Fradella Gauta terpaksa menikah dengan Dayaksa Herlos, Tuan Muda keluarga Herlos yang dikenal sebagai orang gila setelah kematian ayah dan ibunya akibat kecelakaan. Ratu Mayesa, kakak tirinya yang merupakan tunangan Dayaksa (Aksa) merebut tunangannya Fradella, Adryan Juardi karena tidak mau berakhir menjadi mayat. Tak banyak yang tahu Fradella (Della) dirawat di rumah sakit jiwa selama lima tahun setelah ayahnya menikahi ibu Ratu. Kini Della harus tinggal dan bertahan di "Rumah Sakit Jiwa" yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TEN
Lampu jalanan kota mulai menyala satu per satu, membiaskan cahaya jingga yang muram pada kaca limosin yang terjebak di tengah kemacetan panjang. Della menyandarkan kepalanya pada jendela, kelopak matanya terasa seberat timah. Rasa perih di betisnya kini menjalar menjadi sensasi panas yang membakar seluruh tubuhnya. Di tengah tidurnya yang gelisah, ia merintih kecil, memimpikan cambuk ayahnya yang berubah menjadi ular-ular hitam yang melilit lehernya.
Hampir pukul delapan malam ketika mobil akhirnya berhenti di depan lobi utama kediaman Herlos. Zacky, yang duduk di kursi pengemudi, sesekali melirik melalui kaca spion tengah. Ia melihat wajah Della yang memucat dan butiran keringat dingin yang mulai membasahi kening nyonya mudanya. Zacky merasa ragu. Haruskah ia membangunkan Della? Namun, melihat betapa lelahnya gadis itu, ia tak tega. Di sisi lain, Zacky tahu benar aturan tak tertulis di kediaman Herlos, jangan menyentuh apa yang menjadi milik Dayaksa. Jika ia nekat menggendong Della masuk, ia bisa membayangkan kepalanya akan digantung di gerbang depan sebagai peringatan bagi pelayan lainnya.
Della terbangun perlahan, kepalanya berdenyut seakan dihantam gada besi.
"Zacky... sudah sampai rumah?" suara Della terdengar serak dan lemah.
"Sudah, Nyonya Muda," jawab Zacky cepat, ia bergegas keluar untuk membukakan pintu.
Della mencoba turun, namun kakinya terasa seperti jeli. Ia melangkah dengan terhuyung-huyung, tangan kirinya memegangi pintu mobil sebagai tumpuan. Zacky hanya bisa berjaga di dekatnya, bersiap menangkap jika Della ambruk, namun tetap menjaga jarak aman. Ia mengira Della hanya sedang sangat mengantuk setelah perjalanan yang melelahkan.
Di depan pintu utama yang terbuka lebar, sesosok pria berdiri kaku. Dayaksa Herlos mengenakan celana pendek hitam dan kaus longgar, satu tangannya dimasukkan ke dalam saku. Rambutnya sedikit berantakan, menunjukkan bahwa ia telah menunggu di sana untuk waktu yang lama.
"Istriku, kamu sudah pulang?" sapa Aksa. Suaranya terdengar datar, namun ada nada kegelisahan yang tak mampu ia sembunyikan.
Della mendongak, matanya yang sayu melihat sosok suaminya sebagai pelabuhan terakhir. "Aksa... suamiku... kamu di situ?"
Tanpa aba-aba, Della menjatuhkan tubuhnya ke pelukan Aksa, melingkarkan lengannya di pinggang pria itu dengan erat. Ia mencari kenyamanan dari aroma woodsy yang selalu menenangkan sarafnya.
Aksa tertegun. Ia merasakan panas yang tidak wajar merambat dari kulit Della. "Della, kenapa tubuhmu panas sekali? Kamu sakit."
"He-emmm... sakit, Suamiku," adu Della dengan suara manja yang gemetar. Air mata mulai menggenang di sudut matanya. "Nggak nyaman... nggak enak... kepala pusing..."
Della membenamkan wajahnya di dada Aksa, benar-benar ingin menangis karena rasa sakit fisik dan luka batin yang baru saja diterimanya. Aksa terdiam, namun saat matanya turun ke bawah, ia melihat pemandangan yang membuat dunianya seolah berhenti berputar. Di betis dan lengan istrinya yang putih, terdapat bekas cambukan yang menyisakan darah kering yang kontras.
Seketika, suasana di sekitar mereka mendingin. Aura di tubuh Aksa berubah drastis. Urat-urat di pelipis dan lehernya menonjol kuat. Kedua matanya memerah, bukan karena tangis, melainkan karena ledakan amarah yang berusaha ia tahan di ambang kewarasan.
"Zacky... jelaskan apa yang terjadi pada istriku?!" desis Aksa. Suaranya rendah, berbahaya, seperti geraman serigala yang siap menerkam.
Zacky menunduk dalam, keringat dingin mengucur di punggungnya.
