NovelToon NovelToon
Aku Bukan Pelacur

Aku Bukan Pelacur

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: mommy Almira

Intan harus berjuang membuktikan pada keluarga sang suami bahwa dia bukanlah pelacur walaupun dia terlahir dari rahim seorang pelacur. Namun akibat pengkhianatan sang suami yang menikah lagi tanpa sepengetahuan darinya dan tidak diperlakukan dengan adil oleh suaminya, akhirnya Intan terjerumus dalam sebuah dosa dengan kakak iparnya . Dan hal itu lah yang menjadi penyebab hancurnya rumah tangganya bersama dengan Aldy. Dan intan harus rela dibenci oleh anak kandungnya sendir hingga bertahun- tahun lamanya akibat sang anak dipengaruhi oleh keuarga Aldy jika sang ibu bukan orang baik. Apakah Intan bisa kuat menjalani kehidupannya yang dipenuhi dengan kebencian dari keluarga Aldy dan juga anak kandungnya...? Yuk baca cerita selengkapnya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20. Pertengkaran Intan dan umi Fatimah

Sore hari Intan sedang sibuk di dapur menyiapkan makan malam. Tadi siang Aldy menelponnya kalau sore ini dia pulang ke rumah. Jadi Intan pun menyiapkan makanan kesukaan sang suami. Apalagi Aldy sudah dua bulan ini tidak pulang.

Tiba- tiba terdengar seseorang mengucap salam. Intan pun segera meninggalkan dapur dan bergegas membuka pintu rumahnya untuk melihat siapa yang datang.

"Umi..." ucap Intan begitu membuka pintu ada ibu mertua yang berdiri di teras rumahnya.

Intan mencium punggung tangan umi Fatimah.

"Umi sendirian aja...?'' tanya Intan.

Umi Fatimah lalu memberitahu Intan kalau dia baru saja kondangan di kampung sebelah. Sebenarnya tadi umi Fatimah diantar oleh Dirga. Namun dia harus buru- buru kembali ke bengkel karena ada langganan yang ingin memperbaiki mobil dan ingin bertemu langsung dengannya.

Dan nanti Dirga janji akan menjemput umi Fatimah di rumah Intan.

"Aldy belum pulang...?'' tanya umi Fatimah.

"Belum Mi, mungkin sebentar lagi..." jawab Intan.

"Jadi umi tahu kalau hari ini mas Aldy pulang...?'' tanya Intan.

"Ya tahu lah... Aldy kan selalu memberitahu umi ..." jawab umi Fatimah.

"Masuk Mi..." ucap Intan.

Intan dan umi Fatimah pun masuk ke ruang tengah.

"Kamu lagi ngapain Intan...?'' tanya umi Fatimah.

"Lagi masak Mi, tapi udah mau selesai kok..." jawab Intan.

"Ya sudah, kamu lanjutkan saja masaknya, umi tunggu di sini..." ucap umi Fatimah duduk di sofa lalu menyalakan televisi.

"Mi... umi mau minum apa...?'' tanya Intan dengan sopan.

Iya, walaupun umi Fatimah kerap bersikap tidak baik padanya, tapi Intan sebisa mungkin tetap sopan dengan ibu mertuanya. Biar bagaimana pun umi adalah ibu dari Aldy suaminya. Jadi Intan harus tetap sopan padanya.

"Teh manis, gulanya jangan banyak- banyak..." jawab umi Fatimah.

Intan lalu membuatkan minuman untuk ibu mertuanya.

"Arkan di mana Intan...?'' tanya umi dari ruang tengah.

"Arkan main sama temannya mi..." jawab Intan sambil meletakkan secangkir teh manis di meja.

"Sudah sore begini masih main..." sahut umi Fatimah sambil melirik jam dinding.

"Paling sebentar lagi juga pulang kok mi..." jawab Intan.

Dan benar saja, lima menit kemudian Arkan pulang.

"Assalamualaikum..." ucap Arkan.

