NovelToon NovelToon
Saat Aku Memilih Pergi

Saat Aku Memilih Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Nadia Tujuah tahun menikah dengan Raka
mengurus Ibu mertuanya dengan baik
mengurus anak adopsi dengan baik
selalu bersabar karena dia hanyalah anak yatim piatu
Namun tepat di usia pernikahannya yang ke tujuh
Raka malam menikah lagi Dengan Ratna Sepupunya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

nanda sakit

"Benar-benar kaya anak-anak" Yuni kesal Nadia terus mengabaikannya

Sedangkan Nadia tidak peduli dia mengecek pesan dari ponselnya

“Tari! Bantu Ibu minum obat!” Suaranya keras tentu saja untuk menarik perhatian Nadia

Nadia diam saja tidak mau menanggapi terlalu lelah dengan semua kebohongan ibu mertuanya.

“Kenapa kamu enggak ambilkan obat Ibu?” tanya Yuni tajam.

“Ada Mbak Tari, Bu,” jawab Nadia datar tanpa menoleh.

Yuni mendecakkan lidah kesal.“Sudah umur tiga puluh tahun lebih, sikap kamu masih seperti anak kecil.”

Nadi memsukan ponselnya ke saku lalu melihat Ibu mertuanya itu

“Sampai kapan kamu mau begini terus, Nadia?”

"Sampai Mas Raka menceraikan Ratna”

"benar-benar kaya anak kecil"

Nadia tidak menanggapi dia masuk ke dalam kamar

“Kebiasaan. Kalau orang tua bicara malah pergi.”

Tak lama kemudian, Mbak Tari datang tergopoh-gopoh membawa segelas air putih dan obat.

“Ini obatnya, Bu.”

Yuni menerima obat itu perlahan.

“Sampai kapan, ya, saya harus minum obat terus?” keluhnya sambil menatap obat di tangannya.

Mbak Tari tersenyum canggung.

“Maaf, Bu. Saya juga kurang paham.”

Yuni mengembuskan napas panjang lalu bersandar di sofa.

Tatapannya kosong ke arah televisi, tetapi pikirannya ke mana-mana.

Selama ini hanya Nadia yang benar-benar hafal jadwal obatnya.

Jam berapa harus diminum.

Obat mana yang tidak boleh dicampur.

Makanan apa yang harus dihindari.

Kalau obatnya habis, Nadia yang langsung membeli.

Kalau lambungnya kambuh, Nadia yang sibuk membuatkan bubur hangat.

Perempuan itu memang terlalu perhatian.

Namun di sisi lain, Yuni tetap tidak bisa mengabaikan satu kenyataan yang terus menghantuinya.

Nadia tidak kunjung memberinya cucu kandung.

Sedangkan Ratna...

Meski sifatnya berantakan, emosinya meledak-ledak, dan mulutnya tajam, Ratna tetap perempuan yang melahirkan darah daging keluarga mereka.

“Perempuan zaman sekarang memang aneh,” gumam Yuni dalam hati.

“Poligami dibolehkan agama dan negara, tapi kenapa sulit sekali menerima?”

“Bu...” suara Mbak Tari membuyarkan lamunannya. “Obatnya belum diminum.”

Yuni tersadar.

“Oh iya.”

Ia memasukkan obat ke mulut lalu meneguk air putih perlahan.

"Pahit sekali" Yuni meringis

Mba Tari diam bingung apa yang harus di lakukan bukankah memang obat pahit

Yuni menghembuskan nafas berat dulu Saat dia mengeluh Pahit maka Nadia akan memberinya Kurma namun sekarang dia hanya bisa menahan pahitnya itu.

Di dalam kamar, Nadia sedang memasukkan satu per satu pakaiannya ke dalam koper.

Gerakannya rapi dan tenang.

“Hanya seminggu lagi,” gumamnya pelan.

Ia berhenti sesaat menatap koper itu.

“Semua harus sempurna.”

Nadia lalu mengambil ponsel dan menelepon Sindi.

“Aku akan membawa Nanda kabur, Sin.”

Suara Sindi langsung terdengar panik.

“Tapi kemungkinan besar Nanda anak Raka, Beb.”

Nadia memejamkan mata.

“Tapi dia bukan anak Ratna. Selama bukan Ratna ibunya, aku akan bawa Nanda.”

“Ini bisa jadi kriminal, Nadia.”

Nadia menggenggam ponselnya erat.

“Di kartu keluarga dan akta lahir, Nanda terdaftar sebagai anak kandungku. Dan mereka mulai memberi Nanda makanan sembarangan. Nanda juga mau ikut denganku.”

Suasana di seberang telepon mendadak hening.

Beberapa detik kemudian Sindi akhirnya menghela napas.

