NovelToon NovelToon
Menikahi Pria Cacat

Menikahi Pria Cacat

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Vanesa Dintiani

Laura Hiraya yang baru berusia 20 tahun harus rela di jodohkan dengan putra konglomerat. Keputusan egois keluarganya menjadikan ia alat tukar di dalam bisnis. Keluarga konglomerat itu menjanjikan sebuah kerjasama bisnis, dan sebagai imbalannya mereka menginginkan calon istri untuk putra mereka, Gaharu Gardapati.

Gaharu, pria cacat yang sialnya sangat tampan. Kecelakaan tragis 2 tahun lalu membuatnya harus terduduk di atas kursi roda. Ia kehilangan kedua fungsi kakinya. Itu, bersifat sementara. Ia masih menjalani perawatan.

Lalu.. bagaimana kisah rumah tangga si gadis ceria dan aktif seperti Laura Hiraya yang di hadapkan dengan Gaharu Gardapati si pria arogan yang pemarah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanesa Dintiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Gagal membujuk antek-antek

Nyatanya.. Laura tidak menyerah begitu saja. Setelah ia lama berdiam diri di dalam kamar, mondar-mandir ke sana kemari, akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke paviliun belakang. Ia akan membujuk Gabriel dan yang lainnya.

Dan si sinilah ia berada, di gazebo depan paviliun. Gadis itu bersidekap dada, menatap kelimanya bergantian.

“Tidak, Nyonya. Sekertaris Juan benar, kawasan itu memang rawan pencurian dan juga kejatahan lainnya. Banyak berita tersebar,” ujar Hans yang paling tua di antara mereka.

“Ih.. kenapa susah sekalih sih! Hanya satu malam, besok pagi atau besok siang juga aku pulang lagi. Ayolah...” Laura kembali mengeluarkan rengekannya, memasang wajah memelas yang mana hal itu paling ampuh untuk meluluhkan mereka berlima. Namun tidak untuk sekarang.

“Tidak bisa Nyonya, ini demi keselamatan Anda. Kami tidak ingin mengambil resiko," balas Gabriel.

“Benar, kami memang selalu menuruti apa yang Anda katakan, tapi untuk kali ini kami tidak bisa mengabulkannya.” Timpal Zero yang sedari tadi menyimak.

Laura menghentakkan kakinya ke lantai gazebo, menciptakan bunyi yang cukup keras. Ia menatap Zero dengan pandangan tak percaya, lalu beralih pada dua anggota lainnya yang masih bungkam.

“Kalian berlima ini sebenarnya pengawal pribadiku atau agen rahasia negara, sih? Ketat sekali!” gerutu Laura kesal, wajahnya benar-benar frustrasi. “Kak Zero, dengar. Aku tidak akan pergi ke mana-mana. Aku hanya akan diam di dalam kamar kos, bercerita dengan sahabatku, menyelesaikan beberapa tugas, lalu tidur. Aku tidak akan berkeliaran di tengah malam.”

“Aku belum pernah mendengar ada berita kejahatan di dalam kos-an tersebut. Hanya area pemukiman warga yang terkena. Jadi aman dong! Lagipula tembok-tembok yang mengelilingi area kos-an cukup tinggi, aku rasa akan aman.”

Gabriel hanya membalasnya dengan helaan napas panjang. Pria itu memandang ke empat temannya. Ia merasa pening dengan rengekan Nyonya mudanya yang sudah berjalan sekitar 30 menit.

“Nyonya, pagar tinggi tidak menjamin keselamatan Anda bagi mereka yang sudah mengincar. Terlebih lagi jika mereka tahu Anda adalah istri dari orang terpengaruh di kota ini. Mereka bisa saja melukai Anda,” sahut Owen.

“Makanya dari itu aku berbicara seperti ini kepada kalian. Kalian ikut menjagaku, ya?” Laura menatap bergantian kepada mereka berlima. Gadis itu menggeser tubuhnya dan menggoyangkan tangan Hans. Memasang wajah andalannya kembali agar pria yang lebih tua luluh.

Hans tampak goyah sejenak. Ia berdehem, menatap rekan-rekannya yang lain dengan tatapan ragu. Namun, sebelum ia sempat membuka mulut, Arlo sudah lebih dulu memotong.

“Jangan goyah, Hans. Teknik memelas seperti anak kucing itu sudah belasan kali di pakai bulan ini,” celetuk Arlo tanpa dosa.

“Kak Ar, Diam! Kamu harusnya yang paling mendukungku! Kamu sebenarnya berada di kubu siapa sih?” tanya Laura kesal.

Arlo hanya mengangkat bahu santai, melipat kedua tangannya di depan dada dengan ekspresi datar yang menyebalkan bagi Laura. Arlo ini satu-satunya pengawal yang cukup berani kepada Laura, tidak ada jaim-jaimnya.

“Saya berada di kubu di mana pekerjaan saya akan tetap aman, Nyonya.”

Laura mendengus sebal. “Kalian bisa menyamar, jangan mengunakan pakaian formal, pura-pura jadi kurir paket atau jadi pedagang kaki lima atau apalah pokonya, bebas saja. Kalian 'kan hebat dalam menyamar.”

Gabriel memijat pelipisnya yang mulai berdenyut. “Nyonya, meminta kami menjaga Anda secara sembunyi-sembunyi di kawasan padat penduduk seperti itu justru akan menarik perhatian. Orang-orang akan curiga jika melihat pria-pria berbadan tegap mondar-mandir di sana.”

