NovelToon NovelToon
Rebith: Gadis Beracun Kesayangan Bos Mafia.

Rebith: Gadis Beracun Kesayangan Bos Mafia.

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: FT.Zira

Dikhianati... Kemudian dibunuh...

Siapa sangka, kematian menjadi awal bagi Lea La Bertha- seorang ahli racun- mengetahui kebenaran yang selama ini ditutupi sang kekasih.

Kehidupan kedua yang ia dapatkan membuat dirinya memilih jalan berbeda dengan bergabung dalam lingkaran dunia mafia.

"Jika aku memintamu membunuh seseorang, apa kau akan melakukannya?" Angkasa.

"Jadikan aku sebagai tangan kananmu. Maka, aku akan lakukan semua perintahmu tanpa terkecuali," Lea.

Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya yang ia bawa, Lea bertekad mengubah takdirnya. Tetapi ia tidak pernah menyangka, perubahan itu justru membuka rahasia besar dari kedua orang tuanya yang sudah tiada.

Lalu, bagaimana jika cinta hadir diantara mereka? Akankah Lea percaya pada 'Cinta'?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20. Titik jatuh 2.

"Lee."

"Hmm ..."

"Lee ..."

"Hmmm ..."

Thalia mengepalkan kedua tangannya. Merasa gemas dan kesal karena diabaikan. Ingin rasanya ia menuangkan isi gelas jus miliknya yang masih penuh ke kepala sahabatnya yang kini masih fokus di depan layar laptop meski tiga jam sudah berlalu.

Kafetaria kampus sudah mulai sepi, hanya ada beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang masih duduk di sana duduk untuk pelepas lelas setelah seharian penuh tenaga serta pikiran mereka terkuras atau untuk mengerjakan tugas. Dan Lea menjadi salah satunya yang sedang mengerjakan tugas ditemani Thalia yang kini memasang wajah masam.

"Lea ..." Thalia kembali memanggil, kali ini lebih menekan suaranya.

Tapi tetap saja, pandangan Lea tetap terkunci pada layar laptop dengan jemari yang bergerak lincah di atas keyboard. Satu waktu jemarinya berhenti bergerak, meraih gelas es americanonya yang ketiga, lalu meneguknya pelan. Detik berikutnya tanganya kembali mengetik, seolah satu teguk es americanonya memberi Lea semangat baru.

"Apa? Kau lapar?" sahut Lea tanpa menoleh, netranya tetap terkunci pada layar laptop. "Pesan saja makanan, aku yang bayar," ucapnya tanpa beban.

Thalia diam, tetapi tanganya mengepal seolah ia ingin meremas Lea dalam genggamannya. Tapi kemudian ia menghembuskan napas panjang.

Ia memperhatikan Lea yang masih fokus menatap layar laptop. Telinga kirinya terpasang earphone yang terhubung dengan ponsel yang berada di atas meja yang ia yakini Lea sedang mendengarkan musik dari penyanyi favorit sahabatnya.

"Lee ..."

"Hemm ..."

"Apakah kau pernah makan sepatu?" tanya Thalia.

Wajah Lea terangkat cepat, netranya menatap wajah Thalia yang kini sudah meletakkan kedua tangan di atas meja.

"Apa?" Lea mengerutkan kening.

"Ini sudah terlalu sore, langit hampir gelap, kau mau menginap di kampus?" sembur Thalia gagal menahan kekesalannya lebih lama.

"Pft..."

Alih-alih tersinggung dengan sikap sahabatnya, Lea justru tertawa. Ia paham, ia sadar, saat sahabatnya memberikan pertanyaan absurd, itu adalah tanda Thalia sedang kesal padanya karena ia abaikan, bukan karena Thalia keberatan menemani dirinya lebih lama.

"Dan es kopimu." Thalia menunjuk gelas kopi di meja. "Mau berapa banyak lagi kau meminumnya? Itu sudah gelas ketiga, dan itu hampir kosong."

"Aku butuh penyegaran setelah semalaman tidak tidur, Lia," jawab Lea kembali menggerakkan jemarinya di atas keyboard. Indra pendengaran yang hanya tertutup satu earphone membuat ia tetap bisa mendengarkan suara lain disekitar di tengah ia menikmati musik favoritnya.

"Skripsiku hampir selesai, hanya perlu sentuhan akhir dan akan kuserahkan ke dosen pembimbing hari ini juga. Setelah itu aku bisa bebas."