"KATAKAN ZACKY! APA KAMU SUDAH MENJADI BISU?!" raung Aksa. Suaranya menggelegar memenuhi aula, membuat beberapa pelayan yang ada di sana berjengit ketakutan.
"Maafkan saya, Tuan Muda! Saya tidak melindungi Nyonya Muda dengan baik di kediaman Gauta!"
"SIALAN! DASAR TIDAK BERGUNA!"
BUGH!
Aksa melepaskan pelukan Della sejenak dan melayangkan tendangan keras ke perut Zacky hingga sekretaris itu tersungkur beberapa meter ke lantai marmer. Aksa hendak maju lagi untuk menghajar Zacky, namun Della menarik ujung kausnya.
"Suamiku... bukan salah Zacky... jangan salahkan dia. Aku yang terlalu lemah," lirih Della sambil terbatuk.
Amarah Aksa belum padam, namun melihat kondisi Della yang nyaris pingsan, ia segera menyambar tubuh gadis itu dan menggendongnya dalam posisi bridal style. Ia berjalan masuk dengan langkah lebar yang mengintimidasi.
"SIAPKAN AIR HANGAT DAN OBAT LUKA KE KAMARKU! SEKARANG!" teriak Aksa pada para pelayan yang gemetar di sepanjang koridor.
Di dalam kamar, Aksa meletakkan Della di atas ranjang dengan kelembutan yang sangat kontras dengan amarahnya tadi. Dua orang pelayan wanita masuk dengan gemetar, membawa nampan berisi perlengkapan medis. Mereka mulai membersihkan luka di betis Della dengan kapas yang dibasahi cairan antiseptik.
"Ssshhh... Aakh!" Della meringis, tubuhnya menegang. Saat kapas itu menyentuh luka yang paling dalam, ia tak tahan lagi dan menjerit kecil. "Sakit... perih!"
Mendengar jeritan Della, saraf Aksa seolah putus. Ia tidak bisa melihat istrinya menderita.
"DASAR TIDAK BERGUNA! KALIAN MENYAKITINYA!" Aksa menendang kursi di dekatnya, lalu mendorong kedua pelayan itu hingga terjatuh. "PERGI KALIAN DARI SINI! KELUAR!"
"Aksa, jangan kasar! Bukan salah mereka... luka ini memang perih," protes Della sambil berusaha mengatur napas.
"Siapa pun yang membuatmu kesakitan pantas dihukum!" Aksa berteriak, napasnya menderu cepat. Ia mulai mencengkeram rambutnya sendiri, matanya liar mencari sesuatu untuk dihancurkan. Penyakit kendali emosinya mulai mengambil alih.
Della, dengan sisa tenaganya, merangkak ke tepi ranjang. Ia berdiri dengan kaki yang gemetar dan memegang kedua pipi Aksa, memaksa pria itu menatapnya. "Suamiku... lihat aku. Dengarkan. Aku baik-baik saja. Ini hanya luka kecil. Tenanglah..."
Cup.
Della mengecup bibir Aksa sekilas. Sentuhan lembut itu membuat tubuh Aksa yang tegang sedikit melunak, namun matanya masih berkilat gila. Aksa seolah haus akan lebih banyak penenang. Ia menarik tengkuk Della dengan kasar, menyatukan kembali bibir mereka dalam ciuman yang menuntut dan penuh amarah yang terpendam. Aksa menggigit bibir Della, memberikan rasa sakit yang aneh namun membuat Della sadar bahwa pria ini sedang berjuang melawan iblisnya sendiri.
Setelah beberapa saat, Aksa melepaskan pagutan itu. Ia menarik napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantungnya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Aksa sendiri yang mengambil alih perlengkapan medis tadi. Ia membersihkan luka Della dengan sangat telaten, meniup-niupnya agar rasa perihnya berkurang, lalu menutupinya dengan plester. Ia juga memberikan obat penurun panas dan membantu Della berbaring kembali di bawah selimut hangat.
"Aksa... sakit..." lirih Della sebelum ia mulai memejamkan mata karena efek obat.
Aksa mengusap kening Della yang panas. "Siapa pun yang membuatmu menderita... bukan Aksa namanya jika tidak membuat mereka hidup di neraka."
Aksa melangkah menuju interkom di dinding kamarnya. "Zacky, ke ruang baca sekarang. Jika kau belum mati, merangkaklah ke sana."
Sepuluh menit kemudian, Zacky berdiri di ruang baca dengan tangan memegangi perutnya yang masih nyeri. Aksa duduk di kursi kebesarannya, kegelapan ruangan itu hanya diterangi oleh satu lampu meja yang menyorot tajam ke arah berkas-berkas kosong.
"Jelaskan. Semuanya. Jangan ada yang terlewat," perintah Aksa.
Kau harus kuatt Aska jgn sampai terpengaruh
Lucu deh kalian berdua