NovelToon NovelToon
Abang Iparku,..Dosen Killerku

Abang Iparku,..Dosen Killerku

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Slice of Life / Nikahmuda / Penyesalan Suami / Spiritual / Cintapertama
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Gurania Zee

Syahira tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah secepat ini. Dipaksa masuk sebuah Kampus yang menjurus segalanya tentang agama yang diyakininya. ia mengikuti satu keyakinan mengikuti ayahnya. Ia harus menghadapi dunia yang sama sekali asing baginya. Hafalan panjang, kitab tebal dan Dosen,..yang tidak memberi ruang untuk gagal. Masalahnya bukan itu,..melainkan yang menjadi faktor utama adalah ada pada sang Dosen itu sendiri yang mengajarnya yaitu Abang iparnya sendiri. Ditengah tekanan yang terus menumpuk, kedekatan yang tidak seharusnya,..justru malah tumbuh seiring berjalannya waktu. Mereka lupa ada seseorang yang sudah lebih dulu menyimpan luka.
Kakaknya yang bernama Feryal wanita tomboy satu ini yang terlihat kuat tapi sebenarnya ia begitu rapuh telah banyak menyimpan luka sejak dirinya masih kecil. dan ketika sebuah kebenaran akhirnya terkuak, pilihannya harus dibuat, bukan siapa yang paling dicintai melainkan siapa yang tetap dipilih, bahkan setelah semuanya hancur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gurania Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 9

...Tidak semua perpisahan dimulai dengan pertengkaran......

...Ada juga yang tumbuh dari diam yang terlampau lama dibiarkan.....

Syahira duduk dibangkunya, punggungnya tegak dan tangannya terbuka diatas kitab, dengan bibirnya yang bergerak pelan.

Mengulang,..dan mengulang dari awal , lalu menahan dan menguncinya disatu hafalan, "lanjutkan" satu persatu dipanggil secara acak.

Dan seperti biasa,..

"Syahira Zahra maju ke depan,..Kaizan Altaz,..silahkan sambung ayat surah Yunus"

Deg.

Keduanya maju, Altaz yang memulai lebih dulu dan semua mendengarkan. Syahira pun tidak menyangka suaranya bisa semerdu itu.

Tapi mengingat sikapnya, Syahira jadi kehilangan fokus seketika. Apalagi saat Bilal menatapnya membuat seketika buyar apa yang sudah ia hafalkan tiba tiba blank.

"awal mula nampak lancar tapi dipertengahan lagi lagi tersendat,..entah kenapa. Lagi lagi ia menunduk dengan tangan yang gemetar dan juga keringat dingin yang membanjiri tubuh serta pelipisnya.

"Oke Altaz silahkan duduk sudah bagus"

Dan kamu syahira, kenapa malah makin kesini kamu sering kehilangan fokus, besok ulangi"

"Saya tidak mentolerir jika kalian masih belum hafal juga ini akan berpengaruh pada kelulusan kalian nanti,..mengerti"

"Iya Ustadz, selanjutnya"

Sementara di bagian bangku belakang, Kaizan mengamati, yang lebih seru saat dimana ia dipanggil dan entah disengaja atau secara kebetulan Bilal malah memanggilnya bersamaan dengan syahira.

Meski nampak berbeda dari tatapan keduanya yang berhasil Kaizan tangkap dari jarak dekat. Kelas berakhir dengan begitu cepatnya. Mahasiswa mulai keluar satu persatu, suara kursi yang bergeser, tas yang diangkat, juga suara tawa yang memekakkan telinga saat mereka sedang asik bercanda.

Syahira tidak langsung bangkit, ia menutup kitabnya perlahan, seperti memberi jeda untuk dirinya sendiri.

"Sya kantin yok?" suara Calysta muncul disusul Haykal yang baru aja nongol.

Namun kali ini Syahira menggeleng, menolak ajakan mereka. "enggak dulu deh, mau ngafalin dulu"

"Kepikiran lagi ya?"

"Iyalah ini soal kelulusan, kalo sampe enggak lulus kan apa kata Abi gue" Calysta hanya menghela nafas, "yaudah deh kalo gitu, jangan kelamaan bengong, yuck kal" ajak Calysta pada Haikal.

Endingnya mereka jadi sering jalan bertiga, meskipun tidak jarang Calysta memberi ruang untuk Haykal dan juga sahabatnya itu.

