyukai Albiru, dokter magang tampan yang tinggal tepat di sebelah rumahnya. Namun bagaimana jadinya jika kesalahanpahaman malah membuatnya harus menikah diam-diam dengan Bumi, bukan dengan pria yang dia sukai.

Apalagi begitu menikah Bumi mempunyai sejuta rahasia yang baru Langit ketahui.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leon Messi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 24

[24] Digombalin Paksu

Tok tok tok!

"Bumiiii!"

Minggu pagi. Langit sedang berada di depan minimalis milik Bumi. Dia membawa rentang berisi makanan dan juga bajunya untuk nanti pergi ke pesta ulang tahun Alden.

Ini masih jam 7 pagi. Tapi Langit sudah sangat berisik. Menggedor pintu pula.

Semalam dia dapat izin untuk ke pesta Alden tapi perginya sama Bumi. Ezhar dan Orlin juga menyuruhnya masak pagi.

Mumpung hari minggu. Kata Orlin, sekalian siapkan sarapan dan belajar jadi istri yang baik. Makanya pagi-pagi dia sudah di sini. Ezhar langsung antar dia ke depan rumah.

"Bumiii!"

Tidak ada sahutan sama sekali. Langit curiga Bumi masih tidur. Dia mana punya kunci rumah. Gimana cara masuk coba.

Langit melihat sekelilingnya. Dia berdecak. Lalu mengeluarkan ponsel. Nomor

Pertama yang dia cari kontak bernama 'Bumi Luknut'

Panggilan pertama tidak di angkat.

Panggilan kedua dan ketiga, suara serak kha bhs bangun tidur menyambutnya.

"Hm?"

"Bumii...," teriaknya, Langit yakin disebrang sana Bumi langsung menjauhkan ponsel karena berisik.

"Ck. Berisik lo pagi-pagi."

Tuh kan

"Bukain pintu dong paksu. Gue di depan." Bumi di tempat tidurnya mengernyit. Dia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh pagi. "Ini masih pagi. Ngapain lo ke sini?"

"Jadi istri yang baiklah. Cepat dong dibuka."

"Iyaa... " Bumi menyingkap selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Matanya masih mengantuk berat. Tidur jam 12 kadang lewat jika balapan. Bangun subuh, kalau weekday langsung bergegas sekolah. Hanya hari minggu dia dapat menikmati tidurnya kembali.

"Cepat Bumii."

"Sabar Munah. Gue perlu jalan. Lo pikir gue punya jurus menghilang satu detik sampai di pintu?"

"Abis gue di gigit nyamuk nih. Kan gak bestfriend forever."

"Bilang aja gitu sama nyamuknya. Biar minggat sekalian." Bumi keluar pintu kamarnya dan berjalan menuju pintu depan.

"Gue gak bisa bahasa nyamuk."

"Bahasa Mandarin aja."

Langit memutar bola matanya jengah.

"Lucu lo pagi-pagi."

Klek!

Pintu terbuka kemudian. Langit menurunkan ponselnya. Tapi saat dia menatap Bumi, dia berteriak dan menutup mata karena cowok itu hanya memakai celana pendek. Sedang badan bagian atasnya telanjang. Menampakkan otot dan kotak-kotak di perutnya.

"Aaa Bumi lo pakai baju doooong!"

"Hah?"

Bumi dengan wajah masih ngantuknya

Dan rambut yang acakan mengernyit. Kepalanya menunduk menatap badannya.

"Baju lo Bumi!"

"Kenapa sih? Lah lo kan istri gue." Sebelah alisnya naik. Tidak salah kan dia?

"Dih apaan sih lo. Gak usah pamer badan."

Bumi menarik kedua sudut bibirnya. Dia memperhatikan mata Langit yang tertutup. "Kenapa? Lo malu?"

"Gak usah nanya kalau lo tahu."

Bumi menyeringai. Kalau gini, dia jadi dapat ide menjahili Langit. "Buka matanya dong sayang," pintanya dengan suara manja.

"Hih apaan sih gak mau. Pakai baju saja. Kalau gak, gue pulang nih!" ancamnya. Selain jadi malu melihat badan Bumi, dia juga merasakan gelanjar yang aneh akan kata sayang itu.

