NovelToon NovelToon
COLD HANDS, WARM EYES

COLD HANDS, WARM EYES

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Idola sekolah
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Alia Chans

Empat tahun lalu, Aelira S. Valenzia gadis unik, misterius terjerat oleh Ravian Kael Davino veyron, pewaris tunggal keluarga veyron , yang mengidap penyakit haphephobia. Suatu hari, Davino pergi ke sekolah karena suatu hal penting, dimana Aelira tidak sengaja terjatuh, dan menangkap tangan Davino, atau yang orang sebut Ravian. Ia tidak menyangka hal tersebut menjadi awal mula hidup tidak sebebas dulu lagi. Penasaran? yuk baca!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cuma Aelira yang Bisa

Keesokan harinya festival sekolah malam itu dimulai. Langit malam cerah menaungi keramaian di lapangan. Sejak sore, bazar sudah ramai, dan kini giliran panggung pensi menyala dengan sorotan lampu.

Para anggota OSIS sibuk mondar-mandir mengatur acara.

Sementara di ruang OSIS—Aelira masih duduk membungkuk di depan meja, memeriksa berkas. Kepalanya tergeletak lemah di atas lengan.

Badannya demam.

"Ra , band ZEYON udah pada dateng," ujar Ziva, setengah teriak karena suara dari luar begitu riuh.

Aelira hanya mengangguk pelan. Wajahnya pucat.

"Lo masih demam, ya? Gue kata juga apa, balik aja. Jangan maksain!!" Ziva cemas—menyentuh dahi Aelira. "Panas banget."

"Gue nggak papa. Ayo ke lapangan!" katanya lemah.

Keduanya berjalan keluar dari ruang OSIS. Aelira sesekali memijit pelipisnya, langkahnya agak pelan.

Namun langkah Ziva memelan saat dari kejauhan melihat sosok Ravian berdiri menyender di dinding koridor.

Ziva mendekat ke telinga Aelira dan berbisik. "Jujur, ya! Dia cowok lo, kan?"

Aelira langsung mendongak, menatap lurus ke arah Ravian. Dia melanjutkan langkahnya, hendak melewati cowok itu—namun sebuah tangan terulur cepat, menahan pergelangan tangannya.

"Kita perlu ngomong."

Ziva langsung mengangkat tangan, mundur perlahan. "Gue kayaknya mesti pergi dulu. Gue tunggu di lapangan, Eli," ucapnya pelan, paham situasi sedang tidak biasa.

Aelira menoleh. "Apa?"

Ravian mendecak dan mendekat. "Masih demam?" Dia menyentuh dahi Aelira. "Pusing, hm? Ke rumah sakit, ya?" lanjutnya rendah.

"Nggak perlu." Jawabnya sambil menepis tangan Ravian.

Ravian menatap Aelira tajam, nada suaranya dingin tapi mengandung kemarahan yang ditahan.

"Kenapa maksain datang, sih? Lo sakit." Ravian berseru kesal.

Aelira diam. Sorot matanya datar. "Aku sakit karena siapa? Jadi nggak usah sok peduli!"

Ravian terdiam.

Aelira segera melangkah pergi menuju keramaian di lapangan, tanpa menoleh lagi.

---

Sorak-sorai penonton memuncak saat satu per satu anggota band ZEYON menaiki panggung. Lampu sorot menari-nari di langit malam, mengiringi teriakan histeris dari para siswi.

Ravian menggenggam mic dan melangkah ke depan panggung.

"Selamat Malam, Nusa Cendekia!" Suaranya menggema, disambut ledakan sorakan.

"AAAAAAA RAVIAN!"

Para murid menggila terutama cewek-cewek.

Di pinggir panggung, Aelira berdiri diam. Tubuhnya terlihat lemas di tengah euforia penonton.

Ziva berdiri di sampingnya, melompat-lompat kegirangan sambil ikut bernyanyi.

Aelira menatap ke arah panggung, namun pandangannya mulai kabur. Suara terasa jauh. Kepalanya terasa berat dan berdenyut.

"Kamu kenapa?" Sebuah suara laki-laki terdengar. Alvandra, salah satu panitia, muncul dari kerumunan.

Aelira menggeleng pelan, tak sanggup menjawab. "Nggak papa kok, Kak. Pusing dikit aja."