"Kau ingin membolos lagi?" tebak Thalia menyipitkan mata.

"Ya," jawab Lea enteng.

"Apakah dia mengganggumu atau memberimu pekerjaan tanpa sulit sampai kau tidak tidur? Lihat matamu, lingkaran hitamnya terlalu jelas." Thalia meraih gelas jusnya, lalu meneguk isinya.

Nada bicara Thalia terdengar santai, bahkan sikapnya terlihat tak acuh. Namun, hanya Lea yang mengerti bahwa Thalia mengkhawatirkan dirinya dengan cara Thalia sendiri.

"Dia tidak seburuk itu," ucap Lea tanpa mengalihkan pandangan dari laptop. "Dia hanya seorang pria yang memiliki harga diri kelewat tinggi."

"Tapi dia tidak segan menghilangkan nyawa seseorang," ucap Thalia memelankan suaranya.

"Itu hanya rumor. Buktinya, aku tidak pernah melihat dia membunuh," jawab Lea.

"Tapi kenapa harus tinggal di sana?" tanya Thalia entah sudah yang keberapa kali.

"Aku sudah pernah menjawabnya," jawab Lea singkat.

"Tapi dia belum memberikan hasil bukan? Dia belum memberimu jawaban tentang kecelakaan kedua orang tuamu," sanggah Thalia.

"Hal seperti itu membutuhkan waktu, Lia. Dan itu sudah lebih dari dua bulan lalu," jawab Lea masih tetap menatap layar laptop.

Thalia menghembuskan napas panjang.

"Kau yang tiba-tiba berubah dari yang cinta mati pada si lintah saja sudah cukup mengejutkan. Sekarang ditambah kau masuk kandang singa. Sepertinya kepalamu terbentur cukup keras," ucap Thalia tanpa filter.

"Jika aku masuk kandang singa, aku hanya perlu menjadi singa yang sama," sahut Lea tanpa beban.

"Kau juga melawan Sania-..."

Seakan semesta mendengar doa tak sengaja yang Thalia ucapkan, sosok Sania muncul beberapa langkah dari meja mereka, melangkah mendekat ke tempat mereka berada, berdiri di samping kursi Lea duduk, lalu menarik kursi kosong untuk dirinya sendiri. Suasana yang sebelumnya damai berubah panas dalam sekejap.

"Lama sekali tidak melihatmu, Lea. Kamu kemana saja?" tanya Sania seraya duduk di kursi kosong tanpa menunggu persetujuan.

Ekspresi Lea tetap datar, tetapi tidak dengan Thalia yang segera memasang wajah seakan siap untuk mencekik Sania kapan saja.

Lea tidak memberikan jawaban, ia meneguk es kopinya, dan kembali terpaku pada layar laptop.

"Ke pemakaman umum untuk mencari skripsi, kau mau bergabung, Sania?" celetuk Thalia asal seraya meneguk jus miliknya.

"Aku tidak bertanya padamu mata empat," sahut Sania ketus.

"Namanya Thalia, bukan mata empat," sahut Lea tidak bersahabat. Jemari Lea berhenti, menoleh untuk memberikan tatapan tajam pada wanita yang kini ia anggap sebagai pengganggu.

Sania tergagap. Tidak menyangka dengan reaksi yang Lea berikan. Sebelumnya, Lea tidak begitu membela Thalia, tetapi sekarang "Aku hanya-..."

"Jika kau menyebutnya mata empat," Lea kembali berbicara sebelum Sania berhasil menyelesaikan kalimat. "Lalu dirimu apa? Parasit? Atau lintah?" imbuhnya pedas.

"LEA!" Sania berdiri dari duduknya, wajahnya merah menahan amarah.

Lea tersenyum tipis, sangat tipis sampai membuat Sania bergidik melihatnya. Ia sama sekali tidak terpancing melihat reaksi Sania. Sebaliknya, tetap tenang membuat otaknya lebih bisa diajak bekerjasama.

Sania menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan, mengingatkan dirinya sediri ia masih membutuhkan Lea.

"M-Maafkan aku, Lea. Aku tidak bermaksud meninggikan suaraku," ucap Sania dengan nada sesal, kembali memasang senyum palsu yang selama ini ia berikan pada Lea, dan beralih menatap Thalia. "Aku juga minta maaf padamu, Thalia."

Thalia tergelak singkat, kepalanya menggeleng pelan, lalu menyandarkan punggungnya sembari membenarkan posisi kacamatanya. Permaian Sania sangat klasik baginya.

