NovelToon NovelToon
Istri Kecil Tuan Devano

Istri Kecil Tuan Devano

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Nikah Kontrak
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: adawiya

Alana Wijaya tidak pernah menduga hidupnya akan berubah menjadi neraka dalam semalam. Demi menyelamatkan perusahaan keluarganya yang diambang kehancuran, ia dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Devano Adhitama—seorang CEO arogan yang dikenal sebagai monster berdarah dingin dan harus duduk di kursi roda akibat kecelakaan misterius.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adawiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keputusan Nekat

Moncong pistol hitam yang dingin itu kini berjarak hanya beberapa sentimeter dari kening Alana. Hawa membunuh yang pekat berembus dari celah pintu mobil sedan yang terbuka setengah.

Anak buah Rendy Surya menyeringai puas di balik topeng hitamnya. Ia merasa di atas angin karena mangsanya sudah benar-benar tersudut di dalam kabin yang ringsek.

"Turun sekarang, Jalang! Atau aku akan membuat otakmu berserakan di atas tubuh suamimu!" gertak pria itu dengan nada suara yang rendah namun penuh dengan ancaman yang nyata.

Alana bisa merasakan napas berat dan putus-putus dari Devano di belakang punggungnya. Tubuh kekar suaminya itu terasa semakin mendingin, sebuah pertanda buruk bahwa pasokan darah di dalam tubuh sang tirani sudah berada di titik paling kritis.

Setiap detik yang terbuang terasa seperti langkah kaki malaikat maut yang kian mendekat.

"Jangan... berani... menyentuhnya," geram Devano dengan suara parau yang nyaris habis di tenggorokan.

Pria itu mencoba mengangkat tangan kanannya yang gemetar untuk menghalangi moncong senjata lawan. Namun, luka tembak yang bersarang di punggungnya membuat seluruh saraf otot tubuhnya seolah lumpuh seketika.

Devano kembali terduduk lemas, menyandarkan kepalanya di bahu Alana dengan napas yang memburu. Sepasang matanya yang mulai meredup tetap menatap tajam ke arah pria bertopeng di luar sana, memancarkan harga diri yang menolak untuk tunduk bahkan di ambang kematian sekalipun.

Melihat pria yang biasanya selalu mengendalikan hidupnya kini tak berdaya demi menjadi tamengnya, sesuatu di dalam diri Alana mendadak pecah. Rasa takut dan trauma yang sejak kecil menghantui pikirannya mendadak sirna, digantikan oleh letupan adrenalin yang membakar seluruh insting bertahannya.

Alana tahu, jika ia menyerah sekarang, Keluarga Surya tidak akan membiarkan Devano hidup. Dan yang lebih mengerikan, adiknya yang sedang disandera bom waktu akan mati meledak tanpa ada satu orang pun yang menolong.

Tangannya yang sejak tadi menyembunyikan pistol otomatis di balik lipatan gaun putihnya yang berlumuran darah, mendadak bergerak secepat kilat.

Dor!

Alana menarik pelatuk senjata api itu tanpa ragu sedikit pun. Ini adalah tembakan pertama dalam hidupnya, didorong oleh keputusasaan yang teramat sangat.

Tembakan jarak dekat itu mengenai tepat di bagian dada si penyerang sebelum pria bertopeng itu sempat menyadari apa yang sedang terjadi. Suara letupan senjata memekakkan telinga di dalam ruang kabin yang sempit.

Tubuh kekar di luar pintu mobil itu langsung terjerembab ke belakang. Pria bertopeng itu ambruk di atas aspal dengan mata melotot tidak percaya, sebelum akhirnya tidak bergerak lagi untuk selamanya.

"Sialan! Wanita itu punya senjata! Tembak mobilnya sekarang!" teriak salah satu penyerang lain yang berdiri di dekat mobil jip, menyadari rekan mereka baru saja tumbang.

Bang! Bang! Bang!

Rentetan peluru kembali menghujani bodi sedan mewah antipeluru milik Devano. Suara benturan timah panas dengan pelat baja mobil bergema brutal, menciptakan kepulan asap tipis dan bau hangus yang menusuk hidung.

Alana langsung merangkak turun ke lantai mobil yang basah oleh darah. Ia menggunakan tubuh kecilnya sendiri untuk memeluk dan melindungi kepala Devano dari serpihan kaca jendela yang mulai rontok akibat getaran tembakan.

"Kamu beneran gila, Alana..." bisik Devano dengan sudut bibir yang mengeluarkan darah segar.

