Hujan di Jakarta Selatan tidak pernah sekadar air; ia adalah tirai yang menyamarkan dosa-dosa kota ini. Bagi Ustadz Aris, hujan sore itu adalah ujian kesabaran ketiga kalinya hari ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jesa Cristian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: OPERASI PATAH HATI EDISI KE-2 (WKWKWK EDITION)
Jika patah hati pertama saat Aris memilih Rina adalah tragedi nasional bagi para gadis Kampung Tebet, maka kejadian pagi ini adalah komedi situasi tingkat dewa.
Bayangkan suasananya:
Di satu sisi, ada Siska dan Yuni, si duo "Gadis Terpopuler se-Gang Tebet" yang sudah bersiap perang. Mereka datang ke rumah Aris sejak subuh, sudah dandan maksimal. Siska memakai kebaya modern yang agak ketat (tapi tetap syar'i katanya), sementara Yuni memakai hijab warna pastel yang sedang trend di TikTok. Mereka membawa bekal: sebuah kotak kue buatan sendiri (yang sebenarnya beli di toko lalu dikemas ulang) dan secarik surat cinta yang sudah mereka draft selama tiga malam.
"Minggu ini pasti berhasil," bisik Siska penuh keyakinan sambil memoles lipstik matte-nya di kaca spion motor. "Mas Faris itu jenius tapi lucu. Dia butuh wanita yang bisa mengimbangi otak dan humornya. Siapa lagi kalau bukan aku? Aku kan juara lomba cerdas cermat tingkat kecamatan tahun 2018!"
"Iya, Sis!" sahut Yuni antusias. "Aku juga udah hafal nama-nama planet dalam bahasa Arab cuma buat bikin dia kagum. Dijamin, setelah hari ini, kita bakal jadi Power Couple baru Tebet!"
Mereka berjalan gagah menuju pintu rumah Aris, dada membusung, senyum terkembang. Mereka membayangkan skenario romantis: Faris akan membuka pintu, terkejut melihat kecantikan mereka, lalu mengajak mereka masuk untuk diskusi sains sambil minum teh, dan akhirnya... jreng! Lamaran!
Tapi realita berkata lain.
Saat mereka sampai di teras, pemandangan yang mereka lihat bukanlah Faris yang sedang menunggu tamu. Melainkan sebuah adegan yang begitu... absurd.
Faris sedang duduk bersila di atas tikar, berhadapan dengan seorang gadis yang duduk sama rapi. Gadis itu berpakaian sangat sederhana, gamis longgar berwarna abu-abu pudar, kerudungnya sedikit miring karena terlalu asyik berbicara. Tidak ada dandan menor. Tidak ada aroma parfum mahal. Yang ada hanya tumpukan kitab tebal dan sebuah laptop yang layarnya penuh dengan kode-kode aneh.
Dan mereka sedang... tertawa terbahak-bahak.
"Coba bayangin, Mas!" seru gadis itu (Zahra) dengan suara lantang, tangannya menepuk-nepuk lutut karena tertawa. "Kalau malaikat Jibril turun bawa wahyu, terus kita tanya, 'Bang, gravitasi di langit ke-7 itu konstantanya berapa?', kira-kira Jibril jawab apa? Apa beliau bilang, 'Nanti dulu, Bang, aku cek kalkulator dulu'?"
Faris tertawa sampai hampir jatuh terguling, memegang perutnya. "Hahaha! Atau mungkin Jibril bilang, 'Wahai Zahra, itu rahasia dapur Tuhan! Tapi kalau kamu mau, nanti pas kiamat kita hitung bareng-bareng!' Hahaha! Gila sih ide kamu, Zah! Jenius tapi receh banget!"
Pak Harun dan Bu Harun (orang tua Zahra) berdiri di pojokan, wajah mereka campur aduk antara malu, bangga, dan bingung. Mereka melihat anak mereka yang biasanya pendiam seperti kutu buku isolasi, sekarang berubah menjadi stand-up comedian dadakan di depan calon menantu idaman.
Siska dan Yuni berhenti mendadak. Kotak kue di tangan Siska hampir terlepas. Mulut mereka terbuka lebar, membentuk huruf 'O' raksasa.
"Eh... itu siapa?" tanya Siska pelan, suaranya bergetar antara tidak percaya dan sakit hati. "Itu Zahra? Anak Pak Harun yang dulu kita ejek karena nggak pernah main layangan?"
