Mikayla Rasyida Rayn atau Mika adalah sosok gadis yang ceria dan pecicilan seperti Onty-nya dulu. Dia adalah pengamat yang handal dan analisanya selalu tetap. Kelihatannya saja dia sangat pecicilan dan ucapannya ceplas-ceplos, tapi dia sangat genius.
Namun di balik wajahnya yang ceria dan menyebalkan, dia mengikuti jejak dari Opa buyutnya. Bahkan dia jauh lebih mengerikan dibandingkan Opa buyut dan Uncle-nya. Semua itu dikarenakan sesuatu yang membuatnya trauma.
Season Baru untuk cerita Mika dari (Anak Genius Milik Sang Milliarder)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Geng Motor?
"Kali, jangan duduk di pangkuannya Opa. Astaga... Itu kan kaki Opa lagi sakit. Nanti bisa tambah kram itu," seru Mika dengan raut wajah paniknya saat melihat Callie duduk di pangkuan Papa Fabio.
"Callie ndak belat lho, kaya kapas begini kok. Santai saja, kaki Opa ndak akan sakit kalau cuma pangku Callie yang kecil dan lingan kaya kapas ini. Malah lasanya kaya dipijat itu kakinya," celoteh Callie sambil makan biskuitnya, tak peduli dengan teguran dari Mika.
"Nggak sadar diri emang si kali ini. Sama timbangan sendiri aja udah kaya lihat setan kok bilangnya ringan kaya kapas," gerutu Mika yang ingin sekali memulangkan Callie ke rumahnya agar tak membuatnya bertambah pusing.
Bahkan remahan biskuitnya sampai berada di celana Callie karena bocah cilik itu makan dengan berantakan. Callie duduk di atas pangkuan Papa Fabio yang berada di kursi roda. Tentu saja hal itu membuat Mika tampak panik karena Callie yang badannya berat. Apalagi semenjak Papa Fabio jatuh dari kamar mandi waktu itu, kakinya sering sakit jika digerakkan atau memangku benda berat.
"Nggak papa, Mika. Justru Opa senang masih bisa pangku cicit Opa," ucap Papa Fabio sambil terkekeh pelan walaupun dia sedikit meringis nyeri jika Callie bergerak.
"Opa salah sudah menyukai sesuatu yang teramat berat. Mana Callie ini makannya tiga kali lipat porsinya Mika lagi," Mika sampai menggelengkan kepalanya jika mengingat porsi makan besar dan cemilan Callie.
"Kamu ini suka lupa, Mika. Dulu waktu kecil kamu juga begitu. Waktu lulus SD aja udah ngerti kalau makan itu secukupnya saja," sindir Papa Fabio sambil tertawa.
"Benal, plastik Mika suka lupa. Sudah pikun itu Opa. Yang tua kan Opa jadi wajal kalau pikun, ini lho masih muda sudah pelupa. Kasihannya plastik Mika ini," Ucapan yang Callie yang ceplas-ceplos itu membuat Papa Fabio tertawa. Dia sangat terhibur dengan celotehan polos itu.
"Minum vitamin itu lho bial tambah daya ingat. Apa ya Opa namanya?"
Callie menatap Papa Fabio dengan tatapan bingungnya. Callie berusaha mengingat nama vitamin yang sering diberikan padanya oleh Rachel. Namun otak kecilnya tetap lupa dengan nama vitamin itu. Yang ada dalam pikirannya saat ini, vitamin untuk tubuhnya adalah makanan. Papa Fabio menatap gemas pada cicitnya yang tampak serius mengingat sesuatu.
"Opa nggak tahu. Kan setiap kali ke sini, Callie nggak pernah bawa vitamin." ucap Papa Fabio sambil membersihkan pipi Callie dari remahan biskuit.
"Oh... Callie ingat lho, vitamin bial ndak cepat lupa buat plastik Mika. Baygon lho, Opa. Cepat belikan itu vitaminnya, Opa." seru Callie dengan antusiasnya.
Pfft...
"Jadi nggak ingat dunia selamanya itu, kali." seru Mika dengan raut wajah kesalnya.
"Masa? Coba dulu minum, telus nanti dileview." ucap Callie dengan polosnya.
"Kamu aja sana yang minum. Buat nyawa kok coba-coba. Dipikir nyawa Mika ada sembilan," Mika mengelus dadanya sabar saat mendengar ucapan Callie yang asal ceplos.
Papa Fabio hampir tersedak air ludahnya sendiri mendengar ucapan Callie. Bisa-bisanya Callie memintanya membelikan obat nyamuk untuk diminum Mika sebagai vitamin. Yang ada, nyawa Mika bisa melayang. Astaga... Cicitnya ini selain menggemaskan juga bisa membuatnya pusing. Sedangkan Ralia, sedari tadi sibuk dengan robot dan remotenya. Tanpa peduli dengan keriuhan dari kedua sepupunya.
