⚠️ ***+ | Kisah Cinta segitiga
Valencia kehormatannya direnggut, hatinya terbelah.
Valencia hancur saat kehormatannya direnggut oleh Ansel—pria yang hadir diantara cinta Valencia dan Zyro,. Namun Zyro, kekasihnya yang sangat mencintainya, tetap ingin menerima apa adanya dan ingin menikahinya.
Keduanya mengaku mencintainya, keduanya tak ada mau mengalah. Perkelahian sengit pun terjadi, hingga di batas keputusasaan, Valentina harus melukai dirinya sendiri hanya agar mereka mau berhenti...
Melihat wanita yang mereka cintai terbaring penuh darah, akhirnya kedua pria itu mengambil keputusan berat: mereka berdua akan menikahi Valen dan berjanji menjaganya bersama-sama.
Dua pria, satu wanita.
Akankah cinta bisa menyatukan mereka, atau malah membawa pada kehancuran yang lebih dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Wisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kisah Zyro
"Ansel..."
"Hmm?" jawab Ansel menoleh.
"Jujur saja... apa kau benar-benar tidak keberatan kalau nanti ke depannya pasti akan banyak gosip beredar tentang hubungan kita bertiga? Apakah hal itu tidak akan mengganggumu mempengaruhi Perusahaanmu?" tanya Zyro serius.
Ansel tersenyum tipis lalu menggeleng.
"Aku tak masalah, Zyro. Biarkan saja orang bicara apa saja, biarkan saja gosip panas macam apa yang mereka buat nanti. Selama aku bisa bahagia bersama Valen , aku tidak peduli apa kata dunia."
Zyro mengangguk paham.
"Bagaimana dengan mu sendiri zyro?
" Lagipula memang begitulah kenyataannya, kan? Kita memang berdua mencintai wanita yang sama dan sepakat hidup bersama. Jadi buat apa takut dengan gosip? Itu hanya angin lalu, dan tak perlu ditutup tutupi."
Zyro menatap tajam ke arah Ansel, nadanya menekan.
"Tapi ada satu hal yang ingin aku ingatkan. Sebaiknya kau bicarakan semuanya dulu dengan mamamu, sebelum akhirnya kau membawa Valen bertemu dengannya. Aku takut kalau ibumu belum tahu dan belum setuju, dia malah menghardik atau berkata kasar padanya. Aku tidak mau valen terluka lagi. Pastikan semuanya beres dulu, baru bawa Valen menghadap Mamamu."
Ansel terdiam sejenak, lalu mengangguk mantap.
"Kau benar, Zyro. Aku berjanji akan segera membicarakan semuanya pada Mamaku secepatnya. Aku akan jelaskan dengan rinci, aku akan meyakinkan beliau sampai benar-benar mengerti dan setuju. Aku tidak akan membiarkan Valen terluka sedikitpun, apalagi dari keluargaku sendiri."
". Aku lega mendengarnya," jawab Zyro tersenyum.
Ansel menatap Zyro dengan rasa penasaran yang memuncak, lalu bertanya perlahan:
"Lalu bagaimana dengan mu sendiri Zyro, apa kau sudah membicarakannya dengan orang tuamu? Seperti nya kau sangat santai?"
Zyro terdiam sejenak, menundukkan pandangannya, lalu menghela napas panjang.
"Aku tak perlu membicarakannya pada mereka, mereka pasti merestui ku, yang penting aku bahagia. Sebenarnya... kedua orang tuaku sudah lama tiada. Mereka meninggal dunia saat aku akan menyelesaikan kuliahku, mereka meninggal dalam sebuah kecelakaan yang sangat mengerikan."
Ansel terkejut mendengarnya, wajahnya berubah simpati.
"Apa? Maafkan aku Zyro... aku benar-benar tidak tahu soal itu. Aku turut berduka..."
"Tidak apa, sudah berlalu lama kok," jawab Zyro mencoba tersenyum. "Sebenarnya, orang tuaku aku mewarisi sebuah perusahaan diler mobil Zyro Motors. Dan aku adalah anak satu satunya mereka."
Mata Ansel seketika membelalak tak percaya, ia langsung menyela ucapan Zyro dengan nada terkejut.
"Zyro Motors?! Maksudmu perusahaan diler mobil besar yang sering bekerja sama dengan perusahaan ku? Aku tahu dan mengenal betul perusahaan itu! Itu perusahaan yang sangat bonafid, terpercaya, dan jangkauannya luas. Aku sama sekali tidak menyangka kalau pemilik aslinya adalah kau, Zyro!" seru Ansel takjub.
Zyro hanya tersenyum tipis melihat reaksi Ansel, lalu melanjutkan ceritanya.
