Pada jaman kuno, pertempuran besar terjadi antara Dewa dan Iblis, yang menyebabkan dunia hancur.
Satu juta tahun setelah pertempuran itu terjadi. Dewa dan Iblis menghilang, seolah-olah menjadi dongeng untuk anak kecil yang diceritakan oleh orang tuanya.
Manusia-manusia semakin kuat, tumbuhan memiliki kesadarannya sendiri, bahkan suku binatang buas mulai bangkit berkuasa.
Mengisahkan tentang kisah seorang Tuan Muda keluarga Zhou yang terlahir dari orang tua nya yang merupakan dua keberadaan terkuat di Wilayah Timur. Namun, dia terlahir dengan kondisi Akar Spiritual yang cacat, membuatnya di anggap sebagai Aib keluarga, bahkan tunangannya pun memilih untuk membatalkan pernikahan mereka.
Di tengah-tengah rasa putus asa, dia bertemu dengan secercah kesadaran Dewa, yang memberinya kesempatan untuk bangkit, tetapi menanggung misi untuk menyalakan sembilan Api Jiwa sang dewa yang ikut terkubur di Reruntuhan Dewa.
Namun, di mana Reruntuhan Para Dewa dan Iblis itu berada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon APRILAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RPD: Chapter 11
Setelah konflik Chen Dong dengan para peri dari Istana Awan Es. Mereka 'Zhou Xuan, Chen Dong, dan Shen Mu', akhirnya memutuskan untuk kembali ke Desa Embun Pagi, tempat Tetua Fang San berada.
Zhou Xuan yang mengetahui bahwa Shen Mu dan juga Chen Dong yang merupakan murid dari Tetua Fang, akhirnya memutuskan untuk mengikuti mereka menuju Desa Embun Pagi.
Hingga satu Minggu telah berlalu. Ketiga pria itu melewati hutan, pegunungan, sungai, dan akhirnya tiba di suatu desa kecil yang sederhana yang disebut-sebut sebagai Desa Embun Pagi yang dijuluki sebagai Desa Kabut Abadi.
Desa Embun Pagi berada di lereng pegunungan selatan Kekaisaran Bintang Biru. Desa ini seolah lahir dari pelukan kabut tebal yang setiap pagi turun dari puncak-puncak gunung, membasahi atap-atap genting melengkung dan dedaunan hijau yang masih basah.
Desa Embun Pagi terletak di pinggir sebuah sungai kecil yang jernih namun deras, mengalir di antara rumah-rumah kayu berarsitektur kuno dengan atap melengkung khas wilayah selatan. Kabut yang hampir selalu menyelimuti lembah membuat desa ini terasa seperti dunia tersembunyi, tenang, misterius, dan penuh rahasia. Dari kejauhan, hanya asap tipis dari tungku dapur dan cahaya kuning samar dari lentera-lentera yang terlihat menembus kabut.
Penduduk Desa Embun Pagi mayoritas adalah petani yang menggarap sawah-sawah terasering di lereng gunung. Mereka menanam padi gunung, sayuran, dan rempah-rempah yang konon memiliki khasiat luar biasa karena tanahnya yang kaya akan energi spiritual. Namun, di balik kehidupan bertani yang damai, banyak pula warga, terutama para pemuda dan pemburu berpengalaman yang menjadikan berburu Binatang Monster sebagai mata pencaharian tambahan.
Setiap pagi, saat embun masih menggantung di ujung daun, terdengar suara ayam hutan dan langkah kaki para pemburu yang berangkat menuju hutan lebat di balik gunung. Mereka membawa busur, tombak berlapis rune, dan jaring penangkap yang telah diwariskan turun-temurun. Monster-monster kecil seperti Serigala Kabut atau Kijang Bayangan sering muncul di sekitar Desa Embun Pagi, sehingga kewaspadaan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Meski dikelilingi ancaman, suasana desa tetap hangat. Anak-anak bermain di tepi sungai, para ibu menjemur ikan hasil tangkapan di atas batu-batu basah, dan para tetua duduk di teras rumah sambil mengisap pipa, bercerita tentang legenda Kekaisaran Bintang Biru dan monster-monster purba yang pernah mengguncang wilayah ini.
