NovelToon NovelToon
PREMAN MASUK PESANTREN

PREMAN MASUK PESANTREN

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Dunia malam mengenal Faris Arjuna sebagai Panglima Terminal, namun semesta mengenalnya sebagai pewaris tahta yang hilang.
​Di bawah bimbingan sang kakak, Arjuna Hidayat—Sang Paku Bumi Sidoarjo yang sakti mandraguna—Faris harus menanggalkan jaket kulitnya untuk mengenakan beskap kehormatan. Namun, kejutan terbesar muncul dari sosok Simbok (Nyai Gayatri Sekar Arum). Di balik kesederhanaannya, beliau adalah pemegang restu darah Raja Majapahit yang menguasai istana gaib dan sepuluh dayang piningit.
​Kini, paseduluran dua Arjuna ini bukan lagi sekadar soal urusan pesantren, melainkan menjaga amanah leluhur Nusantara. Saat kegelapan masa lalu mulai mengusik kedaton mereka, Faris harus membuktikan bahwa seorang berandal pun bisa memiliki wibawa seorang Raja.
​Doa Simbok adalah jimatnya, bimbingan Kangmas adalah kompasnya, dan Keris Kyai Jalak Suro adalah takdirnya. Siapkan diri, karena kasekten Majapahit telah bangkit di tanah Sidoarjo!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 Sabdo Dadi Ujian Lidah dan Sumpah Setia

Setelah kericuhan di dunia maya berhasil diredam, Faris Arjuna duduk bersandar di kursi kayu jati ukiran yang ada di sudut ruangan apartemen mewah itu. Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan batinnya yang masih bergetar setelah menghadapi serangan digital para pengikut Ki Ageng Blorong.

Namun, suasana yang tenang itu mendadak berubah. Entah dari mana asalnya, seorang pengemis tua dengan pakaian compang-camping tiba-tiba sudah berdiri tepat di hadapan Faris. Tanpa basa-basi, pengemis itu meludah tepat di depan kaki Faris.

"Telen, Cah Bagus! Kalau kamu benar-benar ingin jadi pemimpin sejati, telen kehinaan ini ke dalam batinmu!" seru pengemis itu dengan suara yang berat.

Arjuna Hidayat yang melihat kejadian itu langsung bangkit berdiri, wajahnya memerah karena merasa adiknya dihina. "Heh, Pak Tua! Jaga bicaramu!"

Faris dengan cepat menahan tangan kakaknya. "Sabar, Kangmas. Ini ujian."

Dengan wajah yang tenang dan tanpa sedikit pun rasa jijik, Faris melakukan apa yang diperintahkan. Ia menelan kehinaan itu ke dalam batinnya, sebagai simbol bahwa seorang pemimpin harus sanggup memendam caci maki tanpa rasa benci.

Seketika, tubuh pengemis itu mengeluarkan cahaya putih yang sangat menyilaukan. Ia tersenyum bijak, lalu menyentuh lidah Faris dengan ujung jarinya yang terasa membara namun dingin di saat bersamaan.

"Kamu lulus, Faris Arjuna. Sekarang, aku titipkan Ilmu Sipait Lidah padamu," bisik pengemis itu.

Lidah Faris mendadak terasa getir. Di dalam batinnya, sebuah kalimat rahasia merasuk dan menyatu dengan jiwanya:

Lidahku pait, ucapku nyoto. Opo sing dadi karepku, dadi kersane Gusti. Sekali berucap, alam seisi tunduk pada batin yang suci.

"Mulai saat ini, setiap katamu adalah takdir. Gunakan dengan bijak, karena lisanmu kini adalah pedang Nusantara," pungkas sang pengemis sebelum akhirnya ia lenyap tertiup angin malam, menyisakan aroma bunga melati yang sangat harum.

Ketegangan sakral itu mendadak pecah ketika Simbok masuk dari dapur sambil membawa nampan besar. "Ayo, Cah Bagus, dimakan dulu dadar jagungnya! Masih panas, baru matang!"

Aroma sambal terasi dan dadar jagung langsung memenuhi ruangan. Faris yang tadi terlihat begitu berwibawa, seketika berubah jadi nakal lagi. Ia dengan cepat merebut piring itu sebelum tangan Eyang Wijaya mencapainya.

"Eits! Jangan, Eyang! Tidak boleh ambil banyak-banyak!" seru Faris sambil tertawa.

Eyang Wijaya melotot pura-pura marah. "Cucu pelit! Itu Simbok buatnya banyak!"

"Bukan pelit, Eyang. Ingat kesehatan, Eyang kan sudah sepuh. Biar Faris saja yang menghabiskan demi kebaikan Eyang, hehehe!" canda Faris sambil melahap dadar jagung itu dengan lahap.

