Terperangkap dalam sangkar emas Aethelgard, Putri Aurelia mendambakan dunia di balik dinding istana yang megah. Beruntung, ada Lucas, seorang pemuda logistik istana yang tampak biasa namun menjadi satu-satunya orang yang berani membuka jalan bagi sang putri untuk menggapai kebebasan yang ia impikan. Namun, perjalanan mereka tak semudah yang dibayangkan. Reruntuhan dunia luar menyimpan kejutan dan bahaya tak terduga. Bersama Lucas, Aurelia harus mengungkap misteri yang telah lama terkubur di Aethelgard. Salah satunya adalah rahasia di balik kematian ibunda tercinta yang ternyata menyisakan plot twist mengejutkan. Akankah ia berhasil menemukan kebenaran yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Secangkir Teh yang Dingin
Pagi itu, Istana Aethelgard tampak begitu tenang, namun bagi Princess Aurelia yang baru berusia sepuluh tahun, ketenangan itu terasa mencekik. Ia telah menghabiskan waktu hampir satu jam untuk menyiapkan sebuah meja kecil di balkon paviliun pribadinya.
Di atas meja itu, terdapat dua cangkir porselen terbaik, sepiring biskuit mentega yang masih hangat, dan teko berisi teh melati yang aromanya semerbak.
Aurelia merapikan gaunnya berkali-kali. Hari ini, ia memberanikan diri untuk melakukan sesuatu yang sangat ia inginkan: mengajak ayahnya, Raja Valerius, untuk minum teh bersamanya. Ia melihat anak-anak bangsawan lain sering melakukan hal itu, dan ia berharap ayahnya bisa meluangkan waktu sejenak saja.
Dengan langkah kecil yang ragu, Aurelia berjalan menuju ruang kerja sang Raja. Di depan pintu besar kayu ek itu, dua prajurit berdiri tegak tanpa ekspresi.
"Aku ingin bertemu Ayah," ucap Aurelia pelan.
Prajurit itu membukakan pintu. Di dalam ruangan yang penuh dengan tumpukan dokumen dan peta wilayah, Raja Valerius duduk dengan kening berkerut, sedang menulis sesuatu dengan pena bulu.
"Ayah?" panggil Aurelia.
Raja Valerius tidak langsung mendongak. "Ada apa, Aurelia? Bukankah jam ini kau harusnya belajar bersama sepupumu?"
Aurelia mendekat ke meja besar itu, tangannya saling meremas di depan gaun. "Aku... aku sudah menyiapkan teh di balkon, Ayah. Biskuitnya masih hangat. Bisakah Ayah menemaniku sebentar saja? Hanya sebentar."
Raja Valerius akhirnya mendongak, namun tatapannya datar dan dingin. "Saya sedang sibuk, Aurelia. Pergilah. Minum teh saja dengan sepupu-sepupumu. Elara dan adik-adiknya sudah menunggumu di taman depan, bukan?"
"Tapi aku inginnya bersama Ayah," desak Aurelia, suaranya mulai bergetar. "Kemarin Ayah janji akan melihat lukisanku, tapi Ayah tidak datang. Sekarang, sekali ini saja, Ayah."
Raja Valerius meletakkan penanya dengan suara dentuman kecil yang membuat Aurelia tersentak. "Saya bilang saya sibuk! Saya sedang mengerjakan tugas yang sangat penting untuk keamanan kerajaan ini! Apakah kau tidak mengerti?"
Aurelia masih bergeming, air mata mulai menggenang di sudut matanya. "Hanya sepuluh menit, Ayah..."
"Cukup, Aurelia!" Raja Valerius tiba-tiba membentak, suaranya menggelegar di ruangan yang sunyi itu hingga membuat Aurelia melompat mundur karena kaget. "Keluar sekarang! Jangan ganggu saya dengan urusan anak-anak yang tidak berguna seperti itu! Pergilah bermain dengan mereka yang selevel denganmu dan biarkan saya bekerja!"
Aurelia terpaku. Bentakan itu terasa lebih menyakitkan daripada tusukan jarum. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia berbalik dan lari keluar dari ruangan itu. Ia mengabaikan panggilan dayang-dayangnya dan terus berlari menuju taman belakang, melewati area di mana sepupu-sepupunya sedang duduk dengan sangat rapi.
"Aurelia? Kamu mau ke mana? Lihat, rokmu jadi berantakan!" seru Princess Elara yang sedang duduk tegak sambil memegang cangkir teh dengan posisi kelingking yang sempurna. Elara dan dua adik perempuannya tampak seperti boneka pajangan yang cantik. Mereka tidak berani mengejar Aurelia karena takut keringat akan merusak riasan atau gaun mereka yang disetrika licin oleh pelayan.