Koridor mulai lengang, Syahira berjalan dengan langkah tenang meski hatinya tidak sedamai itu.

suara high heels ketukannya yang menyatu dengan lantai begitu terdengar jelas.

Tok,..tok..tok .

"Lo tuh kalo jalan ya jangan kek orang mau kabur dari pikiran sendiri"

Deg.

Langkahnya langsung berhenti seketika. Ia pun menoleh perlahan, "Dia lagi.." ucap Syahira mendengus kesal.

Kaizan seolah ada dimana mana, dimana ia ada di koridor ataupun di perpus sampai ia di kantin sekalipun selalu saja seperti hantu yang bergentayangan.

Kaizan berdiri santai tidak jauh darinya, mengepulkan asap rokok yang sudah jadi kebiasaannya, namun ia hanya berani merokok hanya ditempat yang dirasa nyaman tidak menggangu orang disekitarnya.

"Elo lagi,..elo lagi,.."

"Gue lagi" jawabnya singkat. Dan tanpa rasa bersalah syahira langsung memalingkan wajahnya.

"Capek gue ladenin elo" ia melangkah lagi, tapi lagi lagi langkahnya terhenti. ""Takut?"

"Apa sih maksud Lo sebenarnya?" beberapa detik Kaizan Altaz tidak langsung menjawab, sampai akhirnya ia berkata "takut jadi sesuatu yang Lo sendiri tau kalau itu salah."

Deg.

"Sotoy!" sahut Syahira singkat, tak lama ia langsung melangkah cepat meninggalkan Kaizan, namun baru empat langkah ia berhenti lagi mendengar sahutannya "bisa jadi"

Kembali ia mengepalkan tangannya, memejamkan matanya sebentar lalu melanjutkan langkahnya lagi.

Kaizan berlari mensejajarkan langkahnya, seolah tak ada puasnya untuk mengingatkannya meski dengan cara yang tidak biasa. ""Elo tau nggak,.insting gue tuh ga pernah salah"

"Elo ngapain ngikutin gue" sambil membuang puntung rokoknya, Altaf menoleh ke arahnya lagi.

"Arah kita sama, tapi kita berbeda"

"Maksud Lo apa lagi sih?"

"Mau ke perpus kan?"

"Aku kesebelahnya" sahut Kaizan membuat Syahira sempat salah arti meski sebenarnya intinya sama. Seolah kata sederhana tapi memiliki makna, hal itulah yang membuat Syahira hanya ingin cepat pergi. Namun kali ini ia tetap tak bisa menghindar.

Ditempat lain, Bilal duduk sendirian diruangan sepi, membuka kitabnya dihadapannya tapi tidak ia baca.

Tangannya tetap diam diatas meja, ia menutup matanya sebentar seraya menghela napasnya panjang. kedua tangannya sesekali mengusap kepalanya kasar.

Terus bergelut dengan pikiran dan perasaannya yang begitu campur aduk "Ini salah ya Allah,..ini salah" lirihnya.

...Paham akan batas..Belum tentu mampu tuk lewati.....

...Meski memahami belum tentu sanggup untuk menjalani..dan itu yang paling berbahaya.....

Dirumah, jam menunjukkan pukul 4:15 wib,..rumah terasa sepi seperti biasa. Feryal duduk diruang tengah, satu kali naik ke sofa.

Ponsel ditangannya, tapi masih menyala, sementara tatapannya hanya menatap foto pernikahannya juga foto pernikahan orang tuanya yang sama sama tidak baik baik saja.

Potongan kilas balik masa lalu terlintas begitu saja, tanpa keduanya sadari ditempat berbeda diwaktu yang bersamaan keduanya seolah saling merenungkan, mengingat akan masa lalu yang membuat mereka semakin menjarak diantara keduanya.

...Tidak semua yang dipertemukan karena kesamaan.....

...Ada juga yang bertahan karena sebuah perbedaan.....

...Kadang justru sebaliknya.....

...Saling mengagumi di awal.....

...Tapi perlahan saling melelahkan ditengah jalan......