Namun saat tatapannya kembali tertuju pada Ravian yang sedang bernyanyi, denyutan itu semakin kuat.

Pandangannya gelap. Kakinya limbung.

"AELIRA!"

Teriakan panik Ziva menggema. Tubuh Aelira ambruk tepat di sisi panggung.

Alvandra sontak berjongkok panik meraih kepala Aelira.

"Eli, hei! Dia pingsan! Tandu, tolong!!" Alvandra berteriak kepada petugas PMR.

Ravian mendadak menghentikan nyanyiannya.

Napasnya tertahan saat melihat kerumunan panik di bawah panggung.

"SHIT!" Tanpa pikir panjang, dia menjatuhkan mic dan melompat turun dari panggung.

"AWAS-AWAS!" bentak Ravian menyingkirkan orang-orang yang mengerumuni Aelira.

Ravian segera mengangkat tubuh Aelira ke dalam gendongannya—membuat semua orang terkejut. Wajah Aelira pucat, membuat Ravian panik tak terkendali.

"Minggir semua! MINGGIR!! Kasih jalan!" teriaknya pada kerumunan yang berdesakan.

Para gadis-gadis syok. Tidak jarang bisik-bisik heboh.

Para bodyguard ZEYON sigap membentuk barikade, mengawal Ravian melewati kerumunan—menuju van hitam band mereka. Pintu langsung dibuka.

Kepala gadis itu diletakkannya di pangkuan, tangannya membelai rambut Aelira dengan gemetar. Ia menyelimutinya dengan jaket yang sempat ia lepas.

"Ke rumah sakit sekarang!" perintah Ravian sambil memeluk Aelira dengan sorot mata cemas.

---

Mobil van hitam berhenti di depan rumah sakit Pelita Harapan, Jakarta Timur.

Ravian membuka pintu mobil kasar, kemudian mengangkat tubuh gadis itu ke dalam gendongannya.

"BRENGSEK!!! ADA YANG DENGER NGGAK, SIH? GUE BUTUH BRANKAR, SEKARANG!!!" bentaknya emosi pada petugas rumah sakit.

Para petugas medis terperanjat—bergegas ke arah pintu masuk.

Sopirnya turun tergopoh, mencoba membantu, tapi hanya mendapat bentakan tajam dari Ravian.

"Ngapain lo masih nunggu? Panggil Dokter!"

"I—iya, Mas." Panik sopirnya.

Tak lama, tiga petugas datang mendorong brankar. Mereka juga sempat syok melihat Ravian—artis populer lah yang membentak mereka barusan.

Tanpa basa-basi—Ravian segera membaringkan Aelira di atas brankar dan mendorongnya menuju IGD.

"Jangan tidur, oke? Jangan berani-berani lo ninggalin gue!" katanya sambil menggenggam erat jari-jemarinya.

Sampai di depan ruang IGD, seorang dokter muda menghentikan langkah mereka.

"Tolong pelan-pelan—saya akan periksa dulu kondisinya sebelum dibawa masuk," kata dr. Ferdi.

Ravian menatapnya tajam. "Enggak usah pegang dia!"

Dokter Ferdi mendelik heran. "Maaf?"

"Gue bilang, jangan sentuh dia. Lo nggak usah sok heroik main tangan ke cewek gue," katanya sewot.

Dokter berusaha tenang. "Mas, saya Dokter. Saya—"

"Gue mau Dokter yang cewek." Ravian berseru tidak terima. "Jadi minggir sebelum tangan lo gue patahin!"

Beberapa suster melirik, mulai panik. Sopir pribadi yang ikut dari belakang buru-buru maju menenangkan.

Brankar akhirnya masuk ke IGD. Ravian mondar-mandir di depan ruangan.

"Goblok, Ravian! Ini semua salah lo!" umpatnya kasar sambil meninju dinding rumah sakit.

Dia bersandar di dinding, lalu menunduk. Kedua tangannya menggenggam kepala—rambutnya kusut diacak sendiri.

"Cuma lo satu-satunya yang gue punya," katanya dengan sorot mata memerah. "Gue emang nyakitin lo—tapi bukan berarti lo boleh pergi. Jangan ninggalin gue kayak orang-orang itu."

---

Suara alat medis berdetak pelan. Cahaya matahari pagi menerobos ruangan.