“Ya sudah. Kalau kamu sudah yakin, aku bantu siapkan tempat yang enggak akan terjangkau mereka.”

“Terima kasih, Sin.”

Telepon terputus.

Nadia menunduk menatap layar ponselnya.

Hampir seluruh galeri dipenuhi foto Nanda.

Nanda saat pertama kali belajar berjalan.

Nanda saat memakai seragam TK.

Nanda tertidur sambil memeluk lengannya.

Nanda yang tertawa sambil memperlihatkan gigi depannya yang ompong.

Dada Nadia kembali terasa nyeri.

Anak itu ia rawat sejak bayi.

Setiap detik tumbuh kembangnya Nadia hafal di luar kepala.

Tiba-tiba ponselnya kembali berdering.

Nadia refleks langsung mengangkat.

“Bu Nadia?”

Suara seorang perempuan terdengar dari seberang.

“Ya, Bu. Ada apa?”

“Ini dari sekolah Nanda.”

Jantung Nadia langsung berdegup keras.

“Kenapa dengan Nanda?”

“Nanda sakit, Bu. Tolong Ibu segera datang.”

Wajah Nadia langsung pucat.

“Sekarang bagaimana keadaannya?” suaranya gemetar.

“Lebih baik Ibu datang sekarang.”

“Baik... baik, saya segera ke sana.”

Sambungan telepon terputus.

Nadia membeku beberapa detik.

Tangannya mulai dingin.

Napasnya memburu.

Baru tadi pagi Nanda memeluknya sambil berkata sayang.

Baru beberapa jam lalu anak itu sarapan dengan tenang di depannya.

Dan sekarang sekolah mengabarkan Nanda sakit.

Nadia bahkan tidak sempat mengganti pakaian.

Ia menyambar tas begitu saja, mengenakan sandal seadanya, lalu berlari keluar rumah.

Kamar pun lupa ia kunci.

Tangannya gemetar saat memesan ojek online.

Sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi hal-hal buruk.

Biasanya jika Nanda hanya batuk atau demam ringan, sekolah cukup meminta dijemput.

Namun nada suara perempuan tadi terdengar berbeda.

Lebih panik.

Lebih mendesak.

Apakah Nanda pingsan?

Apakah alerginya kambuh?

Apakah makanan semalam membuat tubuhnya bereaksi?

Air mata mulai mengaburkan pandangannya.

“Ya Allah... jangan apa-apakan anakku,” bisiknya berulang kali.

Sesampainya di sekolah, Nadia hampir berlari menuju pos keamanan.

“Pak, saya ibunya Nanda. Saya ditelepon dari sekolah.”

Kedua petugas keamanan saling berpandangan.

Lalu salah satu dari mereka berkata pelan, “Mari, Bu.”

Dengan langkah cepat mereka mengantar Nadia menuju ruang kepala sekolah.

Jantung Nadia terus berdetak keras.

Begitu pintu terbuka, Nadia langsung masuk.

“Bu...” napasnya memburu. “Bagaimana kondisi Nanda?”

Ibu Rosidah menatap Nadia dengan saksama.

Wajah perempuan itu pucat pasi.

Tangannya masih gemetar.

“Bu... Nanda dirawat di ruangan mana?” tanya Nadia nyaris menangis.

Ibu Rosidah justru terlihat bingung.

“Ibu Nadia...” beliau menghela napas pelan. “Nanda baik-baik saja.”

Nadia terdiam.

“Maaf?”

“Nanda sedang belajar di kelas.”

Kening Nadia berkerut.

“Saya mendapat kabar dari sekolah tadi...”

Ibu Rosidah menggeleng pelan.

“Kami tidak menelepon Ibu.”

Tubuh Nadia langsung terasa lemas.

“Lalu...”

“Mari ikut saya.”

Nadia mengikuti langkah kepala sekolah itu dengan lutut yang masih bergetar.

Mereka berhenti di depan sebuah kelas.

Dari balik jendela kaca, Nadia melihat Nanda berdiri di depan kelas bersama teman-temannya.

Wajah anak itu cerah.

Tangannya bergerak antusias mengikuti arahan guru.

Tidak ada tanda-tanda sakit.

Tidak ada kepanikan.

“Nah,” ucap Ibu Rosidah lembut. “Nanda sehat walafiat.”

Napas Nadia langsung terlepas.

Tangannya refleks memegang dada.

“Alhamdulillah...”

Matanya mulai berkaca-kaca karena lega.

Nadia buru-buru membuka ponselnya.

“Ini nomor yang menghubungi saya, Bu.”

Ibu Rosidah menyimpan nomor itu ke ponselnya, lalu memeriksanya beberapa saat. Setelah itu, beliau menggeleng pelan.

