Shasha hanyalah gadis desa biasa yang sedang berjuang menyelesaikan kuliahnya lewat beasiswa. Namun, hidupnya hancur dalam semalam ketika ia diculik oleh Jake Giordino, seorang pemimpin organisasi hitam yang paling ditakuti.
Shasha tidak melakukan kesalahan apa pun. Dosanya hanyalah satu, yaitu karena ia dicintai oleh pria yang diinginkan Lana, adik perempuan Jake.
Demi memuaskan obsesi sang adik, Jake mengurung Shasha di sebuah mansion tersembunyi. Shasha dipaksa menghilang dari dunia agar pria yang mencintainya bisa berpaling pada adik sang mafia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelukan di Bawah Tangga
Keheningan malam di dalam ruang kerja Jake pecah oleh denting logam yang membentur lantai. Pena perak yang semula berada dalam genggamannya terjatuh, membangunkan sang pemilik yang tanpa sadar sempat terlelap di kursi kebesarannya. Jake menegakkan tubuh, mengerjap beberapa kali untuk mengumpulkan kesadaran yang masih tercecer. Ia membungkuk, memungut pena itu dari samping kakinya, namun karena hal itu kantuknya menjadi hilang sepenuhnya.
Detik jam dinding yang monoton seolah mengejek kesunyian ruangan itu, menunjukkan pukul 02.30 dini hari. Jake bangkit berdiri dan langsung merasakan kekakuan di bahunya. Seiring kesadarannya, tenggorokannya terasa gersang dan kering, menuntut untuk segera dibasahi.
Ia mendorong pintu ruang kerjanya dan melangkah keluar. Koridor mansion kini jauh lebih gelap dan dingin, menciptakan atmosfer mencekam yang sanggup membuat bulu kuduk siapa pun berdiri. Namun bagi Jake, kegelapan ini adalah kawan lamanya.
Sesampainya di dapur, ia membuka lemari pendingin. Cahaya putih dari dalam mesin itu menerangi wajahnya yang tampak lelah. Ia menyambar sebotol air mineral, membukanya, dan meminumnya dengan rakus hingga isinya tersisa separuh. Sambil memutar tutup botol kembali, pandangannya tanpa sadar terangkat. Menembus langit-langit menuju lantai atas, tepat ke arah kamar Shasha.
Rasa penasaran yang tidak diundang mendadak menguasai logikanya. Dan tanpa bisa dicegah, kakinya melangkah menaiki tangga mansion yang kokoh itu.
Setibanya di depan kamar gadis itu, Jake justru berhenti tepat di depan pintu kamar Shasha yang masih tertutup rapat. Ia berdiri mematung, menatap daun pintu itu dengan keraguan yang jarang ia rasakan.
“Untuk apa aku kemari?” gumamnya lirih, sebuah teguran untuk dirinya sendiri. Menyadari tindakannya yang tidak masuk akal, ia segera berbalik, berniat kembali ke kamarnya sendiri sebelum kewarasannya semakin dipertanyakan.
Cklek.
Suara pintu yang terbuka dari arah belakang berhasil menghentikan gerakannya. Jake menoleh cepat. Di sana, di ambang pintu, Shasha muncul dengan sebuah gelas kosong di tangannya. Gadis itu tampak terkejut melihat sosok Jake yang berdiri di tengah-tengah kegelapan koridor. Namun keterkejutan itu dengan cepat menguap, berganti dengan kilat kemarahan dan rasa muak yang tidak ditutup-tutupi.
“Jangan berpikir macam-macam. Aku hanya... hanya...” Jake mendadak gagap, kehilangan wibawa yang biasanya ia banggakan.
“Aku tidak bertanya,” potong Shasha ketus. Tanpa memedulikan penjelasan Jake, ia melangkah maju, melewati pria itu begitu saja seolah Jake hanyalah pajangan dinding yang mengganggu.