Kelopak mata Aelira akhirnya terbuka—sosok yang dia lihat adalah Ravian—kusut, mata merah, rambut berantakan. Bukan karena mengantuk, tapi karena stres, panik, takut.

Cowok itu duduk di samping brankar sambil menggenggam tangannya sepanjang malam.

"Aelira?" suaranya terdengar kaget. "L—lo bangun?"

Aelira mengangguk pelan. "Aku di rumah sakit, ya?"

Ravian mendecak. "Kenapa lo baru bangun sekarang? Gue hampir bunuh semua orang di rumah sakit ini cuma karena lo nggak buka mata dari tadi."

"Makan yang banyak! Kalau pingsan lagi, gue enggak bakalan peduli."

Aelira tersenyum kecil. Meski nyebelin, cowok itu tetap datang saat dia sakit, tetap bawa makanan favoritnya.

"Ravian!"

"Hm?"

"Kalau nanti aku pergi jauh, kamu harus bisa ngelakuin semuanya sendiri, ya?"

Kalimat itu terdengar tenang. Tapi bagi Ravian, seolah petir menyambar dadanya.

Cowok itu langsung berdiri. Matanya menatap tajam ke Aelira. "Lo ngomong apaan barusan?"

"Lo tahu kan, gue nggak pernah suka ditinggalin?!" bentaknya.

BRAK!

Aelira menjerit kaget saat Ravian menendang kursi kecil di samping tempat tidurnya.

"Gue pungut lo bukan buat pergi dari dunia gue. Ngerti?" katanya kasar lalu berjalan cepat ke pintu.

Beberapa detik kemudian, Ziva masuk ke ruangan. Tatapannya syok.

"Eli, itu barusan Ravian? Serem banget mukanya. Dia lagi marah sama lo?"

Aelira mengangguk. "Dia nggak mau ditinggal. Padahal gue dapat tawaran beasiswa ke Jepang setelah lulus nanti."

Ziva mendengus sinis. "Gila. Tiap hari gue haluin soal Ravian, di depan ceweknya?" Ziva menatap Aelira. "Malu banget gue sumpah!"

Aelira terkekeh pelan. Tapi di sudut hatinya, ia tahu: keputusan besar harus segera diambil. Antara masa depan impian—atau cowok keras kepala yang tak bisa hidup tanpanya.

Dan Ravian? Di luar ruangan, ia masih berdiri membelakangi pintu, menggenggam ponsel erat-erat, menatap foto Aelira di layar.

"Jangan pergi," bisiknya lirih. "Gue belum siap kehilangan lagi."

1
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⒋ⷨ͢⚤zc❖Aisyah Chris
secawan ☕️ biar seger dan semangat up nya
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⒋ⷨ͢⚤zc❖Aisyah Chris
aku mampir ya
SANG
Bunga untukmu thor/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
Alia Chans: Thanks kk for support nya 👈😉
total 1 replies
SANG
Sampai tamat💪👍
Alia Chans: Bismillah
total 1 replies
SANG
Semangat terus pantang mundur💪👍
SANG
Lanjutkan terus💪👍
mary dice
serem banget😱jantung ikut berdegup lebih kencang😮lanjut thor😍
Alia Chans: Thanks, dilanjut kok kk👈😉
total 1 replies
🌹Widian,🧕🧕🌹
mampir nih
Alia Chans: Thanks👈😉
total 1 replies
Alia Chans
makasih kak🤭
Salma.Z
semangatttt...
SANG
Like iklan plus komen👍💪
SANG
Asik banget👍💪
SANG
Ceritanya keren👍💪
SANG
Mampir thor👍💪
Dindinn
keren kak lanjut
Alia Chans: thanks, bakal dilanjut kok🤭☝
total 1 replies
T28J
/Rose//Rose//Rose/
Ntaaa___
Jangan lupa mampir juga ya kak😇
Alia Chans: oke kk
total 1 replies
Ntaaa___
Menarik sekali😇😍
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
waduhhhh parahhhh nih kasian Aelira padahal dia pakai jaket kaka kelasnya buat nutupin bajunya yang basah jadinya salah paham ini
Alia Chans: wk" namanya juga cowok mana mau dengerin penjelasan cewek kk🙄
total 1 replies
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
Vergan ini terlalu posesif ihhhh ngerinya😱🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!