Mengulik kisah seorang pria bernama Rafael yang menerima kesepakatan menjadi bapak rumah tangga dan membiarkan istrinya berkarier di luar rumah.
Seiring bertambah usia pernikahan, kesepakatan mereka perlahan mulai mengusik ego dan jadi dilema bagi Rafael sebagai laki-laki.
》Apakah Rafael bisa bertahan menjalani aktivitasnya sebagai bapak rumah tangga dan melihat kesuksesan karier istrinya?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Lara Di Tapal Batas"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20.
...~•Happy Reading•~...
"Kapan rencana penempatannya?" Rafael bertanya untuk memecah kebisuan yang tiba-tiba tercipta di antara mereka, akibat berpikir masing-masing tentang rencana pernikahan.
Laras mengangkat kepala dari pundak Rafael. "Rencananya bulan depan."
"Dua minggu lagi sudah bulan depan. Kapan tepatnya?" Rafael makin serius bertanya.
"Ya, awal bulan nanti." Jawab Laras perlahan sebab mengerti maksud pertanyaan Rafael.
"Jadi maksudmu, kalau mau menikah sebelum penempatan, kita akan menikah dalam dua minggu ini?"
"Iya, seperti itu. Aku gak pa'pa, gak ada pesta..." Laras berkata cepat, agar tidak membuat Rafael berpikir lagi dan makin ragu.
"Coba duduk yang benar." Rafael memegang pundak Laras, agar mereka bisa duduk berhadapan. "Ini bukan soal pesta atau tidak. Ini soal mengikat hubungan ke jenjang yang sangat serius."
"Iya. Aku tahu. Aku sudah pikirkan dan sudah siap." Laras menjawab cepat.
Huuuuu... "Laras, apa kau tidak bisa bersabar dan biarkan penempatanmu sebagai sarana menguji hati kita?"
"Maksudmu kau tetap di sini dan aku di sana?" Laras menatap serius Rafael. Sel-sel halus dalam kepalanya bergolak melihat anggukan kepala Rafael.
"Tidak mau.... Tidak mau." Laras berkata berulang kali sambil menggerakan tangan. "Itu sama saja membiarkan kita tidak bertemu minimum enam bulan."
Rafael memicingkan mata sambil menatap Laras yang mulai tidak tenang. "Atau kau mau aku habiskan gaji untuk PP ke sini setiap akhir pekan?" Laras menjauhkan duduknya.
"Ya, sudah. Kita tunggu saja orang tuamu pulang untuk dengar pendapat mereka." Rafael mengalah dan tidak mau perpanjang beradu argumentasi dengan Laras. Dia yakin, apa pun yang dia katakan tidak akan mengubah keinginannya.
"Aku mau ke dapur." Rafael berdiri.
"Kau mau bikin apa di dapur?"
"Mau lihat dan bantu Bibi. Kau tidak mau makan?"
"Biarkan Bibi yang ngurusin." Laras jadi kesal melihat Rafael tiba-tiba berdiri dan mau meninggalkan dia.
"Minta mau menikah, tapi tidak mau ngurusin dapur. Tadi sebelum pergi, Ibu bilang Bibi perlu seledri dan teman-temannya di atas untuk masak." Rafael coba bersikap santai, walau hati dan pikirannya sangat penuh.
"Biarkan saja Bibi ambil sendiri." Laras belum mau ditinggal Rafael.
"Bibi akan bertanya sebelum ambil, takut salah. Bibi belum tanya, karna khawatir mengganggu kita. Kau mau makan nasi tanpa lauk?"
"Berdiri ikut, supaya tahu." Rafael panggil sambil menggerakan tangan. Laras berdiri, lalu berjalan cepat mendekat dan memeluk lengan Rafael dengan kedua tangannya.
"Begini, ini, mau minta menikah?" Rafael menunjuk tangan Laras di lengannya. Walau bercanda, dia berharap Laras berubah pikiran.
"Bibi, sudah ambil yang diperlukan?" Tanya Rafael yang melihat Bibi baru turun dari tangga.
"Belum Kak Rafa. Tadi saya ke atas mau minta, tapi Kak Rafa tidak ada. Jadi turun lagi..." Bibi menjelaskan sambil melihat Laras dengan perasaan bersalah, sudah mengganggu.
"Mari, naik lagi Bi. Saya ajarkan yang sudah bisa dipetik." Ucap Rafael sambil menggerakan tangan, agar Laras melepaskan tangannya.
"Kalau begitu, aku tunggu matang saja." Ucap Laras yang sudah melepaskan tangan dari lengan Rafael, tapi tidak ikut naik.
"Eh, itu mobil Papa." Ucap Laras lagi.
"Tunggu mereka istirahat baru bicara." Rafael mengingatkan sebelum naik tangga menyusul Bibi.
