NovelToon NovelToon
ARCHEON : THE LAST SIGIL

ARCHEON : THE LAST SIGIL

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Kutukan
Popularitas:254
Nilai: 5
Nama Author: Kenken77

Di dunia bernama Archeon, sihir bukan sekadar kekuatan.
Sihir adalah hukum.
Langit dipenuhi lingkaran rune raksasa yang terus berputar di atas awan. Laut bercahaya biru di malam hari karena mana mengalir seperti darah di bumi. Dan setiap manusia lahir dengan “Sigil” — tanda sihir yang menentukan takdir mereka.
Ada yang lahir sebagai penyihir api.
Ada yang mengendalikan badai.
Ada yang mampu berbicara dengan roh.
Namun…
Ada satu Sigil yang dianggap kutukan.
Sigil tanpa elemen.
Sigil kosong.
Dan pemiliknya…
Biasanya mati muda

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenken77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

​Dunia Archeon tidak pernah lagi sama. Ketika Celestia, benua yang selama ribuan tahun bertahta di atas awan, akhirnya menyentuh daratan bumi, guncangannya terasa hingga ke ujung samudera. Namun, itu bukan guncangan kehancuran yang ditakutkan. Itu adalah penyatuan kembali yang menyakitkan namun perlu. Rantai-rantai mana emas yang dulunya mengikat pulau-pulau terapung itu kini hancur, menjadi butiran debu bintang yang menyuburkan tanah-tanah mati di bawahnya.

​Matahari baru yang diciptakan oleh Kael melalui Garis Ketujuh menggantung di langit dengan cahaya yang lebih lembut, lebih keperakan dibandingkan matahari lama. Cahaya itu tidak hanya memberikan panas, tetapi juga membawa ketenangan bagi jiwa-jiwa yang selama ini terjebak dalam teror kegelapan.

​Singgasana yang Ditinggalkan

​Di pusat pertemuan antara Celestia dan daratan utama—sebuah wilayah yang kini disebut Valley of Convergence—Kael Ravenhart duduk di atas sebuah batu besar yang dulunya merupakan bagian dari pilar Katedral Aether. Ia tidak lagi mengenakan zirah bayangan yang mengintimidasi. Jubahnya compang-camping, dan pola-pola hitam yang dulu merayap di kulitnya kini memudar, menyisakan bekas luka putih yang samar seperti jaring laba-laba.

​Liora berdiri di sampingnya, menatap kerumunan orang yang mulai berdatangan dari kejauhan. Ada para penyintas dari Solaria, para Druid dari Veridian, dan bahkan mantan ksatria langit yang kini kehilangan sayapnya. Mereka datang bukan dengan pedang di tangan, melainkan dengan kebingungan yang mendalam.

​"Kau memberikan mereka matahari, Kael," ucap Liora pelan. "Tapi kau juga mengambil hukum yang mereka pahami selama ini. Mereka tidak tahu harus mengikuti siapa sekarang."

​Kael menatap telapak tangan kirinya. Sigil Void itu masih ada, namun ketujuh garisnya kini redup, seolah-olah sedang tertidur setelah ledakan penciptaan yang dahsyat. "Aku bukan lagi pemimpin mereka, Liora. Seorang Kaisar hanya dibutuhkan di masa perang. Di masa depan yang sedang kita bangun, seorang Kaisar hanyalah pengingat akan luka masa lalu."

​"Tapi dunia butuh ketertiban," sela Archbishop Metatron yang berjalan mendekat dengan langkah gontai. Pria tua itu tampak jauh lebih manusiawi sekarang tanpa aura keilahiannya. "Kau telah menghancurkan struktur sosial seluruh benua. Tanpa kasta mana, tanpa dominasi cahaya atau kegelapan, manusia akan kembali pada insting dasar mereka: keserakahan."

​Kael berdiri, matanya yang kini kembali berwarna hitam manusia menatap tajam ke arah Metatron. "Keserakahan lahir karena kelangkaan, Archbishop. Kalian menciptakan kelangkaan mana untuk mengontrol mereka. Sekarang, mana ada di mana-mana—di udara, di air, di tanah. Biarkan mereka belajar untuk berbagi, atau biarkan mereka hancur oleh kebebasan mereka sendiri."

​Masalah terbesar yang tersisa adalah ribuan Void Walkers dan jenderal-jenderal Kael seperti Vorgas. Makhluk-makhluk ini diciptakan dari kegelapan murni dan kehendak Kael. Saat Kael kehilangan sebagian besar otoritas absolutnya atas kehampaan, pasukan ini mulai kehilangan bentuk.

​Vorgas mendekati Kael. Lengan prostetik kegelapannya mulai bergetar dan mengeluarkan asap. "Tuanku... esensi kami mulai memudar. Tanpa perintahmu untuk menghancurkan, kami tidak memiliki alasan untuk ada. Apakah kau akan menghapus kami?"

​Kael menatap jenderal yang telah menemaninya dalam penaklukan dunia itu. Ia melihat loyalitas yang mengerikan, sebuah pengabdian yang lahir dari penderitaan yang sama.

​"Kau tidak perlu dihapus, Vorgas," ucap Kael. Ia mengangkat tangannya, memanggil sisa-sisa kekuatan Garis Ketujuh—Void Genesis. "Kalian adalah bayangan. Dan selama ada cahaya, bayangan akan selalu ada. Namun, kalian tidak akan lagi menjadi pemangsa."