"Kala mau datang itu gak boleh balik."

"Ah tahu. Gue mau pu-" Masih menutup mata. Langit hendak berbalik badan. Namun Bumi keburu menarik tangan Langit hingga tubuh gadis itu menabrak dada bidang Bumi.

Mata Langit Releks terbuka. Hal pertama

Yang dia lihat adalah dada telanjang Bumi. Matanya membulat. Tubuhnya panas dingin.

Blush!

Wajah Langit sempurna merah.

Jantungnya bertalu-talu. Tidak hanya Langit yang merasakan hal tersebut. Bumi yang tadinya hanya berniat jahil, berdebar karena tindakannya sendiri.

Dia menunduk menatap Langit dengan wajah memerahnya.

Sepersekian keduanya saling tatap hingga Langit mendorong tubuh Bumi hingga jatuh ke lantai.

"Aww!"

Pantatnya mencium lantai. Bumi melotot.

Yang dipelototi malah berkacak pinggang. "Lo ya. Awas aja lo macam-macam sama gue!" Dibalik jantung yang terus berdetak dan muka yang malu, Langit sebisa mungkin terlihat biasa saja.

"Sakit Munah!"

"Salah sendiri!" kesalnya lalu berjalan masuk ke dapur. Bumi berdecak. Ia berdiri dan lekas menutup pintu lalu menyusul Langit ke dapur.

Gadis itu langsung menaruh rentang yang dia bawa di atas meja makan, lalu beranjak mengambil piring dan mangkuk di lemari.

Bumi menarik kursi untuk duduk.

"Bumi lo pakai baju gak?!"

"Nanti. Lo bawa apa?" Bumi mengintip rantang yang Langit bawa. Dia buka sekalian. Senyumnya melengkung melihat banyak jenis makanan. Tidak hanya lauk, juga ada sayur dan sambal.

"Pakai baju gak lo!" Langit berbalik mengacungkan sapu. Bumi melotot.

"Gak usah pakai sapu Munah!"

"Ganti gak! Nih-"

Langit yang akan memukulnya membuat Bumi sontak berdiri. "KDRT lo."

"Ganti cepat ih!"

"Loh tu harus biasain. Ntar juga gue bakal sering buka baju kalau kita serumah." Pipi Langit memerah. Dia mendadak panas dingin.

"Mesum lo! Ganti gak? Kalau gak pakai baju. Gak gue kasih makan!" ancamnya melotot.

"Astaghfirullah tega banget. Lo bisa janda

Muda kalau gue mati kelaparan. Mau?"

"Ih kok lo gitu sih."

"Makanya dikasih makan sayang."

Pipi Langit memerah lagi. "Apa sih panggil sayang. Ganti sana!"

"Kenapa? Gak boleh panggil sayang?"

"Gak!"

"Sayang?" Pipi yang memerah itu buat Bumi candu. Dia jadi gencar menggoda. Perempuan itu dipanggil sayang aja udah malu.

"Bumi lo ya!"

"Apa Sayang?"

"Ish tahu ah! Gelap!" Langit berbalik badan kembali ke dapur. Bumi menahan tawa. Dia baru tahu Langit segemas itu kalau salah tingkah.

"Ke atas dulu ganti baju ya sayang?" godanya lagi.

Langit menutup telinga. "Gak dengar!" Dia menaruh sapu. Sekarang malu lihat wajah Bumi. Langkah kaki terdengar menjauh kemudian. Bumi sudah pergi. Baru dia berbalik badan lagi. Langit mengipas-ngipasi

Wajahnya.

"Kok pipi gue panas sih!" dumelnya kembali melanjutkan aktivitasnya tadi. Dia juga menyentuh dadanya yang berdebar. Ingatan melihat wajah Bumi dan panggilan sayang itu malah teringat. Apalagi badan yang....

Arg kepalanya menggeleng cepat beberapa detik kemudian. "Hih gue mikir apaan sih!" Dia memukul kepalanya yang mulai koslet. Bisa-bisanya bayangin tubuh Bumi!

"Mending gue siapain sarapan."