Di tengah tawa mereka, pintu besar apartemen terbuka kembali. Masuklah sekelompok pria bertubuh tegap dengan pakaian adat dari luar Jawa. Faris tertegun, ia mengenali wajah-wajah itu.

Mereka adalah mantan anak buah Faris saat ia masih menjalankan misi rahasia di berbagai pelosok Nusantara bertahun-tahun yang lalu. Tanpa dikomando, mereka semua serentak berlutut di hadapan Faris.

"Komandan Faris... Akhirnya kami menemukanmu," ucap pemimpin rombongan itu dengan suara parau.

Faris bangkit dan merangkul mereka satu per satu. "Sudah kubilang, jangan panggil Komandan. Kita ini saudara. Bagaimana kabar kalian?"

"Kami siap kembali berjuang bersamamu, Komandan. Apapun perintahmu, kami jalankan!" jawab mereka dengan tegas.

Faris menatap mereka semua, lalu membisikkan sumpah setia dalam batinnya untuk pasukan militan tersebut:

Sumpah siji dadi siji, getihku getihmu nyawiji ing bumi. Sing sapa wani ngganggu, bakal ajur dadi awu dening pangucapku.

Kini, kekuatan Faris Arjuna sudah lengkap. Ia memiliki lidah yang sakti, hati yang rendah, dan pasukan setia yang siap menjadi benteng hidup bagi Nusantara.

Setelah suasana hangat makan dadar jagung selesai, Arjuna Hidayat tiba-tiba memegang pundak Faris dengan erat. Tatapannya berubah menjadi sangat tajam dan berwibawa, sebuah pertanda bahwa ada urusan batin yang tidak bisa ditunda lagi.

"Dikmas Faris, ayo ikut aku sekarang. Kita harus berangkat ziarah ke makam Syekh Siti Jenar," ucap Arjuna Hidayat dengan nada rendah.

Faris Arjuna mengangguk mantap tanpa banyak tanya. "Siap, Kangmas. Saya ikuti arahanmu."

Hanya dalam sekejap mata, suasana apartemen mewah yang bising dengan suara kota menghilang, berganti dengan kesunyian sebuah komplek makam tua yang dikelilingi pohon-pohon besar. Bau harum melati dan dupa langsung menusuk hidung, membawa suasana mistis yang sangat kental.

"Sekarang, duduklah bersila di depan pusara ini, Dikmas. Kosongkan batinmu dan lakukan suluk. Sambungkan jiwamu dengan alam tinggi," perintah Arjuna Hidayat.

Faris duduk bersila dan mulai mengatur napasnya. Di tengah keheningan itu, tiba-tiba terdengar bisikan gaib yang turun langsung dari langit, mengguncang seluruh batin Faris Arjuna.

"Sopo sing ngerti asale, bakal ngerti baline. Satrio Piningit iku dudu sing pamer kuoso, nanging sing biso dadi wadah kanggo kersane Gusti."

(Siapa yang mengerti asal usulnya, akan mengerti jalan pulangnya. Satrio Piningit itu bukan dia yang pamer kekuasaan, melainkan dia yang bisa menjadi wadah bagi kehendak Tuhan.)

Faris memejamkan mata semakin rapat, aura emas mulai keluar dari tubuhnya. Bisikan itu kembali terdengar, lebih keras dan lebih dalam dari sebelumnya.

"Jagat iki mung samudro tanpo tepi, batinmu iku perahune. Ojo wedi karam, mergo Aku ono ing njerone atimu."

(Dunia ini hanyalah samudra tanpa tepi, batinmu adalah perahunya. Jangan takut karam, karena Aku ada di dalam hatimu.)

Faris bergetar hebat saat merasakan energi Syekh Siti Jenar seolah menyatu dengan batinnya, memberikan pemahaman tentang hakikat kepemimpinan yang sesungguhnya. Ia sadar bahwa kesaktian Ilmu Sipait Lidah yang ia miliki hanyalah alat, sementara pengabdian kepada Tuhan adalah tujuannya.

"Cukup, Dik. Sudah cukup pesan yang kau terima malam ini," ucap Arjuna Hidayat sambil membangunkan Faris dari meditasi batinnya.

Faris membuka mata yang kini berkilat penuh kebijaksanaan. "Terima kasih, Kangmas. Sekarang aku mengerti, bahwa musuh terbesar bukanlah fitnah di media sosial, melainkan kesombongan di dalam hati sendiri."

Keduanya bangkit meninggalkan makam keramat itu tepat saat fajar mulai menyingsing. Faris melangkah keluar dengan jiwa yang baru, siap menghadapi badai politik dan serangan gaib yang akan datang di babak selanjutnya

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!