Ada cinta yang tumbuh… bukan untuk dimiliki sepenuhnya, tapi untuk bertahan di hati yang sudah retak.
~ Zahra ~
Zahra menikahi Adnan, seorang duda yang kehilangan istrinya karena maut lebih dulu memanggil. Ia tahu, sejak awal, bahwa ia bukan cinta pertama. Ia hanya perempuan yang datang setelah sebuah kisah agung berakhir. Namun Zahra tetap memilih bertahan, menanam kasih di tanah hati yang sebagian masih ditumbuhi bayang-bayang masa lalu.
Setiap sudut rumah menyimpan kenangan yang bukan tentang dirinya dan Adnan.
Lalu sampai kapan sebuah hati sanggup bersabar?
Sampai kapan cinta bisa hidup tanpa benar-benar dimiliki?
Di antara kesetiaan, keikhlasan, dan luka yang tak pernah benar-benar sembuh… Zahra harus memilih: tetap berusaha mencintai, atau pergi menyelamatkan dirinya sendiri.
Sebab terkadang…
yang paling menyakitkan bukan tidak dicintai,
melainkan dicintai setengah hati oleh seseorang yang masih hidup di masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon picisan imut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
situasi yang masih tidak nyaman
Kata siapa kita bisa memilih kehidupan seperti apa setelah menikah? kata siapa kita bisa melihat sisi asli pasangan halal kita setelah tinggal dalam satu atap. Sehingga kita bisa menghindar dari laki-laki buruk sikap.
Nyatanya, inilah ujian pernikahan. Jangankan yang tak saling mengenal. Yang telah lama saling mengenal lewat jalur pacaran selama bertahun-tahun pun tidak akan menyangka. Jika pasangannya serumit itu sikapnya. Bahkan, ada pula yang ringan tangan. Membuat pasangannya sampai babak belur tanpa rasa iba.
Ya, inilah pernikahan dengan ragam bentuk yang tak bisa di lihat seperti apa di dalamnya. Entah bisa jadi surga yang kita dapatkan. Sehingga kita merasa nyaman menjalaninya. Atau mungkin sebaliknya? Yang jelas, kita seperti memilih hadiah yang tertutup tirai. Yang mana setelah di terima, kita tidak akan bisa menolaknya ketika yang di dapatkan jauh dari yang di harapkan.
🍂
🍂
🍂
Suara ketukan di luar kamar terdengar. Zahra dengan tubuh sedikit lemah akibat muntah beberpa kali membuatnya enggan untuk bangun. Bahkan menjawab pun tak bisa kencang. Hingga pintu kamar terbuka sendiri. Mama mertua masuk dengan penampilannya yang rapi.
"Zahra—" panggil Beliau.
Zahra membuka mata, ia mengangkat kedua matanya melirik ke arah pintu.
"M-Mamah?" perempuan dengan rambut panjangnya beranjak duduk. Zahra mencium tangan ibu mertuanya dengan takzim. "Maaf, Ma. Zahra nggak tau Mamah datang."
Bu Laksmi tersenyum hangat. "Nggak papa. Mamah tahu kamu lagi nggak enak badan tadi dari Bu Rini."
Zahra mengangguk. Tubuhnya menyandar kepala ranjang. Tenaganya benar-benar terkuras habis saat ini.
"Kamu udah berobat? Adnan pasti sibuk banget ya sampai nggak bisa temenin kamu ke rumah sakit? Apa mau Mamah temenin?"
"Nggak usah, Mah. Sebenarnya, Zahra itu nggak sakit kok," jawab Zahra lirih.
"Nggak sakit gimana? Ini aja kamu keliatan pucat banget. Yuk, Mamah antar."
Zahra menyentuh tangan ibu mertuanya. Kemudian beralih membuka laci nakas di sebelah ranjangnya. Ia mengambil sesuatu yang kemudian di serahkan ke ibu mertuanya dengan sopan.
Bu Laksmi menatap benda itu dengan tatapan kaku. Ia bahkan mematung sambil menafsirkan sendiri maksudnya.
"Aku nggak sakit, Ma. Hanya sedang ngidam. Aku hamil anak Kak Adnan. Cucu Mamah," ujar Zahra menjelaskan.
Kedua mata Bu Laksmi langsung berkaca-kaca. pandangannya menggeser kearah Zahra. Kemudian kembali pada tespack yang di pegang, lantas kembali lagi kepada Zahra yang kini terkekeh melihat reaksi ibu mertuanya.
"Allahuakbar... Allah... Ya Allah..." Kedua tangan yang sudah tak lagi muda melebar. Ia meminta Zahra untuk masuk kedalam pelukannya. Tak ada kata selain tangis yang pecah. Kemudian bergumam ucapan terima kasih tanpa henti.