Setelah mengambil yang diperlukan Bibi, Rafael tetap berada di lantai atas untuk memberikan kesempatan kepada Laras bicara dengan orang tuanya.
Dia tidak tersenyum melihat Juano menarik pagar setelah mobil Papanya masuk ke halaman. Cara Juano menarik atau mendorong pagar selalu membuatnya tersenyum.
Tetapi saat ini hati dan pikirannya sangat sarat memikirkan jalan keluar yang baik dan tepat untuk menyelesaikan permintaan Laras.
Mungkin pria lain akan bersorak girang diajak menikah oleh Laras yang cantik, pintar, sukses. Tetapi dia memikirkan banyak hal, karena ingin menikmati fase hidupnya step by step. 'Huuuu...' Rafael menghembuskan nafas panjang berkali-kali.
~••
Di lantai bawah, Laras sedang duduk menunggu. Dia harus bicara secepatnya dengan orang tuanya, walau Rafael sudah mengingatkan untuk berikan kesempatan orang tuanya istirahat.
Rafael yang tidak mudah menerima ajakannya membuat dia harus berjuang merayu orang tuanya agar bisa menyetujui permintaannya.
Setelah berpacaran dengan Rafael, dia merasakan sesuatu yang berbeda. Terutama sikap dan rasa sayang Rafael sangat berbeda dengan Jarem. Sehingga dia tidak mau berjauhan dengan Rafael.
"Laras, bikin apa di situ?" Mamanya heran dia duduk sendiri di ruang nonton tanpa menonton. Televisi dibiarkan mati, tapi matanya tertuju ke layar televisi.
"Oh, Mama sudah pulang. Mana Papa, Ma?" Tanya Laras yang sedang tidak fokus pada keadaan.
"Ada apa cari Papa?" Tanya Papanya yang baru masuk bersama Juano.
"Pa, Ma, duduk sini, deh." Laras menunjuk kursi. "Juan ke kamar dulu, ya. Kak Laras ada perlu sama Papa dan Mama." Laras melanjutkan saat melihat Juano mau ikut ke ruang nonton.
"Iya, Kak. Juan mau ke atas saja." Juano menunjuk lantai atas, sebagai tanda dia mau temui Rafael. Kedua orang tuanya mengangguk mengiyakan.
"Laras, tidak bisa setelah makan? Mama mau lihat masakan Bibi." Mamanya mengusulkan, sebab melihat wajah Laras sangat serius.
"Sebentar saja, kok, Ma. Nanti setelah makan kita bicara lagi." Laras mau menyampaikan rencananya, agar Mama dan Papanya bisa berpikir.
"Kalau begitu, sampaikan. Supaya Mamamu bisa lihat yang dimasak Bibi buat kita." Papanya mengusulkan, agar Laras bisa cepat bicara. Mamanya setuju dan ikut masuk ke ruang nonton.
"Begini, Ma, Pa. Laras mendapat promosi kenaikan jabatan, tapi ditempatkan di kantor cabang..." Laras langsung mengatakan seperti yang dikatakan kepada Rafael.
Kedua orang tuanya terdiam. Tidak seperti sebelumnya ketika dia naik jabatan di kantor pusat. Ada sesuatu yang terselubung dari informasi Laras, sebab wajahnya tidak happy.
"Ma, tolong lihat Bibi, supaya kita makan tepat waktu." Pak Yafeth mengerti, pembicaraan mereka tidak akan sebentar. Apa lagi melihat Rafael tidak nonton bersama Laras seperti biasanya di akhir pekan.
Setelah Bu Ester menjauh, Pak Yafeth pindah duduk di kursi yang terdekat dengan Laras. "Laras, bukan kami tidak senang dan bangga akan prestasimu. Kami sangat bersyukur untuk semua yang kau peroleh." Pak Yafeth menepuk pundak Laras yang sedang diam berpikir.
"Tapi kali ini agak berbeda, sebab kau akan jauh dari kami. Kau belum pernah tinggal jauh dari kami seorang diri. Papa yakin, Mama sedang khawatir memikirkan ini."
"Laras tahu, Pa. Makanya mau ajak bicara Papa dan Mama."
"Penempatan ini tidak bisa ditunda?" Papanya coba bertanya sambil berpikir.
"Tidak, Pak. Ini kesempatan Laras. Papa tahu, persaingan di kantor sangat ketat. Kalau Papa keberatan Laras tinggal sendiri di sana, tolong setujui Laras menikah dengan Rafa..."
"Menikah?" Pak Yafeth tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya. "Kau sudah bicarakan ini dengan Rafa?" Pak Yafeth lanjut bertanya.
"Sudah, Pa."
"Apa katanya?"
"Rafa agak keberatan. Tapi akan mengikuti yang Papa bilang. Jadi tolong Laras, Pa." Laras memohon dengan wajah memelas.
...~•••~...
...~•○♡○•~...