Jake hanya bisa menatap punggung Shasha dengan gelengan kepala tidak percaya. Padahal dialah penguasa di mansion ini, namun Shasha bersikap seolah dialah yang memegang kendali. Merasa harga dirinya terusik namun sekaligus tidak ingin membiarkan gadis yang masih sakit itu berkeliaran sendirian di kegelapan, Jake akhirnya menyusul. Ia berjalan di belakang Shasha, menjaga jarak aman, membayangi setiap langkah gadis pemberontak itu menuju dapur.
Lantai bawah yang gelap kini menjadi saksi bisu ketegangan yang kian meruncing. Shasha melangkah lurus menuju dapur tanpa menoleh, sementara Jake memilih terpaku di samping tangga. Ia menyandarkan punggungnya pada dinding yang dingin, bersedekap dada dengan sisa keangkuhan yang masih tersisa. Sebenarnya, ada sekelumit tanya di benaknya tentang kondisi kesehatan gadis itu, namun lidahnya seolah kelu, membeku oleh ego yang terlalu tinggi untuk sekadar menunjukkan empati.
Setelah mengisi gelasnya, Shasha kembali menuju tangga. Langkahnya melambat saat menyadari sosok Jake masih di sana, menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Shasha sempat memberikan tatapan bertanya yang dingin, namun sedetik kemudian ia memutuskan untuk menganggap keberadaan Jake tidak lebih dari sebuah patung tidak bernyawa. Ia pun melanjutkan langkahnya dan menaiki tangga.
“Apa tidak ada yang harus kau ucapkan padaku?”
Kalimat itu meluncur tajam, menghentikan langkah Shasha seketika. Ia tetap memunggungi Jake, meskipun bahunya tampak tegang.
“Tidak ada,” jawabnya singkat, tanpa emosi.
Jake menurunkan tangannya dan aura di sekitarnya berubah mengancam. Ia melangkah menaiki tangga, memangkas jarak hingga berdiri tepat di samping gadis itu, “Apa ucapan terima kasih juga tidak terlintas di benakmu?”
Shasha akhirnya menoleh, matanya berkilat tajam seperti belati, “Tidak ada kata terima kasih untuk seorang penjahat seperti dirimu.”
Jawaban itu memicu ledakan di dada Jake. Rahangnya mengatup rapat, menahan amarah yang nyaris meluap. Ia melangkah maju dengan agresif, mendesak Shasha hingga punggung gadis itu menabrak teralis tangga yang keras. Tatapan Jake kini mengunci Shasha, penuh intimidasi yang menyeramkan.
“Seharusnya aku membiarkanmu mati kesakitan,” desis Jake, suaranya rendah namun penuh ancaman.
“Itu pilihan terbaik daripada aku harus hidup di neraka ini bersamamu!” balas Shasha, tidak gentar meski tubuhnya terhimpit.
“Tutup mulutmu!”
Dalam satu gerakan kasar yang membabi buta, tangan kekar Jake langsung mencengkeram leher Shasha. Tubuh gadis itu melengkung ke belakang di atas teralis. Gelas di tangannya terlepas, jatuh menghantam lantai marmer di bawah dengan bunyi pecah yang memekakkan telinga. Air dari gelas itu memercik, membasahi sebagian pakaian mereka berdua, menambah kacau suasana yang sudah mencekam.
Jake memajukan tubuhnya, wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari Shasha, “Aku bisa saja menjatuhkanmu dari tangga ini. Kemungkinan kecil kau gegar otak, dan kemungkinan besar kau akan kehilangan nyawa.”
Shasha mulai kesulitan bernapas. Paru-parunya terasa terbakar karena pasokan oksigen yang terputus, namun matanya yang berkaca-kaca tetap menatap Jake dengan nyala api perlawanan. Kedua tangannya mencengkeram tangan Jake yang melilit lehernya, kuku-kukunya berusaha mencari celah untuk melawan.
“Lakukan saja... aku... aku tidak takut...” ucap Shasha terbata-bata, suaranya nyaris hilang.
Mendengar tantangan itu, Jake justru semakin mendorong tubuh Shasha ke belakang hingga kepala gadis itu melengkung melewati batas teralis. Jari-jari Shasha mencakar tangan Jake dengan sisa tenaga yang ada, namun kekuatan pria itu terlalu dominan.
