"Sialan! Kenapa transmigrasiku tidak memberiku kekuatan super?!"
Ye Xuan adalah seorang pemuda dari Bumi yang terbangun di Benua Sembilan Cakrawala, sebuah dunia di mana para kultivator bisa membelah lautan dengan satu tebasan pedang. Sialnya, ia menempati tubuh seorang Tuan Muda Klan Ye yang dibuang karena tidak memiliki bakat kultivasi sedikit pun.
Tanpa energi spiritual, tanpa sistem bela diri, Ye Xuan terpaksa hidup terasing di sebuah puncak gunung terpencil. Untuk bertahan hidup, ia hanya bisa berkebun ubi, menyapu halaman, dan memancing di kolam belakang gubuknya.
Namun, yang tidak Ye Xuan sadari adalah:
Air bekas cucian ubi yang ia buang sebenarnya adalah Cairan Kehidupan Abadi yang diperebutkan para Kaisar.
Sapu lidi tua miliknya adalah Senjata Pemusnah Dao yang ditakuti seluruh iblis.
Dan ubi bakar yang ia anggap "makanan rakyat jelata" sebenarnya adalah Obat Dewa yang bisa membuat seseorang menerobos ranah dalam semalam!
Ketika para dewi sekte suci d
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Invasi Pangeran dan Diplomasi Bawang Merah
Pangeran Sulung, yang dikenal sebagai "Pedang Tak Terkalahkan dari Barat", merasa dunianya runtuh. Ayahnya, sang Kaisar yang biasanya ditakuti oleh sembilan benua, kini berdiri dengan bangga sambil memamerkan sebuah kuali yang sangat bersih seolah-olah itu adalah harta karun legendaris.
"Ayahanda... apakah Anda sudah gila?" bisik Pangeran Kedua dengan wajah pucat. "Kenapa Anda terlihat begitu bahagia memegang alat dapur?!"
"Diam kau, Anak Kurang Ajar!" bentak Kaisar sambil memeluk kualinya. "Kalian tidak mengerti! Master Ye Xuan telah mengajariku bahwa kedaulatan sebuah negara dimulai dari kebersihan kualinya! Kalian datang tepat waktu, cepat bantu bersihkan selokan di belakang gubuk ini!"
Ye Xuan, yang baru saja mau masuk untuk melanjutkan tidur siangnya, menoleh ke arah ribuan tentara elit yang mengepung halamannya. Bukannya takut, ia justru menggaruk kepalanya dengan ekspresi sangat kesal.
"Aduh, Pak Pejabat berbaju kuning, ini anak-anakmu ya?" tanya Ye Xuan sambil menunjuk para pangeran dengan jempolnya. "Tolong bilang pada mereka, parkir kuda terbangnya yang rapi! Itu tanaman cabaiku hampir keinjak! Dan itu... tentara yang di belakang, jangan berdiri di atas jemuran baju saya!"
Pangeran Sulung merasa dihina. Ia mengarahkan pedangnya ke hidung Ye Xuan. "Rakyat jelata! Kau telah mencuci otak ayahku! Rasakan teknik 'Tebasan Sembilan Naga'—"
Belum sempat Pangeran itu menyelesaikan kalimatnya, seekor ayam peliharaan Ye Xuan (yang sebenarnya adalah Phoenix Kuno yang sedang menyamar) lewat di depan kakinya. Pangeran itu tersandung tubuh ayam tersebut dan jatuh tersungkur dengan wajah mendarat tepat di atas tumpukan pupuk kandang yang baru dikumpulkan Ao Guang.
"Waduh! Mas, hati-hati! Ayamku itu memang suka main hakim sendiri kalau ada orang teriak-teriak," kata Ye Xuan konyol sambil menahan tawa.
Pangeran Kedua dan Ketiga yang melihat kakak mereka "dikalahkan" oleh seekor ayam segera bersiap menyerang, namun Ao Guang maju dengan perlahan sambil memegang sapu lidi. "Anak-anak muda, saran saya... letakkan pedang kalian. Senior Ye sedang tidak dalam mood untuk melihat pertumpahan darah, tapi beliau sangat butuh bantuan untuk mengupas tiga karung bawang merah."
"Mengupas bawang?! Kami adalah pangeran!" teriak Pangeran Ketiga.
Tiba-tiba, aroma dari sisa nasi goreng di piring Kaisar tertiup angin ke arah para pangeran dan tentara. Aroma itu begitu magis hingga membuat perut ribuan tentara itu berbunyi secara serempak, menghasilkan suara gemuruh yang lebih keras daripada genderang perang.
"Itu... aroma apa?" gumam Pangeran Kedua, air liurnya mulai menetes tak terkendali.
"Itu adalah 'Nasi Goreng Kesadaran'," jawab Kaisar dengan nada mistis. "Tapi Master hanya memberikan makan kepada mereka yang berkontribusi pada ekosistem kebun ini. Cepat! Ambil pisau dapur! Siapa yang paling cepat mengupas bawang, dia yang boleh makan duluan!"
Dalam waktu lima menit, terjadi pemandangan yang akan tercatat sebagai momen paling konyol dalam sejarah militer: Ribuan tentara elit meletakkan tombak mereka dan mulai berjongkok di tanah untuk mencabuti rumput liar. Sementara itu, ketiga pangeran yang tadinya ingin berperang, kini duduk melingkar mengupas bawang merah dengan air mata bercucuran—bukan karena sedih, tapi karena pedasnya uap bawang.
"Aduh, pelan-pelan kupasnya, Pangeran!" tegur Ye Xuan sambil lewat membawa ember air. "Kalau kulit arinya tidak bersih, nanti tumisannya pahit. Nah, begitu... bagus. Ternyata bakat kalian bukan di perang, tapi di bumbu dapur."
Ye Xuan kemudian menoleh ke Ao Guang dan berbisik konyol, "Pak Tua, sepertinya kita butuh kuali yang lebih besar. Ternyata menjajah sebuah negara itu gampang ya? Tinggal kasih makan saja, mereka langsung mau jadi tukang kebun."
Ao Guang hanya bisa geleng-geleng kepala. "Bukan negaranya yang lemah, Senior. Tapi perut mereka yang terlalu jujur pada masakan Anda."
Malam itu, Puncak Awan Tersembunyi tidak dipenuhi dengan jeritan perang, melainkan suara ribuan orang yang menangis berjamaah sambil mengupas bawang, diiringi suara Ye Xuan yang sibuk mengajari Kaisar cara menanam tauge yang benar.