Membuang pikirannya, Langitnya menyalin lauk yang dia buat bersama Orlin tadi pagi dan menata sarapan pagi di meja. Kalau kayak gini dia serasa benar-benar jadi istri. Pagi-pagi sibuk nata makanan buat suami. Persis lihat mamanya tiap pagi.

"Jadi istri gue pagi-pagi datang buat antar sarapan?"

Suara Bumi mengalihkan fokus Langit yang sudah selesai menata sarapan di meja. Sebisa mungkin dia menyembunyikan senyumnya dipanggil seperti itu. Tatapannya pada cowok yang tampak rapi dan fresh dengan kaus putih pendek dan celana hitam pendek. Sedang rambutnya juga basah. Harum

Sabun setelah mandi bercampur parfum mint menyeruak ke indra penciuman Langit.

Ternyata Bumi tidak hanya ganti baju.

Tapi dalam waktu singkat sudah mandi sekalian. Terkadang dia tuh sampai heran, kok bisa sih cowok itu mandinya sat set sat set.

Kayaknya lima menit selesai.

Lah dia. Mandi aja butuh 20-25 menit.

Bumi membuka kulkas dan mengeluarkan sebotol minuman dingin dari sana.

Membawanya ke meja makan dan duduk.

Setelah tiga tahun makan sendiri. Bumi sampai terdiam melihat sajian sarapan di atas meja. Jika dulunya masak sendiri, siapin sendiri kali ini ditemani. Bumi melengkungkan senyuman. Dia menatap Langit lembut.

"Lo makan kan?"

"Iya. Gue belum sarapan."

Bumi mengangguk. "Terus kenapa gak duduk?" Langit masih berdiri pegang piring.

"Minumnya belum. Lo sukanya teh apa kopi kalau pagi?"

"Kopi. Tapi kopi hitam. Mau bikin?"

Langit mengangguk.

"Gulanya dikit apa banyak?"

"Gak usah pakai gula. Ntar gue minum kopinya lihatin wajah lo. Udah manis soalnya." Bumi mengombal. Dia menumpu tangannya di atas meja dan menaruh dagunya di tangan.

Blush!

"Lo ya lama-lama gue tendang ke Amerika!"

"Boleh." Bumi mengedipkan matanya.

"Ih gue serius!" Lama-lama ia dibuat ketar-ketir. Lagi pula kenapa gombalan Bumi buat dia salah tingkah sih dari tadi?

Jantungnya juga aneh. Malah berdebar. Padahal gak abis lari-larian!

Bumi tertawa. "Oke oke, gulanya satu setengah sendok. Kopi satu sendok. Gue gak terlalu suka pahit."

Langit memberi anggukan lagi. Dia kembali ke kabinet dapur. Mencari cangkir dan membuka lemari mencari keberadaan kopi.

"Kopinya nih dekat kulkas." Bumi berdiri. Dia yang mengambil kopi dan

Membawakannya untuk Langit. Setelah memberikan, Bumi berdiri memperhatikan Langit yang sedang melayaninya pagi-pagi.

Netranya tidak lepas dari wajah ayu Langit yang tampak serius. Bumi tidak melihat kopi yang Langit buat. Apalagi saat cewek itu menanyakan banyaknya gula dan kopi biar sesuai selera Bumi. Tatapan Bumi hanya pada wajah yang dibalut hijab pashmina itu.

"Gak usah lihatin gue terus. Naksir gak tanggung jawab."

"Itu kan tujuan gue. Biar makin sayang istri." Bumi mengedipkan matanya. Ia menjawab sejujurnya.

Langit mendengus. Tapi ia menahan senyum. Bumi kenapa sih daritadi?

Menyebalkan! Lagian dia jadi tidak bebas kalau dilihatin gitu. Ia memilih menunduk saja. Ternyata sekelas dia yang biasanya galak sama Bumi kini mendadak kikuk kalau udah diginikan.

Selesai buat kopi, Bumi mengambil alih agar dia saja yang bawa. Langit memberi anggukan. Dia perhatikan Bumi dari belakang.

Langit mengambil nafas dan mengontrol diri agar bersikap biasa saja.

Ini Bumi

Rivalnya

Jadi harus bersikap biasa aja.