"Iya..." jawab Yuni lemas, matanya melotot. "Dia... dia ketawa? Zahra ketawa? Dan Mas Faris... Mas Faris malah lebih semangat ngobrol sama dia daripada sama kita yang udah dandan cantik begini?"
Mereka memberanikan diri mendekat, mencoba menyela.
"Assalamu'alaikum, Mas Faris..." sapa Siska dengan suara manja yang dipaksakan. "Kami mau ngasih kue nih..."
Faris menoleh, masih menyisakan senyum lebar. "Oh, halo Siska, halo Yuni. Wah, terima kasih kuenya. Tapi sorry ya, lagi sibuk nih. Zahra baru saja nemuin teori gila tentang 'Termodinamika Shalat Tahajud'. Kita lagi bahas apakah energi panas dari sujud itu bisa dipakai buat ngecas HP. Seru banget!"
Zahra menoleh sekilas pada Siska dan Yuni, lalu tersenyum ramah tapi polos banget. "Oh, halo Kak Siska, Kak Yuni. Mau ikut diskusi? Tapi kalian harus baca kitab Fathul Wahhab bab 4 dulu ya, biar nyambung. Kalau nggak, nanti kalian bingung sendiri. Hehe."
Kalimat itu, meski terdengar ramah, rasanya seperti ditampar pakai sandal jepit basah bagi Siska dan Yuni. Disuruh baca kitab dulu biar nyambung? Maksudnya mereka kurang pinter?
Siska mencoba bertahan. "Ih, Mas Faris. Nggak usah bahas kitab mulu lah. Kita kan bisa jalan-jalan ke kafe baru di pusat kota? Atau nonton bioskop? Zahra kan kelihatannya nggak pernah keluar rumah, pasti nggak tahu tempat hits."
Faris menggeleng santai, lalu menatap Zahra dengan pandangan penuh kekaguman. "Ah, tempat hits mah biasa, Sis. Yang jarang itu nemu orang yang bisa diajak mikir sampe ke akar-akarnya sambil ketawa-ketawa. Zahra itu... rare item. Langka. kayak fosil dinosaurus yang masih hidup tapi bisa ngoding Python."
Zahra tertawa lagi, kali ini sampai terbahak-bahak sambil menutup muka. "Dinosaurus coding? Hahaha! Mas Faris bisa aja deh! Bener-bener, kalau aku dinosaurus, nanti aku punah gara-gara kebanyakan ketawa!"
Melihat chemistry mereka yang begitu kuat, begitu natural, dan begitu... nyambung di frekuensi yang tidak bisa dijangkau orang lain, Siska dan Yuni merasa dunia mereka runtuh untuk kedua kalinya.
Patah hati pertama (saat Aris pilih Rina): Rasanya sakit, perih, ingin menangis.
Patah hati kedua (saat Faris pilih Zahra): Rasanya aneh, lucu, sekaligus ingin nangis sambil ketawa.
"Gila..." gumam Yuni pada Siska, air mata mulai menggenang tapi ia menahan tawa karena situasinya terlalu absurd. "Kita kalah sama anak kutu buku yang bajunya aja belel, Sis. Kita kalah sama... logaritma dan lawakan receh."
"Iya..." sahut Siska pasrah, menyerahkan kotak kue itu ke meja samping. "Mungkin takdir kita emang bukan jadi istri jenius. Mungkin kita cuma ditakdirkan jadi penonton yang bagus di pinggir panggung sambil makan popcorn."
Mereka berdua mundur perlahan, meninggalkan Faris dan Zahra yang kembali tenggelam dalam diskusi gila mereka tentang "Apakah awan cumulonimbus itu tanda-tanda kekuasaan Allah atau sekadar uap air yang lagi bad mood?".
Di perjalanan pulang, Siska dan Yuni duduk di atas motor Yuni.
"Sis, sedih nggak?" tanya Yuni.
"Sedih sih," jawab Siska sambil menghapus air mata. "Tapi... aneh ya. Kok rasanya pengen ketawa juga? Lihat tadi Zahra ketawa lepas banget. Jarang-jarang ada orang sebahagia itu. Mungkin memang mereka cocok. Dua-duanya sama-sama 'gila' dalam arti positif."