"Waalaikumsalam..." jawab umi Fatimah dan Intan.

"Eh cucu nenek sudah pulang main..." ucap umi Fatimah.

Arkan pun mencium tangan sang nenek. Intan lalu kembali ke dapur untuk mencuci alat - alat bekas memasak. Sedangkan Arkan duduk bersama neneknya sambil menonton televisi.

"Arkan...nggak lama lagi Arkan lulus sekolah kan...? Arkan mau lanjut sekolah di mana...?'' tanya umi Fatimah.

"Belum tahu nek..." jawab Arkan.

"Gimana kalau kamu lanjut di pesantren saja. Seperti papa kamu dulu..." ujar umi Fatimah.

"Memangnya kalau tinggal di pesantren itu enak ya nek...?'' tanya Arkan.

Umi Fatimah lalu menceritakan pada Arkan jika tinggal di pesantren itu menyenangkan. Di sana banyak teman , dan setiap aktifitas dilakukan bersama- sama. Seperti makan bersama, ngaji, hafalan surat dan lain- lain.

"Wah begitu ya nek...pasti menyenangkan..." sahut Arkan setelah diceritakan bagaimana kehidupan di pesantren.

"Selain banyak temannya, Arkan juga nanti jadi anak soleh dan juga hafal qur'an. Semua orang tua pasti akan bangga kalau anaknya jadi penghafal al qur'an. Dan dijamin akan masuk surga dan menjadi penyelamat bagi kedua orang tua di akhirat kelak..." ucap umi Fatimah.

"Arkan juga mau nek masuk pesantren, seperti teman Arkan juga ada yang mau belajar di pesantren..." sahut Arkan begitu bersemangat.

"Ya baguslah... Nanti Arkan minta sama papa untuk didaftarkan di pesantren milik teman kakek dan nenek, di Bandung..." jawab umi Fatimah.

Umi Fatimah lalu kembali menceritakan pada Arkan jika pesantren milik temannya itu pesantren modern. Tempatnya bagus, dan sistem pendidikannya juga modern. Dan fasilitas di sana juga lengkap.

"Arkan mau nek mau..." ucap Arkan yang terlihat tertarik sekali dengan kehidupan di pesantren yang umi Fatimah ceritakan.

Umi Fatimah pun tersenyum senang karena Arkan mau masuk pesantren. Karena dari kelima cucunya yaitu kedua anak Wulan , dan juga kedua anak Dirga tidak ada yang mau masuk pesantren. Belum ada yang meneruskan Aldy belajar di pesantren. Karena bagi umi Fatimah suatu kebanggan jika anak ataupun cucunya mau menimba ilmu di pesantren.

"Tapi nek... Arkan tidak tahu apakah mama menginjinkan Arkan masuk pesantren atau tidak..." ucap Arkan.

Iya, karena dulu Arkan pernah minta pada sang mama kalau dia ingin masuk pesantren setelah lulus sekolah dasar. Tapi saat itu Intan tidak mengijinkan karena Intan tidak mau ditinggal oleh Arkan. Sekarang saja dia kesepian karena Aldy hanya pulang sebulan sekali bahkan kadang dua bulan sekali.

Dan jika Arkan masuk pesantren, maka Intan bakalan lebih kesepian lagi karena selain jauh dari suami, dia juga harus jauh dari anak.

"Ya harus mengijinkan dong. Masa anaknya mau menimba ilmu di pesantren supaya jadi anak soleh malah tidak diijinkan..." sahut umi Fatimah.

Arkan pun hanya diam tidak menyahuti perkataan neneknya.

"Intan..." panggil umi Fatimah.

"Iya umi..." Intan yang sedang mencuci piring di dapur pun segera menghampiri ibu mertuanya.

"Intan, memangnya kamu tidak mengijinkan Arkan masuk pesantren setelah dia lulus sekolah nanti...?'' tanya umi Fatimah.

Intan terdiam beberapa saat.