Tapi kan dia masih perempuan kalau digombalin bakal baper!!

"Ke sini Munah. Ngapain lo bengong di sana?"

Langit tersentak. Ia lekas mendekat. "Bay the way Bum?"

Sebelah alis Bumi naik. "Kenapa?"

Langit hendak menarik kursi, Bumi sudah menarik kursi untuknya duluan. Ia menatap gantian kursi itu dan Bumi yang kemudian duduk.

Sederhana tapi berkesan.

"Kemarin katanya lihat Ibu minggu. Siang ini gimana kalau ke rumah sakit?"

"Hem." Bumi menatap kopi hangat buatan Langit. Dia mengambil sendok untuk mencicip. Wangi kopinya bikin gak sabar neguk. Apalagi kali ini bukan buatan dia sendiri.

Tidak terlalu pahit, manisnya juga pas.

Sesuai selera.

"Tunggu dingin dulu. Lidah lo bisa kebakar Bumi."

"Kalau buatan lo, sepanas apapun bakal sejuk kok di lidah." Bumi sepertinya sekarang suka gombalin Langit.

"Gombal mulu lo." Langit mengambil piring dan nasi untuk Bumi. Dia melakukan apa yang bisanya dia lihat dari Orlin.

Mengambilkan nasi dan lauk untuk suami.

"Gak apa. Ini salah satu cara biar lo sayang gue. Gak sayang Biru lagi."

Bumi memperhatikan Langit. Dilayani seperti ini membuatnya merasakan apa yang sudah lama hilang. Dia memperhatikan Langit hingga selesai dan menyodorkan padanya.

"Kalau lo teletan gini ngurus gue. Gue urungin niat poligami deh," canda Bumi.

Langit melotot. Dia mengacungkan sendok. "Ngomong apa lo tadi?"

"Gak ngomong-ngomong apa." Bumi menggeleng dengan senyuman.

"Awas aja lo kalau berani! Gue selingkuh dari sekarang nih!" Niat Bumi tadi bercanda.

Ucapan Langit malah buat dia duduk tegak

Dan melotot balik.

"Enak aja selingkuh. Nikah aja baru beberapa hari."

"Lo duluan yang mulai."

"Gue bercanda Munah."

"Gak lucu."

"Cemburu ya?" Bumi mengerling jahil. Tangannya mencolek dagu Langit yang langsung ditepis.

"Gue sukanya kak Biru. Jadi gak cemburu."

"Ntar juga cintanya sama gue."

"Gimana cinta. Lo bikin kesal mulu."

Bumi menahan senyum. Tangannya mengusap lembut kepala Bumi. Sentuhan yang buat Langit membeku.

"Kalau gue manis gini. Jatuh cintanya bisa cepat?" tanya Bumi. Matanya berkedip.

Lagi. Jantung Langit berdebar tanpa dia minta.

"Kalau Dokter Biru itu bisa buat lo suka. Maka gue bakal bikin lo benar-benar cinta gue sedalamnya, Langit."

Langit menelan salivannya. Dia buru-buru menjauhkan tangan Bumi. "Gak segampang itu Fergous," cibirnya.

Bumi berdecak.

"Buruan gih makan. Gue mau beres-beres."

"Beres-beres apa?"

"Bersihin rumah. Nyucin baju kotor lo. Bersihin kamar, pel rumah, jemur baju. Setrika baju."

"Lo istri gue apa pembantu yang baru datang sih?"

Plak!

Langit memukul tangan Bumi di atas meja. "Lo bilang gue pembantu?"

"Gue gak bilang. Lo aja yang datang-datang nyebut semuanya. Siapa suruh beres-beres di sini?"

"Kan gue lakuin apa yang harus gue lakuin."

"Langit. Istri itu memang mengerjakan tugas rumah. Tapi bukan berarti itu tanggung jawab lo semua. Datang-datang malah beres rumah. Gak!"

Udah capek kerja. Pulang malam. Kenapa tengah malah bersihin rumah? Kapan tidurnya?" Omel Langit panjang lebar.

