JANGAN DIBACA! Revisi total
***
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2200
Sekilas Rhea menatap Ella yang duduk gelisah disampingnya. "Sebentar lagi--"
Brak!
"Ella!"
"Duduk," titah Pak Edwin pada Bara yang mulai terdiam menyadari keberadaan kekasihnya.
Rhea pamit keluar pada pak Edwin setelah Bara duduk di samping Ella. Gadis itu tak membalas tatapan menyesal yang ditunjukkan Bara padanya.
"Sakit juga," gumam Rhea memegang dadanya yang terasa sesak. Rhea berjalan sendiri menuju kelas Daniella untuk mengembalikan ponsel yang tadi dipinjamnya. Setelah mengantarkan ponsel, kini tujuannya adalah kelas karena bel masuk sudah berbunyi dari 20 menit yang lalu.
Didalam kelas pun teman-temannya nampak ramai menyahuti candaan dari Pak Kendrick, guru matematika mereka.
Rhea mengetuk pintu sebelum masuk. "Maaf Pak, saya telat."
"Ouh gapapa, masuk aja Rhea." sahut Pak Kendrick sambil tersenyum kecil. "Gak perlu sungkan, tadi Fandy sudah jelasin ke saya tentang skandal itu."
Rhea mengangguk lalu duduk disamping Reva. "Rhe, lo gapapa?" bisik Reva.
"I'm fine."
Pak Kendrick membagikan sebuah kertas soal pada masing-masing siswa setelah menjelaskan materi selama hampir 1 jam lebih.
"Oke, menjelang UKK gini jangan pada males, soalnya cuman 2 kok." ucap Pak Kendrick santai. Dia duduk kembali sembari mengedarkan pandangan menatap satu persatu tatapan protes dari muridnya itu.
"Emang sih soalnya cuma 2, tapi jawabannya bercabang kayak struk belanjaan doi."
"Mending Bapak ngasih soal ganda yang banyak dari pada ini," keluh yang lain.
Pak Kendrick tersenyum geli. "Saya pernah ngasih 70 soal pilihan ganda, tapi kalian protes kan karena soalnya kebanyakan."
Rhea mulai mengerjakan soal esai itu menghiraukan teman sekelasnya yang masih protes pada Pak Kendrick. Waktu yang diberikan guru matematika itu hanya 40 menit dan Rhea harus cepat-cepat mengerjakan soal ini.
"Rhe,"
"Apa?" tanya Rhea tanpa menoleh.
"Gara cs bolos."
Rhea menghentikan aktifitasnya, netra coklatnya menajam. "Biarin, abis ini aku tau apa yang bisa buat dia jera."
Di sisi Bara, dia masih berada diruangan Pak Edwin meski sudah di introgasi berjam-jam. Saat sang Kepsek memberikan ultimatum, Bara hanya diam merenung memikirkan Rhea dan Ella yang memancarkan binar kecewa padanya.
"Bara! Dengarkan ucapan Om," decak Pak Edwin.
Bara menghela. "Dari tadi Bara dengerin Om ngomong kok."
"Hm," dehamnya ragu. "Papa kamu sudah mendapatkan sekolah baru yang cocok buat kamu, nanti malam kamu berangkat ke Washington."
Bara menatap Om sekaligus kepsek nya itu dengan kaget. "Tapi Bara belum lama pindah kesini, Om. Yakali pindah lagi!" decak Bara. "Nggak mau, Bara mau sekolah disini aja."
"Emang kamu kira sekolah bakal mertahanin kamu yang udah berbuat asusila dan mencoreng nama baik sekolah?!"
Bara menggeleng. "Gak pokoknya Bara gak mau pindah ke luar negeri, Bara mau menetap disini dan jagain Mama." keluh Bara pelan. "Bantuin Bara dari keegoisan Papa, Om. Bara gak mau kalo harus jauh dari Mama."
Pak Edwin menatap prihatin. Ingin sekali ia menentang perintah Riko sang kakak tiri yang sudah keterlaluan terhadap anak kandungnya sendiri. Sikap tak adil Riko pada Gara dan Bara tentu begitu membekas di ingatan pria berumur 40 tahun itu.
"Om,,, selama ini Bara udah ngalah buat gak ngaku sebagai anak Papa. Pria tua itu juga gak pernah perduli sama Mama. Bara capek Om harus ngikutin keegoisan dia."
Pak Edwin memegang bahu Bara. "Om gak bisa melawan titah Papa kamu. Dan kamu tau kan gimana nekat nya dia kalo seandainya kamu gak nurutin kemauan dia?"
"Kalo gitu, bisa Om bantu pindahin Mama kerumah sakit di Washington tanpa sepengetahuan Papa?"
Pak Edwin mmengangguk ragu. "Bisa."
****
Bara bersama Pak Edwin tiba dikediaman keluarga besar Adipta. Keduanya memasuki rumah mewah itu dan mendapatkan sambutan dari Nenek Bara, Nyonya besar Adipta.
"Nek," Bara bertumpu diatas lutut menghadap sang Nenek. Wanita paruh baya tersebut menunduk sambil mencengkram pelan tangan Bara yang dingin. Bara mulai mengungkapkan pasal kepindahannya ke Washington, Amerika Serikat, dan langsung mendapat penolakan dari sang Nenek.
"Kamu mau tinggalin Nenek?"
Bara menggeleng. "Bara gak ninggalin Nenek, cuman butuh 2 tahun buat Bara selesaiin pendidikan Bara di sana, Nek." ujar Bara menyakinkan. "Bara juga mau bawa Mama buat berobat di sana."
Wanita tua itu memandang sinis Pak Edwin. "Jawab jujur, apa pria bajiingan itu yang melakukan ini pada cucu ku?"
"Iya," sahut Pak Edwin sedikit kaku.
Bara menggengam tangan keriput sang Nenek yang terkepal erat. "Bara gapapa," lirihnya.
"Nenek izinkan kamu ke Washington," ujar sang Nenek dengan terpaksa. "Tapi Om Sandi yang akan mengatur semuanya dan menjaga kalian berdua disana, gak ada bantahan."
Bara mengangguk seraya tersenyum lega. "Thank u Nenek."