#Flashback On

Aula itu dipenuhi suara, bukan suara ribut tanpa arah yang jelas, namun sebuah perdebatan yang terjaga. Yaitu sebuah forum lintas keyakinan yang mempertemukan banyaknya element masyarakat yang hadir banyaknya kepala dengan cara pandang yang berbeda dalam satu ruang yang sama.

apapun dibahas di forum itu, dan yang terpenting sesuai tema diskusi yang mengedepankan akan nilai nilai toleransi dan tentang menjaga batas dan nilai hidup yang berdampingan tanpa saling menghapus.

Bilal duduk disalah satu kursi depan, mengenakan gamis putihnya yang sederhana, tatapannya yang fokus dengan tangannya yang sesekali mencatat poin penting dari hasil pembicaraan yang tengah berlangsung saat itu.

Ia diundang bukan sekedar hadir melainkan sebagai seseorang yang dianggap memahami batas batas dalam keyakinannya sendiri.

Semua berjalan normal sampai satu suara memotong. "Syalom selamat siang salam lintas agama dan salam toleransi untuk semua yang hadi diforum ini, kenalkan saya Feryal,..menurut saya pribadi "maaf kalau saya salah tolong koreksi, jadi kalau menurut pendapat saya, jika toleransi itu hanya berlaku saat kita merasa nyaman, itu bukan lah toleransi pak Bu,..tapi itu seleksi" santai tapi tegas.

Deg.

Beberapa kepala langsung menoleh ke arahnya termasuk Bilal. Dibarisan tengah Feryal duduk dengan posisi santai, Rambut pendeknya terlihat kontras diantara peserta lain. Tatapannya lurus tanpa ragu sedikitpun dan tidak juga mencari pembenaran diri. Ia hanya sekedar menyampaikan suatu argumentasi atas pemikirannya sendiri.

Dan kalau kita memaksa orang lain untuk berubah supaya kita merasa benar, itu bukan dakwah, tapi itu ego yang dibungkus rapi,..sekali lagi disini saya bukan untuk merasa paling benar tapi koreksi jika apa yang sampaikan ini salah, terimakasih,"

Bilal tak lepas dari pandangannya, ia merasa takjub atas argumentasi yang disampaikan oleh Feryal, suasana berubah sedikit sunyi, mereka ada yang saling berbisik tapi bukan berarti tidak setuju, tapi satu tepukan aplaus dari Bilal dan satu persatu semuanya bertepuk tangan.

Bilal memperhatikan bagaimana cara Feryal berbicara dengan tegas dan lugas, caranya yang tidak mau kalah tapi juga tidak berusaha untuk menang.

Dan dari situlah benih benih cinta muncul tak terduga tanpa Bilal sadari, seolah takdir menjawab apa yang ia inginkan, sejak hari itu perhatiannya tidak lagi sama.

Perhatian Bilal tidak seperti anak muda pada umumnya yang kelewat berisik, tapi ia hanya sesekali menyapa, sesekali membuka percakapan, tidak sering tapi ia hanya sekedar hadir begitu saja. Tidak pernah memaksakan.

Namun acapkali keduanya bertemu secara tak terduga sikap Feryal tetap sama,..yaitu 2D Dingin dan Diam,..seolah semua tidak penting.

"Fey,..kamu selalu kayak gini?" tanya Bilal suatu hari.

Feryal melirik sekilas kearahnya, "gimana maksudnya?"

"Ya gini,..jaga jarak sama semua orang."

"Lebih aman" sahutnya sambil mengangkat bahunya,.Jawaban singkat tapi ngena,..itu yang membuat Bilal tidak pernah mundur untuk mengejarnya. seolah sudah cukup menjawab semuanya.

Sampai malam.itu datang, yang tidak pernah direncanakan sama sekali, dalam seumur hidupnya yang membuat malam itu semuanya mengubah hidup keduanya.

Suara motor masih terdengar keras dijalanan yang mulai sepi, sekelompok orang berkumpul,.. sebagian berteriak dan sebagian lainnya hanya seperti menonton sebuah pertunjukan yang menegangkan secara langsung.

Feryal turun dari motor sportnya, melepas helm dengan napas yang masih berat. Suasana tegang dan terlalu banyak tatapan yang tidak suka menoleh ke arahnya. "Ini dia orangnya!"

Feryal tertohok terkesiap dibuatnya,.. suara seseorang memecah Feryal langsung menoleh alisnya sedikit terangkat, belum sempat ia bicara seseorang sudah menarik lengannya kasar.