"Kenapa kamu tidak mengijinkan...? Harusnya kamu tuh bangga, punya anak ada keinginan menimba ilmu dipesantren. Bukannya bangga malah dilarang..." ucap umi langsung menceramahi Intan.

"Begini nih kalau orang nggak tahu agama. Orang yang nggak pernah dididik ilmu agama sama orang tuanya, hasilnya ya seperti kamu... Nggak paham aturan agama..." sambung umi Fatimah.

"Asal kamu tahu ya Intan... Di luar sana bahkan banyak orang tua yang memaksa anak mereka supaya mau belajar di pesantren. Mereka membujuk dan rela berjauhan dengan anak demi masa depan anaknya. Demi ingin anaknya menjadi anak sholeh..."

"Tapi kamu yang anaknya ingin belajar di pesantren karena kemauan sendiri, malah dilarang. Orang tua macam apa kamu Intan..." lanjut umi Fatimah.

Intan menghela nafas. Iya, tentu saja Intan tersinggung dengan ucapan ibu mertuanya itu. Iya, Intan sadar ilmu agamanya mungkin belum ada seujung kuku. Tapi sebagai orang tua, Intan selalu mendoakan anaknya menjadi anak yang soleh. Tapi untuk berpisah dari Arkan dengan alasan masuk pesantren, Intan masih berat untuk melepasnya.

Bukan karena Intan tidak mau Arkan jadi anak yang membanggakan, tapi Intan tidak siap hidup sendirian jauh dari suami dan anak.

"Umi... Belajar agama kan tidak harus di pesantren. Di sekolah juga bisa. Lagi pula selama ini Arkan juga sekolah di sekolah islam. Dan rencananya Intan dan mas Aldy mau memasukkan Arkan ke SMP islam juga..." sahut Intan.

"Tapi anakmu itu maunya masuk pesantren, Intan... Harusnya kamu turuti dia..." sahut umi Fatimah tetap kekeh bahwa Arkan harus masuk pesantren.

"Harusnya kamu bersyukur punya anak mau belajar di pesantren. Supaya nanti besarnya jadi manusia yang ngerti agama, nggak seperti kamu...!" ucap umi Fatimah sambil menunjuk wajah Intan.

"Lagi pula nanti di akhirat, Arkan yang bakalan menyelamatkan kamu dari siksa api neraka, Intan. Apa kamu lupa dengan perbuatan kamu di dunia...? Kamu itu banyak dosanya... Kalau bukan Arkan yang menyelamatkan kamu, siapa lagi...?'' sambung umi Fatimah yang terus- terusan memojokkan Intan.

Tentu saja Intan tidak bisa terima dengan apa yang dikatakan oleh ibu mertuanya. Apalagi umi Fatimah mengatakan banyak hal tentang dirinya di depan Arkan.

Sedangkan Arkan hanya bisa diam karena takut pada neneknya yang terus mengomel pada Intan.

"Arkan... Kamu masuk kamar ya..." Intan menuntun Arkan agar masuk ke kamar supaya dia tidak terus mendengar ocehan umi Fatimah. Setelah Arkan masuk kamar, Intan lalu menutup pintu dan dia kembali menghampiri sang ibu mertua.

"Mi...! Bisa nggak sih umi nggak usah menjelek- jelakan Intan di depan Arkan. Selama ini Intan selalu diam ketika umi menghina Intan. Tapi semakin ke sini, umi tidak ada henti- hentinya mengatakan hal buruk tentang Intan. Umi makin menjadi- jadi memfitnah Intan...!" seru Intan yang sudah tidak bisa sabar lagi menghadapi umi Fatimah.

"Apa...? umi memfitnah kamu...? Omongan yang mana yang memfitnah kamu...? Umi itu bicara fakta... Umi tidak pernah memfitnah...!'' umi Fatimah tidak terima karena nada bicara Intan cukup tinggi.

