Alika seorang gadis cantik yang di khianati oleh kekasih di hari pernikahannya harus rela di menikahi pria yang sama sekali tidak ia kenal agar keluarganya tidak malu. Pria itu merupakan kakak sepupu dari sang kekasih, Alika mau menikah dengan pria itu karena bujukan orang tua sang kekasih agar mereka semua tidak malu.
Alika dengan ikhlas menerima pernikahan ini dan dia akan berusaha menjadi seorang istri. Namun Alika harus menerima kenyataan saat tahu jika sang suami memiliki wanita lain di hatinya.
Bagaimana nasib Alika apa dia bahagia dengan pernikahannya?,
yu simak ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astri Reisya Utami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Suasana di rumah sedikit canggung karena kejadian tadi, apa lagi Galang datang di waktu yang tepat.
"Aku minta maaf bang, abang harus lihat kejadian tadi, " ucapku pada Galang setelah kami di kamar.
"Abang gak masalah, toh sekarang abang juga keluarga kamu, " balasnya sambil merangkul ku.
"Sejak kecil aku dan Erika memang tidak terlalu dekat karena Erika selalu merasa kalau ibu sama bapak lebih sayang aku, " beritahu ku.
"Tapi kalau di lihat, justru ibu dan bapak sepertinya lebih sayang sama Erika, " balas Galang.
"Ibu sama bapak gak pernah beda-beda kan kami, hanya saja Erika selalu ingin lebih unggul dari ku, ".
" Setelah lulus SMA aku minta sama ibu dan bapak kalau aku ingin kuliah dan gak mau nikah muda, akhirnya ibu sama bapak setuju namun baru setahun aku kuliah tiba-tiba bapak sakit dan aku terpaksa cari kerja sambil kuliah. Erika pun lulus dan dia langsung kerja setahun kemudian dia ingin nikah namun bapak menolak dengan alasan aku gak boleh melangkahi aku, Erika pun marah dan dia mencoba mengenalkan aku dengan berapa pria karena aku ingin kuliah aku tolak semua dan dia marah sampai akhirnya dia berbohong sama kami kalau dia sudah hamil, "aku menceritakan semuanya pada Galang.
" Terus bapak sama ibu setuju menikahkan Erika? "tanya Galang dan aku mengangguk.
" Terus kamu ketemu Doni kapan? "tanya Galang lagi.
" Aku ketemu dia setelah aku ngajar di tempat aku ngajar dulu, awalnya aku selalu menolak karena aku pikir aku baru kerja di sana, namun karena Doni terus mendekati ku, aku pun mencoba buat dekat sampai akhirnya kami pacaran dan dia mengajak aku menikah, "jawab ku.
"Namun Erika selalu menyalahkan aku karena pernikahannya tidak bahagia dia selalu bilang kalau aku pembawa sial, ibu sama bapak sampai marah dan ternyata hinaan itu ia dapat dari keluarga suaminya, " ucap ku dan tak sadar aku pun meneteskan air mata karena selama ini aku hanya bisa bersabar.
Galang dia hanya memeluk ku tanpa berkata apa-apa.
"Kamu tidur pasti capek jangan mikirin apa-apa, tenang ada aku, " ucap Galang dan aku pun mengangguk dan langsung berbaring.
Hari pun sudah pagi dan aku bangun lebih dulu sebelum bang Galang. Setelah dari kamar mandi aku keluar kamar dan membantu ibu di dapur. Setiap pagi ibu selalu menyiapkan sarapan untuk semua orang di rumah karena ibu dan bapak tinggal bersama kang Arfan dan keluarganya.
"Loh kok udah bangun?, istirahat saja biar ibu saja, " ucap ibu saat melihat aku menghampirinya.
"Gak apa-apa kok bu, lagian sudah pagi ini, " balas ku sambil tersenyum.
Ibu menarik ku dan menyuruh aku duduk lalu ibu duduk di samping ku.
"Ibu minta maaf dengan kejadian kemarin, "ucap ibu.
" Ngapain ibu minta maaf? toh bukan salah ibu, "tanya ku.
" Ibu cuman takut kamu kepikiran ucapan Erika, "jawab ibu.
" Bu ini bukan kali pertama dia kaya gitu sama aku, "ucap ku.