​Kael merapal sebuah mantra kuno yang ia dapatkan dari memori purba Sigil. Ia tidak membubarkan pasukan bayangannya, melainkan mengikat mereka pada tanah Archeon. Para prajurit Void itu perlahan-lahan meresap ke dalam bumi, menjadi penjaga-penjaga diam di hutan, gunung, dan perbatasan. Mereka menjadi "penyeimbang" alami; mereka hanya akan bangkit jika keseimbangan alam terancam oleh sihir yang berlebihan.

​Vorgas sendiri merasakan tubuhnya mengeras, berubah menjadi patung obsidian hitam yang kokoh tepat di gerbang lembah tersebut. Sebuah monumen hidup bagi masa lalu yang kelam.

​Namun, kedamaian ini memiliki celah. Kael tahu bahwa Umbra—bagian jahat dari Sigil yang ia tarik keluar secara fisik—belum sepenuhnya musnah. Entitas itu kini menjadi parasit tanpa inang, merayap di antara celah-celah kenyataan, menunggu saat di mana manusia kembali melakukan dosa besar untuk memberikan kekuatan padanya.

​"Aku merasakannya, Liora," bisik Kael saat mereka berjalan menjauh dari kerumunan menuju reruntuhan Eldravale, desa masa kecil mereka. "Umbra tidak mati. Dia adalah akumulasi dari semua kebencian yang pernah kurasakan. Selama aku masih hidup, dia akan tetap memiliki koneksi dengan dunia ini."

​"Maka kita akan menjaganya bersama," jawab Liora tegas. "Kau tidak lagi sendirian membawa beban ini."

​Perjalanan menuju Eldravale memakan waktu beberapa hari. Di sepanjang jalan, Kael melihat tanda-tanda kehidupan yang mulai pulih. Tanaman-tanaman aneh yang belum pernah dilihat sebelumnya tumbuh dari percampuran tanah Celestia dan bumi. Orang-orang mulai membangun gubuk dari kayu-kayu yang tidak lagi terinfeksi oleh mana hitam.

​Saat mereka sampai di Eldravale, desa itu hampir tidak bisa dikenali. Sisa-sisa kebakaran bertahun-tahun lalu telah tertutup oleh tanaman merambat. Gubuk lama Kael adalah satu-satunya bangunan yang masih memiliki kerangka yang tegak, seolah-olah waktu sengaja melupakannya.

​Kael masuk ke dalam gubuk itu. Debu beterbangan di bawah sinar matahari perak yang masuk melalui atap yang bocor. Di sudut ruangan, ia menemukan sebuah benda kecil yang tertimbun tanah: sebuah pisau kayu tumpul yang ia buat saat masih kecil.

​Ia memegang pisau itu, dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Kael Ravenhart menangis. Bukan tangis kesakitan, tapi tangis kelegaan. Semua penaklukan, semua darah yang tertumpah, semua takhta yang ia duduki... semuanya terasa jauh dan tidak berarti dibandingkan dengan perasaan kembali ke titik nol.

​Malam itu, di depan api unggun kecil yang menyala dengan api jingga normal—bukan api biru Void—Kael dan Liora duduk berdampingan.

​"Apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Liora.

​Kael menatap Sigil di tangannya. Garis ketujuh kini benar-benar menghilang, menyisakan enam garis yang juga mulai memudar menjadi tato biasa yang tidak lagi memiliki kekuatan destruktif. "Aku akan tinggal di sini. Menanam kembali apa yang kuhancurkan. Dan jika suatu hari nanti kekuatan ini bangun lagi, aku harap aku sudah cukup bijaksana untuk tidak menggunakannya demi amarah."

​Liora menyandarkan kepalanya di bahu Kael. "Dunia akan menceritakan kisahmu dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang akan menyebutmu monster, ada yang akan menyebutmu juru selamat."

​"Biarkan saja," kata Kael sambil memejamkan mata. "Yang penting adalah, malam ini... dunia bisa tidur dengan tenang."

​Namun, jauh di bawah tanah, di sebuah gua terpencil yang tak tersentuh cahaya matahari perak, sebuah bayangan hitam kecil mulai menggeliat. Ia membentuk sebuah tanda di dinding gua—sebuah lingkaran dengan tujuh garis yang patah. Bisikan Umbra terdengar lemah, namun tajam.

​"Beristirahatlah, Kael Ravenhart... Karena saat kau mulai melupakan rasa sakitmu, saat itulah aku akan mengingatkanmu kembali siapa dirimu sebenarnya."

​Di atas tanah, Kael mendadak membuka mata. Ia menatap kegelapan di kejauhan, lalu menggenggam tangan Liora lebih erat. Ia tahu bahwa perjuangannya belum benar-benar berakhir. Ia telah memenangkan perang dunia, namun perang untuk menjaga keseimbangan adalah tugas seumur hidup.

​Matahari perak naik lebih tinggi, menyinari Archeon yang sedang lahir kembali. Sebuah era baru telah dimulai—Era Keseimbangan, di mana cahaya dan bayangan berjalan beriringan, dipandu oleh seorang pemuda yang pernah menelan dunia hanya untuk memuntahkannya kembali dengan cinta.

1
Prety Chiky
semangat terus tor
Ivah Maria ulpah
Mc yg jdi villain hhmmm boleh juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!