Violet Aolani, mahasiswi tengil yang tak kenal kata mundur, nekat mengejar Arden Elio Bayu, CEO kaku yang hidupnya sedingin es. Di mata Arden, Violet hanyalah anak kecil yang mengganggu; namun bagi Violet, Arden adalah takhta yang harus ia taklukkan. Ini adalah kisah tentang "badai" muda yang meruntuhkan tembok beku sang penguasa korporat dengan keberanian yang nyaris lancang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu dari London
Persiapan pertunangan sedang berada di puncaknya. Namun, ketenangan di kantor Bayu Group kembali terusik saat sebuah langkah kaki dengan stiletto mahal bergema di lobi. Seorang wanita cantik berwajah kaukasia dengan rambut pirang platinum dan gaya bicara yang sangat elegan muncul tanpa janji temu.
"Arden?" panggilnya dengan aksen British yang kental saat pintu ruang CEO terbuka.
Arden mendongak, matanya sedikit melebar. "Olivia? Sedang apa kamu di Jakarta?"
Olivia Vaughn, putri seorang pengusaha properti ternama di Inggris sekaligus teman kuliah Arden di London School of Economics, melangkah masuk dan langsung mengecup kedua pipi Arden dengan akrab. "Aku dengar kamu akan bertunangan dengan seorang... anak magang? Aku harus melihat sendiri siapa gadis yang berhasil mencairkan gunung es favoritku ini."
Kecemburuan Sang Mentari
Violet yang kebetulan datang ke kantor membawakan makan siang (dan tentu saja untuk memamerkan cincin amethyst-nya) terpaku di ambang pintu. Ia melihat Olivia yang sedang tertawa sambil menyentuh lengan Arden dengan sangat santai.
"Ehem!" Violet berdehem keras, masuk dengan langkah yang dibuat seanggun mungkin meski hatinya sedang mendidih. "Tuan Bos, sepertinya Tuan sedang sibuk reuni ya?"
Arden langsung menarik tangannya, entah kenapa ia merasa sedikit bersalah. "Violet, perkenalkan, ini Olivia. Temanku dari London."
Olivia menatap Violet dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan senyum yang terlihat ramah namun merendahkan. "Oh, so this is the little girl? Kamu imut sekali, seperti adik kecil Arden."
Violet tersenyum manis, senyum paling berbahaya yang pernah ia miliki. "Halo, Kak Olivia. Aku bukan adiknya, aku calon istrinya. Dan di Indonesia, kami nggak panggil calon suami orang dengan sebutan 'favorit', apalagi sambil pegang-pegang. Takutnya nanti tangannya gatal kena alergi."
Arden terbatuk, mencoba menahan tawa melihat sisi cegil Violet yang kini bercampur dengan protektivitas tinggi.
Persaingan yang Berkelas
Olivia ternyata menetap di Jakarta untuk mengurus ekspansi bisnis keluarganya yang bekerja sama dengan Bayu Group. Hal ini membuatnya harus sering bertemu dengan Arden.
Sore harinya, di sebuah kafe mewah, Olivia terang-terangan bicara pada Arden saat Violet tidak ada. "Arden, jujur saja. Gadis itu terlalu kekanakan untukmu. Kamu butuh wanita yang bisa mengimbangi pembicaraan bisnis dan pergaulan internasionalmu. Aku masih di sini, dan aku masih memiliki perasaan yang sama seperti saat kita di London."
Arden menatap kopi hitamnya, lalu menatap Olivia dengan datar. "Olivia, kamu hebat dalam bisnis. Tapi kamu salah satu hal tentang Violet. Dia mungkin berisik dan muda, tapi dia adalah satu-satunya orang yang membuatku merasa menjadi manusia, bukan sekadar mesin pencetak uang."
Strategi Violet dan Geng Cegil
Di apartemen, Evara, Avyanna, dan Lavanya sudah berkumpul melingkari papan tulis putih.
"Oke, musuh kita kali ini level internasional," ucap Evara serius. "Dia punya aksen British, dia punya sejarah di London sama Arden, dan dia punya kaki yang panjangnya kayak jalan tol."
"Tapi kita punya senjata rahasia," sahut Lavanya. "Violet itu pemilik hati Arden yang sekarang. Kita hanya perlu membuat Arden sadar bahwa 'elegan' itu membosankan jika dibandingkan dengan 'keajaiban' seorang Violet."
"Gue punya ide," ucap Violet dengan mata berapi-api. "Besok ada jamuan makan malam bisnis antara Bayu Group dan keluarga Olivia. Gue bakal datang, bukan sebagai anak magang, tapi sebagai pewaris Aolani Group yang sesungguhnya. Gue bakal tunjukin ke dia, kalau bahasa bisnis gue juga sebagus aksen British-nya."
Malam Jamuan Bisnis
Violet muncul dengan gaun hitam yang sangat berkelas, perhiasan minimalis namun mahal, dan cara bicara yang sangat profesional. Saat Olivia mencoba memonopoli pembicaraan tentang pasar saham London, Violet menimpali dengan analisis tajam tentang integrasi pasar Asia Tenggara yang membuat ayah Olivia terkesan.
Arden hanya bisa terduduk diam, menatap Violet dengan binar kekaguman yang tidak bisa disembunyikan. Ia merasa sangat bangga.
Namun, Olivia yang merasa terpojok mulai memainkan kartu terakhirnya. "Arden, ingat malam musim dingin di Hyde Park? Saat kita berjanji akan selalu sukses bersama? Aku tidak menyangka kamu akan memilih jalan yang berbeda."
Arden melirik Violet yang wajahnya mulai berubah muram, lalu ia meraih tangan Violet di atas meja dan menggenggamnya erat di depan semua orang.
"Malam itu indah sebagai kenangan, Olivia. Tapi malam-malamku di Jakarta jauh lebih hidup karena gadis di sampingku ini. Janji suksesku tetap sama, tapi kini tujuanku adalah membangun kesuksesan itu bersamanya," ucap Arden tegas.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...