Dia melihat sisi gelapnya, dan seharusnya tidak selamat.
Tapi Zayn tidak menghapusnya dari dunia.
Dia memilih sesuatu yang lebih berbahaya menjadikannya miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ValerieKalea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dalam Bayangan yang Sama
Malam itu seharusnya menjadi awal kepulangan yang tenang, tapi sesuatu terasa bergeser perlahan. Jalanan yang dilalui taksi tidak lagi terasa familiar, seolah membawa Aurora ke arah yang tidak ia kenali. Tanpa ia sadari, langkahnya kembali ke Indonesia justru membuka pintu masalah yang lebih besar dari yang pernah ia bayangkan.
Aurora menatap keluar jendela, alisnya sedikit berkerut. Jalan yang dilalui terasa asing. Lampu-lampu kota yang biasanya ia hafal kini terlihat berbeda arah.
“Pak… Ini bukan jalan ke rumah saya, ya?” ucap Aurora
Sopir di depan tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum tipis dari kaca spion.
“Iya, Mbak. Memang bukan.”
Aurora langsung menegang. Jantungnya berdegup lebih cepat, “Pak, berhenti. Saya turun di sini aja.”
Namun belum sempat ia bereaksi lebih jauh, mobil itu mendadak berhenti. Rem diinjak cukup keras hingga tubuh Aurora sedikit terdorong ke depan.
Sopir itu menoleh cepat.
Dan dalam hitungan detik, sebuah semprotan mengenai wajah Aurora.
Aroma tajam langsung menusuk hidungnya.
Aurora tersentak, mencoba menahan napas, mencoba membuka pintu, tapi tubuhnya terasa melemah.
Pandangan matanya mulai kabur, “Pak… apa-”
Kalimatnya terputus.
Beberapa saat kemudian. Aurora membuka matanya perlahan.
Kepalanya terasa berat. Pandangannya masih berputar. Ia mencoba bergerak, tapi tubuhnya tertahan.
Tangannya terikat.
Ia duduk di sebuah kursi kayu tua di dalam ruangan besar yang kosong. Dindingnya kusam. Bau lembap menyengat.
Aurora terbangun di gudang yang tidak ia kenali.
Aurora menarik napas cepat, mencoba menenangkan diri, “Apa yang-”
Langkah kaki terdengar pelan.
Aurora langsung menoleh.
Seorang pria berdiri di depannya. Wajahnya penuh wibawa, tapi sorot matanya dingin dan tajam.
Pria itu adalah Pak Retno Andinata.
Aurora mengernyit, “Siapa Anda?”
Pria itu tidak langsung menjawab. Ia mendekat, lalu dengan santai mengangkat dagu Aurora, memaksa wajahnya menghadap lurus.
Aurora mencoba menepis, tapi tidak bisa.
Klik, suara kamera. Foto Aurora diambil.
Retno masih menahan wajahnya, menatap dengan teliti, “Pantesan aja Zayn tertarik…” gumamnya pelan, seolah sedang menilai barang.
Aurora menatapnya dengan marah.
“Cantik juga ternyata” lanjut Retno
Ia tersenyum tipis, lalu melepas wajah Aurora dengan kasar.
Aurora meringis, lalu langsung berkata tegas, “Saya nggak ada hubungan apa-apa sama Zayn. Nggak ada gunanya Anda nangkap saya.”
Retno tertawa. Suara tawanya kasar dan dingin, “Lugu sekali… Aurora” katanya pelan.
Aurora mengernyit, “Gimana Anda tau nama saya?”
Retno menatapnya santai, “Semua orang yang dekat dengan Zayn, saya tau.”
Aurora terdiam. Dadanya mulai terasa tidak nyaman.
Di sisi lain. Zayn baru saja turun dari mobilnya.
Hari itu seharusnya berjalan seperti biasa. Tapi begitu ponselnya menyala, sebuah notifikasi masuk.
Nomor tidak dikenal. Ia membuka pesan itu. Dan dalam sekejap, ekspresinya berubah.
Foto Aurora, terikat, dan tak berdaya.
Rahangnya mengeras. Matanya menggelap. Marah dan khawatir muncul bersamaan.
“Rakha…” gumam Zayn pelan.
Tanpa pikir panjang, ia langsung menekan nomor.
“Datang ke gang kosong. Sekarang. Dan jangan sentuh dia.”
Klik, telepon langsung dimatikan.
Zayn masuk ke dalam rumah dengan langkah cepat. Ia membuka laci, mengambil sebuah topeng.
Topeng itu berwarna hitam pekat dengan garis abu-abu gelap, membentuk pola tajam seperti retakan. Menutup setengah wajahnya, menyisakan aura dingin dan berbahaya.
Ia memakainya. Tanpa ragu, ia kembali ke mobil.
Di jalan, mobilnya melaju kencang.
Zayn mengambil handphonenya dan menelepon Evan, “Evan. Ke markas. Sekarang”
Suara Zayn dingin, tapi tegang.
Beberapa saat kemudian. Mobil hitam itu terparkir di depan markas Zayn.