Jake menyunggingkan senyum miring yang mengerikan, “Kau berkata tidak takut, tapi reaksi tubuhmu mengatakan sebaliknya. Dasar pendusta!”
Seketika, Jake melepaskan cengkeramannya. Dan Shasha langsung kehilangan keseimbangan. Ia berusaha meraup oksigen sebanyak-banyaknya dengan napas yang memburu. Sambil berpegangan pada teralis sebagai penyangga agar tidak ambruk, ia kembali mendongak. Di depannya, Jake berdiri tegak, menatapnya dengan pandangan merendahkan yang begitu menyakitkan.
“Aku memang bernasib buruk karena bertemu pria sepertimu! Dasar brengsek!”
Teriakan Shasha menggema ke seluruh penjuru mansion, menyayat keheningan malam. Jake mengepalkan tangannya kuat-kuat. Bahkan buku-bukunya memutih saat menahan gejolak untuk membungkam mulut lancang gadis itu sekali lagi. Namun, ia justru mengembuskan napas panjang yang berat. Alih-alih menerjang, ia memilih berbalik dan menuruni tangga, enggan meneruskan perdebatan dengan seseorang yang baru saja lolos dari maut karena demam tinggi.
“Kenapa pergi?! Bukankah kau ingin membunuhku? Kenapa tidak sekarang saja?!” tantang Shasha lagi, suaranya melengking penuh provokasi.
Langkah Jake terhenti, namun ia tetap membelakangi Shasha.
“Jika hukum dunia tidak berpengaruh padamu, maka hukum akhirat yang akan membalasmu!”
Mendengar kutukan itu, Jake menoleh sedikit. Meski rahangnya mengeras dan tangannya masih terkepal, ia memaksakan diri untuk tetap tenang.
“Pulihkan dirimu dulu,” ucapnya dingin, “Baru aku akan mengambil nyawamu.”
“Kau! AAAAAA!”
Amarah Shasha meledak, membuatnya bergerak asal tanpa menyadari bahwa lantai tangga masih basah oleh tumpahan air dari gelasnya tadi. Kakinya kehilangan tumpuan. Ia pun terpeleset.
Refleks Jake bekerja lebih cepat dari logikanya. Ia berlari naik dan menyambar tubuh Shasha, membungkus gadis mungil itu dalam pelukan erat. Namun karena keseimbangan mereka goyah, keduanya pun berguling jatuh ke bawah, menghantam anak tangga satu per satu. Dalam kepanikan itu, Jake memastikan tubuhnya menjadi tameng, mendekap Shasha sedemikian rupa sehingga gadis itu tidak merasakan kerasnya sudut tangga sedikit pun.
Saat mereka akhirnya mendarat di lantai bawah, suara dentuman tubuh yang menghantam lantai terdengar begitu menyakitkan. Jake berada di posisi bawah, menjadi landasan bagi Shasha.
Shasha masih memejamkan mata rapat-rapat, jantungnya berdegup kencang karena rasa takut yang hebat. Tangannya meraba sesuatu yang keras namun terasa hangat. Saat perlahan membuka mata, ia menyadari bahwa ia tengah bersandar pada dada bidang Jake. Ia baru sadar sepenuhnya bahwa ia jatuh tepat di atas tubuh pria itu.
Dengan perasaan campur aduk, Shasha berniat untuk segera bangkit. Namun lengan kekar Jake yang masih melingkar di pinggangnya langsung mengunci posisinya hingga ia merasa benar-benar terperangkap.
“Sebentar saja...” lirih Jake. Suaranya terdengar parau, sedangkan wajahnya meringis dengan mata terpejam, seolah sedang menahan nyeri yang luar biasa akibat benturan tadi.
Entah karena rasa bersalah atau karena aura pria itu yang mendadak melunak, Shasha seolah terbius. Ia tidak melawan. Dalam keheningan yang canggung itu, ia justru diam, terpaku mengamati setiap detail pahatan indah pada wajah Jake dari jarak yang begitu dekat. Wajah yang biasanya tampak mengerikan, kini terlihat rapuh di bawah temaram lampu mansion.