Pria itu menatap istrinya dengan pandangan yang dipenuhi rasa syok yang mendalam. Ia sama sekali tidak pernah menyangka bahwa wanita yang selama ini ia anggap lemah dan hanya bisa menangis ketakutan, bisa bertindak senekat ini di depan matanya sendiri.

"Aku tidak akan membiarkan mereka membunuhmu di depanku, Tuan! Kita harus hidup!" sahut Alana dengan napas yang memburu dan wajah yang tercoreng noda darah suaminya.

Tiba-tiba, dari arah kursi kemudi depan, sebuah erangan berat terdengar memecah ketegangan yang mencekam tersebut.

Jefri perlahan-lahan membuka matanya yang berlumuran darah dari luka di dahi. Kesadaran asisten setia Adhitama Group itu akhirnya kembali tepat di saat mereka semua berada di ujung tanduk maut.

Jefri melihat situasi luar yang kacau melalui sisa kaca spion tengah yang retak seribu. Dengan cepat, ia menahan rasa pening di kepalanya dan meraba sebuah tombol darurat berwarna merah di bawah dasbor mobil.

Tombol itu adalah sistem pengaktifan mesin cadangan berbasis komputer murni, teknologi rahasia yang hanya dipasang pada kendaraan inti keluarga Adhitama.

Vruuummm!

Mesin sedan mewah yang tadinya mati total akibat benturan truk kontainer, mendadak menderu keras kembali dengan suara knalpot yang memecah kesunyian malam.

"Tuan Besar, Nyonya Muda, pegangan yang erat! Kita keluar dari sini!" teriak Jefri dengan urat leher yang menonjol kaku. Ia mencengkeram setir dengan satu tangannya yang tidak terluka.

Jefri langsung menginjak pedal gas sedalam-dalamnya tanpa memedulikan kondisi ban mobil mereka yang sudah robek sebagian. Mobil ringsek itu melesat maju dengan liar ke arah depan, memotong jalur kiri jalan raya.

Braaakkk!

Bodi depan sedan mereka menghantam bagian samping salah satu jip musuh yang mencoba menghadang. Benturan keras itu membuat mobil jip tersebut terpental ke pinggir jalan, membuka celah sempit untuk jalur pelarian darurat mereka.

Dua jip Keluarga Surya lainnya tidak tinggal diam melihat mangsanya kabur. Mereka langsung berputar arah dengan lincah, mengejar sedan Devano dengan kecepatan penuh sambil terus melepaskan tembakan brutal dari arah belakang sepanjang jalan raya sepi itu.

Alana kembali melirik ke arah ponsel di lantai mobil yang layarnya sudah retak parah. Angka digital berwarna merah di sana berkedip semakin cepat, memancarkan aura kematian yang kian nyata: 04:15.

Hanya tersisa empat menit lima belas detik sebelum bom di tubuh adiknya meledak.

Sementara itu, kondisi kesadaran Devano di pangkuannya sudah benar-benar berada di ambang batas. Kelopak mata pria itu mulai terpejam rapat dengan napas yang keluar satu-satu dari sela bibirnya yang memutih.

"Tuan Devano! Buka mata Anda! Bertahanlah demi aku, saya mohon!" tangis Alana kembali pecah dengan histeris. Ia terus menekan luka di punggung suaminya dengan sisa gaun putihnya yang robek, mencoba menghentikan pendarahan yang kian parah akibat guncangan mobil yang hebat.

"Jefri! Kita harus ke mana? Waktu adikku sudah hampir habis!" seru Alana dengan nada suara yang dipenuhi keputusasaan yang mendalam.

"Kita langsung menuju gudang tua di pelabuhan lama, Nyonya! Itu lokasi terdekat yang berhasil dilacak oleh sinyal GPS ponsel Tuan Besar sebelum sistem satelit kita diputus oleh mereka!" sahut Jefri sambil terus bermanuver zigzag menghindari kejaran peluru dari jip di belakang mereka.

Namun, tepat di saat secercah harapan mulai muncul, pemandangan di depan jalan raya kembali menghancurkan mental Alana seketika.

Jalan raya utama yang menjadi satu-satunya akses menuju ke arah pelabuhan lama mendadak telah ditutup total oleh barikade dua truk kontainer raksasa milik Keluarga Surya yang sengaja diparkir melintang.

Jalur pelarian mereka mati total. Mereka kini dikepung dari arah depan oleh barikade raksasa dan dikerjar dari belakang oleh dua jip bersenjata tanpa ada celah sedikit pun untuk menghindar.

Sementara itu, angka di bom waktu adik Alana terus berjalan mundur tanpa ampun, dan kini menyentuh angka kritis: 03:00.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!