Beberapa saat kemudian...
"Ayo di habiskan," pinta wanita itu sambil menyodorkan potongan buah alpukat.
"Udah, Mah. Zahra kenyang." Wanita itu menolak halus karena jujur saja ia sudah eneg untuk terua melanjutkan makan alpukat dengan madu.
"Zahra, kalau kamu nggak kuat. Mending kamu keluar dari pekerjaan mu deh. Mamah nggak tega liat kamu sampai lemas begini. Ya..."
Zahra hanya mengangguk saja. Meskipun ia sebenarnya berat meninggalkan pekerjaannya. Apalagi dengan hubungan pernikahan seperti ini. Tapi, sebagai orang tua pasti beliau sama seperti orang tua pada umumnya. Yang tak suka di bantah.
"Mama akan bicara pada Adnan agar lebih memperhatikanmu lagi. Heran— istri lagi ngidam parah begini kok di tinggal-tinggal terus. segitunya banget ngejar dunia," cibir beliau yang hanya di tanggapi dengan senyum tipis Zahra.
...🍃...
Beberapa hari berlalu, Zahra pikir suaminya akan mendatanginya ke kamar. Tapi semua tetap masih sama. Bahkan pesan chatting pun hingga saat ini tak ada satupun yang di buka. Zahra bingung, sebenarnya pernikahan macam apa ini? Kenapa begitu menyiksa.
Zahra melihat mobil suaminya masih terparkir. Mungkin tadi malam suaminya pulang. Tapi dia tidak keluar. Udara rasanya semakin pengap saja. Tapi harus di tahan demi nyawa kecil yang belum sempurna bentuknya.
...
Di kantor, untung teman-teman lumayan care pada Zahra. Sebagian besar sudah tahu kabar kehamilan Zahra karena dia selalu izin tidak enak badan. Dan tak jarang muntah-muntah di sana. Membuat beberapa teman-teman lebih banyak membantu Zahra meskipun wanita itu kadang menolak.
Seperti saat ini, ia berada di dalam kamar mandi dan duduk dengan lemas di atas kloset duduk. Benar apa yang di katakan Mama mertua. Zahra tidak bisa jika terus bekerja dalam kondisi seperti ini. Ia bahkan tidak bisa terkena AC terlalu lama. Dan juga menghirup aroma dari pewangi ruangan. Sehingga ia lebih banyak menghirup minyak kayu putih dari botolnya langsung.
Dering ponsel membuat Zahra bergegas mengeluarkan gawai dari dalam saku bajunya. Umi memanggil. Zahra menerima panggilan Umi dengan cepat.
"Assalamualaikum?" sapa Zahra.
"Wa'alaikumsalam, Teh? Punten, sibuk, nggak?"
"Nggak begitu, Mi. Teteh lagi di toilet."
"Oh, gitu. Teteh nanti pulang jam berapa? Niatnya Abah sama Umi mau ke rumah Teteh sama Adnan."
"Bilang, Mi... Abah beli duren bawor gede-gede. Mantap!" suara Abah yang ikut nimbrung masih terdengar oleh Zahra. Sehingga membuat perempuan itu terkekeh.
"Tuh, denger, nggak? Abah abis beli duren. Keinget Teteh yang suka banget duren. Makanya minta ke sana nanti."
"Boleh, Umi. Dateng aja ke rumah... atau kalau enggak Zahra aja deh yang ke sana, ya. Lagian besok kan sabtu. Zahra pengen tidur di rumah Abah sama Umi," tuturnya dengan rasa sedih yang kembali merayap di hatinya.
"Loh, emang nggak papa kalau Zahra nginep di sini? Atau mau sama Adnan juga? Ya udah, Umi beresin kamar Teteh, ya. Biar Hanifah ngungsi dulu di kamar yang lain."
"Nggak usah repot-repot, Mi. Kak Adnan lagi ke luar kota. Zahra kesepian, makanya mau pulang dulu kerumah. Sekalian, mau ada yang Zahra sampaikan."
"Wah, apa tuh..." goda Umi.
"Ada deh pokoknya. Ya udah, sampai ketemu nanti ya, Umi. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam warohmatullah..."
Panggilan terputus. Zahra mengusap matanya yang basah. Ia rasa hatinya agak sedikit tenang jika dia pulang ke rumahnya dulu. Kendati demikian, Zahra tetap berusaha izin meskipun percuma saja. Tak akan dk jawab ataupun di balas.
semoga saja otor memberi kamu kesengsaraan dan penyesalan yang lebih dari kamu kehilangan istri pertamamu.