Putus cinta membuat seorang gadis bernama Emeery menerima perjodohannya dengan seorang duda beranak dua. Namun, sikapnya yang tengil membuat sang duda pusing tujuh keliling, akankah Emeery mampu menaklukkan dinding es suaminya, yang bahkan belum move on dari sang mantan?
Kalau ada, sembilan duda ~
Mau duitnya saja, semuanya ~
Ini dada, isinya duit semua ~
Penasaran dengan kisah mereka? Ikuti ceritanya di sini🤗
Jangan lupa follow
Ig @nitamelia05
fb @Nita Amelia
TT @twins✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Wangi Nggak?
Senyum yang mengembang sempurna itu perlahan surut. Bibirnya bergetar miris, karena ternyata yang datang bukanlah orang yang Mona harapkan. Padahal dia sudah bahagia setengah mati, namun hatinya justru kecewa lagi.
"Kenapa malah kamu yang datang?" tanya Mona sambil memelototi orang yang ada di depannya. "Yang tahu password apartemenku cuma Kak Gerry, kenapa malah kamu yang ke sini hah?!" lanjutnya membentak.
Anjas menghela napas, dia membuang muka sesaat lalu memberanikan diri untuk menatap Mona lagi. Dia tahu wanita itu akan marah, tapi mau bagaimana lagi? Dia tak bisa membujuk kakak sepupunya untuk datang.
Masih terngiang jelas di telinganya kalimat Gerry tadi pagi. "Sebagai sesama manusia bukannya aku nggak peduli. Tapi sejak nikah sama Emeery, aku nggak akan nemuin wanita lain di belakang dia. Apalagi Mona adalah mantanku. Jadi lebih baik kamu aja yang urus, kalian lumayan deket kan? Jangan bilang nggak, buktinya Mona kirim pesan ke kamu, Njas, bukan ke yang lain."
Setelah berkata seperti itu Gerry langsung melanjutkan langkah untuk masuk ke dalam mobil. Dia juga sempat menepuk pelan bahu Anjas sambil berkata. "Nanti password apartemennya aku kirim."
Hanya itu yang Anjas dapat tadi pagi, karena bahkan Gerry tak memberinya kesempatan untuk merengek dan membujuk. Gerry sudah menolak mentah-mentah.
"Aku udah berusaha, Kak, tapi Kak Gerry kayaknya lagi banyak kerjaan," jawab Anjas dengan alasan yang diperhalus. Namun, hal itu tak lantas membuat Mona senang. Tangis Mona pecah, tangannya mendorong kedua bahu Anjas sekuat tenaga hingga Anjas terhuyung.
"Sesibuk apapun dia, dia akan sempetin waktu buat aku pas aku sakit, Anjas! Lagian kamu juga udah aku bayar, harusnya kamu bisa bawa dia ke hadapan aku!" pekik Mona sambil berulang kali memukuli dada Anjas yang dia anggap tidak berguna.
Anjas berusaha menenangkan, dia memegang kedua lengan Mona sehingga wanita itu berhenti memukulinya. Mona menengadah.
"Dia cuma sibuk, Kak, bukan berarti dia nggak perhatian. Dia nitipin obat ini dan kasih password apartemen Kakak ke aku, kayaknya Kak Gerry mau aku jadi jembatan hubungan kalian berdua," ujar Anjas malah berbohong supaya Mona tidak marah padanya. Ditambah dia mendapat uang dari wanita itu, maka dia tidak akan menyia-nyiakannya begitu saja.
Mendengar itu, tangis Mona perlahan mereda. Matanya kembali berbinar menatap paper bag berisi obat di tangan Anjas.
"Bener, Njas, Kak Gerry nitip ini buat aku? Terus, terus dia bilang apa?" tanya Mona penuh harap.
"Dia cuma pesen ke aku buat mastiin Kakak minum obatnya, supaya Kakak cepet sembuh. Ngerti kan sekarang? Kak Gerry sebenernya masih sayang ke Kakak, cuma keadaannya nggak memungkinkan buat dia dateng langsung ke sini. Sabar ya," jawab Anjas mulai mengarang situasi. Dia sama sekali tak berpikir apa resiko yang akan dia dapatkan andai Gerry tahu hal ini.