"Hey,..Lo kira ya bisa seenaknya gitu?!" bentak seorang pria bertubuh gempal. Feryal menepis kasar. "Jangan sentuh gue."

"Udah bikin masalah, masih belagu!"

"Masalah?" Feryal mengerutkan keningnya bahkan ia sendiri saja tidak tau apa yang mereka maksud. Akan tetapi situasi sudah terlanjur panas. Kerumunan mulai mendekat ke arahnya.

Nada suara mereka yang meninggi dan ditengah itu Bilal datang begitu tepat pada waktunya. Langkahnya begitu cepat dengan tatapannya langsung mencari satu orang dan menempatkannya.

"Lepasin" suaranya tidak keras tapi bikin beberapa orang menoleh ke arahnya, pria yang tadi menarik Feryal mendengus, "Ini urusan kita, bukan urusan kamu anak muda"

"Urusan dia jadi urusan saya"

"Heh siapa kamu, suaminya Cih"

"Ya,..dia istri saya!"

Deg.

Kalimat itu keluar begitu saja tanpa rencana sedikit pun, tanpa persiapan semua benar benar diluar dugaan.

Seketika semua langsung terdiam, Feryal menoleh cepat dan menatap Bilal saking terkejutnya dan tidak percaya.

"Kalau istri Lo,..tanggung jawab Luh"

"Jangan biarin bini elo keluyuran kayak gini" situasi yang awalnya tegang panas dan kini malah seolah menekan keduanya tanpa memberi ruang ataupun pilihan.

Dan baru kali ini Bilal tidak punya pilihan untuk pertama kalinya ia tidak mundur. Ia berdiri disamping Feryal, "Kalau itu yang kalian mau dengar" ucapnya tenang "saya akan nikahi dia"

Deg.

Feryal benar benar terkejut dibuatnya, namun dia tidak bereaksi apapun hanya langsung menatap tak percaya ke arah Bilal, dan keduanya saling beradu tatap cukup lama.

"Lo serius?" baiknya pelan. Bilal masih menatapnya tanpa ragu sedikitpun.

"Yakin, kenapa harus enggak yakin?," pada akhirnya,..

Pernikahan pun terjadi begitu saja, tanpa ada kisah romantis sebelumnya, perlahan rasa itu tumbuh seiring berjalannya waktu. Sedikit demi sedikit.

Bilal tidak pernah menekan ataupun memaksakan suatu kehendak, pembawaan Feryal yang dingin, diam sudah menjadi hal yang biasa bagi Bilal, tapi ia selalu ada. Mereka masih beradaptasi satu sama lain dan menjaga toleransi diantara keduanya.

Sampai akhirnya,..ia jatuh..bukan karena dipaksa tapi karena merasa aman. Akan tetapi waktu tidak selalu berpihak pada keduanya.

Perbedaan yang dulu terasa biasa dijaga, perlahan menjadi jarak, perdebatan kecil tentang hal sederhana yang entah kenapa selalu berujung panjang kali lebar tak ada habisnya.

"Kenapa sih kamu selalu nolak, kalau aku ajak bicara soal ini Fey?,..tanya Bilal suatu malam.

Feryal diam sejenak menarik nafasnya lebih dulu. Lalu menjawabnya pelan. "Karena dari awalkan aku sudah bilang mas, aku punya keyakinan sendiri"

"Tapi kita suami istri Fey?"

"Terus?"

Hening sejenak diantara keduanya.

"Itu berarti kita harus sama Fey" Feryal menatapnya dalam.

"Terus,.. toleransi yang dulu kamu kagumi dari aku,.. sekarang kamu hapus sendiri?,..gitu"

Deg.

Bilal terdiam membeku. Dan sejak saat itulah semuanya berubah seiring berjalannya waktu sudah tak adalagi perdebatan dan tak banyak suara yang tersisa hanyalah Diam, dengan jarak yang semakin membesar sampai mereka tanpa sadar mereka sudah sama sama jarang saling melihat satu sama lain entah kapan terakhir kalinya.

Flashback off

1
Sri Jumiati
Nikah beda agamanya
Sri Jumiati
Bagus ceritanya.semangat Thor
Gurania Zee: terimakasih ya😊 support nya 💪jangan lupa baca cerita ku lainnya ya😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!