“YA MAKANYA ITU AKU SURUH KALIAN TIDAK MEMAKAI BAJU HITAM-HITAM BEGINI!” pekik Laura kesal. Bahkan kelima orang di sana berjengit kaget karena lengkingan suara Laura.

“Aku sudah bilang kalian bisa gunakan pakaian normal seperti manusia pada umumnya, pakai kaos oblong atau menyamar jadi pedangan jalanan, atau mau menyamar menjadi pengemis jalanan juga boleh saja, ASAL AKU BISA KELUAR MALAM INI!”

“Nyonya...” Zero menyela dengan suara beratnya yang menenangkan, namun tetap tegas. “Masalahnya bukan pada kostum kami. Masalahnya ini adalah perintah langsung dari Tuan muda. Tidak ada izin keluar malam ini, apalagi menginap di luar rumah utama.”

Laura terdiam sejenak, tangannya terangkat dan meremas udara dengan kesal. Kakinya terhentak kesal.

“Menyebalkan! Kalian menyebalkan!”

Rasanya Laura ingin menggaruk semua wajah kelima ajudannya dengan kuku-kuku jarinya. Dengan rasa kesal yang masih meluap-luap, Laura meninggalkan arena gazebo.

Di pertengahan jalan, ia tidak sengaja berpapasan dengan musuhnya, siapa lagi jika bukan si sekertaris prosedur.

“Apa!” Laura menyalak garang. Matanya melotot menatap Juan yang sempat membungkuk hormat kepadanya.

Juan tersenyum tipis. “Gagal merayu para pengawal Anda, Nyonya?” tanya pria itu. Kentara sekali jika Juan sedang meledek Nyonya mudanya.

“Diam kamu!”

Laura memilih pergi langsung dari pada harus meladeni sekertaris menyebalkan itu. Bisa-bisa ia lepas kendali dan menjambak rambut Juan yang tertata rapi.

Gadis itu masuk ke dalam kamar, membuka pintu dan menutupnya dengan keras. Ia melemparkan tubuhnya pada kasur, menelungkup wajahnya pada bantal. Tangannya sibuk memukul-mukul kasur, melampiaskan semua rasa kesalnya.

Setelah beberapa menit melampiaskan emosi pada bantal, Laura membalikkan tubuhnya. Ia menatap langit-langit kamar yang tinggi dengan napas terengah. Matanya panas, bukan karena ingin menangis sedih, tapi karena amarah yang tertahan.

Tiba-tiba, ponselnya yang tergeletak di nakas bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk dari Rahel.

“Gimana, Lau? Dapet izin nggak?”

Laura membaca pesan teks tersebut dan beralih memencet ikon panggilan pada room chatnya.

“Ya? Gimana, Lau?”

“Rahel.... Aku nggak dapet izin.... Maaf,”

“Ngapain minta maaf, santai aja kali.”

“Tapi aku udah janji buat quality time bareng kamu. Kita udah lama nggak ngobrol-ngobrol santai sampe tengah malem, udah lama nggak main berdua lagi, udah—”

“Stttt! Haish.. nyerocos mulu mulutnya. Bisa kita atur lain kali.”

“NGGAK BISA!”

Di seberang sana Rahel menjauhkan ponselnya saat mendengar suara keras Laura. Sakit telinganya. Jika di fikir-fikir memang belakang ini Laura senang sekali teriak-teriak, ada apa kira-kira dengan sahabatnya ini?

“Bisa, Lau. Nanti atur jadwal lagi. Balik ngampus juga kita bisa main.”

“Tapi waktunya dikit banget kalo habis kuliah, Hel. Aku butuh seharian atau nggak seminggu full buat main bareng.”

“Seminggu full? Yang bener aja gila. Seminggu full mau ngapain aja? Ngegosip di kamar? Mau cosplay jadi penunggu kamar, Lo?”

“Ihh.. kita 'kan udah lama nggak main berdua semenjak aku nikah. Ketemu pun harus apa-apa di kawal. Mana di kasih batas waktu lagi.”

Rahel menghela napas panjang di ujung telepon. Ia sangat paham posisi Laura yang kini hidup di dalam "sangkar emas" sejak menjadi istri Gaharu.

“Lau, dengerin gue. Lo itu istri dari seseorang yang berpengaruh di kota ini. Udah nggak heran kalo Lo di larang ini itu. Soal pengawalan, itu udah konsekuensinya. Lagian Lo waktu itu cerita kalo Lo sendiri yang milih mereka berlima, 'kan?”

Laura terdiam, benar juga. Tapi 'kan waktu itu ia memilih mereka berlima karena ia membutuhkan teman di kediaman kaku ini. Tapi sekarang, ia rasa mereka berlima sudah beberapa kali terdoktrin oleh omongan sekertaris prosedur.

Masalahnya, beberapa kali ia meminta sesuatu, mereka selalu menolak. Bukan perihal tadi saja, tapi beberapa hari yang lalu juga begitu. Awal-awal mereka tidak seperti itu. Tapi sekarang mereka benar-benar bekerja layaknya seorang pengawal.

Laura jadi curiga jika mereka berlima sudah beralih kubu. Hm... harus di selidiki.

***

Selasa, 28 April 2026

Published : Selasa, 28 April 2026

1
aku
tembok batu makax klo gmg kaku 🙄 untung ada 5 antek, jd lau gk kesepian 😁
Wawan
Hadir
Bagus Effendik
hai kak semangat ya seru ceritanya mampir juga punyaku yuk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!