"Ya, benar. Itu perusahaan ku. Tapi saat itu, tepat setelah kepergian orang tuaku. Aku sangat terpukul dan rasanya duniaku runtuh seketika. Aku tidak punya semangat hidup lagi, dan aku sama sekali tidak sanggup mengurus atau memimpin perusahaan sebesar itu sendirian dalam keadaan hatiku yang kacau."
"Lalu apa yang kau lakukan dengan perusahaan sebesar dan sehebat itu?" tanya Ansel yang masih tampak takjub dan penasaran.
"Aku menyerahkan seluruh pengurusan dan manajemennya kepada orang kepercayaan orang tuaku. Aku percaya sepenuhnya pada mereka. Aku hanya menerima laporan keuangan dan bagian keuntunganku saja, tapi aku sama sekali tidak ikut campur dalam urusan operasional sehari-hari atau pengambilan keputusan penting. Aku membiarkan mereka menjalankannya dengan baik, sementara aku memilih untuk pergi dan memulai karirku sebagai pembalap," jelas Zyro tenang.
Ansel mengerutkan keningnya, semakin penasaran.
"Tapi kenapa harus jadi pembalap, Zyro? Kenapa memilih pekerjaan yang penuh risiko dan bahaya seperti itu? Padahal dengan posisimu sebagai pemilik Zyro Motors, kau bisa hidup enak, dihormati, santai, dan berkecukupan seumur hidup tanpa harus mempertaruhkan nyawamu di lintasan balap."
Zyro tersenyum tipis, matanya berkaca-kaca mengingat masa lalu yang kelam namun berkesan itu.
"Saat itu... aku merasa sangat kesepian, hancur, dan putus asa. Aku butuh sesuatu yang bisa membuatku melupakan rasa sakit dan kesedihanku, sesuatu yang bisa membuatku merasa masih hidup dan punya tujuan lagi. Dan saat itulah aku mengenal dunia balap. Kecepatan, adrenalin, dan tantangan di lintasan membuatku lupa sejenak pada duka di hatiku. Tapi..."
"Tapi apa?" desak Ansel lembut.
"Tapi kalau dipikir-pikir lagi, itu hanya alasan awalku saja. Sebenarnya ada satu alasan terbesar yang membuatku bertahan, terus bersemangat, dan tidak menyerah sampai sekarang..." Zyro menatap Ansel lekat-lekat. "Saat aku berada di titik terendah dalam hidupku, saat aku merasa ingin menyerah dan rasanya tidak mau hidup lagi... Valencia Dialah satu-satunya orang yang ada di sisiku, yang tidak pernah meninggalkanku, dan yang selalu mendukungku dengan sepenuh hati tanpa syarat."
"Dia yang menyemangati ku, dia yang menyadarkan ku bahwa hidup harus tetap berjalan dan aku masih berharga. Dia yang selalu ada di sana, menungguku pulang setiap kali aku selesai balapan. Dia yang menjadi penyemangatku saat aku kalah dan gagal, serta dia yang paling bahagia saat aku menang dan sukses. Tanpa dukungan, kasih sayang, dan kehadiran Valen, mungkin aku sudah tidak ada di sini sekarang, atau mungkin aku sudah menjadi orang yang hancur dan hilang arah sepenuhnya," ungkap Zyro dengan suara bergetar namun penuh ketulusan dan rasa terima kasih yang mendalam.
Ansel mendengarkan dengan saksama, hatinya tersentuh dan semakin menghargai serta menghormati perjalanan hidup sahabatnya itu.
"Jadi begitulah ceritanya... Ternyata perjalananmu tidak semulus dan semudah yang aku kira, Zyro. Dan ternyata Valen lah sosok di balik semua itu, alasan kuat kenapa kau begitu mencintainya dan rela berkorban apa saja untuknya," kata Ansel lirih.
"Ya. Dialah segalanya bagiku, Ansel. Makanya aku rela melakukan apa saja demi dia, bahkan menyerahkan nyawaku sekalipun," jawab Zyro tegas dan mantap.
Ansel mengangguk perlahan, tatapannya kini penuh rasa hormat dan persaudaraan yang erat pada Zyro.
Zyro menatap Ansel lekat-lekat, lalu bertanya dengan nada serius dan penasaran.
"Lantas bagaimana denganmu, Ansel? Apa alasan kuat mu hingga tidak bisa meninggalkan Valencia? Kau ini pria yang mapan, berkuasa, bahkan sangat tampan. Mustahil rasanya tidak ada wanita yang memperebutkan mu, atau wanita lain yang lebih cantik, lebih kaya, dan lebih sempurna yang mau bersedia bersamamu dengan sukarela. Kenapa harus tetap memilih dan bertahan pada Valencia dan mau berbagi istri?"