Markas itu berdiri di jalan yang nyaris tak pernah dilalui orang. Gedung dua lantai, dominasi hitam dengan sentuhan abu-abu tua, tampak seperti bayangan di tengah kota.
Zayn turun dari mobil. Lalu ia masuk.
Evan sudah menunggu.
“Cek rekaman CCTV. Sepuluh tahun lalu. Jumat malam. Bulan Maret.”
Tanpa banyak tanya, Evan langsung bergerak ke ruang pengawasan.
Beberapa menit kemudian, Evan memanggil, “Zayn.”
Zayn masuk, menatap layar. Matanya menyapu cepat.
Tatapannya berhenti saat melihat seseorang menyelinap masuk. Mengambil desain logo.
Zayn menatap tajam, “Itu dia…”
“Masukin rekaman itu ke flashdisk.”
Evan langsung bekerja.
Zayn keluar, menunggu di dekat pintu.
Beberapa menit kemudian, flashdisk itu sudah di tangannya.
“Gue ikut-” ucap Evan.
“Nggak usah. Jaga di sini” sela Zayn.
Zayn pergi dengan cepat.
Beberapa menit kemudian mobil Zayn akhirnya terparkir di depan gang. Ia turun dan berjalan masuk ke dalam gang. Gang itu gelap dan sepi.
Zayn melihat Rakha berdiri di gang itu.
Zayn datang tanpa basa-basi. Ia melempar flashdisk itu, “Lihat sendiri.”
Rakha menangkapnya, tertawa sinis, “Masih mau bohong?”
Tapi tetap ia menyuruh anak buahnya mengecek flashdisk itu.
Beberapa detik kemudian, video itu masuk ke ponselnya.
Rakha menatap layar. Dan perlahan ekspresinya berubah.
Zayn berbicara. Menjelaskan semuanya, tentang penyusup, tentang malam itu, tentang dirinya yang datang terlambat.
Flashback itu kembali membuat Rakha mengingat semua kejadian malam itu.
Tubuh ayah Rakha tergeletak di tanah. Dan Zayn berdiri di sana.
“Lo datang bukan buat nolong. Tapi buat pastiin dia mati” ucap Rakha.
Rakha menatap layar. Tangannya mengepal.
“Kenapa lo nggak minta bantuan?” ucap Rakha.
Zayn menatapnya dingin, “Gue udah minta.”
Emosi Rakha mulai kacau. Marah, ragu, dan hancur mulai terasa secara bersamaan.
Sepuluh tahun kebencian mulai goyah.
Zayn menghela napas pelan, “Gue nggak peduli lo mau percaya atau nggak. Tapi sekarang, lepasin Aurora.”
Rakha langsung mengangkat kepala, “Apa?”
Zayn menatap tajam, “Jangan pura-pura.”
Rakha berdiri, “Gue nggak nyulik dia.”
Zayn mendekat, “Awas lo-”
“Gue berani sumpah” sela Rakha.
Dalam sekejap keheningan menyelimuti mereka berdua.
Rakha menatap serius, “Ayo ke markas gue kalau lo gak percaya.”
Tanpa menunggu waktu lama, Zayn mengikut mobil Rakha yang menuju ke markas Rakha.
Mereka akhirnya sampai.
Seperti yang dikatakan Rakha. Markas itu kosong dan tidak ada Aurora.
Zayn terdiam sebelum akhirnya berbicara, “Kalau bukan lo…” gumamnya pelan.
Ponselnya berdering. Nomor yang sama seperti tadi.
Zayn mengangkat.
Suara Retno terdengar santai, “Kalian berdua, gampang banget dibodohi.”
Zayn mengepal, “Di mana dia? Di mana Aurora? Siapa lo?”
“Oh, dia ya… Aurora ada kok, dia lagi tidur lelap” jawab Retno dengan santai.
Emosi Zayn semakin meningkat mendengar nada bicara Retno, “Pasti lo juga kan yang bunuh Om Arjuna?”
Retno tertawa, “Ayah Rakha? Iya anak buah saya yang bunuh.”
“Dan kalian saling hancur, tanpa saya kotorin tangan saya” lanjut Retno.
Zayn kehilangan kesabaran, “DI MANA AURORA?!”
“Cantik sekali dia… Sayang kalau langsung dilepas” suara Retno berubah licik.
Zayn hampir menghancurkan ponselnya, “Alamat. Sekarang.”
Beberapa detik kemudian, akhirnya sebuah pesan masuk. Pesan itu tertulis jelas alamat Aurora berada.
Telepon mati setelah Zayn membaca pesan itu.
Zayn langsung bergerak.
“Gue ikut” Rakha berdiri.
“Ayah gue… harus dibales” lanjut Rakha.
Zayn menatapnya sebentar.
Lalu mengangguk.
Di dalam mobil, Zayn menggenggam erat setir, “Kalau kali ini gue telat lagi… gue nggak bakal maafin diri gue sendiri.”
Dua mobil melaju. Satu di depan, dan satu mengikuti. Menuju tempat yang sama, dan menuju satu tujuan. Yaitu Aurora.