"Ternyata, ketika seseorang menginginkan sesuatu akan menggunakan segala cara ya?" sindir Thalia tepat sasaran. "Termasuk berkata manis yang ditambahkan pemanis buatan."

"Kau ..." Sania menggeram rendah, masih berusaha meredam emosinya setiap kali Thalia berbicara.

"Kau tidak perlu menahan diri, Sania," ucap Lea santai. "Kau datang menemuiku untuk mengambil skripsi yang kau minta agar aku membuatnya bulan lalu bukan? Sudah aku siapkan."

Wajah Sania sumringah, kedua matanya berbinar penuh harapan, lalu mengangguk. "Sungguh? Kamu sudah menyelesaikannya?"

"Ya."

"Mana? Berikan padaku." Sania menadahkan tangan.

"Kenapa aku harus berikan padamu?" Lea menautkan alis.

"Itu untukku bukan?" tanya Sania tidak sabar. Dalam benaknya ia sudah sangat stres dengan skripsi yang tak bisa ia selesaikan.

"Kapan aku mengatakan itu untukmu?" Lea tergelak singkat. "Aku mengatakan suah kusiapkan, tentu saja untuk diriku sendiri. Dan untukmu ..."

Tangan Lea terulur, menepuk pelan pipi Sania yang kini mulai memerah karena amarah yang dia tahan.

"Jika kamu mau skripsinya, usaha. Jangan menyerahkan hasil kerja otak orang lain untuk kamu banggakan. Kamu yang dapat nilai, tapi aku yang tidak tidur berhari-hari. Ck ...ck ...ck ...definsi kata manismu itu seperti gula rasa sianida. Siapa yang mau?"

Senyum di bibir Sania lenyap, wajahnya merah padam. Harapan mendapatkan hasil skripsi secara instan musnah dalam kurang dari satu detik.

Lea menutup laptopnya, kemudian berdiri. "Kita pergi sekarang, Lia. Kurasa jemputan kita sudah datang."

Thalia mengangguk, menenggak sisa jus miliknya, kemudian berdiri.

"Oh ..." Lea urung beranjak, satu jarinya terangkat tepat di depan wajah Sania. "Satu lagi. Jika kamu ingin bertemu Lea yang bisa kau manfaatkan seperti dulu, pergilah ke danau. Menyelam-lah sampai dasar, mungkin kamu akan bertemu dengannya di sana."

. .. . .

. . . .

To be continued...

1
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
dengan*
Patrick Khan
lanjut
j4v4n3s w0m3n
lanjut ahhhh seruuu jgn lama kak upnya🤭👍
vania larasati
lanjut
Zhu Yun💫
Makanya jangan mata keranjang 🤣🤣🤣
Zhu Yun💫
Angkasa kebakaran jenggot nggak tuh ntar kalau lihat ini 🤭🤭🤭
Zhu Yun💫
Yah jiwa kepo Vito meronta-ronta 🤭🤭🤣🤣
Dewi Payang
Akupun akan bereaksi sama jika jadi Thalia😂
Dewi Payang
Mantap Lea👍🏻
🌸Sakura🌸
wow
Zenun
Vito sangat mudah dijebak karena dia pemain wanita
j4v4n3s w0m3n
rayuan mematikan bener bener lea ngeri ngeri sedep🤣🤭👍
aku
si Lea ngeri2 sedep 🙄🙄
vania larasati
lanjut
Zhu Yun💫
Yakin akan melepasnya pergi nih 🤧🤧🤧 nanti anu loh 🤣🤣🤣
Zhu Yun💫
Rugi kalau nggak bawa ke ranjang duluan, nanti nyesel loh 🤣🤣🤣🔥🔥🔥
〈⎳ FT. Zira: jangan ada anu dulu diantara kita🤧🤧
total 1 replies
Zhu Yun💫
Yang ada burung mu siap-siap dipotong iya 🤣🤣🤣
〈⎳ FT. Zira: hilanglah masa depan😭
total 1 replies
Zhu Yun💫
Angkasa mengalami reinkarnasi juga kah... /Slight//Slight//Slight//Slight/
〈⎳ FT. Zira: entahlah🤣🤣
total 1 replies
Zhu Yun💫
Kalau ingin naik ke atas ranjangmu dikasih ijin nggak 🤭🤭🤣🤣🤣
Zhu Yun💫
Maklum, Lea pengen ngintip kamu mandi 🤣🤣🤣✌️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!