NovelToon NovelToon
Saat Takdir Menautkan Hati

Saat Takdir Menautkan Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Rani Ramadhani

Sejak bangku taman kanak-kanak, sekolah dasar, menengah, hingga ruang kuliah, mereka selalu dipertemukan, seolah takdir tak ingin memisahkan langkah keduanya. Namun perbedaan watak dan sifat menjadikan mereka dua kutub yang selalu berlawanan, sering berselisih paham atas hal-hal kecil, dan saling memandang dengan dingin. Kini, dua jiwa yang dulu saling menjauh dan penuh pertikaian, terpaksa disatukan dalam satu ikatan pernikahan. Di atas janji yang tertulis di atas kertas, tersembunyi sebuah tanya besar: mungkinkah benci yang lama terjalin perlahan meleleh, berubah menjadi rasa cinta yang tumbuh diam-diam di tengah perbedaan dan perselisihan yang selama ini ada di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Farzhan yang Tidak Ada Kabar

Hari-hari berlalu terasa begitu lambat, bagaikan waktu yang berjalan merangkak bagi Vira. Rasa rindu yang tadinya manis dan hangat, perlahan berubah menjadi rasa cemas yang menyakitkan dan mengganjal kuat di dalam dada.

Sudah dua hari berlalu... namun tidak ada kabar sedikit pun yang datang dari Farzhan.

Biasanya, meski sedang sibuk bertemu klien atau terperangkap dalam rapat panjang, Farzhan pasti akan selalu menyempatkan diri menelepon atau setidaknya mengirim pesan singkat.

Walaupun hanya sekedar bertanya "Sudah makan?", "Sedang rapat", atau mengirimkan stiker gambar hati yang jarang sekali ia gunakan, namun selalu terasa berharga bagi Vira.

Tapi sekarang?

Seperti senyap. Diam total. Tidak ada apa-apa.

Telepon genggam Vira selalu ditaruh di tempat yang mudah dijangkau, tepat di atas meja ruang tamu. Layarnya tetap gelap, mati, tanpa ada satu pun notifikasi baru yang muncul.

Kadang berkali-kali Vira mengecek ulang, memastikan sinyal berjalan baik, memastikan tidak ada pesan yang masuk ke kotak surat lain, atau memastikan baterai ponselnya tidak habis. Semuanya berjalan normal. Hanya saja... pemilik hati yang ditunggunya itu yang sama sekali tidak memberi tanda kehidupan.

Malam pertama tanpa kabar:

Vira mencoba bersikap tenang dan berusaha berpikir positif.

"Ah, mungkin dia sedang sangat sibuk sekali. Rapat berturut-turut dari pagi sampai malam. Pasti nanti dia akan menelepon begitu ada waktu santai sedikit saja."

Ia menunggu, menatap layar ponselnya hingga pukul sebelas malam. Matanya sudah terasa berat dan perih karena kantuk, namun benda kecil itu tetap digenggam erat di tangan. Tetap saja, tidak ada panggilan masuk. Vira pun akhirnya tidur dengan perasaan tidak tenang, menyelipkan ponselnya di bawah bantal, seolah-olah itu bisa memperpendek jarak di antara mereka.

Malam kedua tanpa kabar:

Kegelisahan mulai merayap masuk dan menguasai sepenuhnya.

"Kenapa sih, kok tidak ada kabar? Ada apa ya? Apakah ponselnya rusak? Atau baterainya habis terus tidak sempat diisi daya? Atau jangan-jangan dia jatuh sakit lagi di sana sendirian? Atau... atau ada hal buruk yang menimpanya?"

Berbagai pikiran buruk dan skenario mengerikan mulai berterbangan liar di kepala Vira. Ia menjadi sangat gelisah, tidak bisa makan dengan enak, dan sama sekali tidak bisa tidur nyenyak. Rumah besar dan mewah itu kini terasa semakin sunyi, dingin, dan mencekam tanpa kehadiran suara atau tawa suaminya.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Vira mencoba menelepon nomor Farzhan.

Tuuut... tuuut...

"Nomor yang Anda tuju sedang tidak dapat dihubungi."

Berkali-kali ia mencoba menekan tombol panggil, namun hasilnya tetap sama. Rasanya sangat putus asa, Vira lalu mencoba menghubungi Zikri, asisten setia suaminya. Namun, Zikri juga tidak mengangkat telepon dan suara mereka tak satupun kabar yang terdengar. Seolah-olah kedua laki-laki itu hilang ditelan bumi, lenyap tanpa jejak.

Situasi semakin menjadi parah saat malam kembali menjelang.

Di luar jendela, langit kembali berubah menjadi kelabu dan mendung. Awan hitam menggumpal tebal dan berat, seolah alam pun ikut bersedih dan cemas bersama Vira. Angin malam berhembus kencang, menabrakkan diri ke dinding rumah dan menimbulkan suara lolongan panjang yang menyeramkan di sudut-sudut bangunan kosong itu.