Intan tersenyum sinis mendengar ucapan umi Fatimah yang tidak merasa memfitnah. Padahal menurut Intan, semua yang pernah dikatakan oleh ibu mertuanya adalah fitnah belaka.

"Jadi umi nggak pernah merasa memfitnah Intan...? Lalu tadi apa...? Tadi umi bilang aku selalu melakukan perbuatan dosa. Dosa apa...! Dan umi juga sering sekali menyebutku sebagai pelacur... Apa itu bukan fitnah namanya...!" seru Intan yang sudah tidak perduli dengan siapa dia bicara.

Iya, rasanya kesabaran Intan sudah habis untuk memghadapi ibu mertuanya.

"Ya jelas bukan fitnah... Memang kenyataannya kamu pelacur kok...!'' seru umi Fatimah tidak mau kalah dengan sang menantu.

"Intan harus berapa kali ngomong sama umi kalau Intan itu bukan pelacur...! Intan bukan pelacur Mi...! Apa umi tidak dengar itu...!'' seru Intan dengan dada naik turun karena saking emosinya.

"Intan...! Berani kamu membentak umi...!'' seru umi Fatimah sambil menampar pipi Intan karena menurutnya Intan sudah berani bersikap lancang padanya.

"Plaakkk...!"

"Keterlaluan kamu Intan, jadi begitu cara kamu bicara sama mertua kamu..? Dasar tidak punya sopan santun...." umi Fatimah menurunkan nada bicaranya.

"Umi yang keterlaluan...! Selama ini Intan selalu sabar dan menahan diri setiap kali umi memfitnah Intan, tapi sekarang Intan sudah tidak bisa sabar lagi umi. Sudah cukup umi memfitnah Intan terus...!'' ucap Intan kembali dengan meninggikan suara.

"Umi dengan sesuka hati memfitnah Intan terus terusan...! Padahal umi nggak tahu apa- apa tentang Intan...!''

Umi Fatimah terkekeh mendengar ucapan Intan.

"Siapa bilang umi nggak tahu tentang kamu...! umi tahu semuanya.. Umi tahu siapa kamu dan keluarga kamu Intan...! Kamu dan ibumu itu sama- sama pelacur menjijikan...! Umi juga tahu kalau kamu anak hasil selingkuhan...! Ibumu selingkuh kan waktu bapa kamu kerja di kalimantan...! Umi tahu semuanya...!"

Intan tentu saja kaget dan tidak menyangka jika ibu mertuanya itu tahu asal usul Intan yang merupakan anak hasil selingkuhan.

"Kenapa kamu diam saja Intan...? kamu tidak bisa menyangkalnya kan...? Atau kamu mau bilang kalau umi memfitnahmu lagi...? Hah...?'' umi Fatimah merasa menang karena Intan sudah tidak bisa lagi berkutik.

"Dengar ya Intan, sampai kapanpun umi tidak pernah suka punya menantu yang asal usulnya memalukan seperti kamu. Umi tidak sudi punya menantu anak haram... Dan umi juga jijik punya menantu dan besan pelacur seperti kamu dan ibumu... Itu sangat menjijikan dan aib buat keluarga umi..."

"Umi terpaksa menerima kamu jadi menantu karena Aldy. Aldy bodoh gara- gara kamu..." sambung umi Fatimah.

Mendengar perkataan Umi Fatimah yang makin membuat kuping panas, Intan semakin dibuat emosi.

"Kalau umi tidak suka sama Intan dan terpaksa menerima Intan jadi menantu , lalu kenapa umi datang ke sini terus...! Kenapa umi selalu ikut campur dengan urusan Intan...! Kenapa Umi selalu mengatur hidup Intan, dan sekarang Umi juga mengatur sekolah anak Intan...!'' seru Intan kesal.

"Arkan itu anak Intan, umi... Jadi umi nggak berhak ikut campur soal sekolah Arkan, dia mau sekolah di mana pun, itu terserah Intan...!" sambung Intan yang masih tersulut emosi.

