Diusir dan dicoret dari Kartu Keluarga, Arjuna justru menemukan jalan rahasia para kekasih Tuhan. Menyamar sebagai pengemis dan orang gila, ia berkelana mencari Guru-Guru Gaib untuk mengukir takdir di atas Lontar Jagad. Di saat keluarganya hancur, akankah Arjuna kembali sebagai pahlawan, atau tetap menjadi debu yang tak terlihat namun menjaga semesta dengan zikirnya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Serigala Bersorban Putih
Malam di Pondok Al-Hikam terasa lebih dingin dari biasanya. Arjuna Wijaya duduk di pojok musala tua, memutar tasbih kayunya dalam kegelapan. Di sampingnya, si kambing putih merebah tenang, namun telinganya terus bergerak-gerak waspada. Di tangan kiri Arjuna, liontin Kujang perak peninggalan ayahnya terasa panas, seolah menyimpan amarah yang belum tuntas.
.
"Gusti... paringono sabar. Kulo mboten pengen ngrusak paseduluran, nanging kulo mboten saged mriemaken durjono," bisik Arjuna lirih.
(Tuhan... berilah kesabaran. Saya tidak ingin merusak persaudaraan, tapi saya tidak bisa mendiamkan kejahatan.)
.
Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki yang teratur. Paman Surya muncul dari balik pilar musala. Ia mengenakan jubah putih bersih, aroma parfum gaharu yang mahal tercium menyengat. Di jari manisnya, batu Akik Merah Delima itu berkilat tertimpa cahaya bulan, tampak seperti mata iblis yang sedang mengintai.
.
"Juna... kowe kok ijenan neng kene? Wartawan wis bubar, Mr. Richard wis ambruk. Kudune kowe seneng, pondok iki wis aman," ucap Paman Surya dengan nada suara yang sangat kebapakan, seolah-olah dialah pelindung utama keluarga ini.
.
Arjuna tidak menoleh. Ia terus berzikir. "Aman niku dudu mergo musuh soko jaba wis kalah, Paman. Nanging aman niku nek mboten wonten pengkhianat neng njeron omah."
.
Gerakan tangan Paman Surya yang sedang memutar tasbih mendadak terhenti. Matanya menyipit. "Maksudmu opo, Le? Opo kowe curiga karo wong neng kene?"
.
Arjuna perlahan berdiri. Ia membalikkan badan dan menatap tajam mata Paman Surya. Ia melepaskan ilmu "Ilang"-nya sedikit demi sedikit, hingga tekanan batin di ruangan itu terasa menyesakkan. Arjuna mengangkat tangan kirinya, memperlihatkan liontin Kujang perak itu tepat di depan wajah pamannya.
.
"Paman kenal barang niki? Liontin sing ilang sepuluh tahun kepungkur pas mobil Romo reme dikethok wong?" tanya Arjuna dingin.
.
Wajah Paman Surya berubah pucat sesaat, namun ia adalah pemain sandiwara yang hebat. Ia tertawa kecil, meski keringat dingin mulai tampak di pelipisnya. "Loh, kok iso neng kowe? Iku kan wis ilang pas kecelakaan. Paling kuwi barang palsu sing digowo wong edan mau sore."
.
"Barang iki mboten saged ngapusi, Paman. Darah mboten nate kleru nggoleki sumbere," balas Arjuna. "Kulo sampun sumerep sinten sing ngethok kabel rem niku. Tangan sing nganggo ali-ali Merah Delima... tangan sing saiki lagi nyekel tasbih niku."
.
Seketika, topeng kesalehan Paman Surya luruh. Wajahnya yang tadinya teduh berubah menjadi bengis dan penuh kebencian. Ia menghentakkan kakinya ke lantai musala, dan secara ajaib, bayangan hitam besar muncul di belakangnya—sebuah khodam berbentuk macan hitam yang haus darah.
.