“Nomor ini tidak terdaftar di ponsel saya berarti bukan dari pihak sekolah bu”

Nadia terdiam.

“Lain kali jangan langsung panik menghadapi situasi seperti ini, Bu,” lanjut Ibu Rosidah lembut. “Coba pastikan dulu. Kalau bukan saya, Bu Niken, atau Bu Lilis yang menghubungi, berarti itu bukan kabar resmi dari sekolah.”

Nadia menunduk pelan.

“Maaf, Bu. Saya tadi terlalu panik waktu dengar Nanda sakit.”

Ibu Rosidah tersenyum tipis.

“Ibu sangat menyayangi Nanda, ya?”

Nadia mengangguk tanpa ragu.

“Wajar seorang ibu panik saat mendengar anaknya sakit,” ujar Ibu Rosidah lagi. “Biasanya orang tua lain malah menyuruh pengasuh atau ART yang datang memastikan keadaan anaknya.”

“Saya enggak bisa tenang kalau Nanda sakit, Bu.”

“Iya, saya paham.”

Ibu Rosidah melirik ke arah kelas.

“Lusa Nanda mulai ulangan. Tolong dibantu persiapannya, ya.”

“Baik, Bu.”

Nadia berpamitan kepada kepala sekolah kemudian dia berhenti di sebuah taman, tampak Nanda sedang asik bermain, Sekolah ini memang punya peraturan selama sekolah orang tua dilarang menemani untuk melatih kemandirian.

Terlihat nanda sedang berlarian tidak ada tanda tanda sakit,

Bibir Nadia “Alhamdulillah...” bisiknya lirih.

Setelah memastikan Nanda benar-benar baik-baik saja, Nadia memesan taksi online untuk pulang.

Di sepanjang perjalanan, pikirannya kembali dipenuhi pertanyaan.

Siapa yang meneleponnya?

Siapa yang tega mengerjainya?

Apa Maksudnya?

“seseorang ingin aku keluar dari rumah atau kamarku”

1
falea sezi
🤣🤣 goblok aja klo. masih sayang anak haram
Anonim
Lanjut up thor seru
Anonim
Tobat lah sama kebegoan si nadia
Anonim
Yeay emang enak di jadikan pengasuh gretongan,jadi cewe ko oon sih gampang di boongin
Listiyawati Rinda
lanjut kak
Suanti
nadia prgi dri rmh tinggal gugat cerai raka
raka tak bakal setuju cerai kan kamu
nadia terlalu bego sdh tau di jdi kan keluarga toxin jdi baby sister gratis tetap mau bertahan di dlm rmh demi nanda ank selingkuh raka/ ratna 🤭
Anonim
Sumpah nadia bloon nya kebangetan thor,jangan buat perempuan jadi bodoh thor buat pinteran dikit gitu🤭
Suanti
mungkin isi flashdisk tentang ratna melahirkan nanda 🤭 ayok nadia nonton flashdisk nya biar tau apa isi nya 🤣
Inarrr Ulfah
KLO benr percuma kamu mati2an bertahan demi Nanda,,jgn bodoh nadia
Inarrr Ulfah
bukti Nanda anak nya Ratna dan Raka...
Adinda
mungkin bukti kalau nanda anaknya ratna
falea sezi
cepet urus cerai😒 jangan bego klo Nanda anak Ratna g usa di bawa ngapain ngurus anak jalang
Suanti
nadia klu mau prgi dari rmh sendri aja klu bawa nanda pasti di cari sama raka karna bawa ank nya 🤭
lLy trililly
udh nadia bruan pergi
falea sezi
🤣🤣 goblok mau pergi ya pergi cerai dlu ngapain ngajak anak angkat goblok nya🤣
Anonim
Ampun deh gemes banget sama si nadia bloon nya belum ilang,biarin aja nanda sama bapak nya biar si nanda tau beda nya ibu sama bapak kek mana kalau ngurusin anak
Adinda
tes DNA Makanya biar tau
Suanti
nadia mau prgi. prgi aja sendri ngapain bawa nanda yg ada nanti kamu di lapor kan sm keluarga toxin menculik ank 🤭
Machmudah: setuju, toh kl Nanda ditinggal sm mereka aman2 saja, mereka sayang Nanda cm caranya didiknya sj yg gak banget.....udah pergi aja Nadia lepasin aja para toxic itu
total 1 replies
siswati etty
tunggu apa lagi Nadia .....polos apa bodoh sih ....keluar rumah gak akan dianggap kalah klo kamu punya rumah sendiri dah cepet pindah dah gak diinginkan jd gk perlu maksa tinggal meski ada alasan krn Nanda
Suanti
segera keluar dri rmh nadia kalau lama2 di rmh raka yg ada kamu lihat ratna bermesraan sm raka pasti kamu sakit hati 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!