" Ibu tau, tapi kamu datang bersama Galang, ibu takut akan berpengaruh dengan hubungan kamu dan Galang, "ucap ibu dengan wajah khawatir.
"Tenang bu, bang Galang bukan orang seperti itu dia tau dan ngerti kok, " balas ku.
Ibu pun tersenyum lalu melanjutkan acara memasak pisang gorengnya. Aku pun beranjak dan langsung membantu ibu, tak lama istrinya kang Arfan kaka ipar ku datang dan membantu kami.
"Al, suami mu suka minum apa? " tanya teh Aisah kakak ipar ku.
"Nanti aku aja yang bikin teh, " ucapku karena aku gak mau merepotkan nya.
Aku pun kembali ke kamar untuk membangunkan Galang namun saat masuk ternyata Galang sudah bangun dan selesai mandi.
"Abang mau sarapan sekarang? " tanya ku.
"Bareng aja sama yang kain, " jawab nya.
"Ya udah aku bikinin dulu ya! " ucap ku lalu keluar lagi dan melangkah menuju dapur untuk membuat minum dan roti panggang karena Galang suka sarapan itu.
Setelah selesai aku pun membawa roti dan minuman ke maja makan namun saat aku selesai menaruh sarapan Galang tiba-tiba Erika berkata menyindir ku.
"Beda ya kalau orang kaya sarapannya, " sindirnya.
Aku pun melirik Erika namun dia pura-pura gak tau.
"Erika, " tegur ibu.
Namun tiba-tiba Galang keluar dan aku pun membuatkan nya karena aku gak mau ribut di depan Galang.
"Makasih sayang, " ucap Galang dan duduk.
Selama sarapan aku bisa lihat lirikan Erika yang tak suka membuat aku geram dan marah. Kalau saja aku gak mikirin perasaan ibu dan bapak mungkin sudah aku tampar dia.
"Bu, hari ini kita masak apa? " tanya teh Aisah.
"Kamu ke pasar beli ayam, sayuran dan jangan lupa daging, " jawab ibu.
"Beda kalau menantu kaya datang pasti di sediakan yang enak, " celetuk Erika membuat semua orang melihat ke arah nya.
"Maksud kamu apa? " tanya kang Arfan.
"Masa gak ngerti, " jutek nya.
"Teh, gak usah belanja biar aku beli sendiri aja, " ucap ku pada teh Aisyah.
"Mentang-mentang udah kaya, " ucapnya lagi makin nyebelin.
"Mau kamu apa sih?, selama ini aku udah sabar Tapi kamu bukannya mikir malah semakin jadi, " teriak ku pada Erika.
Namun Erika dia bukannya menjawab malah pergi begitu saja membuat aku kesal dan terdiam.
"Al, sabar, " ucap Galang sambil memeluk ku.
"Bu pak, aku bawa Alika ke kamar dulu, " ucap Galang dan dia membawa ku ke kamar.
Di kamar aku menangis sejadinya dan Galang dengan setia menemani dan memeluk ku. Setelah merasa cukup aku pun berhenti lalu menatap Galang.
"Udah capek? " tanya nya.
"Abang ih, kok kaya ke anak kecil" kesal ku.
"Dari semalam kamu nangis lo, aku cuman melihatnya capek saja, " ucap Galang.
"Aku cuman merasa masih ada yang belum keluar saja tapi sekarang aku udah puas, " beritahu ku.
Akhirnya aku memutuskan untuk diam di kamar saja karena gak mau ketemu Erika. Galang dia keluar dan bicara dengan bapak karena kang Arfan pergi kerja. Aku bermain ponsel namun lama-lama bosan juga akhirnya aku memutuskan keluar dan aku berniat jalan-jalan sekalian cari makanan. Namun sepanjang jalan aku mendapati tatapan berbeda dari semua orang yang mengenal aku. Sampai akhirnya aku memberanikan bertanya pada orang yang lumayan dekat dengan keluarga ku.
"Wa,ada apa? kok mereka lihatin aku kaya gitu? " tanya ku.
"Ya wajar mereka lihat kamu kaya gitu, mungkin mereka pikir berani banget kamu pulang ke sini, " jawab uwa Minah ibu dari sahabat ku.