Dia jadi kesal. Emang harusnya Langit tuh senang. Karena begitu dia gak banyak kerjaan lagi. Punya suami yang tipe mau handle rumah. Tapi kan dia tidak tega. Bumi tuh selain sibuk sekolah, langsung ke rumah sakit ngurus ibu. Malam kerja. Nongkrong mungkin gak sering.

Di rumah malah sibuk juga.

Bumi menarik kedua sudut bibirnya.

Pertama kali ada yang mengomelinya karena khawatir seperti ini. Perasaannya menghangat.

"Siapa suruh lo senyum?" Langit menatap galak.

Bumi melunturkan senyumnya dan berdecak.

"Mulai sekarang tiap minggu gue ke sini. Awas aja lo udah ngerjain tugas rumah. Itu tugas gue."

"Gak. Tugas berdua."

"Lo istirahat aja udah."

"Kalau lo gitu, gak usah sema sekali."

"Bodo amat lo larang."

"Kata papa kan semuanya harus izin suami. Mau apa?" Bumi memantang. Langit cemberut dan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.

"Nyebelin lo jadi suami."

"Keras kepala lo jadi istri."

"Hish."

"Qanita Langit Zoe. Gue hidup cuman berdua sama ibu selama ini. Gue tahu gimana posisi Ibu yang serba sendiri. Apa lo pikir gue bakal jadi laki-laki brengsek kayak ayah?"

Langit menatap kornea hitam itu. "Iya maksud gue kan bukan berarti lo kayak ayah kalau gue kerjain rumah sendirian. Ini kan hal kecil. Lo kan gak ninggalin gue juga. Siapa bilang itu brengsek."

"Hal sekecil apapun itu. Ibu yang ditinggal ayah sejak hamil gue, lihat ibu berjuang hidupin gue, dan sekarang ibu berjuang nyawa di sana, gue banyak belajar cara menghargai dan memperlakukan wanita."

"Gue udah tekad. Siapapun yang jadi istri gue nanti. Gue gak akan buat dia terbebani sendiri. Gue akan hargain dia, ratukan dia dan

Prioritaskan dia."

"Jadi kalau gue larang lo bisa kan dengerin?" Netra yang menyimpan luka itu menatap Langit serius.

Kalimat Bumi membuat hatinya tercubit. Langit merasa bersalah. Dia mengangguk pelan. "Tapi gue tetap boleh kan bantuin kejaaan rumah?" Nadanya melembut.

"Hm. Tapi izin dulu dan kita bagi biar ringan."

"Lo marah gak sama gue?"

Dua alis Bumi naik. "Marah kenapa?"

"Gue bandel. Gak nurut."

"Engga. Gue tahu lo lagi berusaha yang terbaik aja."

Lega. Langit mengangguk dengan senyum kecil.

"Tapi ada satu hal yang harus lo lakuin."

"Tuh kan. Lo bilang gak marah."

"Iya ini kan gak marah."

"Gue lakuin apa?"

"Suapin gue?"

"Ih ogah!"

"Katanya mau nurut."

"Lo punya tangan. Makan sendiri." Langit mengambil sendoknya dan menikmati sarapan pagi mereka.

Bumi mendengus. "Gak ada perhatiannya lo jadi istri."

Langit menjulurkan lidahnya. Dia tidak bayangin kalau suapin Bumi. Digombal aja dia mendadak jadi Langit versi berbeda.

Apalagi suapin!

"Untung lagi proses sayang." Bumi mengulurkan lagi tangannya dan mengusap lembut sudut bibir Langit yang berlepotan.

Langit menahan nafas.

"Kita ke rumah sakit siang. Abis makan ini di rumah aja dulu. Gue ajak keliling rumah. Biar lo juga tahu. Ntar sekalian kita bikin kunci cadangan. Biar lo bisa ke sini kapan lo mau."

Bumi menarik kembali tangannya. Dia juga memakan masakan Langit. Sedang Langit, cewek itu bahkan masih membeku dengan sikap Bumi tadi.

Baru mencicip. Bumi tersenyum dan makan dengan lahap kemudian. Masakan itu terasa nikmat. Apa karena dia yang bosan makan masakannya sendiri atau karena kali ini yang masak Langit?

Langit melihat Bumi. Ia lalu tersenyum kecil dan menunduk. Menikmati sarapan paginya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!