Sontak Mona pun langsung mengelap kedua pipinya dan kembali tersenyum. Dengan cepat dia meraih obat yang katanya dari Gerry.
"Aku mau makan dan minum obat, supaya Kak Gerry seneng. Tolong sampein salam dan makasih aku sama dia ya," kata Mona, suaranya langsung melunak. Dan Anjas hanya bisa mengangguk, entah kebohongan ini akan sebesar apa nantinya.
*
*
*
Tubuh Emeery terasa jauh lebih segar setelah dia mandi sore. Saat keluar dari kamar mandi, berbarengan dengan ponselnya yang berdering di atas nakas. Emeery cepat-cepat meraihnya untuk mengangkat telepon dari sang ibu.
"Halo, Mom," sapa Emeery sambil mengusap-usap kepala menggunakan handuk kecil.
"Sayang, gimana kabar kamu? Sehat 'kan?" tanya Brigitta, memastikan bahwa kehidupan putrinya tidak jauh berbeda saat sebelum menikah, bahkan dia berharap jauh lebih bahagia.
"Sehat dong, Mom, kalo aku sakit aku pasti bilang. Kenapa emangnya? Daddy nggak doain aku aneh-aneh kan?" jawab Emeery sambil bergurau.
"Ya ampun padahal belum saling ngobrol, tapi ada aja bahan yang bikin Daddy kamu naik darah ...."
Emeery terkikik mendengar itu, bersamaan dengan pintu kamar yang terbuka, Gerry baru pulang dari perusahaan dan matanya langsung bersitatap dengan sang istri. Namun, Gerry langsung berpaling lagi, sedangkan Emeery melanjutkan obrolannya dengan Brigitta.
"Weekend keluarga kecil kalian ada acara nggak, Mer? Rencananya Mommy mau ngundang kamu ke rumah, sekalian nginep," ujar Brigitta menyampaikan maksud tujuan.
"Emang ada acara apa, Mom?"
"Ya merayakan pernikahan kalianlah, kan kalian belum nginep di sini. Sekalian bawa anak-anak."
"Oh ya udah, nanti aku bilang Kak Gerry dulu ya, Mom," pungkas Emeery tak langsung mengiyakan, meski sebenarnya dia juga sudah rindu rumah.
Brigitta berkata oke, dan tak lama dari itu panggilan terputus. Emeery langsung menyimpan ponselnya kembali dan mendekati suaminya yang sedang bersiap untuk mandi.
"Siapa?" tanya Gerry tanpa menatap wajah Emeery, tapi Emeery malah menghalangi tubuh Gerry dengan berdiri di depannya.
"Mommy, katanya dia pengen kita nginep."
"Ngin—"
"Aku udah mandi lho," potong Emeery cepat sebelum Gerry menanggapi ucapannya. Dia berubah agresif seperti ini karena pembicaraannya dengan ketiga sahabatnya. Emeery ingin mengetes kenormalan dirinya dan juga sang suami.
Gerry sedikit mundur sambil mengerutkan kening.
"Ya aku juga tahu kamu udah mandi," jawabnya merasa aneh.
"Wangi nggak?" tanya Emeery sambil mengibaskan rambut panjangnya hingga leher jenjangnya terlihat.
"Wangi," jawab Gerry, lagi-lagi singkat dan berusaha menghindar. Namun, Emeery terus mengikuti arah geraknya.
"Kamu belum cium kok udah bilang wangi. Cium dulu," cetus Emeery yang membuat Gerry membulatkan matanya.
'Kesambet di mana nih bocah, tiba-tiba minta cium?'
"Ci—cium apa?" tanya Gerry tergagap sambil mundur-mundur seperti ingin kabur. Dengan reflek Emeery menarik dasi Gerry yang masih melingkar, tak disangka kekuatannya cukup besar hingga membuat mereka terjerembab di atas kasur dengan Gerry yang berada di atas tubuh Emeery.
Glek!
Gerry menelan ludahnya dengan kasar, saat merasa menindih sesuatu yang sedikit kenyal. Sedangkan jantung Emeery mulai berdebar kencang.
"Gi-gi-gimana? Wangi nggak?" tanya Emeery terbata-bata.