"iya sih," Yuni menghela napas. "Yaudahlah. Anggap aja ini ujian naik kelas. Kalau dulu kita iri sama kecantikan Rina, sekarang kita iri sama kepintaran dan kecocokan otak Zahra. Ternyata standar cowok sholeh-jenius itu tinggi banget, Yan. Nggak cukup modal cantik doang. Harus punya isi kepala dan rasa humor yang sejalan."
Mereka tertawa kecil, tawa yang melepaskan beban.
"Wkwkwk, bener juga," kata Siska tiba-tiba meniru gaya Faris. "Mungkin jodoh kita nanti adalah tukang bakso yang ahli fisika kuantum? Siapa tahu!"
"Hahaha! Bisa jadi! Ayo kita cari tukang bakso pinter sekarang!"
Sementara itu, di Markas Victoria Sterling:
Victoria sedang memantau CCTV drone rahasia yang ia sembunyikan di pohon dekat rumah Aris. Ia melihat adegan Faris dan Zahra yang tertawa bahagia, serta Siska dan Yuni yang pergi dengan wajah pasrah tapi akhirnya tertawa juga.
Victoria mengernyit, wajahnya bingung setengah mati.
"Apa yang terjadi?" tanyanya pada asistennya. "Kenapa mereka semua tertawa? Kenapa si Faris memilih gadis culun itu? Kenapa gadis-gadis lain tidak marah-marah malah ikut ketawa? Ini tidak masuk akal secara psikologi manusia!"
Asistennya hanya bisa mengangkat bahu, bingung. "Nona, saya rasa... kita tidak akan pernah mengerti budaya lokal mereka, Nona. Di sini, cinta itu bukan soal logika bisnis atau strategi perang. Tapi soal... ketawa bareng dan mikir bareng. Kita kalah telak, Nona. Bukan karena kalah uang, tapi karena kita nggak punya sense of humor dan nggak punya pasangan yang nyambung."
Victoria membanting tabletnya lagi (ini sudah yang ketiga kalinya minggu ini).
"Sial! Aku punya gelar MBA dari Harvard, punya aset triliunan, tapi aku kalah sama gadis kampung yang baju nya pudar?! Dunia ini benar-benar tidak adil!"
Epilog Kecil di Gang Tebet:
Malam itu, berita menyebar cepat. Bukan berita skandal, tapi berita lucu.
"Woi, tau nggak? Siska sama Yuni gagal nembak Mas Faris lagi! Kali ini kalah sama Zahra si Kutu Buku!"
"Hahaha iya! Katanya Zahra ngajak diskusi gravitasi shalat tahajud!"
"Gila sih, emang jodoh nggak kemana. Yang penting connect otaknya!"
Warga Tebet tertawa. Suasana kampung semakin cair. Patah hati kali ini tidak meninggalkan dendam, malah meninggalkan cerita lucu yang akan diceritakan bertahun-tahun kemudian.
Dan di rumah Aris, Faris dan Zahra masih belum tidur.
"Zah," kata Faris tiba-tiba serius.
"Hmm?"
"Kamu sadar nggak? Kita baru saja bikin dua gadis paling populer di kampung ini patah hati untuk kedua kalinya dalam sejarah keluarga kita."
Zahra melirik, lalu tertawa lepas. "Wkwkwk! Iya ya! Maaf ya, Sis, Yun! Bukan salah kami kalau kimia otak kami reaksinya terlalu eksotermik sampai membakar hati orang lain!"
"Dasar," gelitik Faris. "Kamu ini berbahaya. Jenius, shalehah, tapi lawakanmu bisa bikin orang patah hati sambil ketawa."
"Ya namanya juga cinta sains, Mas. Risikonya tinggi, tapi hasilnya memuaskan!"
Mereka tertawa lagi, di bawah sinar lampu temaram, dikelilingi kitab-kitab kuno, memulai babak baru kehidupan mereka yang pasti akan penuh dengan kejutan, tawa, dan penemuan-penemuan gila yang akan mengubah dunia (atau setidaknya, mengubah Gang Tebet menjadi pusat riset dunia).
Dan bagi Siska dan Yuni? Mereka mungkin sedang mencari tukang bakso ahli fisika kuantum mereka sendiri. Siapa tahu, kan?
Bersambung... (dengan janji akan lebih lucu dan lebih jenius!) 🤣📚🔬