Desa Embun Pagi adalah tempat di mana kabut pagi bukan hanya pemandangan, melainkan juga pelindung. Di sini, kehidupan sederhana bertemu dengan keberanian menghadapi kegelapan hutan. Sebuah desa kecil yang tenang di permukaan, namun penuh cerita dan kekuatan di balik selimut embunnya.
"Jadi ini... Desa Embun Pagi!" gumam Zhou Xuan. Dia berdiri di jalan setapak di tepi sungai yang jernih, pandangannya tertuju kepada desa kecil sederhana di hadapannya.
Para warga nampak tengah sibuk melakukan kesibukannya masing-masing. Namun, ada seorang pria berusia tiga puluh tahunan yang berjalan ke arahnya. Lalu, pria itu pun tertawa ketika dia melihat Chen Dong dan juga Shen Mu.
"Yo yo yoo... para pejuang tangguh desa kita akhirnya pulang! Bagaimana? Apakah... Peri Awan Es itu... cantik?" dia berbicara sembari mencondongkan tubuhnya ke depan, membuat wajahnya hampir bertabrakan dengan Chen Dong.
Bagi desa embun pagi, mereka yang berlatih dengan Tetua Fang San, adalah para pejuang desa. Sosok pelindung bagi semua warga desa kecil itu.
Di Desa Embun Pagi, hanya mereka yang menjadi murid-murid Tetua Fang San, yang menapaki jalan kultivasi. Para warga lainnya dominan manusia biasa, tetapi ada beberapa orang yang mempunyai kemampuan untuk berkultivasi, tetapi lebih memilih untuk menjadi manusia biasa-biasa saja. Bagi mereka, dapat hidup tenang dan mati di hari tua adalah hal yang sangat baik.
Shen Mu memalingkan pandangannya mengarah kepada Chen Dong, memandang Chen Dong dengan tatapan yang dingin.
"Hm! Bagaimana, Junior Chen. Apakah wanita-wanita dari Istana Awan Es itu sangat cantik?" kata Shen Mu dengan nada yang begitu dingin dan mengejek. Ekpresi wajahnya menunjukan kekesalan yang sangat luar biasa terhadap Chen Dong.
Awalnya, Chen Dong mengajak Shen Mu memasuki pegunungan pedang kuno untuk berburu Inti Binatang Monster. Namun, ketika tiba di Gunung Pedang, Chen Dong malah memisahkan diri dengan Shen Mu, ketika mereka berhadapan dengan Monster tipe tumbuhan akar merambat.
Alih-alih berburu Inti Binatang Monster di dalam tubuh Binatang Monster. Chen Dong ternyata memiliki niat lain. Dia tahu bahwa para peri Istana Awan Es sedang berlatih di sana, di bawah bimbingan Luo Bing Li'er, para juniornya berlatih di sana untuk mendapatkan pengalaman tempur yang nyata.
Namun, niat Chen Dong yang sebenarnya terbongkar ketika pria berusia dua puluh lima tahunan itu yang baru saja bertanya kepadanya. Membuat ekpresi wajah Chen Dong pun menjadi aneh, merasa takut akan seniornya yang akan marah.
Walaupun ia memiliki kekuatan yang lebih kuat dari Shen Mu, tetapi dalam hal senioritas... Shen Mu lebih senior darinya. Apalagi mereka memiliki guru yang sama.
Belum sempat Chen Dong berbicara apa-apa, tiba-tiba suara menggema di langit Desa Embun Pagi.
"Mu'er! Dong'er! Kembali sekarang juga!" suara yang tak terbantahkan membuat Shen Mu dan juga Chen Dong bersikap kikuk. Mereka tahu siapa yang baru saja berbicara itu, dan mereka tahu mereka telah meninggalkan desa tanpa seijin gurunya.
"Nah, para pejuang muda... berhati-hatilah menghadapi Monster Tua itu!" kata pria itu, berbicara sembari mengejek Chen Dong dan juga Shen Mu.
Mereka berdua pun menghela nafas panjangnya. Shen Mu berkata: "Tamatlah riwayat ku!"
Lalu, mereka pun berjalan lemas memasuki desa. Dan Zhou Xuan, mengikuti mereka dari belakang.
buat kalian yang mau sawer author bisa via Gopay: 081774888228
Dana juga bisa: 081774888229
dana sama gopay cuma beda belakang nya aja
Bisa juga lewat BCA: 3520695370
semuanya a.n APRILAH
Terimakasih sudah setia membaca karyaku 🙏🙏