"Bajingan kowe, Arjuna! Kowe pancen pinter, nanging kowe kleru wis nantang aku neng kene!" geram Paman Surya. "Iyo! Aku sing mateni bapakmu! Mergo bapakmu iku kemaki, dadi Sultan Wijaya nanging pelit karo sedulur dhewé! Aku butuh modal kanggo bisnis, nanging dheweke malah ngekekno kabeh hartane kanggo pondok gembel iki!"
.
Paman Surya menyerang dengan pukulan jarak jauh yang mengandung hawa beracun. Namun, sebelum serangan itu mengenai Arjuna, si Kambing putih mendadak berdiri di depan Arjuna dan mengeluarkan suara embikan yang sangat berat seperti suara singa: "MBEEEEEKKKK!"
.
Gelombang suara dari si kambing mementalkan serangan racun Paman Surya. Musala itu bergetar hebat. Arjuna tidak menyerang balik dengan otot. Ia hanya mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah Paman Surya sambil merapalkan ayat suci.
.
"Paman... ilmu hitam sampeyan mboten wonten gunane neng kene. Iki bumi Al-Hikam!"
.
Seketika, batu Akik Merah Delima di jari Paman Surya pecah berantakan menjadi debu. Paman Surya menjerit kesakitan karena tangannya seolah terbakar oleh api yang tak terlihat. Khodam macan hitam di belakangnya melarikan diri, ketakutan melihat Nur Ilahi yang memancar dari tubuh Arjuna.
.
Paman Surya tersungkur di lantai musala, menangis meraung-raung. Kekuatan yang selama ini ia banggakan hilang musnah dalam sekejap. Di saat yang sama, Bunda Siti Khotijah dan Guntur muncul dari balik pintu, mereka telah mendengar semua pengakuan busuk Paman Surya dari tadi.
.
"Tego kowe, Mas Surya... tega kowe mateni sedulur kandungmu dhewe," ucap Bunda Siti dengan suara gemetar karena hancur hati.
.
Arjuna mendekati pamannya yang sudah tak berdaya. Ia tidak membunuhnya. Ia hanya mengambil sisa-sisa energi hitam di tubuh pamannya agar Paman Surya tidak bisa lagi mencelakai orang lain.
.
"Guntur... gowo Paman menyang polisi. Biarkan hukum dunya sing mutusake urusane. Nanging kanggo aku, Paman wis dudu bagian soko Wijaya maneh," ucap Arjuna dengan nada yang sangat berat.
.
Malam itu, rahasia sepuluh tahun akhirnya terbongkar. Pondok Al-Hikam benar-benar bersih dari duri dalam daging. Namun, Arjuna tahu, meskipun satu masalah selesai, tanggung jawabnya sebagai pewaris tunggal gelar Sultan Wijaya kini benar-benar dimulai. Ia harus memulihkan kejayaan keluarganya tanpa harus kehilangan jiwanya yang sudah menjadi musafir.
.
Suasana musala Pondok Al-Hikam mendadak senyap, hanya terdengar suara isak tangis Paman Surya yang meraung di lantai marmer. Guntur melangkah maju dengan napas memburu, tangannya mengepal kuat hingga gemetar. Amarahnya hampir meledak melihat orang yang selama ini ia anggap sebagai pengganti sosok ayah, ternyata adalah pembunuh ayahnya yang sebenarnya.
.
"Bajingan! Tego-tegone kowe, Paman! Aku meh mateni Mas Juna demi kowe, jebule kowe sing ngrusak kabeh!" teriak Guntur sambil hendak melayangkan pukulan mautnya.
.
"Guntur! Mandeg!" bentak Arjuna dengan suara yang menggetarkan seisi ruangan.
.
Guntur terhenti tepat beberapa senti di depan wajah Paman Surya yang pucat pasi. "Tapi Mas, dheweke wis mateni Romo! Dheweke wis ngethok kabel rem mobilé Romo!"
.