Vira duduk meringkuk sendirian di sofa ruang tengah, memeluk erat baju kemeja milik Farzhan yang masih tergantung di sandaran kursi. Ia mendekatkan kain itu ke wajahnya, menghirup aroma wangi khas suaminya yang masih tersisa, berusaha mencari ketenangan dan rasa aman di sana. Tapi tetap saja... dadanya terasa sangat sesak dan berat. Ia benar-benar merasa rindu.

"Zhan... kamu ada di mana sih?" bisiknya pelan, suaranya bergetar tertahan tangis. "Kenapa tidak ada kabar sama sekali? Aku takut sekali lho di sini..."

Bayangan-bayangan buruk mulai bermunculan satu per satu di benaknya.

Jangan-jangan dia kenapa-napa?

Jangan-jangan kecelakaan di jalan atau di perjalanan?

Atau jangan-jangan... dia malah sedang asyik bersenang-senang dengan orang lain di sana sampai lupa sama aku?

Pikiran terakhir itu membuat hati Vira terasa perih dan nyeri, seolah diremas kuat. Namun, rasa khawatir akan keselamatan suaminya ternyata jauh lebih besar daripada rasa cemburu atau curiga. Ia lebih takut jika Farzhan mengalami sesuatu yang buruk, daripada takut ditinggalkan atau dikhianati.

"Tidak... Farzhan bukan orang yang seperti itu. Dia berjanji akan selalu memberi kabar. Pasti ada alasan yang sangat kuat, alasan besar kenapa dia tidak bisa menelepon atau mengirim pesan," batin Vira berusaha keras meyakinkan diri sendiri.

Namun, air mata dari pelupuk mata sudah tidak bisa lagi dibendung, tanpa di suruh ia jatuh membasahi pipi mulus yang pucat.

Tetes demi tetes air mata itu jatuh membasahi kain baju yang dipeluknya.

"Zhan... aku mohon hubungi aku walau hanya sebentar saja... Aku kangen... aku takut sekali sendirian di rumah..." isaknya pelan, tubuhnya berguncang menahan tangis yang semakin keras ingin meledak.

Rumah yang biasanya penuh dengan suara rengekan, canda tawa, atau bahkan pertengkaran kecil mereka, sekarang hanya dipenuhi oleh kesunyian mencekam dan suara isak tangis halus dari seorang istri yang sedang sangat mencemaskan keselamatan suaminya.

Vira memejamkan mata rapat-rapat, berdoa sekuat tenaga dan memohon kepada Yang Maha Kuasa.

"Ya Allah... lindungi suamiku ya di mana pun dia berada. Kembalikan dia kepadaku dengan selamat, sehat, dan utuh. Aku berjanji kepadaMu, kalau dia pulang nanti, aku tidak akan mengelak atau melawan lagi, aku akan memasakkan makanan yang paling enak untuknya, aku akan mendengarkan semua kata-katanya, dan aku akan memeluk dia erat-erat sekali. Aku hanya minta tolong... Suruh dia untuk kabari aku sebentar saja, atau tolong Ya Allah, beri aku tanda bahwa dia baik-baik saja di sana."

Malam itu terasa sangat panjang, gelap, dan mencekam bagi Vira. Ia sama sekali tidak tahu bahwa jauh di seberang lautan sana, Farzhan dan Zikri sedang berjuang menghadapi situasi darurat yang rumit dan berbahaya, yang membuat mereka benar-benar tidak memiliki kesempatan sedikit pun untuk menghubungi siapa pun, termasuk wanita yang paling dicintai Farzhan.

Dan rasa ketidakpastian yang panjang ini... adalah siksaan tersendiri yang paling berat bagi hati seorang istri yang sedang menunggu.

Waktu seolah berhenti berputar, dan setiap detik yang berlalu terasa seperti pisau kecil yang terus menggores kecemasan di dadanya, bertanya-tanya dalam diam, apakah suaminya masih baik-baik saja, atau justru sedang terperangkap dalam bahaya yang tak terbayangkan?

1
Pich
kenapa ga di cium sekalian haeh🥱
Rocean: masih kicik🤣
total 1 replies
Sheer
asikkk ada yg cemburu🤣🤭
Sheer
boleh juga vira . diam diam 🤭
Rocean: diam diam menghanyutkan ya
total 1 replies
Sheer
demen bnget kalo cerita yang sangai gini.
Rosella
lucu bangets yaampun🤣
Pich
ihh gemas deh sama mereka🤭
Pich
dia pikir mau ngapain🤣
Rocean: 🤣🤣🤣🤣
entahlah
total 1 replies
Seai
🥴
Rosella
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!