"Kak lalia cocok jadi tukang selvis lho, Opa. Besok buka jasa pelbaikan TV, ladio, dan kipas angin di depan lumah saja. Telus yang kelja itu Kak lalia. Nanti yang telima uangnya ya Callie buat jajan bubul ayam di depan," celoteh Callie membuat Papa Fabio tertawa.
"Itu kan hobbynya Kak Ralia, bukan untuk bekerja. Kesukaannya Kak Ralia itu robot dan alat elektronik kaya Papanya. Kalau Callie sukanya apa?" tanya Papa Fabio yang ingin tahu kesukaan cicitnya ini.
Dolal dong. Callie suka dolal bial bisa beli pulau kapuk,
Eh... Iler dong,
Dasar bocah aneh,
***
Pletak...
Awwwww...
Kaleng siapa nih yang kena jidat seksiku?
Pagi ini Mika tengah bersepeda di taman kota. Namun saat dia sedang bersepeda santai, ada seseorang yang melempar kaleng tepat mengenai dahinya. Mika menghentikan laju sepedanya dan mengelus dahinya sambil mengerucutkan bibir. Mika melihat ke arah sekelilingnya dan terlihat ada dua orang remaja laki-laki yang tengah memainkan beberapa kaleng di tangannya.
"Pasti dua cecunguk itu tuh yang lempar kaleng ke jidat seksiku," gumam Mika yang kemudian memarkirkan sepedanya. Mika segera mendekati dua orang remaja laki-laki yang tampaknya seumuran dengan dia.
"Heh... Kalian ya yang lempar kaleng ya?" tuduhnya langsung saat sudah berada di depan keduanya.
"Eh... Emangnya kena ya? Perasaan dari tadi kalengnya ada di tangan kita," tanya salah satu dari mereka sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Lihat nih jidatku merah karena kaleng ini,"
Mika memperlihatkan kaleng yang tadi mengenai dahinya. Bahkan dia menunjukkan dahinya yang terlihat merah. Padahal tadi mereka hanya iseng melempar asal kaleng bekas itu. Namun malah membuat oranglain terluka. Keduanya pun memilih minta maaf daripada masalahnya semakin melebar. Lagi pula mereka tadi sebenarnya juga sedang bingung akan melakukan apa.
"Kalian anak geng motor ya?" tanya Mikanya tiba-tiba dengan suara pelan.
Hah?
"Kalian pasti lagi nungguin teman buat balapan nanti malam kan?" tanyanya lagi membuat dua pemuda itu melongo tak percaya. Apalagi keduanya tak mengenakan atribut atau pakaian dari geng motor tertentu. Namun tiba-tiba Mika menduga bahwa keduanya merupakan anggota dari geng motor.
"Jujur aja atau aku teriak nih biar warga di sini tahu. Nanti kalian malah dipanggilkan polisi biar di..."
"Iya... Iya... Kami memang anggota geng motor. Jadi jangan macam-macam," ucap salah satu dari mereka dengan pelan.
Cih...
Mika berdecih sinis mendengar ancaman dari mereka. Dia tak takut, tidak seperti mereka yang baru diancam akan dilaporkan saja sudah langsung mengaku. Padahal Mika juga tidak berniat untuk melaporkan mereka. Justru Mika akan memanfaatkan mereka. Mika adalah pengamat yang handal. Walaupun dua orang remaja di depannya ini tidak memakai atribut geng motor, tapi Mika bisa mengetahuinya. Hal kecil yang mungkin tidak oranglain lihat. Tato kecil berbentuk serangga di belakang telinga, itu lah lambang salah satu geng motor terkenal.
Aku nggak takut,
Turuti keinginanku atau aku teriak dan hajar di sini,
Beraninya cewek ini ngancam kita,
Biarkan saja. Kita cari tahu maunya apa,
Apa maumu?
Ajak aku balapan nanti malam,
Apa? Tubuhmu itu pendek. Naik motor biasa aja belum tentu kakinya sampai,
Bodo amat. Pokoknya jemput aku di sini nanti malam atau tempat balapan kalian bakalan digrebek polisi.
Oke... Oke...
Kita jemput malam ini di sini,
Kok kita jadi takut sama perempuan sih?
Dia bukan remaja perempuan biasa, El.
Ha?
.BER AKSI👏👏👏👏👏👏👏❤️❤️❤️
tq thor🙏😍
lanjuttttt💪😄
lanjuttttt💪😄