Arjuna melangkah mendekat, ia meletakkan tangannya di bahu Guntur. "Nek kowe mateni dheweke saiki, opo bedane kowe karo pembunuh? Opo kuwi sing diajarke Romo karo kowe? Kita iki penjaga Al-Hikam, dudu algojo."
.
Arjuna kemudian beralih menatap Paman Surya yang kini tampak sangat tua dan rapuh karena ilmu hitamnya telah dicabut paksa. "Paman... bondo dunyo niku mboten saged digowo mati. Paman pengen dadi Sultan Wijaya, nanging Paman lali yen dadi Sultan iku kudu kuat nahan nafsu, dudu nuruti nafsu."
.
Bunda Siti Khotijah mendekat dengan langkah gontai. Air matanya sudah kering, digantikan oleh ketegaran seorang ibu. Ia menatap adik iparnya itu dengan tatapan kosong. "Mas Surya, muliho menyang omahmu dhisik. Polisi wis tak telpon. Kabeh bukti babagan aliran dana soko Mr. Richard menyang rekeningmu wis dicekel dening pengacara kita."
.
Paman Surya mendongak, matanya merah. " Richard? Hahaha... Richard iku mung kacungku, Siti! Aku sing nuntun dheweke supaya nuku tanah iki! Aku pengen nggawe hotel neng kene supaya aku dadi wong paling sugih neng Jawa Timur!"
.
Arjuna menghela napas panjang. Ia mengambil si Kambing putih yang sedari tadi hanya diam menonton. "Paman, mripatmu wis ditutup dening emas. Saiki, pirsani mripat kewan iki."
.
Arjuna mengarahkan wajah si kambing tepat ke depan mata Paman Surya. Seketika, Paman Surya menjerit histeris. Melalui tatapan mata si kambing yang bercahaya putih jernih, Paman Surya dipaksa melihat siksaan batin yang akan ia terima di akhirat nanti. Ia melihat bayangan Romo Wijaya yang tersenyum sedih menatapnya dari alam kubur.
.
"Ampun! Ampun, Juna! Aku salah! Aku khilaf!" rintih Paman Surya sambil bersujud di kaki Arjuna.
.
Tak lama kemudian, sirine polisi terdengar memasuki pelataran pondok. Dua petugas masuk dan memborgol tangan Paman Surya. Kali ini tidak ada perlawanan gaib, karena "pagar" yang melindungi Paman Surya sudah dihancurkan oleh cahaya makrifat Arjuna.
.
Saat Paman Surya digiring masuk ke mobil polisi, ia sempat menoleh ke arah Arjuna. "Juna... sepurane aku, Le."
.
Arjuna hanya mengangguk pelan. "Kulo sampun nyepuro, Paman. Nanging hukum dunya tetep mlaku."
.
Setelah mobil polisi pergi, suasana pondok kembali hening. Arjuna, Guntur, dan Bunda Siti berdiri di depan teras ndalem. Malam itu, beban sepuluh tahun seolah terangkat dari pundak keluarga Wijaya.
.
"Mas Juna..." Guntur berbisik pelan. "Saiki kito kudu piye? Mr. Richard wis ambruk, Paman Surya wis dipenjara. Opo Mas Juna bakal ninggalake pondok maneh kanggo dadi musafir?"
.
Arjuna menatap langit Sidoarjo yang kini bertabur bintang. Ia meraba kaki telanjangnya yang masih kotor oleh debu perjalanan. "Musafir iku dudu soal mlaku adoh, Guntur. Nanging soal atine sing mboten nate mandeg nuju marang Gusti. Aku bakal tetep neng kene, njogo Al-Hikam bareng kowe."
.
Si kambing mengembik satu kali, seolah setuju dengan ucapan tuannya. Arjuna tahu, perjuangan berikutnya adalah membangun kembali pondok yang sempat retak, bukan dengan uang miliaran, tapi dengan ketulusan hati sebagai seorang Sultan yang sudah "Ilang" egonya.