Aurelia tidak peduli. Ia terus berlari hingga mencapai area gudang logistik. Di sana, ia bersembunyi di balik tumpukan karung gandum yang tinggi dan menangis sesenggukan.
"Wah, ada hujan lokal ya di sini?" sebuah suara yang akrab terdengar dari arah atas.
Aurelia mendongak dengan mata sembab. Lucas sedang duduk di atas salah satu peti kayu, tangannya sedang sibuk mengupas sebuah jeruk. Melihat Aurelia menangis, ekspresi jahil di wajah Lucas menghilang, berganti dengan rasa iba.
"Eh, kenapa menangis lagi? Apa ada ulat bulu yang masuk ke gaunmu?" tanya Lucas sambil melompat turun. Ia mencoba melucu agar suasana hati temannya membaik.
"Ayah... Ayah jahat, Lucas," isak Aurelia. "Dia membentakku hanya karena aku mengajaknya minum teh. Dia bilang aku mengganggu tugas pentingnya. Dia tidak pernah punya waktu untukku."
Lucas menghela napas, ia duduk di atas lantai kayu di samping Aurelia, mengabaikan debu yang menempel di celananya. "Yah, namanya juga Raja. Mungkin di kepalanya isinya cuma kertas, pulpen dan peta yang membosankan itu."
"Tapi sepupuku juga tidak asyik!" keluh Aurelia lagi sambil mengusap ingusnya dengan sapu tangan sutra. "Elara dan yang lainnya cuma tahu cara duduk tegak. Mereka tidak mau diajak lari. Mereka kaku sekali seperti patung kayu di aula!"
Lucas terdiam sejenak, lalu ia memberikan setengah dari jeruk yang sudah ia kupas kepada Aurelia. "Nih, makan. Biar lebih happy."
Aurelia menerima jeruk itu dan memakannya pelan.
"Dengar ya, Putri," ucap Lucas dengan nada bicara ala bocah dua belas tahun yang mencoba bijak. "Ayahmu itu mungkin sedang pusing. Ayahku saja kalau pesanan lagi kacau, dia sering marah-marah tidak jelas. Tapi itu bukan berarti dia benci padaku. Dia cuma sedang kelelahan jadi pahlawan buat orang banyak, sampai lupa jadi pahlawan buat rumahnya sendiri."
Aurelia menatap Lucas. "Benarkah?"
"Mungkin saja," Lucas menyengir. "Tapi yang jelas, kamu tidak boleh sedih terus. Kalau kamu sedih, nanti wajahmu jadi keriput seperti nenek sihir di cerita dongeng. Apa kamu mau Pangeran Theo yang sombong itu melihatmu jadi nenek sihir?"
Aurelia tertawa kecil mendengar ejekan Lucas. "Tentu saja tidak!"
"Nah, gitu dong! Tersenyum," Lucas berdiri dan menepuk-nepuk debu di celananya. "Dengar, kalau orang-orang di istanamu itu kaku seperti kayu, kamu jangan ikut jadi kayu juga. Kamu itu seperti burung yang terjebak di sangkar emas. Burung harusnya tetap bernyanyi, biarpun pintunya dikunci."
Lucas merogoh sesuatu dari kantongnya. Itu adalah sebuah peluit kecil yang terbuat dari kayu. "Ini untukmu. Kalau kamu merasa sedih lagi atau merasa kesepian karena dikelilingi sepupumu yang membosankan itu, tiup saja peluit ini di dekat gudang. Kalau aku ada di sini, aku pasti akan datang membawakanmu sesuatu yang seru."
Aurelia menerima peluit itu dengan perasaan yang jauh lebih ringan. "Terima kasih, Lucas. Kamu selalu punya cara buat aku merasa lebih baik."
"Sama-sama. Sekarang, hapus air matamu. Kembali sana ke sepupu-sepupumu yang kaku itu sebelum mereka pingsan karena melihatmu hilang," canda Lucas.
Aurelia berdiri, merapikan sedikit gaunnya, dan tersenyum tulus. Meski ayahnya masih menjadi tembok besar yang dingin, dan sepupu-sepupunya tetap menjadi teman yang membosankan, setidaknya ia tahu ada satu tempat di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri—di balik debu gudang logistik, bersama seorang anak laki-laki biasa bernama Lucas.
Ia berjalan kembali ke paviliun dengan langkah yang lebih pasti. Di sana, tehnya sudah dingin, namun hatinya terasa hangat karena janji sederhana dari sahabat rahasianya.