"Dan kalau umi tidak suka melihat Intan dan jijik dengan Intan, seharusnya umi tidak datang rumah ini terus...!" lanjut Intan.

"Intan...!'' tiba- tiba suara seseorang terdengar dari pintu yang menghubungkan antara ruang tamu dengan ruang tengah.

Intan Dan umi Fatimah serentak menoleh ke arah sumber suara di mana di sana ada Aldy yang baru saja datang. Wajah Aldy memerah mendengar Intan bicara kepada umi dengan nada tinggi. Apa lagi Intan bersikap kurang ajar melarang umi Fatimah datang ke rumahnya.

"Aldy...hik..hik..." umi Fatimah menangis sambil memegangi dada.

"Mas Aldy..." Intan terkejut melihat Aldy sudah ada di ruang tengah.

"Jadi bergitu cara bicara kamu sama umi...!'' Aldy nampak marah sambil mencengkeram kedua lengan Intan.

"Ma...mas.... A..aku...

"Aku apa....! Bisa- bisanya kamu bicara tidak sopan dan kasar sama umi...! Kamu pikir kamu siapa hah...!" Aldy yang emosi menatap sengit wajah Intan dan terus mencengkeram kedua lengan Intan.

"Mas...aku...aku bisa jelasin mas... Aku bersikap seperti ini karena umi..."

"Diam kamu Intan...!!! Aku benar- benar tidak terima dengan apa yang kamu lakukan pada umi...! Aku saja sebagai anaknya tidak pernah meninggikan suaraku di depan umi...! Sementara kamu berani berkata kasar sama umi...!'' Aldy mendorong tubuh Intan hingga jatuh tersungkur ke lantai.

"Auw..." Intan meringis merasakan sakit di area bokong.

Sedangkan umi Fatimah terlihat menangis.

"Umi... umi nggak papa...?'' Aldy segera menghampiri umi Fatimah.

"Aldy...hik..hik...umi mau pulang...hik..hik..." umi Fatimah terus menangis.

"Ayo....ayo biar Aldy antar... " Aldy menuntun umi Fatimah keluar dari ruang tengah menuju ruang tamu.

Sedangkan Intan yang masih duduk dilantai juga menangis seorang diri. Iya, Intan benar- benar merasa apes. Padahal sejak tadi dia dihina oleh umi Fatimah. Namun ketika dia membalas rasa sakit hati atas penghinaan dari sang ibu mertua, di saat bersamaan Aldy pulang dan langsung menyalahkannya.

Bersambung....

1
Asmara
Wah curiga siapa yg umroh ya ?
Salsa
Playing victim banget si Fatimah 😄😄
Asmara
Keren ceritanya
Asmara
Umi sendiri yg duluan menghina Intan giliran dibalas sama Intan dia mewek merasa terzolimi ih najis bgt mertua model begitu 😡
Asmara
Pasti si Aldy punya istri lain
Asmara
Hadeh apes amat kamu Intan
Asmara
Suami nyebelin si Aldy😡
Asmara
Sungguh terlalu mertua sama iparmu Intan 😡
Salsa
Ceritanya menarik 🥰🥰🥰
Salsa
Ngeselin ya si Aldy
Salsa
Apes amat nasibmu Intan ,pynsuami nggak tegas, ibu mertua menyebalkan, adik ipar ngeselin , ibu kandung nya jg edan , lengkap SDH penderitaan kamu
Salsa
Aldy sebenarnya cinta SMA intan cuma gengsi saja dia
Salsa
Suka nya ngalahin org lain tuh si Umi.. pdhl anak sndiri jg salah
Salsa
Umi Fatimah itu ciri" orng munafik
Asmara
Akhirnya menikah jg
Asmara
Duhh intan intan kasihan amat hidupmu
Asmara
Ibunya nggak ngotak
Asmara
Hadir Thor ,.
Mommy Almira: Mksih dah mampir 😊
total 1 replies
Salsa
Lanjut Thor, ceritanya menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!